
Laura berkutat didapur, dia ingin memasak makan malam untuk dirinya dan juga putrinya. Dia membuka kulkas untuk mengambil beberapa bahan yang dia butuhkan. Laura berencana untuk memasak opor ayam saja karena kebetulan bahan yang tersisa didapur hanya beberapa potongan ayam. Laura lupa tidak membeli sayur, padahal dokter menyarankan putrinya yang hamil untuk mengonsumsi sayur setiap hari.
Tring…tring
Dering ponsel Laura berbunyi, dia beranjak mengambil ponselnya yang tergeletak di atas pantry. Terdapat sebuah notifikasi pesan dari seseorang, Laura mengerutkan dahinya tatkala dia mendapati Farez yang telah mengiriminya pesan dari whatsapp.
Calon Menantuku
Tante, nanti jam 7 apakah kalian sibuk? Papaku mengundang tante dan Bulan untuk makan malam dirumah kami.
Membaca pesan dari calon menantunya membuat Laura seketika sumringah. Astaga, apakah ini pertanda jika Giandra merestui hubungan mereka berdua? Laura yakin jika Farez pasti telah memberitahu Gindra jika dia berniat ingin melamar putrinya. Ya ampun secepat inikah pria itu memberikan restu kepada anaknya? Jalan Laura untuk menjadi bagian keluarga Abraham semakin terbuka lebar. Tanpa pikir panjang Laura segera membalas pesan dari calon menantunya.
Tante Laura
Kami sama sekali tidak sibuk, aku dan Bulan dengan senang hati akan datang kerumahmu.
Setelah membalas pesan singkat dari Farez, Laura lantas melepaskan celemek yang dipakainya. Dia kembali membereskan dapurnya tidak jadi memasak karena Laura akan makan malam dirumahnya Farez. Wanita paruh baya itu berjalan menuju ruang tengah dimana putrinya tengah asyik duduk disofa menonton televisi sembari memakan cemilan yang tersedia diatas meja.
Bulan mengerutkan dahinya tatkala melihat Laura mendatanginya dengan raut wajah gembira tergambar jelas diwajah cantiknya. "Sayang ayo kita siap-siap." Ujarnya, wanita paruh baya itu menarik pergelangan tangan putrinya namun Bulan enggan untuk menurut.
"Siap-siap untuk apa ma?" Tanya Bulan bingung dengan tingkah Laura. Dia masih ingin menonton acara komedi di televisi, mamanya mengganggu saja.
__ADS_1
Laura menangkup pipi putrinya dengan kedua tangan. "Sayang, mama ada kabar gembira buat kamu."
Bulan malah semakin bingung mendengar ucapan mamanya. Wanita paruh baya itu tersenyum girang seolah mendapatkan hadiah doorprize dari seseorang. "Kabar apa ma?" Tanya Bintang lagi, dia mengangkat setoples roti kering namun Laura merampas toples itu dari genggaman tangan Bintang meletakkannya kembali diatas meja membuat Bulan merasa kesal.
“Jangan makan terus Bulan nanti kamu kekenyangan.” Ujar Laura memberitahu agar putrinya berhenti nyemil. Kenapa memangnya? Seharusnya mamanya tidak melarang, wanita hamil seperti Bulan memang sering merasa lapar. Dia tidak bisa mengontrol porsi makannya, apalagi melihat makanan yang manis-manis Bulan selalu tergiur untuk mencicipinya.
Bulan menghela nafas panjang menatap tingkah mamanya. “Mama belum menjawab pertanyaanku tadi.” Dia penasaran menuntut penjelasan dari Laura.
Wanita paruh baya itu menyunggingkan senyumnya lebar. “Giandra, papanya Elfarez mengundang kita makan malam dirumahnya.”
Deg
Bulan tertegun sesaat, dia menatap nanar Laura yang berada tepat dihadapannya. Apakah dia tidak salah dengar? Mengapa papanya Farez mengundangnya makan malam? Bulan sama sekali tidak mengerti. “Ma aku tidak ingin datang.” Sahut Bulan menolak, lebih baik dia berada dirumah saja menonton televisi.
Raut wajah Laura terlihat kesal mendengar ucapan putrinya barusan, dia mencengkram lengan Bulan dengan erat seolah menyalurkan emosinya. Bulan merintih merasakan sakit, dia hanya bisa menatap wajah mamanya dengan sendu. “Kamu itu anak mama, mama sudah susah payah melahirkan kamu tapi kamu malah selalu membatah perintah mama!” Bentak Laura agar putrinya sadar diri. Laura selama ini bersikap sabar kepada Bulan, lama-kelamaan putrinya malah semakin melunjak. Laura melakukan ini semua juga demi kebaikan Bulan.
"Kamu jangan jual mahal Bulan! Kalau sikap kamu seperti ini maka Farez tidak akan mau untuk menikahi wanita angkuh sepertimu!" Maki Laura dengan sengit.
“Ma Bulan tidak mau menikah dengan siapapun.” Balas Bulan mulai meneteskan air mata, dia lelah terus-terusan mendapat kekangan dari Laura. Tidak bisakah wanita itu mengerti perasaan Bulan saat ini? Mamanya berbuat sesuka hati, demi dendam dan memuaskan keinginannya Laura tega memperalat anaknya sendiri.
“Mama tidak peduli Bulan! Kamu harus menikah dengan Farez, luluhkan hati pemuda itu agar dia segera meminangmu.” Tegas Laura menatap tajam putrinya yang menangis terisak, dia merasa kecewa dengan keputusan mamanya.
__ADS_1
“Ma aku mohon, jangan paksa Bulan ma hiks…hiks.” Bulan masih berusaha mengelak berharap mamanya kasihan kepadanya dan memberi kesempatan Bulan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri.
Laura heran dengan putrinya, apasih kurangnya Farez? Pemuda itu tampan dan kaya raya, kenapa Bulan enggan untuk menerima Farez menjadi pendampingnya? Jangan bilang kalau Bulan masih mencintai mantan suaminya yang brengsek. Tidak, tidak mungkin! Bulan terlihat membenci Alvaro, menatap rupa Alvaro saja wanita itu ketakutan jadi tidak mungkin Bulan masih memiliki perasaan terhadap mantan suaminya.
Melihat putrinya menangis tidak membuat Laura merasa iba, dia malah bertambah jengkel. Bulan memang bodoh! Dengan menikahi Farez dia bisa menjadi nyonya besar dalam keluarga Abraham, semua orang akan menghormatinya. Tidak ada ruginya menjadi istri dari Elfarez karena putrinya akan hidup berkelimang harta meskipun Bulan enggan mencintai Elfarez tapi setidaknya pemuda itu menyayangi Bulan. Farez tidak mungkin bertindak kejam seperti Alvaro yang sering menyiksa Bulan. Elfarez pemuda baik, dia juga sabar bahkan Farez terang-terangan menerima keadaan putrinya yang tengah mengandung.
"Mama aku mohon hiks...hiks...hiks." Bulan bingung harus bagaimana lagi dia menolak keinginan mamanya.
"Mama sudah tidak bisa lagi mengurusmu Bulan, apalagi anak kamu sebentar lagi akan lahir. Coba fikirkan, berapa banyak kebutuhanmu nantinya hah? Uang mama sudah habis untuk biaya perceraianmu." Hati Bulan merasa tertohok dengan ucapan Laura seolah Bulan menjadi beban hidup bagi mamanya.
Sebenarnya Laura tidak bermaksut menyakiti putrinya dengan kalimat pedas yang dia lontarkan barusan, menghabiskan uang berapapun demi kepentingan putrinya tidak menjadi masalah. Dia berkata demikian sengaja agar Bulan mengerti bahwa mereka saat ini tidak mempunyai apapun. Laura juga tidak bisa mengandalkan uang yang diberikan oleh Zhafran, karena pria itu membatasi nafkah yang dia berikan untuknya.
Laura tidak bisa hidup seperti ini, hanya Bulan yang bisa merubah keadaan untuk mengangkat derajatnya. Laura akui bahwa dirinya egois menggunakan putrinya untuk memperoleh kepuasannya semata, namun apa boleh buat rasa sakit hatinya yang membara membutakan segalanya. Tujuan utamanya adalah membalaskan dendamnya kepada Nadia dan Bintang. Dia akan membuktikan kepada mereka semua bahwa putrinya bisa mendapatkan pria yang lebih baik daripada Alvaro.
"Setelah anakku lahir aku bisa kerja lagi di dunia modeling untuk mendapatkan uang ma hiks...hiks. Aku yakin bisa membesarkan anak ini sendirian." Ujar Bulan berderai air mata sembari mengusap lembut perut besarnya.
Laura menoyor kepala Bulan beberapa kali saking kesalnya dengan pemikiran bodoh Bulan. Bekerja banting tulang seperti apapun Bulan tidak akan mampu untuk menghidupi cucunya kelak tanpa adanya seorang suami. Kenapa putrinya harus bekerja sengsara? Padahal didepan mata ada sosok pria yang menawarkan kehidupan nyaman untuknya. Masalah perasaan tidak menjadi hambatan, lambat laun Bulan pasti bisa mencintai Elfarez.
“Jika kamu menyayangi mamamu ini seharusnya kamu tidak membantah Bulan.” Balas Laura menatap tajam putrinya. “Mama punya penyakit jantung, mungkin hidup mama tidak akan lama lagi.” Bulan seketika mendongak, kenapa mamanya bilang seperti itu? Bulan sangat menyayangi mamanya. Tidak seharusnya Laura membicarakan kematian, perasaan Bulan menjadi sedih mendengarnya.
“Kamu tidak ingin mama mati mudakan karena memikirkanmu?! Menikahlah dengan Elfarez, jadikan dia menjadi suamimu agar mama senang.” Tegas Laura mutlak, Bulan harus menurut karena keputusan berada di tangan Laura. “Selama ini mama sudah melakukan banyak hal untukmu Bulan, bukankah seharusnya kamu membalas budi kepada mama. Mama hanya ingin kamu mengabulkan satu permintaan mama, menikahlah dengan Elfarez hanya itu.”
__ADS_1
Bulan hanya terdiam menunduk, tidak mampu berbuat apapun. Sebagai seorang anak Bulan memang harus membalas jasa orang tua yang telah melahirkan dan membesarkannya. Dia juga sadar diri dimana posisinya saat ini hanyalah seonggok boneka, dimana tali mengendali berada di tangan Laura. Bulan hanya bisa pasrah, dia tidak ingin melukai hati mamanya mengingat wanita itu mempunyai riwayat penyakit jantung yang berbahaya.
Bersambung...