Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 42 : Alvaro Kembali Pulang


__ADS_3

3 Bulan Kemudian


Usia kandungan Bulan saat ini memasuki trimester 2, ada rasa senang dan juga ada perasaan sedih yang mendera benak Bulan karena dia hanya punya waktu 4 bulan lagi bersama dengan anaknya. Setelah anaknya lahir Bulan akan menyerahkan tanggung jawab anak ini sepenuhnya kepada Alvaro. Waktu memang berlalu dengan cepat, Bulan bahkan mulai menikmati kehidupannya tanpa kehadiran suaminya, mungkin karena telah terbiasa. Selama 3 bulan dia ditinggal sendirian, Bulan merasakan damai. Tidak ada pertengkaran maupun tekanan dalam hidupnya. Meskipun nanti Bulan tidak bisa ikut membesarkan anaknya, namun Bulan percaya bahwa Alvaro pasti akan memberikan kasih sayang yang melimpah untuk anaknya.


Bulan begitu senang tadi dokter mengatakan bayinya dalam kandungan sehat. Kandungannya sekarang sudah berusia 5 bulan, tak henti-hentinya Bulan tersenyum sambil mengelus lembut perutnya yang terlihat menonjol. Andaikan Alvaro yang mengantarkannya periksa ke dokter pasti Bulan sangat bahagia, tapi kenyataannya Farezlah yang selalu menemaninya check up selama ini. Pemuda itu rela meluangkan waktu sibuknya hanya untuk Bulan, padahal berulangkali Bulan sudah menolaknya secara halus karena dia bisa pergi sendiri kerumah sakit. Bulan tidak ingin merepotkan Farez, lagipula akan terlihat aneh jika Farez kerap bersama dengan dirinya yang masih berstatus sebagai istri orang lain.


Orang-orang pasti akan berfikiran macam-macam mengenai dirinya, padahal Bulan dan Farez hanyalah seorang teman baik. Bulan sebenarnya curiga dengan Elfarez karena pemuda itu seolah tahu jadwal rutinnya check up ke dokter. Sebelumnya Bulan tidak pernah memberitahu pemuda itu, tapi dia selalu datang kerumah untuk menjemputnya. Aneh! Sudahlah, lagipula dengan adanya Farez disampingnya dia tidak akan terlihat memalukan didepan ibu-ibu lainnya karena mereka semua selalu membawa suaminya masing-masing untuk menemani. Meskipun kadangkala Farez menggerutu kesal saat mengantri karena ulah para bumil yang sering menjahilinya.


"Aduh tampan sekali, kamu kayak artis sinetron Cristiano Ronaldo. Ihhh, gemes." Kedua pipi Elfarez kerap menjadi sasaran empuk ibu-ibu yang sedang mengantri. Mereka senang mencubit pipi Elfarez karena kagum akan ketampanan pemuda itu. Elfarez hanya bisa bersabar, dia memutar bola matanya malas. Lagipula sejak kapan Cristiano Ronaldo yang merupakan pemain sebak bola profesional beralih profesi menjadi seorang artis sinetron.


"Tolong dong kamu elus-elus perut saya, biar anak saya ganteng mirip kamu." Ini yang berbahaya, bisa memunculkan pertikaian. Lihat saja para suami bumil itu melirik Farez dengan tatapan sengit. Ya jelas mereka kesal, mereka yang udah capek-capek bantuin bikin dedek bayi malah istrinya kepingin anaknya mirip Elfarez. Bukannya tidak sopan, ibu-ibu itu berani bersikap demikian karena Farez memang mempunyai sikap ramah kepada semua orang yang ditemuinya sehingga dia gampang akrab. Berbeda jauh dengan Alvaro yang mempunyai sikap dingin, dia akan bersikap acuh dengan keadaan sekitarnya.


"I-iya buk." Farez menggaruk tengkuknya merasa kikuk.


"Jangan panggil ibuk dong, memangnya saya kelihatan sudah tua? Sayakan masih muda. Panggil saya mbak atau kalau bisa neng gelis aja gimana." Ibu itu mengedipkan mata centilnya ke arah Elfarez. Dia dibuat pusing melihat tingkah para bumil yang agresif bukan main membuat Farez geleng-geleng kepala. Diam-diam Bulan terkikik melihat tingkah lucu ibuk-ibuk itu membuat Farez kuwalahan menghadapinya. Wajah kebingungan Farez menjadi hiburan tersendiri bagi Bulan, tidak henti-hentinya Bulan tersenyum melihat interaksi antara Farez dengan para bumil yang antusias mengobrol dengan pemuda itu.


"Emm itu cewek disamping, istrimu?" Tanya salah satu ibu hamil.


Dengan lantang Farez menjawab. "Iya betul, dia istri saya." Sambil mengelus-elus perut besar Bulan membuat wanita itu sedikit terkejut dengan sentuhan lembut dari Elfarez. Bulan menyikut perut Farez karena dengan seenaknya sendiri mengaku bahwa dia adalah suaminya, sedangkan Farez membalas dengan melempar senyum tanpa rasa berdosa kepada Bulan.

__ADS_1


Bulan menghela nafas, setidaknya dengan pengakuan Farez barusan membuat ibu itu seketika terdiam, coba kalau ibu itu tahu bahwa dirinya datang kesini tanpa suami pasti dia akan bertanya mengenai keberadaan suaminya dimana dan alasan mengapa tega meninggalkannya check up sendirian. Huh, Bulan terlalu malas untuk sekedar menjelaskannya. Bulan begitu beruntung memiliki teman sebaik Elfarez yang siap siaga membantunya dengan sukarela, padahal suami Bulan saja sama sekali tidak peduli.


"Makasih ya Farez untuk hari ini." Sebenarnya setelah pulang ke dokter kandungan Farez ingin mengajak Bulan jalan-jalan kesuatu tempat yang indah agar Bulan merasa terhibur, tapi Bulan menolak memilih untuk langsung pulang kerumah.


"Iya, sama-sama. Jika butuh bantuan apapun kamu jangan sungan untuk menelfonku." Bulan tersenyum mendengarnya, dia menganggukkan kepalanya. Wanita itu lantas turun dari mobil Elfarez, dia menatap mobil Farez yang keluar dari pelataran rumahnya.


Tidak berselang lama sebuah mobil BMW datang, membuat Bulan menoleh. Bukankah itu adalah mobilnya Alvaro? Ya ampun mereka sudah pulang. Padahal aku berharap mereka di London lebih lama lagi. Batin Bulan kecewa.


Mobil itu berhenti tepat didepannya. Bintang turun dari mobil, dia bersikap acuh tatkala berjalan melewatinya begitu saja tanpa menyapa. Seorang pria bertubuh tinggi tegap membuka pintu mobilnya, dia berjalan mendekat menatap lekat kearah Bulan. Entah mengapa Bulan merasa seperti terintimidasi dengan tatapan tajam dari suaminya. Ada apa dengan Alvaro? Batin Bulan bingung.


“Kalian cepat sekali pulangnya.” Ujar Bulan mencoba mengajak bicara Alvaro, 3 bulan mereka tidak bertemu bahkan tidak pernah bertukar kabar membuat Bulan menjadi canggung. Aura pemuda itu terpancar dingin, rasanya Bulan kesulitan mencairkan kulkas berjalan dihadapannya ini.


Bulan mendelik, apakah Alvaro bisa membaca isi hatinya? Kalau boleh jujur iya, Bulan memang tidak menyukai keberadaan Alvaro maupun Bintang. “A-aku, hm istirahatlah. Kamu pasti lelah karena perjalanan jauh dari London.” Ujar Bulan mengalihkan pembicaraan membuat Alvaro menukikkan alisnya tajam. Dia tahu bagaimana sifat Bulan yang senang sekali menghindar dari pertanyaannya.


Bulan perlahan berjalan mundur, dia ingin segera masuk ke dalam rumahnya namun lengan tangannya dicengkram kuat oleh Alvaro. “Ahh, Al sakit lepas.” Cicit Bulan meringis menahan sakit.


“Dengar kamu fikir kamu bisa membodohiku hah!” Bentak Alvaro sarkas, Bulan mendongak menatap lekat wajah suaminya yang terlihat emosi. Baru juga pulang kerumah tapi suaminya malah mengajaknya bertengkar lagi.


“Lepas Al! Aku sama sekali tidak mengerti maksutmu.” Ujar Bulan, dadanya bergemuruh menahan kesal. Apakah Alvaro tidak bisa melihat bahwa dirinya tengah hamil, seharusnya dia bisa bersikap lembut kepadanya.

__ADS_1


“Selama aku pergi, kamu malah bersenang-senang dengan pria lain iyakan! Kamu fikir aku tidak tahu.” Desis Alvaro didekat telinga Bulan. “Berapa banyak pria yang sudah kamu kencani hah?”


Deg


Bulan mengepalkan kedua tangannya untuk menetralkan emosinya, dia mencoba bersabar. Ini sudah kesekian kalinya Alvaro menuduh dirinya selingkuh. Tuduhan Alvaro sama sekali tidak berdasar, bagaimana Alvaro tahu jika dirinya selingkuh? Dia saja berada dinegara orang lain selama 3 bulan ini.


“Aku tidak bisa menghitungnya, saking banyaknya pria yang antri menemuiku.” Tantang Bulan dengan berani membuat rahang tegas Alvaro bergemelatuk semakin tersulut emosi.


Alvaro tersenyum sinis. “Sudah kuduga, perempuan kesepian seperti dirimu pasti akan menggoda pria mata keranjang.” Ucapan Alvaro barusan sungguh menyakiti perasaan Bulan, dia hanya mampu bersabar dan menutup telinganya.


“Kak Al.” Panggil Bintang dengan lantang. Alvaro yang mendengar suara Bintang seketika melepaskan cengkraman tangannya pada lengan Bulan.


Bintang terlihat keluar dari balik pintu. “Kak ayo masuk, kenapa kamu masih diluar?” Tanya Bintang penasaran, dia tidak suka melihat Alvaro bersama dengan Bulan.


Alvaro bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa didepan Bintang, ini urusannya dengan Bulan dan Alvaro tidak ingin Bintang turut ikut campur. “Iya Bi.” Sahut Alvaro seraya melempar senyum kepada Bintang.


“Terima hukumanmu nanti.” Ujar Alvaro lirih membuat Bulan yang mendengarnya begidik ngeri. Pemuda itu berjalan masuk kedalam rumahnya meninggalkan Bulan terpaku sendirian di teras dengan perasaan takut yang menyelimutinya.


Bersambung...

__ADS_1


Hukuman apa kira-kira? Aku harap kalian memberi like, vote, komen dan gift jika menyukai cerita ini. Dukungan kalian sangatlah berarti agar aku semangat update :)


__ADS_2