
Alvaro duduk termenung diruang tamu apartemennya, selama tiga hari ini dia belum pulang kerumah. Bintang berulangkali menanyakan kabarnya, hampir setiap menit ponsel Alvaro berdering karena istri mudanya menelfon dan mengiriminya spam pesan. Alvaro sudah menjelaskan bahwa seminggu kedepan dia sedang mengurus pekerjaannya di luar kota, Alvaro memang sengaja berbohong untuk mengelabuhi Bintang. Pemuda itu butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri, akhir-akhir ini fikirannya kalut memikirkan Bulan. Sejauh ini dia belum menyerah untuk tetap mempertahankan pernikahannya, apalagi melihat Elfarez gencar mendekati istrinya membuat Alvaro semakin bertekat memaksa Bulan kembali kepelukannya lagi. Dia tidak akan rela membiarkan istri pertamanya itu jatuh ketangan Elfarez, karena Bulan adalah miliknya.
Alvaro menyentuh dagunya lalu mengusap sudut bibirnya yang masih terasa nyeri, dia jadi teringat kejadian di kantor pengadilan dimana Farez memukulinya hingga terkapar babak belur. Luka-luka lebam ditubuhnya bahkan belum sembuh. Bekas memar terlihat kentara di pipinya yang membiru, namun semua rasa sakit ini tidak ada apa-apanya bagi Alvaro. Tangan pemuda itu terkepal kuat, jujur ada perasaan takut dalam benak Alvaro karena minggu depan dia akan melakukan sidang perceraian. Alvaro telah mengajukan mediasi untuk kedua kalinya, namun ditolak. Dia mulai gusar, rupanya pengacara yang disewa oleh mertuanya itu cukup hebat. Alvaro tidak bisa meremahkan mereka lagi, apapun akan dia lakukan untuk memenangkan persidangan minggu depan.
Tring...tring...tring
Ponsel Alvaro berbunyi, pemuda itu nampak memijat pelipis kepalanya sembari menghembuskan nafas kasar. Dia bisa menebak siapa orang yang menelfon dirinya. Dengan perasaan kesal Alvaro mengambil ponselnya yang berada diatas meja. Dia mengangkat panggilan itu, mendengarkan seseorang dari sebrang sana untuk berbicara.
"Hallo, hallo Kak Al. Akhirnya kamu menerima panggilan telfonku. Kak kakak ada dimana? Apakah hari ini kak Al akan pulang?" Tanya Bintang dari sebrang sana, wanita itu terdengar antusias berharap suaminya akan datang kerumah malam ini.
"Bi, bukankah aku sudah bilang kepadamu, aku saat ini masih berada di Bali untuk mengurus bisnisku." Kilah Alvaro berbohong karena tidak ingin Bintang bertanya macam-macam kepadanya. Kepalanya saat ini berdenyut pusing, apalagi Bintang selalu menelfonnya hanya untuk menanyakan kapan dia pulang membuat Alvaro merasa jengah.
Bintang mengulum bibirnya, sungguh dia rindu dengan suaminya. Baru juga ditinggal 3 hari namun Bintang tidak bisa menahan diri untuk segera bertemu dengan Alvaro. Dia khawatir, Bintang tidak bisa jauh dari suaminya. Dia mudah sekali merasa gelisah, mungkin karena hormon kehamilannya.
"Kak tidak bisakah kamu pulang demi aku, ah bukan maksutku demi anak kita." Ujar Bintang memelas, dengan cara ini mungkin Alvaro akan menurutinya. "Kak, apakah pekerjaanmu lebih penting daripada anak kita."
Alvaro sejenak memejamkan mata, dadanya bergemuruh menahan perasaan jengkel dihatinya. Bintang terus-terusan merengek, wanita itu mendesaknya seolah tidak memberikan ruang bagi Alvaro. Istrinya benar-benar manja, mungkin selama ini dia selalu memperlakukannya terlalu sabar hingga Bintang selalu bergantung kepadanya. Pemuda itu membuka matanya, berusaha menahan emosi agar dirinya tidak melontarkan kalimat yang dapat menyakiti perasaan istrinya.
__ADS_1
“Bi bukankah aku sudah bilang kepadamu bahwa aku saat ini berada di Bali selama seminggu untuk mengurus bisnis. Seharusnya kamu mengerti bahwa aku sedang sibuk, tapi kamu malah menghambatnya dengan menyuruhku pulang.” Sentak Alvaro dengan nada sedikit keras agar istrinya sadar diri.
Bintang mengernyitkan dahi, dia tersentil dengan ucapan suaminya barusan. Jujur Bintang tersinggung dengan ucapan Alvaro yang menganggap dirinya sebagai hambatan didalam hidup pemuda itu. “Kak aku sendirian, situasi disini belum aman dan kamu malah tega meninggalkanku.” Balas Bintang mulai meneteskan air mata, dia tidak habis fikir dengan suaminya.
Alvaro mengusap wajahnya gusar. “Bi kamu berada di rumah orang tuaku, disana ada mama dan juga adikku yang akan menjagamu. Lantas apa yang kamu khawatirkan?!”
Bintang melongo mendengar balasan suaminya. Memang benar saat ini dia berada dirumah mertuanya, namun apakah Alvaro tidak mencemaskan keadaannya? Ada seorang penjahat diluaran sana masih berkeliaran meneror dirinya. Bahkan banyak orang-orang yang ingin menyakitinya, jika terjadi sesuatu yang buruk dengan dirinya dan bayi yang berada dalam kandungannya pasti Alvaro akan menyesal.
"Kak tapi--."
Disisi lain lebih tepatnya di kediaman keluarga Mahendra, Bintang tengah duduk termenung di sofa ruang tamu. Dia mengusap air matanya yang mengalir membasahi pipi, baru kali ini dia merasa sakit hati dengan perkataan suaminya. Pemuda itu lebih mementingkan pekerjaan daripada memikirkan dirinya dan buah hatinya. Sejak kejadian teror yang menimpanya, Alvaro menggiring Bintang untuk tinggal kerumah orang tua Alvaro karena tidak tega jika membiarkan istrinya berada dirumah sendirian. Meskipun dikediaman orang tua Alvaro terdapat Mama Clara dan Tiara namun Bintang tetap merasa kesepian tanpa kehadiran suaminya. Seharusnya Alvaro sadar jika wanita hamil sangatlah sensitif, dia ingin selalu berada dekat dengan suaminya.
“Bintang.” Suara lembut seorang wanita seketika membuat Bintang menoleh, dia menatap sendu mama Clara yang berjalan mendekatinya. Wanita paruh baya itu duduk disamping sang menantu, dia mengusap lembut surai rambut Bintang dengan sayang. “Kenapa Bi? Kenapa kamu sedih?” Tanya Clara mencemaskan Bintang, wanita paruh baya itu bisa melihat bekas air mata yang menggenang dipelupuk mata Bintang.
“Hiks…hiks…hiks, ma aku kangen sama kak Al. Ta-tapi dia tidak bisa pulang kerumah.” Ujar Bintang menangis sesegukan membuat Clara turut bersedih. Jujur saja Clara saat ini merasa kalut memikirkan masalah putranya. Pemberitaan gosip yang memberitakan putranya sungguh keterlaluan, nama baik keluarga Mahendra dan Bramasta kini dipertaruhkan.
Clara akui bahwa putranya menikahi dua wanita, namun selama ini yang Clara ketahui bahwa putranya bersikap adil kepada istrinya. Alvaro bertanggung jawab memenuhi kebutuhan untuk Bintang maupun Bulan. Rumor yang beredar memojokkan Bintang, semua media menghujat Bintang sebagai pelakor yang telah merusak hubungan rumah tangga Bulan dan Alvaro. Padahal itu semua tidak sepenuhnya benar, menurut Clara mereka tidak berhak menyalahkan Bintang. Semua telah terlanjur, nasi sudah menjadi bubur apalagi saat ini Bintang sedang mengandung cucunya.
__ADS_1
Alvaro sangat mencintai Bintang, bahkan sebelum pernikahannya dengan Bulan digelar mereka sudah menjalin hubungan. Clara tahu bahwa Bulan memaksa putranya untuk menikahinya, oleh karena itu Alvaro terpaksa menikahi Bulan atas dasar kasian.
Pernikahan putranya dengan Bulan memang tidak berjalan mulus karena Alvaro masih dalam bayang-bayang Bintang. Sebenarnya Clara dulu sudah menasehati Alvaro agar dirinya melupakan Bintang saja dan memulai hidup bahagia bersama dengan Bulan. Namun kenyataannya Clara mendengar kabar cukup mengejutkan mengenai kehamilan Bintang. Putranya mengundang bencana dengan menikah dengan Bintang, tapi pada waktu itu Clara yakin bahwa putranya pasti akan bisa menyelesaikan masalah ini. Sekarang siapa yang salah? Pernikahan putranya tambah menjadi rumit dengan adanya pemberitaan rumor buruk yang tertuju padanya, nama baik keluarga mereka kini disepelekan.
Clara memeluk tubuh Bintang, dia berusaha untuk menenangkan menantunya. "Tenanglah Bintang, Alvaro pasti akan segera pulang. Nanti mama akan menelfonnya untuk datang kesini ya." Ujar Clara memberitahu, jika Bintang terus-terusan bersedih dan tertekan Clara takut akan mempengaruhi bayi yang berada dalam kandungan Bintang.
Ya tuhan, kenapa putranya malah pergi disaat istrinya sedang membutuhkannya. Bulan memilih untuk mundur, perceraian mereka tinggal menghitung hari. Sekarang hanya ada Bintang yang setia bertahan bersama putranya. Akan lebih baik Alvaro memperhatikan Bintang, saat ini hanya Bintanghlah yang selalu ada disisi putranya. Batin Clara merasa miris.
Bintang masih menangis dalam pelukan Clara. "Sudah, tenanglah Bintang. Mama akan menyuruh Al untuk segera pulang." Ujar Clara dengan lembut dibalas anggukan oleh Bintang. Dia benar-benar ingin bertemu dengan suaminya saat ini. Ucapan mama Clara sedikit membuat Bintang merasa lega, dia bersyukur memiliki mama mertua yang perhatian seperti mama Clara.
Clara lantas mengurai pelukannya, dia mengulum senyum menatap menantunya yang cantik. Tangan lembutnya mengusap cairan bening yang menetes dipipinya. “Jangan menangis Bintang, cucuku tidak ingin melihat ibunya bersedih.” Ujar Clara sembari membelai perut besar wanita muda dihadapannya. Bintang tersenyum, dia trenyuh dengan sikap baik mertuanya.
“Mama janji ya tolong bujuk kak Alvaro untuk pulang.” Bintang menggenggam jemari tangan Clara memohon bantuannya, berharap jika mama Clara yang berbicara dengan Alvaro maka pemuda itu akan menurut.
“Iya sayang.” Bintang senang mendengarnya, meskipun orang-orang banyak yang membencinya namun setidaknya mertuanya masih berpihak kepadanya.
Bersambung...
__ADS_1