Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 82 : Marah


__ADS_3

Disaat Alvaro lengah, sikunya Farez menonjok kebelakang mengenai perut Alvaro hingga pemuda itu meringis sakit. Pitingan dari Alvaro terlepas, Farez kembali memukul wajah Alvaro hingga dia terpelanting jatuh ke lantai. Dia menindih tubuh Alvaro lalu memukuli wajahnya membabi buta hingga babak belur.


Bugh...bugh...bugh


Elfarez tidak akan membiarkan Bulan menderita bersama dengan Alvaro, sebisa mungkin dirinya akan mengambil Bulan dari lelaki kejam seperti Alvaro. Farez memukuli Alvaro bertubi-tubi, rasa sakit ini tidak seberapa dibandingkan dengan penderitaan yang dialami oleh Bulan.


Bugh


Bugh...bugh...bugh


Tangan Elfarez ditarik kasar oleh salah satu rekan bisnis Alvaro yang memberanikan diri untuk melerai mereka. Kedua pria paruh baya itu dengan kuat menahan tubuh Elfarez untuk melepaskan Alvaro yang hampir pingsan dibuatnya.


"Pak Farez hentikan pak! Pak Alvaro bisa mati." Ujar salah satu rekan bisnis Alvaro berusaha menahan tubuh Farez agar berhenti memukuli Alvaro. Dada Farez bergumuruh, dia masih belum puas untuk menghajar Alvaro.


"Akan lebih baik jika dia mati ditanganku!" Desis Farez mengepalkan kedua tangannya. Pemuda itu menatap bergantian kedua orang yang memegangi tubuhnya. "Lepas, lepaskan aku!" Sentaknya menggeram marah, kedua pria paruh paya itu seketika mundur melepaskan Farez. Banyak orang yang tidak menyangka jika Farez, pemuda yang terkenal ramah dan sabar itu bisa menghajar Alvaro sebrutal itu.


Farez membenahi kerah kemejanya yang berantakan, lantas dia menatap tajam Alvaro yang terkapar dilantai tidak beradaya. "Aku akan menghentikan semua proyek kerjasama kita. Perusahaanku tidak membutuhkan pria bajingan sepetimu." Tegas Farez mengumpati Alvaro, dia sadar bahwa papanya mungkin akan marah atas tindakannya yang membuat keputusan secara sepihak. Tapi Farez sudah muak bekerjasama dengan Alvaro, dia tidak ingin berbisnis lagi dengan rivalnya itu.


Farez berjalan pergi meninggalkan Alvaro dan kerumunan orang yang manatapnya nanar. Dia keluar dari cafetaria dengan rasa amarah yang membakar dadanya. Disaat dirinya dalam keadaan tidak berdaya penuh luka lebam diwajahnya Alvaro masih sempat tersenyum sinis. Farez hanyalah orang bodoh baginya! Tidak apa-apa dia kehilangan proyek bisnisnya, dia tidak semiskin itu hingga harus mengemis kepada keluarga Abraham. Alvaro berdecih, sampai kapanpun Farez hanya bisa mengagumi Bulan. Dia tidak akan bisa memilikinya selama Alvaro masih hidup.

__ADS_1


...****************...


Bintang terbelalak tatkala melihat Alvaro pulang kerumah dalam keadaan babak belur dengan kemeja putihnya terkoyak, wanita itu berjalan mendekati suaminya. “Kak Al kamu kenapa?” tanyanya bingung, dia segera menyuruh Alvaro untuk duduk di sofa.


“Aku habis berkelahi.” Ujar Alvaro meringis, karena mulutnya sedikit perih ketika dia gunakan untuk berbicara. Farez menghantam pipinya dengan keras hingga sudut bibirnya robek.


Pemuda itu bisa melihat dari ekor matanya, Bintang tengah mencari sesuatu dengan membuka laci-laci di ruangan ini. Gadis itu berbalik, dia berjalan mendekati Alvaro dengan membawa kotak P3K. Lantas Bintang duduk disofa samping Alvaro, dia mengambil kapas yang telah diberi alkohol untuk membersihkan luka.


“Kenapa kamu berkelahi kak?” Melihat Alvaro meringis kesakitan membuat perasaan Bintang teriris, dia dengan lembut pengusap sudut bibir Alvaro untuk membersihkan darah yang mengering.


“Elfarez, dia tadi pergi ke kantorku untuk menghajarku.” Jawabnya santai sembari menatap lekat wajah cantik istrinya. Bintang mengerutkan dahi mendengar penuturan suaminya, Alvaro memang seringkali tersulut emosi dengan hal-hal yang remeh, padahal setiap masalah bisa diatasi dengan fikiran dingin bukannya berkelahi seperti ini.


"Kak apakah kakak mencaritahu keberadaan kak Bulan?" Tanya Bintang menatap nanar suaminya membuat Alvaro mengerutkan dahi. Kenapa Bintang bertanya seperti itu? Apakah dia tahu kalau dirinya menyembunyikan Bulan didalam apartemennya.


"Tidak, untuk apa aku membuang waktuku untuk mencari tahu keberadaan wanita murahan itu." Kilah Alvaro berbohong.


Jujur Bintang merasa lega mendengarnya. "Kak jika kakak bertemu dengan kak Bulan, apakah kakak akan mengajaknya untuk tinggal bersama. Ah maksutku apakah kakak akan memaafkannya?" Tanya Bintang penasaran.


"Aku tidak akan memaafkannya." Tegas Alvaro membuat Bintang tersenyum. Tapi wanita itu masih bingung, dia mengingat ucapan Farez bahwa Alvaro saat ini tinggal bersama dengan Bulan. Apa maksut Farez berkata demikian, padahal jelas jika Alvaro sangat membenci Bulan. Tidak mungkin Alvaro memungut kembali apa yang telah dia campakkan, dia tahu seperti apa watak suaminya.

__ADS_1


"Lalu apa yang menyebabkanmu bertengkar dengan Farez?"


Alvaro menghela nafas, Bintang rupanya masih ingin mengulik dirinya. "Dia marah karena aku mengusir Bulan dari rumah, dia dan Bulan rupanya berteman baik. Hanya karena persoalan itu dia menghajarku hingga aku babak belur." Ujar Alvaro menjelaskan, dengan mudahnya Bintang percaya dengan ucapan dari Alvaro. Bintang malah menganggap jika kakaknya adalah tukang adu, dia memprovokasi Farez agar pemuda itu bertengkar dengan Alvaro. Suaminya babak belur begini karena ulah dari kakaknya, Bulan memang wanita pembawa sial!


“Tahan sebentar ya kak.” Ujar Bintang, dengan hati-hati dia memberikan obat merah disetiap luka ditubuh Alvaro bahkan gadis itu meniupnya untuk mengurangi rasa perih.


"Kak." Panggil Bulan sembari membereskan obat untuk dimasukkan kembali kedalam kotak P3K.


"Ada apa?" Tanya Alvaro menatap Bintang dengan intens, kelihatannya Bintang ingin berbicara serius.


"Kapan kakak akan menceraikan kak Bulan?" Alvaro menghela nafas kasar mendengar pertanyaan Bintang barusan. Setiap seseorang melaontarkan kata perceraian entah mengapa emosinya seketika tersulut, namun dia menahannya dihadapan Bintang.


"Setelah bayinya lahir, aku akan menceraikannya." Balas Alvaro dengan nada dingin. Bintang heran mengapa tidak sekarang saja pemuda itu menggugat Bulan? Bintang masih berfikiran positif, mungkin Alvaro masih mengasihani kakaknya sehingga dia tidak tega untuk menceraikan Bulan dalam kondisi tengah mengandung.


Bintang menggenggam jemari Alvaro membuat pemuda itu bingung dengan tingkah Bintang. “Kak, melihat kakak pulang dalam keadaan terluka seperti ini aku takut akan kehilanganmu.” Kenapa tiba-tiba Bintang berkata demikian? Lagipula ini adalah luka kecil baginya, dia tidak akan mati hanya karena pukulan dari Elfarez.


Bintang sangat menyayangi Alvaro, dia bahkan cemburu jika Alvaro meninggalkan dirinya demi mengejar Bulan, dia tidak akan bisa menerimanya jika hal itu sampai terjadi. Hatinya telah dimiliki sepenuhnya oleh Alvaro hingga membuat Bulan dibutakan akan cintanya. Berbeda dengan Alvaro hatinya telah terbagi menjadi dua, dengan Bintang dan juga Bulan. Kekesalan dan emosinya tersulut karena dia cemburu, dia tidak rela jika ada pria lain mendekati istri pertamanya apalagi Farez yang gencar ingin menikahi Bulan. Pemuda itu merupakan ancaman besar dalam rumah tangga Alvaro.


Bintang memeluk Alvaro, dia menenggelamkan kepalanya pada dada bidang suaminya. Tangan besar Alvaro terulur untuk mengusap punggung wanita itu. Alvaro menyunggingkan senyumnya, dia bersyukur mempunyai pendamping hidup seperti Bintang. Alvaro yang mempunyai sifat keras setidaknya bisa diredam oleh Bintang yang sabar dan mempunyai sifat yang lembut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2