
Tangan besar Elfarez meraih pergelangan tangan Bulan, dia menggenggam lembut jemari Bulan membuat wanita itu mendongak menatap lekat pemuda dihadapannya. Farez mengamati wajah Bulan yang kini memandanginya dengan sendu, rambut Bulan yang panjang tergerai melambai-lambai tertiup angin malam hingga menutupi sebagian wajah cantiknya. Tangan Farez tergerak untuk menyingkirkan anak rambutnya lalu menyelipkan dibelakang telinga, jemari Farez menyentuh pipi Bulan mengusapnya lembut. Bulan memejamkan matanya menikmati sentuhan hangat Farez, pemuda itu tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Dia menunduk memangkas jarak untuk lebih dekat mengamati wajah cantik Bulan yang kini tengah terpejam, tatapan Farez kini beralih pada bibir tipis Bulan. Dia menangkup pipi wanita dihadapannya, tubuh Bulan menegang tatkala Farez memagut bibirnya. Dia ******* bibir Bulan dengan lembut, tangan besarnya turut bergerilya mengusap punggung mulus Bulan membuat wanita itu seketika meremang.
Bulan membiarkan Farez memperdalam pagutannya. Bulan tahu dia melakukan hal yang salah, dia pura-pura mencintai Elfarez. Bukankah dia adalah wanita yang jahat telah berbohong? Demi mamanya, dia akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Laura. Didunia ini Bulan hanya punya mamanya yang selalu ada untuknya, menyayanginya dan merawatnya sedari kecil. Jika dengan menikah dengan Elfarez bisa membuat mamanya senang, dia akan melakukannya. Menjadi seorang istri dari Elfarez Roy Abraham sesuai dengan keinginan sang mama.
Melihat Bulan menerima semua sentuhan Farez, pemuda itu berani untuk melanjutkan cumbuannya. Tangan besarnya menekan tengkuk Bulan, dia menikmati sesapan manis dari bibir ranum wanita itu. Tanpa dugaan Bulan membalas dengan mengulum balik bibir tebal Elfarez membuat pemuda itu tersenyum disela-sela pagutannya. Perasaan Elfarez menghangat karena kini Bulan seutuhnya akan menjadi miliknya. Dia sebagai calon suaminya berhak atas diri Bulan, dan apapun yang akan dilakukan oleh Bulan harus dalam sepengetahuannya. Farez terlalu takut jika mantan suaminya Bulan masih ikut campur dan berusaha mengacau hubungan mereka berdua.
Pemuda itu melepas tautan bibirnya, dia mengusap bibir basah Bulan dengan jempol tangannya. Farez menatap nanar Bulan, pipi wanita itu merona merah membuat Farez bertambah gemas. Bulan balas memandangi lekat Farez yang masih mengatur irama jantungnya yang saat ini berdetak tidak karuan apalagi melihat Bulan yang kini mengulum senyum dihadapannya.
"Bulan, aku sangat mencintaimu." Gumam Farez berbisik, Bulan menganggukkan kepalanya dia tahu betapa besarnya perasaan Farez kepadanya. Tangan besar pemuda itu mengusap lembut perut Bulan. "Aku janji, aku akan menjadi ayah yang baik untuk anakmu."
Bulan trenyuh mendengar penuturan Elfarez, anak yang dia kandung bukanlah darah daging dari Farez namun pemuda itu sangat menyayangi anaknya. Ayah kandungnya saja tidak peduli bahkan menghinanya anak haram. Usapan lembut jemari tangan Farez di perutnya membuatnya merasa nyaman, tendangan samar dari dalam perutnya membuat Farez terkejut.
"Dia menyapamu Farez." Cicit Bulan dibalas dengan gelak tawa pemuda itu.
"Ketika anakmu sudah lahir, dia pasti akan mirip sepertimu." Mendengar penuturan Farez membuat Bulan mengulum senyum, dia juga berharap begitu. Semoga saja dia tidak mirip dengan ayah kandungnya. Pria kejam itu, Bulan sungguh muak melihat wajahnya.
"Putriku yang cantik pasti akan mirip denganku."
Farez mengangguk, dia bisa merasakan tendangan samar dari dalam perut Bulan. Perjuangan Bulan demi anaknya benar-benar tangguh, dimasa kehamilannya dia mendapatkan kekerasan dari Alvaro tapi wanita itu bisa tetap bertahan sejauh ini. Jika mengingat betapa sadisnya Alvaro memperlakukan Bulan membuat Farez merasa tidak rela. Bulan adalah wanita yang dia cintai, kini biarkan Farez yang membahagiakan Bulan.
Farez meraih dagu Bulan sehingga wanita itu mendongak, perlahan Elfarez kembali menyatukan tautan bibirnya memagut bibir ranum Bulan. Wanita itu hanya diam, membiarkan pemuda itu untuk menyentuhnya. Farez memperdalam pagutannya, menikmati bibir ranum Bulan dibawah cahaya lampu temaram.
...****************...
Mobil Laura memasuki pelataran rumahnya, dia sengaja meninggalkan Bulan bersama dengan Elfarez agar mereka bisa lebih dekat. Laura turun dari mobil, langkah kakinya memasuki rumah rasanya dia ingin berbaring di kasurnya untuk menghilangkan penat. Laura duduk ditepi ranjang kamarnya, dia memijat pelipisnya karena terasa pening. Ada sedikit perasaan lega dalam benaknya karena dia sudah mengantongi restu dari Giandra mengenai hubungan putrinya dan Elfarez, namun sekarang dia harus memikirkan bagaimana dia bisa meyakinkan Zhafran. Astaga, kepalanya benar-benar pusing! Semua permasalahan ini terjadi karena Bintang, anak sialan itu telah menghancurkan hidup anaknya. Apapun alasan pembelaan yang akan dia sampaikan kepada suaminya, lelaki itu pasti akan membantahnya karena Zhafran akan tetap memihak kepada Bintang.
__ADS_1
Tring…tring
Suara ponsel berdering, Laura mengambil benda pipih canggih dari dalam tasnya. Dia menatap layar ponselnya tertera nama putrinya. Laura segera mengangkat panggilan itu, lalu menyapa seseorang dari sebrang telefon. “Hallo sayang.”
“*Ma, mama dimana? Mama sedari tadi ketoilet tidak kunjung kembali*.” Tanya Bulan terdengar cemas membuat Laura tertawa. Dia memang pergi meninggalkan kediaman keluarga Abraham tanpa berpamitan kepada Bulan.
“Sayang maaf ya, mama sudah pulang duluan.” Jawab Laura santai tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
“Apa?! Ma-mama kenapa tinggalin Bulan disini ma?” Tanya Bulan menahan kesal, dia bingung kenapa mamanya malah pulang tanpa memberitahunya. Ya tuhan, Bulan tidak tahu sebenarnya apa yang ada difikiran mamanya. Lagi-lagi Laura selalu berbuat sesuatu dengan sesuka hatinya, Bulan malah ditinggal dirumahnya Elfarez.
“Sayang dengarkan mama, sebaiknya kamu menginap saja disana. Mama ingin kamu lebih dekat lagi dengan Elfarez, kalau bisa kamu goda Farez biar dia tertarik sama kamu. Jangan malu-malu, Farez sebentar lagi akan menjadi suamimu.” Celetuk Laura membuat Bulan geram mendengarnya, dia belum menikah dengan Elfarez mengapa mamanya bisa berbicara seperti itu? Bulan bukanlah wanita malam yang akan menggoda pria yang belum menjadi suaminya.
“Ma, tolong jemput Bulan sekarang ma. Bu-bulan ingin pulang.” Kekeuh Bulan, dia tidak ingin menginap dirumahnya Elfarez. Mamanya pasti sedari awal memang sengaja menjebaknya, Bulan benar-benar sudah capek tapi mamanya seakan tidak ada perasaan jera menuntutnya.
“Mama tidak peduli Bulan! Kamu harus menginap disana.”
“Ma—“
Bulan menghela nafas kasar, rasanya dia ingin menangis saat ini. Mamanya mematikan telfon secara sepihak padahal Bulan belum selesai bicara. Laura pergi ketoilet pasti hanya alasan saja agar wanita paruh baya itu mempunyai kesempatan untuk kabur meninggalkannya. Sekembalinya Bulan dan Elfarez dari taman mamanya sudah tidak ada, Laura memang sudah mempunyai niat dari awal.
Bulan akan meminta Farez untuk mengantarkannya pulang, dia tidak ingin menginap disini. Sungguh dia benar-benar malu, Bulan belum resmi menjadi istrinya Farez tapi dirinya sudah berani menginap dikediaman keluarga Abraham. Bulan pasti akan menjadi perbincangan para pembantu dirumah ini. Apalagi papanya Elfarez tidak berada dirumah, lelaki paruh baya itu sedang melakukan perjalanan untuk urusan bisnisnya diluar kota.
“Bulan ada apa?” Bulan menoleh tatkala dia mendengar pertanyaan dari Elfarez, dia memandangi lekat pemuda itu sembari meremas dressnya.
“Farez, mamaku ternyata sudah pulang duluan karena dia ada urusan mendadak. Bisakah kamu mengantarkanku pulang sekarang?” Tanya Bulan menunduk lesu.
Farez nampak berfikir sejenak, namun beberapa detik kemudian dia membuka suara. “Maaf Bulan, saat ini diluar sedang hujan lebat. Mataku minus, jika aku mengendarai mobil menerjang hujan pasti pandanganku akan kabur.” Kilah Farez, dia berbohong agar Bulan tetap berada disini bersamanya. Pemuda itu senang jika Bulan menginap dirumahnya. “Sopirku juga tidak ada karena dia sedang mengantarkan papaku keluar kota.”
__ADS_1
Bulan berdecih, iya diluar saat ini sedang hujan lebat. Dia tidak ingin merepotkan Farez jika dirinya terus memaksa untuk diantarkan pulang. “Bagaimana ini? Apakah aku, iya aku akan pesan taxi online saja.” Cicit Bulan.
Farez melihat jam tangannya menunjukkan pukul 23.25, ini sudah malam kemungkinan tidak akan ada taxi online yang beroperasi dijam segini. "Bulan alangkah lebih baik kamu menginap disini saja." Ujar Elfarez berharap Bulan menurut.
"Tapi Farez---"
"Bulan ini sudah larut malam, tidak akan ada taxi yang beroperasi jam segini. Menurutlah Bulan, jangan membuatku cemas." Nasehat Farez seraya menggiring Bulan menuju kamar tamu.
"Farez tapi papamu tidak ada dirumah, aku merasa sungkan jika menginap disini."
Farez menghela nafas, dia menyentuh pundak Bulan agar wanita itu menghadapnya. "Kamu tidak perlu sungkan, kamu adalah calon istriku. Anggaplah rumah ini seperti tempat tinggalmu, lagipula dirumahku kita tidak hanya berdua saja melainkan ada beberapa pelayan."
Tidak ada pilihan lain, Bulan memang harus menginap dikediaman Elfarez. Perlahan langkah kakinya memasuki kamar yang ditunjukkan Farez. "Baiklah aku akan menginap disini." Seketika senyum Farez mengembang mendengar keputusan Bulan. Memang ini yang Farez mau, dia merasa senang Bulan akhirnya menginap dirumahnya.
"Dilemari ada baju tidur, kamu bisa mengganti dressmu dengan baju itu.” Ujar Farez memberitahu, beberapa baju tidur yang ada didalam lemari adalah pakaian yang Farez belikan saat dulu Bulan pernah menginap disini ketika dia diusir dari rumah Alvaro.
Bulan mengangguk mengerti. “Terimakasih Farez.” Ujar Bulan menatap pemuda dihadapannya dengan sendu.
“Iya, kamu istirahatlah ini sudah malam.” Balas Elfarez sembari mengusap puncak kepala Bulan dengan sayang. Lantas pemuda itu melangkah pergi meninggalkan Bulan sendirian dikamar memberikan ruang agar wanita itu bisa segera tidur.
Bulan menghela nafas, dia duduk ditepi ranjang dengan tatapan kosong. Seharusnya dia tidak menginap dikediaman keluarga Abraham namun bagaimana lagi mamanya membuat ulah sengaja meninggalkannya disini. Bulan tidak tahu rencana apa yang akan mamanya lakukan dikemudian hari, dia yakin bahwa mamanya akan melakukan tindakan yang mungkin akan membuat Bulan terkejut. Semoga saja mamanya tidak keblabasan berbuat sesuatu yang dapat merugikannya dan orang lain. Masalah Laura sudah terlalu banyak hingga membuat papanya membenci wanita itu, Bulan hanya berharap agar mamanya bisa terlepas dari dendamnya tapi kelihatannya itu adalah hal yang mustahil.
Perlahan Bulan mengusap perut besarnya. “Mama sebenarnya sudah capek menuruti keinginan oma kamu, namun mama tidak bisa menolaknya karena mama ingin berbakti kepada orang tua. Apakah mama salah nak hem?” Tanya Bulan seolah mengajak anak yang berada dalam kandungannya berbicara.
“Semoga omamu bisa menghilangkan rasa bencinya kepada mama Nadia dan Bintang.” Doa Bulan dari dalam hatinya.
Bersambung...
__ADS_1