Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 24 : Pernikahan Kedua


__ADS_3

Tring…tring…tring


Bulan menatap layar ponselnya yang berdering, tertera nama ‘Mama’ yang menelfon. Dengan gusar Bulan mendekatkan ponselnya ditelinga, mempersilahkan mamanya untuk berbicara.


“Hallo Bulan sayang kamu ada dimana?” Tanya Laura dari sebrang telefon dengan raut wajah cemas, bayangkan sudah seminggu Bulan pergi dari rumah dan ponsel putrinya tidak aktif. Laura tahu bahwa putrinya marah dengan pernikahan yang dilangsungkan oleh Zhafran pada pagi hari ini, tapi setidaknya Bulan seharusnya mengabari kondisinya selama seminggu ini kepada Laura. “Bulan, aku mohon kamu pulang ya sayang?” Laura memohon kepada putrinya.


Air mata Bulan menetes, sebenarnya dia tidak tega meninggalkan mamanya disana menghadapi kekecewaan sendirian. Tapi Bulan butuh waktu sendiri untuk menenangkan hatinya. “Maaf Ma.” Balasnya terisak pelan.


Laura bisa mendengar suara isakan tangis putrinya, membuat dadanya tersayat. Dari lubuk hati yang terdalam sebenarnya Laura tidak ingin anaknya mengalami penderitaan yang sama sepertinya, namun seolah takdir sedang mempermainkan dirinya kenyataan pahit memang harus dia terima.


“Bulan pulanglah, mama tidak akan memaksamu lagi.” Ujar Laura nampak pasrah, dia ingin putrinya segera pulang. Laura rasa tingkahnya selama ini sudah keterlaluan memaksa Bulan untuk bersama dengan Alvaro. Laura kira dulu jika putrinya berhasil menikah dengan Alvaro maka pemuda itu akan memutuskan hubungannya dengan Bintang. Namun dugaannya salah, hubungan mereka malah semakin rumit. “Jika kamu lelah bertahan, maka berpisahlah Bulan. Mama sadar, sudah saatnya kita untuk mundur.”


Bulan tertegun mendengar penuturan mamanya, akhirnya Laura mendukungnya. Dia tersenyum kecut, perpisahan memang merupakan jalur yang harus dia ambil. Sudah lama pernikahan antara Bulan dan Alvaro telah rusak, dia tidak ingin hatinya tambah hancur dengan tetap memilih bertahan. “Iya ma, aku pasti akan pulang.” Balasnya serak.


Laura mengangguk, diapun juga turut menangis seolah bisa merasakan kesedihan yang dialami putrinya. "Mama menunggu kepulanganmu sayang." Dia lantas mematikan telfonnya sepihak tidak bisa membendung isakan tangisnya pecah.


"Hiks...hiks...hiks, maafkan mama sayang maaf." Laura tergugu, dia duduk dilantai yang dingin sembari menyandarkan punggungnya pada tiang kasur. Dia enggan untuk keluar dari kamarnya karena diruang tamu sedang digelar ijab qabul antara Alvaro dengan Bintang. Dengan perasaaan dongkol Laura tidak sudi ikut menjadi saksi diacara sakral tersebut. Dari awal dia tidak setuju, orang-orang sama sekali tidak peduli dengan putrinya bahkan Zhafran sendiri nyatanya tidak menyayangi Bulan.


Disisi lain Bulan duduk termenung di sofa, dia selama seminggu ini menginap di rumah Tamara. Sahabatnya itu dengan sukarela menerimanya, semua keluh kesahnya dia ceritakan kepada Tamara hingga membuat gadis itu terkejut. Dia tidak menyangka bahwa rumah tangga Bulan diambang perpisahan karena pihak ketiga.

__ADS_1


Tamara turut duduk disamping Bulan, dia menggenggam jemari tangan Bulan berusaha menenangkan wanita itu. "Bulan sabar ya." Ujar Tamara miris melihat sahabatnya sedih karena hari ini pernikahan suaminya bersama dengan Bintang sedang berlangsung.


"Hiks...hiks...hiks Tamara." Bulan menumpahkan air matanya sembari memeluk sahabatnya erat. Tamara mengelus lembut punggung Bulan, dia diam tidak bergeming membiarkan wanita itu menangis berharap emosi dan rasa kesalnya bisa mereda.


Ditempat rumahnya Zhafran ijab qabul dilakukan secara sederhana dan tertutup, hanya keluarga kedua belah pihak saja yang datang. Zhafran sengaja tidak mengundang orang lain diluar keluarga karena tidak ingin tercium media. Semenjak Bulan menjadi model, beberapa media sering meliput untuk mengekspos kehidupan rumah tangganya apalagi permasalahan yang sedang terjadi bukanlah konsumsi publik.


Keluarga Mahendra turut hadir untuk menjadi saksi. Dirga tidak mempermasalahkan jika putranya menikah lagi, apalagi dengan Bintang. Menurutnya Bintang maupun Bulan sama saja, yang terpenting adalah kerjasama bisnis dengan Zhafran tetap berjalan. Clara selaku ibu dari Alvaro hanya mampu diam tertunduk, dia sebenarnya tidak enak hati dengan Laura namun bagaimana lagi kelakuan bejat anaknya telah membuat Bintang hamil sehingga putranya harus bertanggung jawab. Sedangkan Tiara yang merupakan adik kandung dari Alvaro hanya mampu tersenyum miris, yang dia fikirkan adalah bagaimana sedihnya Bulan saat ini.


"Silahkan anda menjabat tangan saya." Ujar penghulu menginstruksi, Alvaro segera menjabat tangan lelaki paruh baya itu. Ijab qabul pun dimulai.


"Bismillahirohmanirohim, saya nikahkan dan saya kawinkan Alvaro Artha Mahendra bin Dirga Suryo Mahendra dengan saudari Bintang Berlian Bramasta binti Zhafran Hadi Bramasta dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."


Terlepas dari status dirinya yang menjadi istri kedua dari Alvaro, nyatanya Bintang tidak peduli akan hal itu. Dia tidak ingin kalah dengan kakaknya, Bintang sangat mencintai Alvaro. Dia akan melakukan apapun agar Alvaro bisa menjadi miliknya meskipun dia harus mengorbankan perasaan kakaknya.


"Bagaimana para saksi?"


"SAHH."


"Alhamdulillah..." Ucap semua orang bersyukur akhirnya mereka berdua resmi menjadi suami istri. Melihat putri kesayangannya bahagia, Zhafran turut senang.

__ADS_1


Penghulu membacakan doa agar hubungan mereka langgeng sampai menua bersama. Alvaro lantas mencium kening Bulan membuat wanita itu seketika tersenyum menatap lekat suaminya. Rasa bahagia membuncah dalam hati Bintang, akhirnya dia bisa bersanding dengan Alvaro menjadi seorang istri.


"Kak Al aku sangat mencintaimu." Bisik Bulan pelan hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Alvaro. Dia memang senang dengan pernikahan ini, namun ada sesuatu yang hilang dalam benak Alvaro. Jujur saja dalam seminggu ini dia merasa cemas dengan keberadaan Bulan yang tidak pulang kerumah. Dia ingin mencari keberadaan istrinya itu akan tetapi karena persiapan pernikahannya bersama dengan Bintang dia tidak bisa meninggalkan begitu saja.


Kemana kamu Bulan? Batin Alvaro gelisah memikirkan istri pertamanya.


...****************...


Sebelum beranjak tidur, Bulan menyempatkan diri untuk membuat susu khusus untuk ibu hamil. Meskipun fikirannya sedang kacau karena pernikahannya yang diambang kehancuran Bulan tidak lupa untuk memberikan nutrisi kepada janin yang berada dalam kandungannya. Dia hanya punya waktu 9 bulan bersama dengan bayinya karena setelah anaknya lahir mungkin mereka akan berpisah. Tangan lentiknya membelai perut ratanya dengan lembut.


"Sehat-sehat kamu didalam perut ya sayang." Ujar Bulan berharap anaknya akan tumbuh dengan baik. Dia lantas meminum susunya hingga tandas.


"Bulan." Panggil Tamara membuat Bulan menoleh. "Ada seorang pria ingin menemuimu, tadi siapa ya namanya?" Tamara mencoba mengingat-ingat. "Ah, iya El-Elfarez dia lagi menunggumu diluar."


"Apa?!" Bulan terkejut mendengarnya, malam-malam begini ada urusan apa Farez kesini?


"Baiklah aku akan menemuinya." Balas Bulan seraya berjalan menemui Farez yang sedang menunggunya diluar. Tamara melihat punggung sahabatnya menghilang dari balik tembok, dia menyunggingkan senyumnya. Banyak lelaki yang mencoba untuk mendapatkanmu, tapi kenapa suamimu sendiri malah tidak tertarik kepadamu Bulan? Suamimu suatu saat nanti pasti akan menyesal telah mencampakkanmu. Batin Tamara.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2