Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 111 : Terkunci Di Gudang


__ADS_3

Ruang Sidang Fakultas Fashion Design


Bintang tengah berdiri dihadapan dosen penguji dan dosen pembimbingnya, wanita itu nampak percaya diri menyampaikan presentasi mengenai hasil skripsi yang telah dijalaninya. Meskipun Bintang tengah hamil besar ditambah lagi hujatan dari orang-orang disekitarnya tidak menjadi hambatan bagi Bintang untuk memperoleh gelar sarjana. Sejauh ini dia telah berjuang menuntaskan tugas akhirnya, setidaknya Alvaro akan bangga memiliki istri sepertinya.


Mengenai Alvaro sebenarnya Bintang sedikit kecewa karena pria itu enggan untuk menghadiri sidangnya dengan alasan bahwa Alvaro tengah sibuk bekerja dikantor. Bintang tidak berani memaksa suaminya karena akhir-akhir ini Alvaro sering emosi akibat hal sepele padahal sebelumnya Alvaro selalu bertingkah lembut kepadanya. Namun sekarang apabila Bintang melakukan kesalahan, pria itu tidak segan untuk memarahinya. Bintang memilih mengalah, lagipula tidak ada yang perlu dia khawatirkan karena benalu yang ada dalam rumahnya saat ini telah berpisah dari inangnya.


Bintang kembali fokus pada power point di layar LCD yang memaparkan mengenai hasil design yang dia teliti. "Bahan maupun motif tradisional dengan identitas budaya yang sangat kuat ternyata bisa disulap menjadi outfit atau pakaian yang sangat modern dan kekinian. Ketika saya berada di Surabaya saya menyambangi sebuah butik, mereka ternyata memproduksi desain baju motif tradisional daerah. Jadi saya melakukan penelitian sekaligus belajar disana, hingga saya menciptakan design baju dengan menggabungkan motif tradisional dengan modern. Dimana target pasar saya adalah kalangan anak muda, pakaian yang saya buat memang lebih menonjolkan sisi modern namun tetap terdapat unsur tradisional." Ujar Bintang sembari menunjukkan sebuah gaun mewah yang terpasang di manekin.


Gaun itu adalah sebuah rancangan darinya yang telah dia jahit sendiri, memang pengerjaannya membutuhkan waktu yang lama namun Bintang merasa puas karena bisa mempresentasikan desain busana karyanya. Ketiga dosen didepannya nampak menganggukkan kepala, mereka mengapresiasi desain baju dari Bintang.


"Bagus, saya sangat menyukai desain yang kamu buat." Ujar dosen penguji sembari mengedarkan pandangan fokus pada gaun dihadapannya meneliti setiap corak yang melekat pada kain putih itu. "Berapa lama kamu mempelajarinya di Surabaya?" Tanya pria paruh baya itu.


"Hanya 2 minggu pak." Jawab tegas Bintang.


"Untuk desain yang kamu buat saya akui gaun itu sungguh menarik, jika saya mempunyai anak perempuan mungkin saya akan membeli gaun yang kamu buat. Sayang anak saya semuanya laki-laki." Celetuk dosen paruh baya itu berusaha mencairkan suasana agar tidak tegang. "Untuk data yang kamu jabarkan dalam skripsimu semuanya sudah lengkap, namun kamu perlu lampirkan detail rancangan sketsamu dengan narasi agar bisa dipahami secara lebih detail."


"Baik pak." Bintang menerima masukan dari dosen penguji, dia merasa senang karena mereka terlihat terpikat dengan desain busana darinya.


"Selamat kamu dinyatakan lulus untuk tugas akhirmu Bintang." Dia mengulum senyum mendengar penuturan dosen penguji, akhirnya Bintang menyelesaikan tahap akhir kuliahnya meskipun sedikit molor karena banyak kendala masalah yang dia hadapi. Bintang reflek mengusap perut besarnya seolah turut menunjukkan kepada anaknya betapa senangnya dia saat ini.


"Terimakasih pak." Ujar Bintang, dia lantas segera membereskan semua bukunya karena setelahnya masih ada giliran mahasiswa lainnya yang akan melaksanakan sidang pagi hari ini.


Bintang mengambil tasnya, dia beranjak keluar dari ruangan sidang. Bintang yang mulanya tersenyum sumringah seketika raut wajahnya berubah murung tatkala kakinya menginjak keluar dari gedung fakultas fashion design. Pandangan matanya menatap seorang gadis yang dikerubungi beberapa mahasiswi lainnya. Selesai ujian semua mahasiswi disambut oleh teman-temannya bahkan mereka membawakan buket bunga serta coklat, betapa bahagianya mereka. Bintang hanya bisa menatapnya dengan perasaan miris, dia cukup tahu jika keluarganya sedang sibuk. Tidak apa-apa, kali ini keluarganya tidak ada yang menyambut dirinya bukan tanpa alasan.


Bintang mengulum kegetiran, dirinya hanya sendirian. Suaminya enggan datang menyambut keberhasilannya dalam menyelesaikan ujian skripsi. Mama dan papanya juga masih sibuk mengurus pekerjaan diluar negeri. Teman-teman Bintang yang dulu dekat dengannya kini menjauh hanya karena rumor menyebalkan yang beredar. Dia murung seolah dirinya tertinggal dan dicampakkan, seketika Bintang menggelengkan kepalanya. Daripada dia iri melihat orang-orang yang berbahagia didepan matanya membuat hatinya bertambah jengkel, lebih baik Bintang segera pulang. Ada ketakutan dalam benaknya tatkala dirinya berada di lingkungan kampus karena orang-orang memandangnya sebelah mata seolah mencibir dengan tatapan menusuk.


Kakinya melangkah menuju parkiran dimana mobilnya berada, namun seseorang menarik tangannya kuat hingga membuat Bintang hampir terpelanting jatuh. Dia menoleh menatap ketiga gadis dihadapannya dengan kesal, gadis-gadis itu adalah teman sefakultasnya.


“Caca, Ratna, Syifa. Ada apa?” Tanya Bintang sembari menatap nanar gadis itu, saat ini dadanya bergemuruh berusaha menahan emosi. Bintang bertanya baik-baik karena tidak ingin bertengkar dengan ketiga temannya yang terkenal kerap menjadi biang masalah dikampus ini.


“Masih berani pelakor ini muncul kekampus dengan percaya diri, cih dasar tidak tahu malu.” Cibir Caca dengan mulut pedasnya menghina Bintang.


Syifa menatap sinis Bintang. “Dimana-mana cewek murahan itu urat malunya udah terputus, aku dengar dari berita gosip yang beredar Bulan telah bercerai dari Alvaro. Tega sekali Bintang menghancurkan pernikahan kakaknya sendiri, tidak heran sih karena nyokapnya Bintang dulu juga seorang pelacur gemar merebut suami orang.”

__ADS_1


Bintang mengepalkan tangannya mendengar hinaan mereka yang ditujukan kepada mamanya. “Tutup mulutmu Syifa. Kamu boleh mencaci maki aku, namun jangan bawa nama orang tuaku.”


Ratna maju, dia mendekati Bintang sembari menatap tajam wanita itu membuat Bintang seketika mendelik. “Kenapa?! “ Bentak Ratna dengan nada yang cukup keras hingga membuat telinga siapapun yang mendengarnya berdengung.


“Semua orang seisi kampus ini sudah tahu bahwa kamu adalah seorang anak pelacur, nggak usah ngelak deh kamu.” Ratna mendorong tubuh Bintang membuat wanita itu tidak bisa lagi membendung emosinya.


“Jangan menyentuhku brengsek!” Umpat Bintang dengan berani, dia membalas dengan mendorong kasar Ratna hingga wanita itu jatuh. Syifa dan Caca melongo karena Bintang bertindak kasar dengan mendorong temannnya hingga terjungkal jatuh.


“Ahh, sialan!” Ratna beranjak berdiri, dia mengusap rok pendeknya yang kotor terkena debu. Bintang dan Ratna saling menatap sengit satu sama lain. Emosi Bintang kali ini benar-benar memuncak, dia tidak bisa terus-terusan direndahkan orang lain seperti ini. Batas kesabaran Bintang telah habis, siapapun yang mengganggunya maka Bintang akan melawan.


“Kurang ajar ya kamu Bintang!” Bentak Ratna, rasanya dia ingin mencakar wajah wanita hamil dihadapannya ini. Dia tidak suka dengan keberadaan Bintang yang bertingah sok polos namun berhati busuk. “Teman-teman ayo kita beri hukuman untuk pelacur ini.” Perintah Ratna menginstruksi kepada kedua temannya.


Caca dan Syifa mengangguk, kedua gadis itu lantas memegangi tangan Bintang disisi kanan dan kiri membuat Bintang mengamuk. Dia berusaha keras memberontak agar cengkraman tangan mereka terlepas. “Kalian semua gila, lepaskan aku!” Teriak Bintang tersulut emosi.


“Lepaskan aku! Apa yang ingin kalian lakukan hah? Aku akan berteriak agar semua orang datang.” Ancam Bintang tapi tidak digubris oleh Ratna dan teman-temannya. Mereka bertiga malah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Bintang barusan.


“Hahahaha, memangnya siapa yang mau menolong seorang pelacur munafik kayak kamu hah?! Semua orang dikampus ini sangat membencimu, jadi jika kamu ingin berteriak silahkan berteriaklah sekencang yang kamu bisa hahaha.” Syifa tertawa puas melihat Bintang yang terdiam kaku, dia sadar jika sekarang orang-orang tidak peduli dengannya lagi. Mereka semua menganggap Bintang sebagai seorang wanita yang hina karena merebut Alvaro dari kakaknya.


“Tolong-tolong tolong aku!” Teriak Bintang berharap ada seseorang mendengarnya, dia saat ini butuh bantuan dari jeratan ketiga gadis gila ini.


“Nggak usah teriak-teriak, berisik tau.” Bentak Syifa semakin kuat mencengkram pergelangan tangan Bintang.


“Jangan buang tenagamu, lagipula kamu teriak sekencang apapun nggak ada yang mau nolongin kamu.” Timpal Caca memberitahu, mereka menyeret Bintang menuju gedung belakang kampus yang sepi.


“Tolong lepaskan aku hiks…hiks…hiks.” Bintang tidak bisa membendung air matanya, dia benar-benar ketakutan.


Mereka menyeret Bintang menuju gudang, Ratna dengan tega mendorong tubuh Bintang untuk masuk kedalam sebuah ruangan yang pengap dan gelap. Gadis itu merebut tas selempang Bintang dengan kasar.


“Kembalikan tasku!” Bentak Bintang mencoba merebut barang miliknya, namun Caca dan Syifa menahan tangannya hingga Bintang tidak bisa berkutik.


“Nggak, tas kamu aku sita.” Balas Ratna tersenyum sinis meremehkan. “Sekarang mending kamu istirahat saja. Tidurlah digudang sampai besok pagi hahaha.” Bintang melotot mendengar ucapan Ratna, dia menggelengkan kepalanya.


“Tidak, aku tidak mau!” Caca kembali mendorong tubuh Bintang hingga membentur tumpukan kardus kosong yang berada dibelakangnya. Ketiga gadis itu berlari keluar gudang meninggalkan Bintang yang berada didalam ruangan kotor itu.

__ADS_1


BLAMM


Bintang menoleh, seketika matanya membulat sempurna tatkala melihat ketiga gadis itu mengunci dirinya didalam gudang. Suara tawa mereka masih bisa Bintang dengar. Caca, Syifa maupun Ratna merasa senang bisa memberi pelajaran Bintang. Mereka bertiga memang sedari dulu membenci Bintang bahkan sebelum rumor tidak sedap mengenai Bintang beredar. Baginya Bintang adalah wanita munafik yang terlihat polos, mereka tidak peduli dengan keadaan Bintang yang tengah hamil. Lagipula wanita murahan seperti Bintang tidak perlu dikasihani.


“Ayo kita pulang!” Perintah Ratna dituruti oleh kedua temannya. Ratna membuang tas selempang milik Bintang kedalam tong sampah. Mereka lantas berjalan pergi membiarkan Bintang terkunci didalam gudang.


"Tolong..." Bintang memutar gagang pintu berkali-kali. "Buka pintunya! Siapapun diluar sana please, tolong jangan mengerjaiku seperti ini aku takut. Tolong buka pintunya!"


"Tolong...tolong....tolong."


"Aku terkunci di dalam sini tolong!"


Bintang menangis tergugu. "Aku takut hiks...hiks..hiks..." Tangannya bahkan merasa sakit karena terlalu kuat menggedor pintu.


Dor...dor...dor


"Tolonggg keluarkan aku dari sini hiks...hiks..."


Bintang terduduk lemas bersandar di dinding, gudang ini sangatlah gelap. Dia bingung harus melakukan usaha apalagi agar dia bisa keluar. Dia ingin menelfon suaminya untuk meminta bantuan namun ponselnya berada dalam tasnya. Ya tuhan, bagaimana ini? Bintang meringkuk ketakutan, dia bingung memikirkan cara agar bisa terbebas dari sini. Tanpa sengaja pandangan matanya menemukan sebuah ventilasi udara di atap. Tidak ingin menyerah, dia mengusap air matanya yang membasahi pipi. Bintang beranjak berdiri, remang-remang dia melihat sebuah kursi yang tertutup kain, segera dia menggesernya.


Tanpa ragu Bintang menaiki kursi itu, dia sedikit berjinjit agar tangannya bisa meraih lubang ventilasi itu akan tetapi di luar dugaan kaki kursinya patah karena memang sudah lapuk. Tubuh Bintang menghantam lemari di belakangnya hingga membuat lemari itu goyang.


BRUKK


"Aaaaaaa." Bintang jatuh terlentang bersama dengan lemari besar menghantam kaki kirinya. "Hiks...hiks... sakit."


"Tolonggggg." Bintang berteriak dengan kencang, tangannya reflek memegangi perutnya yang terasa sakit. Bintang bersumpah dia akan membalas perbuatan kejam ketiga gadis itu setelah ini, anak dalam kandungannya hampir celaka gara-gara mereka.


"Tolong, aku ada di dalam sini tolong hiks..hiks.." Lututnya benar-benar linu, rasanya tulang kakinya remuk. Berusaha menarik kakinya itu bukanlah perkara mudah, kakinya sulit digerakkan karena tekanan berat dari lemari besar itu.


Bintang rasa percuma dia berteriak sekencang apapun tidak akan ada orang yang mendengar, karena memang tempat ini sangatlah sepi. Entah sampai kapan dia akan terjebak disini, dia hanya bisa berdoa kepada tuhan semoga ada orang baik yang menolongnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2