
Pada masa remajanya Bulan dulu di SMA banyak lelaki yang berlomba-lomba ingin menjadi kekasihnya Bulan karena wanita itu mempunyai wajah yang cantik dan body yang indah. Bulan menjadi siswi yang populer bukan karena prestasi akademiknya namun karena kecantikannya yang mampu memikat lawan jenis. Hanya Alvaro yang sama sekali tidak tertarik dengannya, pemuda itu selalu menganggap Bulan sebagai sahabat padahal gadis itu berharap bisa menjalin hubungan lebih dengan Alvaro. Bulan merasa sakit hati tatkala Alvaro mengungkapkan rasa sukanya terhadap Bintang membuat Bulan kesal.
Dikala itu Bulan datang menemui Daren menawarkan kerjasama karena dia tahu bahwa Daren mencintai adiknya dan selalu ngotot meminta Bulan untuk mengenalkan dia pada Bintang. Bulan setuju, tapi dengan syarat Daren harus mau menjadi pacar pura-puranya untuk membuat Alvaro cemburu. Ketika hubungan mereka diumumkan membuat para remaja pria seantero sekolah patah hati, karena sang idola kini telah mempunyai kekasih, termasuk Alvaro yang jelas terkejut. Namun diluar prediksi Bulan, bukannya Alvaro cemburu seperti rencananya tapi malah Bulan yang tertekan dengan sifat arogan dan kasar Daren kepadanya. Pemuda itu malah memperbudak dirinya layaknya seorang babu yang harus menuruti segala keinginannya.
Awalnya Bulan masih sabar, dia bisa bertahan dengan sikap semena-mena Daren. Tapi lama-kelamaan Daren menjadi ngelunjak memintanya macam-macam, Bulan baru sadar bahwa Daren rupanya pria brengsek yang sering menggoda para gadis untuk dia ajak one night stand. Daren pernah menggoda Bulan untuk menginap ditempat tinggalnya, namun Bulan menolak karena dia tahu akal bulus Daren. Semenjak mengetahui sifat bajingan Daren, Bulan akhirnya memilih mengakhiri hubungan mereka. Memang sedari awal ikatan mereka hanyalah atas dasar main-main saja, tidak serius. Mereka berdua saling memanfaatkan untuk tujuan masing-masing.
"Aku akan kasih uang berapapun yang kamu mau, asal kamu jangan menggangguku. Hubungan kita sudah berakhir, aku tidak ingin terlibat denganmu lagi!" Ujar Bulan dengan nada sengit. Bulan tidak ingin berurusan dengan Daren karena akan berdampak buruk bagi dirinya sendiri.
"Kamu itu masih pacar aku, ngerti! Aku berhak atas dirimu!" Ucapan Daren membuat Bulan geram. Dia tidak suka sifat menuntut Daren yang ditunjukkan kepadanya.
"Aku sudah muak dengan tingkahmu Daren. Ingat kita pacaran bukan atas dasar suka sama suka, ngerti? Lagipula aku pacaran sama kamu hanya untuk membuat Alvaro cemburu dan kamu setuju pacaran denganku agar kamu bisa mendapatkan Bintang! Hubungan kita saling menguntungkan, jadi kamu jangan merasa dirugikan." Ujar Bulan menggebu-gebu berusaha menyadarkan Daren dimana posisinya saat ini.
"Minggir!" Bulan mendorongnya cukup keras hingga Daren terdorong ke belakang.
Mendapat kesempatan kabur, Bulan berlari menuju pintu keluar. Namun lagi-lagi kalah cepat dengan Daren yang menarik pinggulnya kemudian membanting tubuhnya cukup keras ke lantai.
"Ahhh." Bulan meringis nyeri.
Daren menindih tubuh Bulan yang terkelapar di dinginnya lantai toilet. Bulan dapat melihat rahang lelaki di depannya gemertak karena amarah, sorot matanya tajam dan gelap seakan ingin menghabisinya. "Aku nggak akan pernah lepasin kamu sebelum aku mendapatkan apa yang aku mau!"
"Nggak! Aku nggak sudi." Bulan memukuli tubuh Daren dengan kepalan tangannya agar lelaki itu menyingkir.
Daren dengan cepat meraih kedua tangan Bulan, menahan pergerakannya disisi kepala gadis itu. "Lepasin aku!" Tubuhnya mulai gemetar takut jika Daren akan melakukan hal gila ini kepadanya maka Bulan akan hancur.
"Tolong!" Bulan berteriak sekencang mungkin.
__ADS_1
"Tolong...tolong...tolong."
"Tolong ak--."
"Mmmpptt" Daren ******* bibir ranum Bulan membuat gadis itu melotot atas tindakan Daren yang mencium bibirnya tanpa ijin.
Ciuman kasar tidak berperasaan, beginilah cara Daren membungkam mulut gadis tidak tahu diri ini. Bulan berusaha meronta namun dia mulai lemas, tenaganya juga habis. Daren melepaskan tautan bibirnya, memberi kesempatan gadis dibawah kuasanya menghirup oksigen. Daren mengusap lembut bibir tipis merah cherry Bulan. Di luar dugaan Bulan malah meludahinya tepat mengenai wajah tampannya. Tidak bisa dibendung lagi luapan kemarahan Daren saat ini memuncak.
PLAKK
Daren menampar pipi kanan Bulan cukup keras hingga sudut bibirnya berdarah. Kepala Bulan rasanya pusing, air matanya perlahan menetes. Tubuhnya terasa mati rasa karena Daren menahannya kuat.
"Hiks...hiks...hiks." Bulan hanya mampu menangis ketika Daren mulai melucuti seragam putihnya hingga menampakkan dalaman tanktop warna hitam melekat di tubuhnya.
Ketika tangan Daren ingin menurunkan rok seragamnya, Bulan menghentikannya. "Please hiks, jangan." Ujarnya lirih menitihkan air mata. Daren tetap melanjutkan aksinya membuat Bulan pasrah, dia tidak bisa berkutik.
"Bulan kamu dimana?" Teriaknya lagi, dia tahu bahwa itu adalah suara dari Alvaro.
Bulan ingin berteriak sekencangnya bahwa dia ada didalam toilet akan tetapi mulutnya kelu, suaranya seakan habis dan tubuhnya lemas tidak berdaya.
BRAKK
Suara tendangan keras pada pintu toilet, membuat Daren terkejut. Sebelum sempat menoleh Alvaro sudah terlebih dahulu menarik kaos Daren hingga membuat pemuda itu beranjak berdiri.
Alvaro melihat sekilas penampilan Bulan yang berantakan dengan pakaian sobek sana-sini hampir telanjang. Dengan emosi Alvaro langsung menonjok muka Daren dengan keras hingga membuatnya terpelanting.
__ADS_1
Daren yang tidak terima, dia membalas memukul perut Alvaro membuat lelaki itu meringis sakit. "Kurang ajar!" Desis Alvaro murka.
Daren bukanlah lawan yang berat bagi Alvaro yang sudah berlatih bela diri sejak kecil. Pemuda itu berani macam-macam dengan menyakiti Bulan, apalagi dia hampir saja memperkosanya. Ini tidak bisa Alvaro ampuni!
Pemuda itu menjegal kaki Daren membuatnya tersungkur, kemudian tanpa ampun Alvaro memukulinya hingga babak belur. Alvaro menghentikan aksinya ketika dia tahu bahwa Daren sudah pingsan. Alvaro sama sekali tidak peduli, yang dia pedulikan hanyalah Bulan.
Dia berjalan mendekati Bulan yang nampak lemas, melepaskan jaket denimnya untuk membungkus tubuh sahabatnya. Dia menggendong Bulan membawanya ke UKS, untung saja masih dibuka. Alvaro membaringkan tubuh ringkih itu di atas brankar dengan perlahan.
Alvaro mengusap lembut pipi kanan Bulan yang memar. Bulan dengan tangan gemetarnya meraih pergelangan tangan Alvaro yang tengah menyentuh pipinya. Alvaro terdiam menatap wajah sayu wanita dihadapannya, perlahan lelaki itu mengusap air mata Bulan yang membasahi pipi.
"Please, jangan nangis." Hal yang tidak disukai oleh Alvaro adalah melihat sahabatnya Bulan mengeluarkan air mata sedih.
Perlahan Bulan beranjak bangun, dia duduk ditepi brankar. "Al ah-aku--." Bulan terbata-bata ingin mengungkapkan sesuatu. "Hiks...hiks, dia-dia menciumku." Adu Bulan menangis terisak, Daren telah menyentuhnya. Gadis itu tidak bisa menerimanya, dia beranggapan bahwa bibirnya telah ternodai oleh pria laknat itu.
Alvaro menarik dagu Bulan, dia menatap lekat wajah sayu gadis itu yang berlinang air mata. "Mana yang dia cium Bulan?" Tanya Alvaro menelisik.
Bulan menyentuh bibirnya. "Disini."
Alvaro mendekatkan wajahnya, dia menautkan bibirnya ******* lembut bibir ranum Bulan membuat gadis itu terbelalak. Bulan hanya diam membebaskan Alvaro untuk menyentuhnya, karena Alvaro adalah pria yang sangat dia cintai.
Alvaro menyudahi pagutannya, dia mengusap bibir basah Bulan dengan jempol tangannya. "Aku sudah menghapus jejak Daren dibibirmu." Ujarnya seraya tersenyum agar Bulan berhenti menangis.
Pemuda itu memeluk Bulan. "Tenanglah, ada aku disini yang akan selalu melindungi kamu Bulan." Tangis Bulanpun pecah, dia menumpahkan kesedihannya dalam pelukan Alvaro. Karena sejatinya hanya Alvaro yang dulu selalu membuat hati dan perasaannya menjadi damai. Pria itu adalah satu-satunya teman yang Bulan miliki yang selalu membela Bulan ketika dibully sekaligus orang kedua yang Bulan sayangi setelah mamanya.
Flashback off
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak vote, like, komen dan memberi gift biar aku semangat update setiap hari :)