Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 23 : Kebaikan Elfarez


__ADS_3

Bulan berjalan menyusuri jalanan yang sepi, tangisnya tumpah membasahi pipi. Sedari tadi dia menahan luapan emosi tatkala menghadapi Papanya, dia tidak ingin terlihat lemah didepan keluarganya. Biarlah dia yang dituduh atas kekacauan yang terjadi, asalkan jangan mamanya yang disalahkan meskipun memang Lauralah yang berperan besar. Selama ini mamanya sudah menderita karena Papa, Bulan tidak ingin mamanya mendapatkan masalah lagi. Cukup Bulan saja yang menanggung, dia tidak akan melibatkan orang lain.


Dia menengadahkan kepalanya sembari menghela nafas panjang berharap bisa mengurangi dadanya yang sesak. Wajahnya bisa merasakan ada tetesan air yang menyentuh kulitnya, rupanya hari ini langit juga ikut menangis seolah turut ikut merasakan sedih. Gerimis yang membasahi bumi berubah menjadi hujan deras, Bulan memilih berlari menuju halte didepannya untuk berteduh. Dia duduk di kursi panjang sendirian menikmati dingin udara sore hari ini yang begitu menusuk kulitnya.


“Hiks…hiks…hiks.” Bulan menutupi wajahnya dengan kedua tangan, lebatnya hujan meredam suara isakan Bulan yang semakin kencang menangis. Berulangkali Bulan menepuk dadanya karena masih terasa nyeri, jujur dia tidak sesabar itu menghadapi kenyataan. Bulan semakin menenggelamkan wajahnya pada kedua tangannya untuk menutupi kesedihan yang dia rasakan.


Tanpa diduga Bulan merasakan tubuhnya menghangat terselimuti sesuatu, wanita itu mendongak karena kehadiran seseorang disampingnya. Matanya membulat tatkala dia melihat sesosok pria betubuh tinggi tegap berdiri menjulang tengah memandanginya.


“Farez.” Seketika Bulan segera mengusap air matanya, dia tidak ingin Elfarez melihatnya dalam kondisi terpuruk seperti ini. Lagipula mengapa dia bisa ada disini? Bulan menyentuh jas hitam milik pemuda itu kini membalut tubuhnya. Kenapa Farez begitu perhatian memakaikannya jas?


Farez nampak menyunggingkan senyumnya melihat Bulan yang salah tingkah, mungkin wanita itu malu karena kepergok menangis olehnya. Tadi ketika Farez ingin menemui Zhafran dirumahnya dia melihat Bulan keluar dari rumah dalam keadaan emosi dan dari raut wajahnya tergambar jelas bahwa wanita itu dalam keadaan sedih.


Farez yang masih berada didalam mobilnya memilih untuk mengikuti langkah kaki Bulan dari belakang. Dia sebenarnya tahu apa yang terjadi didalam rumah Zhafran. Lelaki paruh baya itu pasti akan membahas mengenai pembatalan pertunangan antara dirinya dengan Bintang dan Zhafran akan mengumumkan pernikahan putri bungsunya bersama dengan Alvaro. Farez memang diundang di rumah Zhafran untuk membahas permasalahan ini karena dia merasa bersalah, Zhafran ingin meminta maaf serta menjelaskan alasan dibalik batalnya pertunangan mereka berdua.


Farez tidak mempermasalahkan batalnya pertunangan dirinya dengan Bintang karena dia memang tidak mencintai Bintang sama sekali. Sebaliknya wanita yang dia suka adalah Bulan, meskipun nyatanya Bulan telah bersuami namun tidak ada salahnyakan jika dia mengagumi wanita itu. Ditengah hujan deras melanda dia bisa melihat Bulan yang tengah berteduh di halte bus. Tanpa menunggu lama Farez menghentikan mobilnya didepan halte, dia keluar dari mobil masih senantiasa mengamati Bulan yang bahkan tidak menyadari kehadirannya tadi, lantas dia membuka jasnya lalu melekatkannya pada tubuh Bulan yang nampak menggigil.


“Pakailah jas milikku agar kamu tidak kedinginan.” Ujarnya berniat baik karena dia cemas dengan kondisi Bulan. Wanita itu hanya diam saja enggan untuk menjawab, Bulan masih sibuk mengusap sisa-sisa air mata yang masih membekas. Hidung mancungnya bahkan memerah seperti tomat namun tidak mengurangi kecantikan wanita itu.

__ADS_1


“Bolehkah aku duduk disampingmu?” Tanya Farez meminta izin dengan sopan dibalas anggukan pelan oleh Bulan. Wanita itu menduga pasti Farez baru pulang dari kantornya melihat setelan pakaian formal yang masih melekat ditubuhnya.


"Jangan sedih Bulan, kamu tidak pantas menangisi bajingan seperti dia." Ujar Farez membuat Bulan terpaku, dia menoleh menatap lekat pemuda yang duduk disampingnya. Apakah Farez mengetahui permasalahan yang dia alami?


Farez nampak menghela nafas. "Bintang telah membatalkan pertunangan kami. Aku sudah tahu alasannya, rupanya dia telah mencintai pria lain. Tidak kusangka bahwa pria yang dimaksutkan Bintang adalah suamimu." Bulan tersenyum kecut, ternyata bukan hanya dirinya yang merasakan patah hati. Farez juga merasakan hal yang sama, pasti pemuda itu juga kecewa karena Bintang lebih memilih pria lain padahal Elfarez pemuda yang sangat tulus.


Bulan mengangguk membenarnya ucapan Farez. Dia sebenarnya tidak ingin mengumbar permasalahan rumah tangganya, namun karena Farez merupakan tunangan dari adiknya dia otomatis tahu dengan seluk beluk kerumitan keluarganya termasuk permasalahan yang dihadapinya saat ini.


"Kamu pasti bisa mendapatkan gadis yang lebih baik daripada Bintang." Ujar Bulan memberitahu, dia mencoba menenangkan perasaan Alvaro yang mungkin saja kalut karena ditolak Bintang.


"A-apa maksutmu?" Tanya Bintang tidak mengerti.


"Melihat suamimu yang tidak setia, apakah kamu akan tetap mempertahankan pernikahanmu Bulan?" Farez malah bertanya balik kepada Bulan membuat wanita itu bingung. Namun beberapa detik kemudian Bulan menggeleng, sembari menundukkan kepalanya.


"Entahlah." Dia mengusap lembut perut ratanya. "Anakku masih membutuhkan ayahnya." Mengetahui bahwa Bulan hamil ada rasa kecewa dalam benak Elfarez, jika Alvaro tidak mencintai Bulan seharusnya dia tidak perlu menitipkan benihnya pada Bulan. Dia tengah hamil dalam keadaan tekanan rumah tangganya yang goyah karena suaminya selingkuh. Lebih parahnya orang ketiga yang menghancurkan rumah tangganya adalah adiknya sendiri. Farez tidak bisa membayangkan betapa sakitnya hati dan perasaan Bulan saat ini.


"Apakah kamu masih mencintai suamimu?" Tanya Farez penasaran.

__ADS_1


"Ya, aku sangat mencintainya. Tapi aku juga membenci dirinya, sampai kadangkala aku muak melihatnya." Balas Bulan jujur karena dia merasa kesal. Tidak ada salahnya dia sedikit curhat kepada Farez karena dia memang butuh seorang teman.


Farez menatap Bulan intens, mengamati mata wanita itu yang berkaca-kaca. "Bulan berpisahlah saja dengan Alvaro, aku akan membantumu untuk merawat bayimu kelak jika sudah lahir."


"Terimakasih Farez atas kebaikanmu, kamu tidak perlu membantuku sejauh itu. Jika nanti aku berpisah dengan Alvaro, aku masih mampu mengurus anakku sendiri." Balas Bulan seraya tersenyum simpul.


"Menikahlah denganku Bulan, aku janji akan bertanggung jawab atas dirimu dan bayimu." Mendengar penuturan Farez malah membuat Bulan tertawa menyunggingkan senyumnya lebar, Bulan tahu jika Farez merasa kasian kepadanya tapi tidak perlu bercanda seperti ini.


Sumpah Farez berbicara serius, jika Bulan mau dia pasti akan menikahinya. Farez tertarik dengan Bulan sejak pertama kali mereka bertemu, melihat Bulan disakiti oleh suaminya membuat Farez iba. Dia tidak rela wanita yang dia kagumi dan sayangi diperlakukan buruk oleh pria brengsek seperti Alvaro. Terlepas dari Bulan yang saat ini tengah mengandung, Farez akan berbesar hati menerima anak itu jika Bulan menerima pinangannya.


"Bulan aku benar-benar mencintai--."


"Farez bisakah kamu diam." Ujar Bulan memotong ucapan pria disampingnya, baginya Farez saat ini hanya membicarakan omong kosong belaka. Bulan menghela nafas sembari menatap air berjatuhan membasahi jalanan beraspal didepannya. Farez mengatupkan bibirnya, dia merasa dirinya tadi memang banyak bicara sehingga membuat Bulan terganggu. Pemuda itu tersentak tatkala kepala Bulan direbahkan dibahunya, terlihat wanita itu memejamkan kedua matanya menikmati semilir angin dingin yang berhembus dan mendengarkan suara gemericik air hujan sedikit membuatnya tenang. Bahu Farez terasa nyaman membuat Bulan merasa betah, dia ingin tidur sebentar saja untuk menghilangkan penat.


"Terimakasih Farez." Gumam Bulan lirih.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2