Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 81 : Berkelahi


__ADS_3

Alvaro memakaikan handuk ke tubuh Bulan, dia membopong kembali gadis itu menuju kamarnya. Mendudukkannya di sisi ranjang. "Pakai ini." Ujar Alvaro menyodorkan sebuah kemeja kebesaran miliknya kepada Bulan. Wanita itu mengambil kemeja milik Alvaro lalu segera memakainya untuk menutupi tubuh polosnya.


"Dengar Bulan, jika kamu menurut aku tidak akan menyakitimu. Tapi jika kamu membantah, maka kamu akan habis ditanganku ." Ancam Alvaro menakuti Bulan. Setelah itu dia beranjak pergi dari kamar meninggalkan Bulan termangu sendirian.


Bulan kembali terisak. Hidupnya sudah hancur, apa yang bisa dia harapkan? Bulan bahkan menatap jijik pantulan tubuhnya yang dipenuhi dengan bekas cumbuan Alvaro. Pemuda itu mempelakukannya seperti pelacur.


"Hiks...hiks...hiks." Bulir air mata membasahi pipinya. Batinnya tertekan, tidak ada orang yang peduli dengan dirinya disini. Bulan butuh teman untuk membagi keluh kesahnya. "Ma, Bulan ingin ketemu mama hiks...hiks." Ujarnya disela-sela tangisnya. "Alvaro jahat, ma" Adunya kepada sang ibu yang mungkin sudah tidak memperdulikannya lagi, karena Laura juga tega menjebak Bulan demi keegoisannya semata.


Bulan merebahkan dirinya kekasur, dia mengusap lembut perut besarnya. Hanya anaknya yang selalu ada untuk menemani Bulan, dia berharap anaknya akan kuat berada didalam rahimnya. Tangan lentik Bulan merasakan tendangan samar dari dalam. "Kenapa? Kamu lapar ya? Papamu belum memberikan makan pagi ini, sabar ya." Ujar Bulan menitihkan air mata.


Tidak bisa dibohongi bahwa dirinya memang kelaparan, Alvaro seolah sengaja membiarkannya. Semalaman Alvaro menggempur tubuhnya habis-habisan membuat tenaganya terkuras habis. Bulan hanya bisa menelan ludahnya, air matanya tidak kunjung berhenti menetes. Dadanya begitu sesak, mengingat bagaimana tindakan Alvaro menyiksa dirinya dengan menjadikannya pemuas nafsu membuat Bulan begitu kalut dan trauma. Bulan hanya bisa meratapi penderitaannya, tidak ada tempat untuk mengadu dan bahkan mungkin juga tidak ada orang yang bisa menolongnya dari kekejaman suaminya sendiri. Bulan benar-benar sudah lelah, rasanya dia ingin mati saja untuk mengakhiri hidupnya.


...****************...


Bintang tengah berkutat di dapur, siang ini dia berencana untuk membuat brownis coklat. Bintang berharap nanti sepulang Alvaro bekerja, pemuda itu akan mencicipi brownis buatannya. Dirumah dulu Bintang sering membuatkan mama dan papanya brownis dan mereka berdua sangat menyukainya. Bintang menyiapkan semua bahan yang dibutuhkan di pantry. Dia mengocok telur bersama dengan gula pasir menggunakan mixer sampai lembut lalu memasukkan tepung terigu dan bubuk cokelat, mengaduknya rata.


Ting..tung...ting...tung


Dahi Bintang mengernyit tatkala dia mendengar suara bel rumahnya berbunyi berulang kali, siapa yang bertamu kerumahnya? Jika itu adalah suaminya tidak mungkin, Alvaro seharusnya masih berada dikantor jam segini. Bintang menghela nafas, dia meninggalkan adonannya begitu saja. Kakinya melangkah menuju ruangan utama, dia membukakan pintu rumah dengan penasaran. Mata Bintang membola tatkala dia melihat Farez berdiri di depan rumahnya. Bintang heran mengapa Farez berada disini, ada urusan apa dia?


Tiba-tiba Farez masuk kedalam rumahnya membuat Bintang mendelik karena pemuda itu tidak sopan nylonong begitu saja tanpa permisi. "BULAN! Teriak Elfarez memanggil nama kakaknya dengan keras. "BULAN AKU TAHU KAMU ADA DISINI, KELUARLAH BULAN!"

__ADS_1


Bintang heran dengan Farez, apakah dia gila! Kenapa pemuda itu berteriak tidak jelas dirumahnya mencari Bulan. "Farez, kakakku tidak ada disini." Tegas Bintang memberitahu, tapi Farez tidak percaya begitu saja. Farez masih ingin mengecek diruangan lain, Bintang dan Alvaro sama-sama licik. Mungkin mereka bersekongkol menyembunyikan Bulan untuk menyiksanya.


Awalnya kemarin Farez mengira jika Bulan menginap dirumah mamanya karena wanita itu telah mengiriminya pesan whatsapp ingin pergi mengunjungi orang tuanya. Namun semalam Farez menelfon Bulan untuk menanyakan kabarnya, rupanya yang mengangkat telfonnya adalah si brengsek Alvaro. Farez mejadi curiga jika Alvaro kembali mencuci otak Bulan untuk kembali kepelukan pria itu lagi.


"BULAN KATAKAN KAMU DIMANA?" Bintang menjadi kesal karena Farez tidak menggubrisnya, pemuda itu terus-terusan berteriak mencari keberadaan kakaknya, padahal Bulan tidak berada disini.


Bintang menarik tangan Farez, dia menghadang pria itu yang berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. "Tunggu Farez! Kakakku tidak ada dirumah ini, suamiku telah mengusirnya. Jadi tidak ada gunanya kamu mencarinya sampai kesudut ruanganpun dia tetap tidak ada."


Farez menatap sengit Bintang. "Katakan dimana suamimu berada?!" Ujarnya mengintimidasi Bintang membuat wanita itu menjadi gusar.


"Kenapa kamu menanyakannya? Jelas dia saat ini berada dikantornya." Cicit Bintang merasa takut, karena melihat Farez yang diselimuti amarah.


Bintang benar-benar geram, rasanya dia ingin melenyapkan Bulan agar tidak mengganggu kehidupannya bersama dengan Alvaro. Dan apa yang di dengar dari mulut Elfarez barusan bahwa Alvaro tinggal lagi bersama dengan Bulan tidaklah mungkin. Alvaro saat ini sangat membenci Bulan bahkan dia saja muak melihat wajah kakaknya itu, bagaimana bisa dia tahan untuk tinggal bersama. Ada-ada saja Farez, rasanya Bintang ingin menertawakannya.


Bintang hanya tahu bahwa kakaknya itu telah pergi karena diusir oleh suaminya, namun apakah Alvaro ingin membawanya kembali lagi? Tapi jika benar apa alasannya? Tentunya Bintang tidak akan membiarkan Alvaro untuk membawa Bulan kerumah ini lagi.


Farez memandangi Bulan, dari raut wajah Bintang nampak bingung. "Aku pergi." Ujar pemuda itu berjalan menuju pintu keluar, tidak ada gunanya dia berbicara dengan Bintang malah membuang waktunya. Jika dirumah Alvaro tidak ada, maka Farez akan menemui pemuda itu di kantornya. Bintang hanya bisa menatap nanar kepergian Farez dengan rasa penasaran, mungkin nanti jika Alvaro pulang dia akan bertanya kepadanya.


Mobil Mercedes benz hitam berjalan dengan kencang membelah jalanan ibu kota, tujuannya hanya satu yaitu menemui Alvaro. Dia ingin menuntut penjelasan dari Alvaro, sebisa mungkin Farez akan membawa Bulan ikut bersamanya.


Disisi lain Alvaro tengah bersantai di cafetaria kantornya, ini adalah jam istirahat. Dia memesankan makanan untuknya beserta ketiga rekan bisinisnya. Dari kejauhan Alvaro melihat Elfarez berjalan ke arahnya sembari mengepalkan kedua tangannya erat. Rima sang sekretaris menyapa Farez, namun pemuda itu malah mengabaikannya.

__ADS_1


Bugh!


Farez memukul Alvaro keras tepat mengenai pipi pemuda itu hingga tersungkur jatuh ke lantai. Alvaro mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan jempol tangannya. Semua orang yang berada di dalam cafetaria terkejut dengan tindakan Farez yang tiba-tiba datang memukul Alvaro sebrutal itu.


Farez menatap tajam Alvaro yang beranjak berdiri dengan angkuh membuat Elfarez tambah emosi. Dia kembali melayangkan tinjunya ke arah Alvaro namun pemuda itu berhasil menangkisnya.


"Sialan kamu Alvaro!" Umpat Elfarez dengan lantang dibalas dengan senyuman remeh Alvaro, dia fikir Alvaro akan mengalah diserang secara mendadak oleh Farez.


Bugh...pranggg!


Kini Alvaro gantian melayangkan pukulan balasan hingga tubuh Elfarez terdorong membentur meja, piring berisi kuah bakso pecah dan tumpah berceceran di lantai. Semua orang seisi cafetaria hanya bisa menatap nanar dua pria dewasa itu dengan tatapan takut. Mereka enggan mendekat maupun berbicara, karena tidak ingin terkena imbas dari perkelahian antara kedua bos besar itu. Para karyawan hanya bisa diam, sama sekali tidak ada yang melerai.


Dengan gesit Farez meraih kerah kemeja Alvaro, dia memukul berulangkali perut Alvaro hingga terasa nyeri. Tidak ingin tinggal diam, Alvaro menendang kaki Farez membuat pemuda itu kehilangan keseimbangan. Dia lalu meraih tangan Farez memitingnya kebelakang, pemuda itu memberontak hingga membuat Alvaro kewalahan menghadapinya.


"Katakan, dimana kamu menyembunyikan Bulan?" Tanya Farez dengan rahang bergemelatuk menahan emosinya.


Alvaro tertawa sinis. "Jangan ikut campur dalam urusan rumah tanggaku Farez, Bulan adalah istriku." Tegasnya berbisik, agar Farez paham posisinya disini hanyalah orang ketiga yang berusaha merebut Bulan darinya.


"Aku akan menikahinya setelah dia bercerai darimu. Rasa cintanya padamu sudah lama hilang Al, kamu harus sadar akan hal itu. Bulan sudah memutuskan akan menerima pinanganku setelah bercerai darimu." Mendengar ucapan Farez barusan membuat Alvaro semakin tersulut emosi. Rahangnya bergemelatuk, bahkan tangannya mengepal kuat mengingat Bulan akan dimiliki lelaki lain Alvaro tidak rela.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2