
Alvaro melucuti pakaian Bulan dengan paksa, sebisa mungkin Bulan memberontak tapi apalah daya dia hanya perempuan yang lemah. Dia tidak akan kuat melawan suaminya yang mempunyai tubuh besar. “Al aku mohon jangan. Aku tengah hamil Al, hentikan aku mohon.” Bulan hanya bisa memohon ampun kepada Alvaro agar pemuda itu tidak melanjutkan aksinya.
Dia tidak mau melayani Alvaro karena Bulan menganggap itu bukanlah tanggung jawabnya. Hubungan mereka sudah berakhir, seharusnya Alvaro bisa mengerti dan tidak mengganggu dirinya lagi.
Alvaro tersenyum sinis, hamil tidak menjadikan alasan Bulan bisa menolaknya. Alvaro tahu betul bahwa dokter memperbolehkan berhubungan badan di trimester kedua karena janin yang berada dalam kandungan sudah jauh lebih kuat, jadi ini seharusnya bukanlah suatu masalah untuk Bulan.
“Al lepaskan, lepaskan aku!” Alvaro sama sekali tidak menggubris Bulan. Pemuda itu melempar pakaian Bulan asal begitu saja hingga wanita dibawahnya saat ini dalam keadaan telanjang.
“Al kamu benar-benar kejam, tidak mempunyai hati. Ingat Al, sebentar lagi kita akan bercerai tidak seharusnya kamu berbuat bejat seperti ini kepadaku!” Bulan berharap Alvaro akan sadar atas tindakannya ini.
“Kamu juga harus ingat, sampai detik ini aku masih menjadi suamimu. Sebelum palu pengadilan diketuk maka kamu berkewajiban melayaniku sebagai seorang istri termasuk urusan ranjang.” Tangan kekar Alvaro mengusap kaki jenjang Bulan menyusuri paha mulusnya membuat Bulan seketika meremang merasakan usapan hangat dikulitnya.
"Bintang tolong aku!" Teriak Bulan, siapa tahu Bintang mendengarnya. Adiknya itu pasti akan menolongnya, jika wanita itu tahu apa yang dilakukan Alvaro saat ini kepadanya pasti Bintang akan marah.
"Hahaha." Alvaro malah tertawa kencang. Lucu sekali Bulan, apakah dia ingin mengadu kepada adiknya?
"Jangan menguras tenagamu dengan berteriak, Bintang tidak ada dirumah ini sekarang." Pupus sudah harapan Bulan, pantas saja Alvaro berani memperlakukan dirinya seperti ini. Bulan tidak ingin menjadi pelampiasan nafsu suaminya. Tidak, Bulan tidak mau!
Kedua pergelangan tangan Bulan dicengkram kuat oleh Alvaro membuat Bulan tidak mampu melawan, wanita itu hanya bisa pasrah tubuhnya digerayangi suaminya. Alvaro menahan beban tubuhnya agar tidak terlalu menekan Bulan, dia tidak ingin menyakiti anaknya.
Kamu pasti merindukan papakan nak. Batin Alvaro berbicara dari dalam hatinya sembari mengecup perut Bulan yang terlihat menonjol.
"Eenngghhh." Bulan melenguh tatkala Alvaro menyentuh setiap jengkal tubuhnya, entah mengapa tubuhnya bereaksi menjadi bergairah. Mungkin ini karena hormon kehamilannya.
__ADS_1
"Kenapa heh? Kamu menikmatinya?" Tanya Alvaro tersenyum meremehkan. Bulan menggeleng, dia tidak ingin menatap wajah Alvaro yang menyebalkan.
"Ah arrgghh, pelan-pelan Al." Bulan meringis ketika tubuhnya dimasuki oleh milik Alvaro, dia masih merasakan nyeri karena Bulan memang sudah lama tidak melakukan hubungan badan dengan Alvaro. Tanpa terasa dia menitihkan air matanya, Bulan merasa kalah. Lagi-lagi Alvaro mendominasi dirinya, mempermainkannya seperti sebuah boneka. Dada Bulan terasa nyeri menahan sesak, dia sebagai seorang wanita tidak pernah dihargai oleh suaminya.
Alvaro mengusap lelehan air mata Bulan dengan jempol tangannya, dia sebenarnya tidak tega melihat Bulan sedih seperti ini. Anggap saja ini adalah sebuah hukuman untuk Bulan karena dia sudah berani melawan dirinya. Tidak dapat dipungkiri bahwa menatap tubuh indah Bulan hasrat Alvaro semakin meningkat, meskipun tengah hamil Bulan malah semakin menarik dan terlihat cantik dengan pipi chubbynya.
Dia ******* lembut bibir ranum istrinya mensesap rasa manis seolah menjadi candu baginya. Bulan terlihat pasif, dia enggan membalas pagutan dari suaminya. Alvaro sengaja menggigit bibir bawah Bulan, dia memperdalam ciumannya mengulum lidah wanita itu.
Tidak berselang lama Alvaro menyudahi pagutannya memberi kesempatan Bulan untuk bernafas. Alvaro memberi beberapa tanda kemerahan disekujur tubuh Bulan, wanita ini adalah miliknya. Tidak ada yang boleh menyentuhnya selain dirinya.
"Aku capek Al." Cicit Bulan disela-sela kesadarannya, tubuh Bulan terasa pegal. Dia mengantuk ingin tidur, badan Bulan sudah lemas saat ini.
Alvaro mengusap keringat dikening Bulan, dia mengecup hangat keningnya. "Tidurlah, kamu boleh istirahat sekarang." Pemuda itu berguling tidur disamping Bulan, dia mengamati lekat istrinya yang terpejam dengan nafas memburu. Alvaro menyelimuti tubuh polos mereka berdua agar tidak kedinginan.
"Hatimu dan juga ragamu hanyalah milikku." Tegasnya mutlak, siapapun yang berani mengambil miliknya maka Alvaro tidak akan segan-segan menyingkirkan siapapun tidak pandang bulu, termasuk pria mata keranjang seperti Elfarez Roy Abraham.
...****************...
22.05 PM in Classic Night Club
Gemerlap lampu disko menyilaukan mata serta musik yang keras cukup memekakkan telinga. Disetiap sudut ruangan bar terisi oleh orang-orang yang sedang berciuman mesra tanpa adanya rasa malu. Seorang gadis terlihat berjalan menerobos kerumunan orang yang tengah asyik menari meliuk-liukkan tubuhnya.
Dia semakin mengeratkan jaket tebal yang dipakainya untuk melindungi perut buncitnya dari senggolan orang-orang yang tengah menggila karena pengaruh alkohol. Wanita itu naik ke atas lantai menuju kamar tempat untuk menginap yang memang tersedia didalam club ini. Dia perlahan membuka pintu kamar, wanita itu menatap nanar seorang pemuda yang tengah duduk bersantai di pinggir ranjang sembari menyesap rokoknya.
__ADS_1
Pemuda itu menoleh, dia menyunggingkan senyumnya melihat wanita yang ditunggunya sedari tadi menampakkan diri.
“Akhirnya kamu datang juga, Bintang.” Ujar Daren beranjak berdiri, dia lantas membuang putung rokoknya di asbak agar perempuan itu tidak terganggu dengan kepulan asapnya.
Bintang menutup pintu kamar agar pembicaraan mereka tidak ada yang mendengar, dia berjalan mendekati Daren dengan raut wajah menahan kesal. “Katakan Daren, hal penting apa yang ingin kamu sampaikan kepadaku?” Tanyanya dengan nada dingin membuat pemuda tampan dihadapannya menukikkan alisnya tajam.
“Aku kangen sama kamu sayang.” Balas Daren mengulurkan tangannya ingin membelai pipi kekasihnya, namun segera ditampik kasar oleh Bintang.
Kekasih? Bintang tersenyum sinis, dia sungguh muak mendengarnya. Ayolah, Bintang telah rela membohongi suaminya hanya demi menemui Daren karena sebelumnya pria itu mengancamnya lewat pesan whatsapp bahwa dia akan membongkar rahasia Bintang selama ini kepada Alvaro. Rahasia apa yang dimaksutkan oleh pemuda itu? Bintang penasaran. Jika Daren mencoba menghancurkan hubungannya bersama dengan Alvaro maka Bintang sampai mati tidak akan memaafkan pria itu.
“Kamu tahu aku sangat sibuk, tapi kamu malah terus-terusan menerorku hingga membuat hidupku tidak tenang. Cepat katakan rahasia apa yang ingin kamu tunjukkan?” Cerca Bintang menyelidik, dia dibuat geram dengan tingkah Daren yang mencoba mengulur waktunya. Pemuda itu terlalu bertela-tele padahal Bintang ingin segera menyelesaikan urusannya dan segera pergi dari tempat laknat ini.
“Tentu saja rahasia hubungan kita.” Jawab Daren dengan percaya diri.
Bintang tertawa. “Hahaha, hubungan kita?” Ujarnya meremehkan, bagaimana bisa Daren mengucapkan kalimat menggelikan seperti itu. “Ingat Daren, aku tidak pernah mempunyai hubungan spesial apapun denganmu. Jikapun benar, kamu sama sekali tidak mempunyai bukti untuk menuduhku. Aku sama sekali tidak takut dengan ancamanmu.”
Bintang mendongak angkuh, dia tidak akan gentar ataupun terpengaruh. “Alvaro tidak akan semudah itu percaya dengan ucapanmu yang tidak masuk akal itu Daren.”
Pemuda itu mengambil ponselnya dari dalam saku celana, masih dengan sikap tenangnya dia memutar sebuah video yang membuat Bintang menutup mulutnya, seketika tubuhnya lemas. Dia yang awalnya menantang Daren seketika menunduk takut.
Bersambung....
Vidio apa itu kira-kira ya?
__ADS_1