Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 19 : Sakit


__ADS_3

Hari ini Bulan diperbolehkan pulang karena kondisinya telah membaik, setelah selama 3 hari dia dirawat di rumah sakit akhirnya Bulan bisa menginjakkan kakinya di rumah. Dia lega sekarang dia beristirahat dikamarnya lagi. Bau rumah sakit yang didominasi dengan aroma obat-obatan seringkali membuatnya mual, Bulan tidak menyukai tempat itu. Lagipula Bulan tidak bisa berlama-lama menginap dirumah sakit karena besok dia harus terbang ke Amerika untuk mengikuti new york fashion week.


"Lebih baik aku packing bajuku sekarang." Gumam Bulan beranjak dari tempat tidurnya. Tadi Alvaro menyuruhnya istirahat, tapi Bulan sama sekali tidak mengantuk.


Ada keanehan dengan Alvaro, semenjak Bulan sakit dirumah sakit perilaku lelaki itu begitu perhatian dengan dirinya. Bulan sebenarnya curiga, namun dia selalu mengenyahkan berbagai fikiran buruknya mengenai Alvaro. Bahkan Bulan sempat berfikir kalau dia mungkin mempunyai penyakit yang sangat parah sehingga  membuat Alvaro merasa kasian kepadanya.


Apa mungkin umurnya tidak panjang lagi? Sehingga disisa-sisa umurnya ini Alvaro ingin sedikit menebus dosanya dengan berbuat baik kepada Bulan, agar saat Bulan mati dirinya tidak bergentayangan menuntut balas kepada suaminya. Banyak fikiran ngawur yang berkecamuk di otak kecil Bulan. Suaminya memang lelaki yang misterius, Bulan tidak bisa menebak apa yang tengah direncakan Alvaro.


Bulan berjalan menuju lemari, dia memilih beberapa pakaian dan barang-barang seperlunya. Satu persatu pakaiannya dia masukkan kedalam koper, dia tidak sabar untuk pergi keluar negeri. Selain untuk pekerjaan tujuannya kesana sekaligus untuk menenangkan diri.


Ceklek


Bulan menoleh ketika seseorang membuka pintu kamarnya. Diambang pintu Alvaro berdiri menjulang menatap dirinya dengan dingin. "Mau kemana kamu?" Tanyanya kepada Bulan.


"Besok aku akan berangkat ke Amerika." Ujar Bulan sembari memasukkan alat make upnya ke dalam koper.


Alvaro nampak menukikkan alis tebalnya, dia berjalan mendekati Bulan. Tanpa diduga Alvaro menendang koper Bulan hingga barang-barang yang telah capek-capek ditatanya berhamburan keluar.


Bulan melotot melihat perilaku menyebalkan Alvaro. Dia beranjak berdiri menatap suaminya tajam. "Kamu kenapa sih Al?" Tanya Bulan keheranan.


"Aku tidak mengizinkanmu pergi." Tegas Alvaro.


"Aku tidak peduli, lagipula aku tidak butuh izinmu." Balas Bulan sembari memunguti pakaiannya yang berserakan dilantai.


Alvaro mulai tersulut emosi, beberapa hari ini dia memang bersikap lunak kepada Bulan. Namun kelihatannya gadis itu memanfaatkan kesabarannya, sekarang gadis itu sudah berani malawan perintahnya. 


Alvaro tertawa sinis. "Sebegitu inginnya kamu menemui Farez, kalian ingin liburan ke Amerika bersama bukan?"


Bulan mengernyitkan dahinya, dia tidak habis fikir dengan Alvaro. Kenapa dia membahas Elfarez lagi, sungguh Bulan muak mendengar semua fitnah yang dilontarkan Alvaro untuknya.


Dengan menarik nafas berat, mencoba menahan diri. Bulan menatap manik mata Alvaro intens. "Cukup Al! Aku tegaskan, bahwa aku sama sekali tidak ada hubungan apapun dengan Farez. Aku ke Amerika untuk bekerja, bukan untuk bersenang-senang." Berhenti sejenak, dia menetralkan dadanya yang bergemuruh. "Aku tidak sama seperti dirimu Al, yang tega meninggalkan istri hanya untuk menghabiskan waktu demi perempuan lain."


Alvaro terdiam, nyatanya hatinya tertohok dengan ucapan Bulan. Alvaro tahu dirinya memang salah, tapi dia terlalu gengsi untuk mengakuinya. Lagipula Bulan sendiri yang memulai permasalahan rumit diantara mereka bertiga. Jika dibilang Alvaro cemburu, ya memang dia cemburu. Bagaimanapun Bulan merupakan istrinya, dia tidak ingin apa yang telah menjadi miliknya diganggu ataupun direbut dari genggamannya. Untuk saat ini Alvaro belum bisa melepaskan Bulan dari hidupnya, apalagi sekarang ada janin yang harus dia jaga di rahim istrinya.


"Sebelumnya kamu tidak pernah peduli kemanapun aku pergi, kamu malah senang jika aku tidak berada di dekatmu. Lalu kenapa sekarang kamu melarangku?" Tanya Bulan menggebu-gebu. "Kemanapun aku pergi itu bukan lagi urusanmu Al." Tandasnya menekan disetiap kata agar lelaki yang berstatus menjadi suaminya itu mengerti.


Tidak ingin memperdulikan Alvaro, dia memilih melanjutkan membenahi koper yang rupanya telah rusak akibat tendangan kasar suaminya. "Aku sudah mengatakan kepadamu bahwa aku ingin kita bercerai Al, jadi lebih baik sudahi sandiwara pernikahan membosankan ini dan mulai menata hidup masing-masing."


"BULAN!" Alvaro membentak istrinya, dia tidak suka jika Bulan mengatakan cerai dihadapannya. Wanita itu mengucapkannya dengan santai tanpa rasa ragu sedikitpun, sebegitu inginnya dia berpisah dengan Alvaro.

__ADS_1


Bulan hanya melirik sekilas menatap culas ke arah suaminya. "Sudahlah Al, keluarlah dari kamarku. Aku sedang sibuk."


Alvaro tidak menggubris ucapan istrinya, dia berjalan menuju nakas mengambil sebuah dokumen yang berisi file penting seperti tanda tangan kontrak dan lain sebagainya. Tanpa perasaan Alvaro merobek kertas dokumen itu, begitupun juga dengan paspor Bulan tidak luput dari keberingasan suaminya. Dada bulan naik turun emosi melihat file pentingnya sobek mengenaskan di lantai.


"Bajingan kamu Al!" Bulan mendorong tubuh suaminya, beberapa kali Bulan memukul dada bidang lelaki itu. Bayangkan saja dokumen penting yang telah disiapkan dirinya dari sebulan yang lalu lenyap di tangan suaminya. Bagaimana dia bisa pergi ke Amerika kalau seperti ini caranya. "Kenapa kamu merobeknya Al, kamu benar-benar jahat!" Bulan menangis sembari terus memukul dada suaminya. Namun seolah tidak merasakan sakit lelaki itu nampak tidak bergeming sedikitpun.


"Pekerjaan ini sangat penting untukku. Ini adalah impianku sejak dulu Al." Mengenakan brand fashion dari designer ternama, ditambah dengan tampil di new york fashion week tidaklah mudah. Melalui tahap seleksi yang ketat, Bulan akhirnya terpilih menjadi salah satu model yang direkrut.


"Dan kamu." Tunjuk Bulan ke arah suaminya, dia meneteskan air mata. "Menghancurkan mimpiku hiks...hiks."


Bukan hanya Bulan, Alvaropun juga emosi. Lelaki itu mencengkram tangan Bulan untuk berhenti memukulnya. "Lepaskan Al." Bulan memberontak, dia mencoba melepaskan diri.


"Bulan dengar, aku melakukan ini untuk kebaikanmu." Ujarnya memberitahu.


"Kebaikan apa, hah?!" Sentak Bulan bertanya. "Selama ini yang kamu lakukan hanya untuk menyakitiku saja Al, itu yang kamu artikan sebagai kebaikan?"


"BULAN, CUKUP!" Bentak Alvaro agar Bulan diam, dia belum selesai melanjutkan penjelasannya.


"Nggak! Aku tidak mau mendengarkanmu lagi. Lepaskan aku Al." Bulan berusaha melepaskan cengkraman kuat di tangannya.


"DENGAR BU--."


Dengan cepat Bulan memotong ucapan Alvaro. "Nggak, aku tidak mau mendengar--."


Deg


Bulan seketika terdiam tatkala mendengar ucapan Alvaro barusan. Apa dirinya tidak salah dengar? Dengan sendu Bulan menatap mata suaminya, berharap jika Alvaro berbohong.


"Alasan kenapa aku tidak memperbolehkanmu pergi keluar negeri karena aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk kepada anakku yang berada di dalam kandunganmu. Kamu wanita yang bodoh dan ceroboh, menjaga dirimu sendiri saja kamu tidak becus bagaimana kamu bisa menjaga anakku jauh dari pengawasanku." Ujar Alvaro menatap dingin ke arah istrinya.


Alvaro menekan dagu Bulan agar mendongak menatap dirinya lebih dekat. "Ingat Bulan, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikanmu. Aku tidak ingin anakku lahir tanpa kasih sayang kedua orang tuanya. Lagipula jika kamu benar-benar ingin berpisah denganku, tunggulah sampai anak ini lahir. Aku akan dengan sukarela menandatangani surat perceraian kita. Tapi kamu juga bersiaplah untuk berpisah dengan darah dagingmu karena hak asuh anak ini akan kupastikan menjadi milikku dan kamu tidak akan kubiarkan untuk melihat anak kita lagi."


Bulan hanya mampu meneteskan air matanya, dia tidak menyangka dirinya akan hamil. Seolah mempunyai senjata baru, Alvaro menggunakan bayi yang berada di dalam kandungan Bulan sebagai alat untuk mengancam Bulan.


"Jadi fikirkan baik-baik bulan, ingin melepaskan atau memilih bertahan. Semua keputusan ada ditanganmu." Alvaro lantas melepas genggaman kuat di pergelangan tangan istrinya. Dia memilih pergi keluar kamar meninggalkan Bulan yang masih tertegun, memberi ruang agar istrinya dapat berfikir jernih.


Dengan tangan gemetar karena menangis, Bulan menyentuh perut ratanya. Dia terduduk lemas di lantai kamar yang dingin. "Kenapa? Kenapa kamu hadir disaat yang tidak tepat?" Gumam Bulan berderai air mata.


"Aku ingin berpisah dengannya, tap-tapi kenapa kamu hadir disini hiks...hiks...hiks." Bulan meremas bajunya kuat.

__ADS_1


Rencana yang telah disusun Bulan hancur. Dia yang awalnya bersemangat untuk bercerai dengan suaminya seketika nyalinya menciut. Sulit dipercaya jika dia hamil, namun dia memang telat datang bulan akhir-akhir ini. Mual muntah yang dialaminya selama ini adalah morning sickness yang kerap dialami oleh para ibu hamil. Astaga! Bulan sama sekali tidak tahu.


"Hiks...hiks...hiks. Bagaimana ini?" Bulan tidak ingin selamanya terperangkap bersama Alvaro. Ancaman Alvaro barusan sungguh membebani fikirannya. Jika mereka bercerai maka Bulan tidak mempunyai kesempatan untuk bertemu buah hatinya lagi.


"Maafkan mamamu yang cengeng ini ya nak." Ujarnya sembari mengelus perut ratanya pelan. "Tidak seharusnya mama menyalahkan kehadiranmu disisi mama."


Untuk saat ini Bulan memilih untuk bertahan, dia tidak ingin mengambil resiko. Kedepannya dia mungkin akan memikirkan kembali waktu yang tepat untuk mengakhiri hubungannya bersama Alvaro. Bulan belum rela jika dia harus meninggalkan anaknya.


...****************...


Selesai mengerjakan tugas kantornya di kamar, Alvaro ingin bergegas tidur agar besok pagi dia tidak telat bekerja karena ada meeting bersama kliennya. Namun sebelum dirinya mengarungi mimpi dia menyempatkan diri untuk melihat Bulan dikamar wanita itu.


Ceklek


Alvaro membuka pintu perlahan, dari ambang pintu dia melihat wanita itu tengah tertidur. Tidak puas melihatnya dari kejauhan, dia berjalan mendekat untuk memastikan. Alvaro terkejut ketika tubuh Bulan nampak berkeringat sampai baju tidurnya basah. Tangan kanan Alvaro perlahan menyentuh dahi istrinya, suhu tubuh Bulan panas bahkan wajah cantiknya nampak pucat.


Alvaro khawatir, dia takut terjadi sesuatu yang buruk dengan istrinya. Namun dia teringat bahwa dokter Sinta memberitahunya bahwa gejala demam merupakan hal yang biasa terjadi pada wanita hamil trimester pertama. Dokter Sinta memberikannya obat jika sewaktu-waktu Bulan mengalami demam tinggi.


"Mama." Gumam Bulan disela-sela tidurnya, panas yang tinggi membuatnya meracau tidak jelas.


Alvaro membuka laci nakas untuk mencari obat, setelah menemukan pil obatnya dia segera mengunyahnya lalu meminum segelas air yang kebetulan telah tersedia di atas nakas. Dia tidak menghiraukan rasa pahit yang terasa di lidahnya, baginya kesehatan Bulan adalah prioritas utama untuknya. Alvaro menahan tengkuk leher istrinya, dengan lembut dia mencium bibir ranum Bulan. Perlahan dia menyalurkan obat yang telah dikunyahnya untuk disalurkan ke dalam mulut istrinya. Lidahnya mendorong obat itu untuk masuk, sedikit ******* bibir tipis Bulan. Reflek Bulan menelan obat itu hingga dia terbatuk.


"Uhukk...uhuk." Alvaro mengelap bibir istrinya dengan tissue.


Alvaro beranjak berdiri, dia keluar dari kamar menuju dapur. Dia mengambil baskom lalu mengisinya dengan air hangat. Setelah itu dia kembali lagi ke kamar, Alvaro mengambil waslap dan baju dari lemari. Meletakkan barang-barang yang diambilnya di atas nakas, dia kemudian duduk dipinggir ranjang.


"Mama hiks." Racaunya seraya meneteskan air mata. "Bulan mau pulang."


Alvaro tidak memperdulikan racauan istrinya. Dia mulai membuka baju tidur yang dikenakan istrinya, keringat bercucuran di tubuh putih susunya. Dia tahu istrinya sekarang sedang sakit dan dia harus mengganti bajunya yang basah tapi melihat tubuh istrinya yang setengah telanjang membuat hasratnya sebagai lelaki bangun. Mati-matian dia melawan hawa nafsunya, apalagi ketika dia melepaskan kaitan bra putih yang membungkus kedua buah dada yang nampak sintal dimata Alvaro, dia seketika mengalihkan pandangannya. Lagipula kenapa Bulan memakai bra saat tidur? Memakai bra ketika tidur tidak baik bagi seorang wanita.


Dengan telaten Alvaro mengusap tubuh Bulan dengan waslap yang telah dibasahi dengan air hangat secara perlahan. Dia mengelap wajah Bulan, tangan, perut dan juga bagian dada wanita itu. Setelah selesai dia memakaikannya baju yang barusaja dia ambil dari lemari. Dia berharap setelah ini Bulan bisa tertidur dengan nyenyak.


Tidak tega meninggalkan Bulan sendirian di kamar, Alvaro memutuskan untuk tidur sekasur dengan istrinya. Untuk malam ini biarkan dia tidur di samping Bulan. Dia menarik selimut untuk membungkus tubuh mereka berdua. Lamat-lamat Alvaro mengamati wajah cantik istrinya, bibir tipisnya kadang bergumam dan meracau memanggil-manggil mamanya. Mungkin Bulan rindu dengan Laura, Alvaro cukup tahu bahwa istrinya sangat menyayangi ibunya. Perlahan tangan besar Alvaro membelai pipi Bulan, dia mengusap lelehan air bening yang menetes di sudut mata Bulan yang tengah terpejam. Apakah dia bermimpi buruk? Dia sampai menangis disela-sela tidurnya. Batin Alvaro heran.


Tangannya beralih menelusup menyingkap baju tidur istrinya, dia mengelus lembut perut rata Bulan. Disini terdapat darah dagingnya yang tumbuh, anak yang kelak akan memanggilnya dengan sebutan papa.


"Anak baik, jangan menyusahkan mama kamu. Kasihan mamamu, semoga mama kamu cepet sembuh." Ujarnya seolah mengajak bicara janin yang berada dalam perut bulan.


"Good night baby." Beberapa kali Alvaro mencium perut rata istrinya bahkan tetidurpun tangannya dia letakkan pada perut istrinya, seolah dia tidak ingin kehilangan mereka berdua dalam hidupnya.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like dan komentar agar aku semangat update❤️


__ADS_2