Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 18 : Kehamilan Bulan


__ADS_3

Alaram ponsel Alvaro berbunyi nyaring membuat sang pemilik mengerjabkan matanya, dia berusaha bangkit dari tempat tidur sembari memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri. Alvaro melirik ponselnya yang nampak mengenaskan tergeletak di lantai, kamarnya sudah seperti kapal pecah dengan robekan pakaian mereka yang teronggok berceceran. Alvaro baru sadar jika dirinya dalam keadaan telanjang, dia ingat bahwa semalam dia telah memperkosa istrinya sendiri dalam keadaan mabuk.


Alvaro menoleh ke samping, dia melihat Bulan masih memejamkan kedua matanya. Terlihat pipi mulus istrinya lebam dan sudut bibirnya terdapat darah yang sudah mengering akibat tamparan semalam.


"Bulan." Panggilnya, namun istrinya tidak menjawab.


Dia lantas menepuk pelan pipi istrinya seraya memanggil namanya. "Bul, bulan bangun." Bulan sama sekali tidak bergerak membuat Alvaro cemas. Wajah Bulan saat ini memanglah terlihat pucat seperti mayat.


Alvaro mengguncangkan tubuh istrinya berharap wanita itu mau membuka matanya, namun nihil tidak ada respon sama sekali. Alvaro menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya. Dia terkejut melihat disekujur tubuh dipenuhi bercak kemerahan dan luka-luka yang nampak kontras dikulit putihnya.


Astaga, apa yang telah aku lakukan? Batin Alvaro menyesali perbuatan bejatnya semalam. Akibat emosinya yang memuncak ditambah pengaruh alkohol membuat fikirannya menjadi gila, dengan tega dia menggarap istrinya tanpa ampun.


Segera Alvaro membalut tubuh telanjang istrinya dengan selimut kembali. Dia mengambil baju dari lemari lalu memakainya, dengan perasaan khawatir dia membopong istrinya untuk di bawa ke rumah sakit.


...****************...


"Kamu benar-benar tidak waras Al." Maki perempuan berjas putih dengan stetoskop dikalungkan di lehernya. Mereka berdua sekarang berada di ruangan dokter berdiskusi mengenai keadaan Bulan.


"Apakah kamu menyiksanya?" Tanya perempuan itu memandang Alvaro dengan tatapan miris. Dia merasa kasihan dengan Bulan, ketika dia memeriksa tubuh ringkih wanita itu dia terkejut dengan luka-luka yang membekas pada kulit mulusnya.


"Aku hilang kontrol semalam." Mendengar jawaban dari Alvaro membuat dokter perempuan itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Sinta merupakan dokter tetap yang bekerja di rumah sakit milik keluarga Mahendra. Dia tiga tahun lebih tua dari Alvaro, sehingga dia menganggap Alvaro seperti adiknya sendiri. Jadi wajar jika mereka akrab dan dia tidak segan memarahi Alvaro jika pemuda itu melakukan perbuatan yang salah.


Sinta menghela nafas, berusaha menetralkan rasa kesalnya. "Kamu bisa membunuh anakmu atas perbuatan bodohmu itu."


Alvaro nampak mengernyitkan dahi. Anak? Apa maksutnya? Batinya dengan penasaran. Namun dia memilih diam, masih mendengarkan ocehan dari Sinta.


"Wanita hamil trimester pertama tidak boleh melakukan hubungan intim karena dikhawatirkan dapat mengganggu perkembangan pada janin dan yang paling buruk bisa menyebabkan keguguran, jika--."


"Tunggu." Alvaro memotong penjelasan Sinta, dia tambah bingung. "Apa maksut ucapanmu barusan? Sebenarnya bagaimana kondisi istriku?" Tanya Alvaro menuntut penjelasan.


Sinta menatap menyelidik ke arah Alvaro. "Jangan-jangan kamu belum mengetahui kalau istrimu tengah hamil." Tebak Sinta menerka-nerka, dia yakin bahwa pemuda di depannya ini pasti belum mengetahuinya, terlihat jelas diwajah bingungnya. "Aku sudah memeriksanya, istrimu hamil 4 minggu."


Alvaro terkejut mendengarnya, ada perasaan senang dalam benaknya karena dia memang menginginkan seorang anak. Dia yakin janin yang dikandung oleh Bulan adalah darah dagingnya karena di malam ketika istrinya menjebak dirinya dengan obat perangsang Alvaro telah mengeluarkan benihnya didalam.


"Diusia kandungannya saat ini sangatlah rentan, jadi kamu sebagai suaminya bersikaplah dengan lembut. Jangan membuat istrimu stres ataupun tertekan, turuti saja apa keinginannya. Ingat Al, kandungan istrimu lemah jadi aku sarankan jika memang kamu ingin berhubungan badan tunggulah sampai usia kehamilan istrimu 16 minggu."

__ADS_1


Alvaro mengangguk paham. "Terimakasih atas penjelasannya Sin." Dia lantas beranjak berjalan keluar dari ruangan dokter.


Sinta hanya bisa geleng-geleng kepala menatap kepergian Alvaro. Dia tahu bahwa Alvaro mempunyai tempramen tinggi, sekalinya dia marah dengan seseorang, dia tidak segan menyakiti orang tersebut dengan sadis. Sinta hanya bisa berharap semoga Bulan bisa betah bertahan hidup bersama dengan suaminya.


Alvaro kembali ke ruangan rawat inap, dia akan menemani istrinya di dalam. Atas tindakannya semalam jujur Alvaro sangat menyesal, dia hampir membunuh janin yang tidak berdosa. Alvaro memang membenci istrinya, namun dia menyayangi anaknya meskipun dalam kandungan wanita kejam seperti Bulan. Sebisa mungkin Alvaro akan menjaga anaknya, dia ragu dengan istrinya sendiri. Bulan sangat ceroboh, dia tidak bisa diandalkan untuk menjaga kehamilannya.


Sesampainya di ruang rawat inap istrinya, dia membuka pintu. Di atas brankar terlihat Bulan yang mendelik ketakutan melihat Alvaro muncul di ambang pintu. Seolah melihat hantu dia membungkus tubuhnya dengan selimut sampai hampir menutupi seluruh kepalanya. Lelaki itu diam-diam malah tersenyum melihat kelakuan konyol Bulan. Dia senang melihat istrinya telah sadar namun ada perasaan miris dibenaknya tatkala Bulan seolah enggan untuk bertemu dengan dirinya.


Alvaro berjalan mendekati brankar tempat Bulan berbaring. Dia mengulurkan tangannya ingin mengusap pipi istrinya yang terlihat membiru.


"Jangan." Cicit Bulan beringsut mundur enggan untuk disentuh suaminya. Bukannya merasa kasian Alvaro malah menatap tajam kearah Bulan seolah mengintimidasi.


"Aku tidak akan menyiksamu jika kamu menurut Bulan." Tandas Alvaro dengan nada dingin. Bulan hanya melirik sembari meremas jemarinya untuk menetralkan rasa takutnya.


Bulan memejamkan kedua matanya saat tangan kasar suaminya membelai lembut pipinya. Alvaro bisa merasakan tangannya menghangat tatkala jemarinya menyentuh kulit istrinya. Tadi pagi tubuh istrinya terasa dingin membuat Alvaro panik, tapi sekarang Alvaro bersyukur bahwa Bulan telah membaik.


Bulan menampik tangan Alvaro dengan keras. Tiba-tiba perutnya bergejolak seperti diaduk, Bulan segera menutup mulutnya dia ingin muntah. Bulan beranjak turun dari brankar, sesekali dia meringis sakit karena bagian organ bawahnya linu. Alvaro terdiam melihat istrinya susah payah berjalan tertatih menuju kamar mandi.


"Hoekk...hoek...hoek."


"Bulan." Panggil Alvaro khawatir, dia masuk ke kamar mandi yang pintunya belum sempat dikunci oleh Bulan. Melihat suaminya mendekat Bulan membulatkan matanya.


"Keluarlah Al, nanti kamu jijik." Cicit Bulan memberitahu, dia tidak ingin Alvaro melihatnya ringkih seperti ini. Alvaro pasti akan mengolok-olok dirinya.


"Hoek...hoek...hoek."


Bukannya menjauh Alvaro malah semakin mendekat. Tanpa diduga Alvaro dengan sukarela memijat tengkuk Bulan, membuat wanita itu terkejut dengan tindakannya barusan. Bulan segera membasuh bibirnya dengan air.


"Sudah muntahnya?" Tanya Alvaro membuat Bulan mendongak menatap sendu suaminya. Bulan hanya mengangguk menanggapi pertanyaan dari Alvaro, dia melangkah pelan keluar dari kamar mandi.


Bulan memekik kaget tatkala badannya melayang. Rupanya Alvaro menggendong tubuhnya, otomatis Bulan mengalungkan tangannya pada leher suaminya. Alvaro membaringkan Bulan kembali ke brankar tempat tidurnya, menyelimuti tubuh istrinya agar tetap hangat. Bulan hanya bisa menatap suaminya dengan tatapan bingung dengan semua perhatian yang diberikan oleh Alvaro. Tidak biasanya lelaki itu bersikap baik, ada apa sebenarnya dengan Alvaro? Bulan akan tetap waspada, dia tidak boleh lengah hanya karena perhatian kecil seperti ini. Sifat Alvaro bisa berubah kapan saja, dan itu cukup membuat Bulan menjadi resah.


"Istirahatlah, aku akan menemanimu disini." Ujar Alvaro memberitahu. Bukannya senang, Bulan tambah takut dengan perubahan sikap manis suaminya.


Tidak ingin berfikiran yang aneh-aneh, Bulan memilih memejamkan kedua matanya karena tubuhnya memang lemas dan kepalanya terasa berat. Tidak butuh waktu lama wanita itu sudah mengarungi dunia mimpi. Sedangkan Alvaro duduk di sofa yang telah disediakan di dalam ruangan VVIP ruang rawat istrinya. Alvaro sengaja belum memberitahu Bulan perihal kehamilannya. Dia berencana untuk memberitahu istrinya, jika kondisinya sudah stabil.

__ADS_1


...****************...


Alvaro menepuk bahu Bulan pelan, membangunkan wanita itu dari tidurnya. Perawat memberitahu bahwa sore hari ini waktunya untuk makan. Dia tidak ingin Bulan tidur dalam keadaan perut lapar, apalagi dia sekarang berbadan dua.


Bulan mengerjab, dia membuka kelopak mata lentiknya. Tatapan matanya memandang suaminya yang kini tengah berdiri membawa mangkuk putih berisi makanan.


"Waktunya makan Bulan, bangunlah." Ujar Alvaro seraya beranjak duduk di kursi.


Bulan menatap semangkuk bubur tanpa minat, dia tidak lapar. Perutnya masih merasa mual, apalagi melihat bubur dari rumah sakit pasti tidak enak. Alvaro mengulurkan sesendok bubur di depan mulut istrinya.


Bulan menggeleng. "Aku tidak mau Al, mulutku terasa pahit. Lagipula aku belum lapar." Tukas Bulan memberitahu.


Alvaro sudah berbaik hati ingin menyuapi Bulan, namun wanita itu menolak makanannya dengan alasan belum lapar. Sungguh Alvaro geram dengan tingkah Bulan. Alvaro memang bukanlah lelaki yang sabar, apalagi menghadapi istri bebalnya. Janin yang berada didalam kandungan Bulan sangat lemah, dokter menyarankan agar Bulan memperbanyak makan-makanan yang bergizi demi perkembangan janinnya.


"Makan Bulan!" Perintah Alvaro memaksa dengan tatapan tajam menusuknya memuat Bulan menciut. Namun Bulan tetap menolaknya, sungguh dia tidak ingin memakan bubur itu. Lagipula terserah Bulan ingin makan ataupun tidak. Kenapa Alvaro sampai segitunya memaksanya, membuat Bulan heran.


Tidak ada pilihan, Alvaro menyuapkan bubur itu ke dalam mulutnya sendiri lalu dia mencengkram tengkuk istrinya.


"Hmmmpppt." Alvaro mencium bibir istrinya membuat Bulan membelalakkan matanya, sedikit menggigit bibir istrinya agar terbuka. Lalu dia memasukkan bubur yang sempat dia makan untuk disalurkan ke dalam mulut istrinya.


Bulan berusaha mendorong dada suaminya. Namun Alvaro sama sekali tidak bergeming, dia melakukan ini juga demi kebaikan anaknya. Mau tidak mau Bulan menelan bubur hambar itu, dia meneteskan air matanya. Entah kenapa dia jadi lebih sensitif, dia merasa kesal karena Alvaro terus memaksanya.


Alvaro menyudahi pagutannya, dia mengernyitkan dahi ketika melihat Bulan menangis. "Kenapa menangis?!" Tanya Alvaro dengan nada dingin.


"Hiks...hiks...hiks." Bulan mengusap mulutnya bekas ciuman Alvaro. Melihat tindakan itu membuat Alvaro emosi, tapi dia berusaha menahan diri agar amarahnya tidak meledak. Kata dokter dia harus sabar menghadapi istrinya yang hamil.


"Jangan menangis Bulan! Apa susahnya tinggal makan saja, kenapa kamu selalu menyusahkanku!" Sentak Alvaro membuat Bulan malah menangis sesenggukan.


"Pa-hit Al, pe-perutku hiks...hiks masih mual." Ujar Bulan disela-sela tangisnya.


Alvaro menghela nafas berat. "Aku tidak mau tahu, kamu mau makan sendiri atau aku akan memaksamu lewat mulut seperti tadi!" Ancam Alvaro dengan tegas. Bulan mengambil mangkuk bubur itu, dengan berat hati dia memakannya sedikit demi sedikit, dia tertekan dengan segala perintah mutlak yang suaminya berikan. Menghiraukan rasa mual yang menderanya, dia lebih memilih menuruti kemauan suaminya.


Bersambung...


Jangan lupa untuk memberi like dan komentar agar aku semangat update❤️

__ADS_1


__ADS_2