
Dea melotot tajam, memandangi wajah menyebalkan Elfarez. "Sejak kapan kamu berhubungan dengan wanita ini? Kamu tidak mungkin mempunyai calon istri secantik dia." Cerca Dea tidak percaya lagipula senakal-nakalnya Farez dia tidak akan menghamili anak orang diluar nikah.
Elfarez menghela nafas, dia lantas menyunggingkan senyumnya. "Iya, aku hanya bercanda. Aku memang mencintainya namun sayang hanya bertepuk sebelah tangan." Dea sedikit terkejut, pemuda tampan seperti Farez rupanya ada yang menolaknya juga hahaha. Rasanya Dea ingin tertawa kencang. Wanita berjas putih itu mengeluarkan stetoskopnya, dia mulai memeriksa tubuh Bulan. Dia juga memeriksa suhu badan Bulan dengan termometer.
"Dia mengalami hipotermia, di mana suhu tubuhnya turun di bawah suhu normal." Ujar Dea memberitahu Farez.
"Lalu bagaimana dengan kandungannya? Apakah baik-baik saja?" Tanya pemuda itu dengan cemas membuat Dea mengerutkan keningnya melihat reaksi Farez. Dia penasaran siapa sebenarnya wanita ini hingga membuat Farez kelabakan seperti ini.
"Aku rasa tidak ada masalah. Aku sarankan besok dia memeriksakan kehamilannya ke dokter di rumah sakit karena perlu dilakukan pemeriksaan USG agar tahu mengenai kondisi bayinya didalam kandungan." Farez menganggukkan kepalanya mendengar saran yang diberikan oleh Dea. "Aku melihat ada luka memar dipipinya, Farez bisakah kamu jelaskan sebenarnya siapa wanita ini dan mengapa dia kamu bawa kerumahmu?" Tanya Dea penasaran, tidak biasanya pemuda itu perhatian seperti ini kepada seorang wanita.
Elfarez memaklumi kebingungan Dea, pasti perempuan itu sempat berfikiran aneh mengenai dirinya. Farez rasa kali ini dia perlu untuk menjelaskannya. "Dia adalah temanku namanya Bulan, jujur aku juga terkejut ketika dia tadi menelfonku untuk meminta bantuan karena dia telah diusir oleh suaminya. Tanpa pikir panjang aku segera menjemputnya, dan aku menemukannya dalam keadaan pingsan didepan ruko kedinginan." Tuturnya membuat Dea melongo, tega sekali suami Bulan mengusirnya tengah malam kehujanan. Apalagi dia dalam keadaan hamil besar.
Dea beranjak berdiri, dia menatap lekat Elfarez menyelidik. "Farez apa kamu benar-benar mencintai wanita ini?" Tanyanya ingin memastikan karena pemuda itu sempat mengaku bahwa dia mencintai Bulan tapi hanya bertepuk sebelah tangan.
"Iya aku sangat mencintainya." Dea melihat manik mata Farez, pemuda itu terlihat jujur mengatakannya. Pantas saja jika Farez memperlakukan Bulan sebaik ini, ternyata Bulan merupakan wanita yang spesial dihati Farez. Namun sayang Bulan telah memiliki suami, apakah Farez masih ada harapan? Dea tidak ingin Farez menjadi seorang lelaki yang akan merebut wanita yang telah bersuami.
Dea menepuk bahu Elfarez seraya menyunggingkan senyumnya. "Jagalah wanita ini dengan baik." Sudah jelas dia akan berusaha melindungi Bulan tanpa diminta sekalipun.
Dea mengambil beberapa tablet obat dari tasnya. "Tetap jaga suhu tubuhnya agar tetap hangat, kemungkinan nanti suhu tubuh Bulan akan panas. Kamu tidak perlu khawatir, jika badannya terasa panas kamu berikan obat ini." Farez mengambil 3 tablet obat yang diberikan oleh Dea.
__ADS_1
"Terimakasih." Ujar Elfarez merasa terbantu dengan keberadaan Dea disini.
"Sama-sama." Balasnya seraya mengulas senyum. "Baiklah kalau begitu aku pulang, jika ada kendala kamu bisa menelfonku." Farez menganggukkan kepalanya paham. Dea lantas membereskan peralatan medisnya memasukkan kembali kedalam tas jinjingnya. Wanita itu keluar dari kamar Elfarez untuk pulang.
Farez kembali berjalan mendekati Bulan yang tertidur pulas, dia duduk ditepi ranjang mengamati wanita dihadapannya. Jujur saja Farez saat ini mengantuk, tapi dia menahannya. Farez melirik jam dinding kamarnya menujukkan pukul 01.00 dini hari. Berulang kali Farez menguap, dia memijat pangkal hidungnya. Elfarez memutuskan untuk tidur disofa sejenak merebahkan tubuhnya.
Farez baru beberapa menit memejamkan mata untuk menghilangkan rasa penat. Tapi tidak lama kemudian telinganya mendengar suara seseorang mengigau. Pemuda itu beranjak bangun, dia segera berjalan mendekati Bulan yang meracau lagi dalam tidurnya.
"Mama..." Panggilnya, membuat Farez mengerutkan dahi bingung. Dalam tidurnya Bulan terlihat gelisah, apakah Bulan sedang bermimpi bertemu mamanya?
"Sakit Ma." Racaunya lagi. Farez cemas kenapa Bulan mengigau lagi. Elfarez melihat dahi Bulan berkeringat, dia mengusapnya. Pemuda itu cukup terkejut karena suhu Bulan terasa panas. Dia ingat dengan ucapan Dea bahwa suhu tubuh Bulan kemungkinan akan panas, jadi dia memberikan sebuah obat.
"Bagaimana caranya agar Bulan meminum obatnya?" Gumam Farez menatap nanar butir obat ditangannya.
"Baiklah tidak ada cara lain." Pemuda itu meraih segelas air putih di atas nakas. Farez mengunyah tiga butir kapsul obat menahan rasa pahit, dia lalu meminum air. Setelah itu Farez menunduk, mendekatkan wajahnya ******* bibir Bulan dengan lembut memaksa agar bibir wanita itu terbuka. Dia menyalurkan obat yang telah dikunyahnya untuk disalurkan kedalam mulut Bulan. Bibir mereka saling bertautan. Perlahan lidahnya mendorong obat itu untuk masuk, dia sedikit mengulum bibir ranum Bulan.
Farez menyudahi pagutannya setelah selesai membantu Bulan untuk meminum obat. Dia sekilas mengusap bibir ranum Bulan yang basah. "Sekarang tidurlah yang nyenyak." Bisiknya didekat telinga wanita itu. Farez berharap obat yang diberikan Dea bisa segera menurunkan panas Bulan karena Farez tidak tega melihat wanita itu sakit.
...****************...
__ADS_1
Kedua mata lentik Bulan perlahan terbuka, dia melihat ke sekelilingnya yang nampak kabur. Reflek tangannya mengucek kedua matanya, untuk memperjelas penglihatannya. Lamat-lamat ingatan Bulan melayang pada kejadian semalam, dia diusir dari rumah suaminya dengan kejam. Wanita itu seketika terperanjat bangun, dia duduk bersandar di sisi ranjang. Gerakan tiba-tiba yang Bulan lakukan justru membuat kepalanya menjadi pening.
Bulan menunduk, matanya membola tatkala melihat bajunya berganti dengan kemeja milik seorang lelaki. Dia memegangi kancing kemeja teratasnya yang terbuka sehingga dadanya terlihat, bahkan Bulan bisa merasakan dirinya tidak memakai bra maupun dalaman. Jujur Bulan cukup trauma, karena sebelumnya dia pernah hampir dilecehkan oleh Daren.
Ceklek
Reflek Bulan beringsut mundur, tatapan matanya terpaku pada sosok pria yang saat ini tengah berdiri di ambang pintu dengan senyum hangatnya terulas di bibir. Bulan bernafas lega setidaknya itu adalah Elfarez, pemuda yang memang semalam dia mintai pertolongan. "Aku senang kamu telah sadar." Farez berjalan mendekati Bulan dengan membawa baki berisi semangkok bubur dan juga teh hangat.
Farez heran mengapa Bulan tadi sempat terlihat ketakutan saat melihat dirinya? Pemuda itu meletakkan baki makanannya di atas nakas. "Bagaimana kondisimu?" Tanya Elfarez penasaran, jika Bulan masih merasa tidak enak badan maka dia akan mengantarkannya segera ke rumah sakit.
"Aku baik-baik saja, terimakasih karena semalam kamu telah menolongku." Cicit Bulan dengan sendu, dia mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan kamar Elfarez. "Bahkan kamu membawaku kerumahmu. Jika kamu tidak datang menjemputku semalam, entah bagaimana dengan diriku. Mungkin aku akan tertidur diemperan ruko sampai pagi." Mendengar pernyataan Bulan barusan sungguh menyayat hati Farez.
Pemuda itu sebenarnya penasaran, masalah apa yang memicu Alvaro sehingga dia sampai tega mengusir Bulan dari rumahnya. "Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Alvaro menyuruhmu angkat kaki dari rumahnya?"
Mata Bulan berkaca-kaca, dia seperti ingin menangis tapi berusaha untuk dia tahan. "Seseorang telah menfitnahku selingkuh dengan pria lain. Hanya bermodalkan sebuah foto yang belum terbukti kebenarannya, Alvaro dengan mudahnya percaya. Padahal aku tidak pernah menghianatinya, selama ini aku selalu setia meskipun Alvaro berulangkali menghancurkan hatiku."
Farez terkejut dengan penuturan Bulan. "Kamu dituduh selingkuh dengan siapa Bulan?" Tanyanya menyelidik. Banyak sekali pria yang ingin mendekati Bulan. Padahal dia mengira saingannya hanya Alvaro saja, rupanya masih ada pria lain yang harus dia singkirkan.
Bersambung...
__ADS_1