Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 6 : Jodoh Untuk Bintang


__ADS_3

Alvaro duduk termenung di ruangan kantornya, beberapa kali dia mengumpat jika mengingat kejadian semalam. Bahkan dia tadi telat bekerja ke kantor hingga dia kehilangan tender proyek yang cukup besar karena tidak menghadiri rapat.


"Rim, tolong atur pertemuanku dengan Pak Giandra besok. Aku tidak bisa melepaskan kerjasama yang menguntungkan begitu saja." Ujar Alvaro sembari memijat dahinya, kepalanya saat ini sungguh terasa pening.


"Baik Pak." Wanita cantik dihadapannya mengangguk mendengar perintah bosnya. Rima adalah sekretarisnya Alvaro yang selama 3 tahun ini menjadi partner kerjanya.


Alvaro menghela nafas lelah, setidaknya dengan pertemuan besok dengan Pak Giandra bisa mendatangkan angin segar. Pemuda itu berharap bahwa orang tua itu akan memaafkan ketidak konsistenannya sehingga kerjasama dalam proyek pembangunan hotel masih bisa berlanjut.


"Maaf Pak Al, apakah ada tugas lain yang harus saya kerjakan?" Tanya Rima.


"Untuk saat ini itu saja." Balas Alvaro kemudian. "Oh iya Rim, sekalian file ini kamu berikan pada bagian administrasi keuangan. Aku ingin mereka mengeceknya kembali, perusahaan kita cukup banyak mengeluarkan dana akhir-akhir ini."


Rima mengambil berkas file di atas meja. "Baiklah Pak, saya permisi."


"Hm." Alvaro hanya berdehem, sekretris cantik itu melenggang keluar dari ruangan Alvaro.


Perusahaan Mahendra Group seharusnya sudah bangkrut sejak dulu kalau bukan karena Bramasta yang menopang dana untuk perusahaan ini agar tetap bertahan sampai detik ini. Alvaro tidak ingin terlalu bergantung pada bantuan mertuanya itu, dia ingin menjalankan perusahaan ayahnya secara mandiri. Dia hanya tidak ingin diremehkan saja, mengingat Mama Laura dan Bulan selalu menggunakan kekuasaannya untuk menekannya dan memaksanya itu sungguh memuakkan. Seolah semua kontrol kehidupannya ada pada keluarga Bramasta.


Sudahlah, memikirkannya saja tambah membuat kepalanya sakit. Dia membuka laptopnya untuk mengerjakan sisa laporannya semalam yang masih belum selesai karena ulah istri bodohnya.


Baru juga dia membuka layanan internet, artikel berita muncul dengan poto sexy istrinya berpose bersama seorang lelaki tampan. Dia tahu kalau istrinya adalah seorang model, namun melihat tubuh Bulan dalam balutan pakaian minim seperti ini apalagi ada seorang pria lain yang menyentuh tubuh istrinya membuat Alvaro kesal.


Karena penasaran Alvaro membukanya, sebenarnya dia enggan untuk membaca tulisan dalam artikel tersebut. Akan tetapi tidak ada salahnya jika Alvaro ingin mengetahui gosip apa yang telah wartawan tulis mengenai istri bodohnya itu.


Model cantik Bulan Cahaya Bramasta wanita beruntung yang dinikahi pengusaha sukses yaitu Alvaro Artha Mahendra memilih untuk tetap melanjutkan karirnya sebagai model. Berkiprah didunia modeling adalah cita-citanya sejak kecil, hanya karena statusnya yang sudah terikat dalam benang pernikahan tidak akan menghalangi jalannya untuk tetap berkarir.


Alvaro melihat kolom komentar yang dibanjiri dengan pujian dan hujatan. Rata-rata yang berkomentar malah para lelaki, mungkin mereka adalah para penggemarnya Bulan.


"Kalau aku jadi suaminya, aku akan suruh dia masak didapur saja. Jadi ibu rumah tangga yang baik, nggak rela aku punya istri secantik dan sexy itu jadi tontonan banyak orang."


"Aurotnya tolong dijaga neng."


"Gue kurung dirumah, biar nggak keluar kemana-mana. Takut digondol orang."

__ADS_1


"Halah, paling nanti suaminya bakalan diselingkuhin. Lihat aja teman lelakinya di dunia model pada ganteng-ganteng semua. Ngibul kalau Bulan nggak pernah cinlok."


Dari sekian banyaknya komentar yang Alvaro baca, komentar paling akhirlah yang membuat dirinya sebal.


Selingkuh, hah? Batin Alvaro tertawa, mana mungkin Bulan berani menduakan dirinya. Wanita bodoh itu cinta mati kepadanya, dihadapkan dengan lelaki manapun pasti Bulan akan lebih memilihnya.


Alvaro kembali memijat keningnya, dia merutuki tingkahnya kali ini yang aneh. Kenapa dia repot-repot memikirkan tentang istrinya, bukannya bagus kalau Bulan menyukai pria lain akan lebih mudah untuk menceraikannya dan dia bisa menikah dengan kekasihnya Bintang.


Perasaan kesal apakah ini? Nampaknya obat perangsang yang diberikan Bulan tadi malam mempunyai efek samping yang buruk pada otak Alvaro.


Ceklek


"Kak Alvaro hiks-hiks."


Alvaro tersentak kaget tatkala pintu ruangannya dibuka tiba-tiba oleh seorang wanita. "Bi--." Ujarnya tergagap, spontan dia langsung menutup laptopnya.


Bintang berjalan mendekat seraya memeluk Alvaro. “Bintang kamu kenapa?” Tanya Alvaro dengan perasaan cemas melihat wanita yang dicintainya menangis.


“Kak hiks…hiks.” Alvaro mengelus punggung Bintang, entah siapa yang membuat perempuan yang dia sayangi menangis seperti ini.


“Hikss…hikss kak, aku tadi mendengar perbincangan Mama Laura dengan Mamaku bahwa mereka hiks-hiks berencana ingin menjodohkanku dengan seorang pria."


Deg


Alvaro seketika tercengang.


"Mama laura hiks..hiks...hiks...ingin aku segera menikah kak, aku belum siap menikah kak karena aku masih ingin fokus kuliah.”


Jujur saja perasaan Alvaro tercubit ketika mendengar Bintang akan dijodohkan dengan pria lain. Sungguh dia benar-benar tidak rela jika hal itu sampai terjadi. “Tenanglah Bi, mereka tidak bisa memutuskan begitu saja. Lagipula Papa kamu juga belum pulang dari Swedia.”


Bintang mengangguk lemah. Dia hanya mampu berdoa kepada Tuhan semoga Papanya tidak menyetujui keputusan Mama Laura.


Wanita tua licik itu pasti sedang merencanakan sesuatu yang jahat agar Bintang menyetujui perjodohan gila ini demi putri bodohnya. Alvaro sangatlah hafal dengan tingkah pola mertuanya yang suka sekali mengatur, mencampuri urusan orang lain.

__ADS_1


"Aku takut kak, pria seperti apa yang akan dijodohkan denganku? A-aku tidak mengenalnya. Ba-bagaimana kalau dia adalah pria kasar? Aku tidak mau!" Tolak Bintang, dia tidak ingin dijodohkan dengan sembarang pria. Apalagi dihatinya kini masih ditempati oleh Alvaro seorang. Bintang belum siap pindah ke lain hati.


“Aku pasti akan membantumu.” Ujar Alvaro seraya tersenyum, dia membelai pipi Bintang. Meskipun dia berusaha tegar namun dalam benak Alvaro merasa was-was.


“Kak aku tidak ingin pulang kerumah, apa boleh aku menginap di apartemen Kak Alvaro?” Tanya Bintang meminta izin dengan penuh harap.


“Boleh, aku akan menemanimu.”


Alvaro menyapu sisa-sisa air mata yang membasahi pipi Bintang. “Jangan menangis lagi, aku lebih suka melihatmu tersenyum. Kamu terlihat jelek jika bersedih, coba lihatlah wajahmu memerah seperti kepiting rebus jika menangis.”


Bintang tertawa disela-sela isakannya, akhirnya Alvaro berhasil membuat wanitanya tersenyum. “Makasih Kak Al.” Bintang menatap lelaki di depannya, sedangkan pria itu mengacak rambutnya dengan gemas.


"Demi kamu Bintang, apapun akan aku lakukan." Gumam Alvaro sembari tersenyum.


...****************...


Seorang gadis berambut pendek sebahu berjalan ke arah apartemen Alvaro. Dia mengeluarkan cardlock lalu mengetukkannya pada kotak sensor. Pintu apartemenpun terbuka, dia melangkah masuk.


"Kakak!" Panggilnya dengan kencang, dia terkejut ketika mendapati Bintang berada disini dengan memakai kimono putih tengah meneguk segelas air putih di dapur.


Bintang yang sadar dengan kedatangan seseorang seketika menoleh dengan mata membulat. "Ti-tiara." Ujarnya dengan terbata-bata, dia tidak menduga kalau adiknya Alvaro akan datang ke tempat ini.


"Ada apa Bi?" Tanya Alvaro keluar dari kamar dengan bertelanjang dada. Pria itu nampak mengucek kedua matanya karena masih mengantuk, padahal ini sudah jam 5 sore.


Tiara menatap Bintang dan kakaknya secara bergantian dengan sorot mata tajam, dia sebagai gadis yang telah dewasa tahu perbuatan apa yang telah mereka lakukan.


"Tiara kamu ada disini?" Gumam Alvaro setelah dia sadar dengan keberadaan adiknya. "Kenapa kamu tidak kabari kakak terlebih dahulu?" Tanyanya.


Tiara hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Alvaro. Dia cukup tahu situasi ini, pantas saja ketika Tiara mendatangi rumah baru kakaknya tidak ada. Dirumah hanya ada Bulan yang ditinggal sendirian tanpa kabar.


Bukankah hal yang wajar jika seorang adik ingin menemui kakaknya. Lagipula apakah dia harus meminta izin untuk datang ke apartemen ini? Bukankah Alvaro sendiri yang memberinya cardlock agar keluarganya bisa dengan mudah masuk ke apartemennya.


Tiara memandang Bintang dengan tatapan yang sulit diartikan, entah apa yang ada dibenak Tiara saat ini. Bintang gugup dan dia merasa takut, jika Tiara berfikiran buruk tentangnya.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk dukung cerita ini dengan like dan komentar❤️


__ADS_2