
Daren mengaduk jus melon dihadapannya, dia tersenyum sinis membayangkan betapa beruntungnya Alvaro bisa mendapatkan dua wanita sekaligus. Dia sudah mempunyai istri secantik Bulan namun belum bisa membuatnya puas, hingga Alvaro menikah lagi dengan Bintang yang notabennya adalah adik tiri dari Bulan. Jika dibandingkan dirinya sebenarnya Alvaro lebih brengsek dari Daren, namun entah mengapa Bintang malah tergila-gila kepada Alvaro dan rela menghancurkan kehidupan kakaknya.
“Siapa kekasihmu?” Tanya Bulan menyelidik kepada Daren, dia tahu bahwa pemuda itu pasti tidak akan mengaku.
Obat yang dibeli oleh Daren pasti untuk Bintang, sakit apa adiknya itu? Apakah Daren telah bersikap kasar kepada Bintang hingga membuatnya sampai sakit? Batin Bulan bertanya mengingat sepak terjang Daren selama ini mempunyai sifat arogan.
Sebenarnya hari ini Daren harusnya ke kantor, tapi karena tiba-tiba suhu badan Bintang panas alhasil Daren tidak masuk bekerja. Pemicu Bintang sakit karena merasa tertekan dikurung oleh Daren di apartemennya, wanita itu ingin kebebasan namun Daren enggan mengizikannya keluar. Ayolah Daren hanya meminta waktu Bintang selama seminggu untuk menemaninya, itu bukanlah waktu yang lama. Setelah dia sudah puas dengan Bintang, maka Daren sendirilah yang akan memulangkan Bintang kerumah suaminya.
“Kenapa?” Daren menukikkan alisnya tajam menatap lekat wanita dihadapannya. “Simpanlah dulu rasa penasaranmu, jika waktunya tiba aku akan menikahinya.” Bulan memutar bola matanya malas, mimpi! Bagaimana Daren bisa menikahi Bintang jika status adiknya itu masih menjadi istri orang lain. Lagipula Bintang belum tentu mau hidup bersama dengan pria bajingan seperti Daren.
“Aku hanya bertanya Daren, jika kamu tidak ingin memberitahuku ya terserah.” Jawab Bulan sewot, berbicara dengan Daren memang menguji kesabarannya. Kalau bukan karena ingin mengorek kebohongan Daren, Bulan juga ogah berada di cafe bersama dengan pemuda itu.
Daren nampak terkekeh melihat bibir cemberut Bulan. “Kamu mengenal baik dengan kekasihku Bulan.” Ujarnya santai, namun Daren enggan menyebutkan namanya, karena kalau Bulan tahu mengenai hubungannya dengan adiknya maka Bintang akan mendapatkan masalah besar.
Bulan menyruput jus jeruknya untuk menghilangkan dahaga. “Ohh.” Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya pura-pura tidak tahu. Bulan masih memikirkan cara agar bisa membongkar hubungan mereka berdua dihadapan Alvaro dan juga keluarga.
“Kamu tunggulah disini, aku ingin ketoilet sebentar.” Daren tiba-tiba beranjak berdiri dari tempat duduknya, dia pergi meninggalkan Bulan sendirian menatap lekat punggung tegap pemuda itu hilang dari balik tembok.
Bulan menghela nafas kasar, dia menoleh mendapati benda pipih canggih milik Daren berada di atas meja. Bulan melirik kekanan dan kekiri, tangannya perlahan menyentuh benda pipih itu lalu menggesernya. Dia meneguk ludahnya susuh payah, Bulan berani mengambil ponsel milik Daren. Dia menyalakan ponselnya, dilayar tertera password sandi yang harus dia isi. Sial! Apa sandinya? Ayo Bulan berfikirlah. Bulan mencoba memasukkan tanggal lahir Daren tapi tidak bisa, dia bahkan memasukkan angka random secara acak juga tidak bisa membuka ponsel Daren.
Bulan terkejut tatkala Daren berjalan dari kejauhan menghampirinya. Cepat sekali dia kembali dari toilet, padahal Bulan belum berhasil mencari bukti lewat ponsel Daren. Bulan yakin bahwa didalam terdapat bukti percakapan atau foto mereka ketika bersama.
"Bulan." Panggil Daren, saking gugupnya Bulan segera memasukkan ponsel pemuda itu kedalam tas selempangnya. Daren duduk dikursi sembari menatap lekat wanita dihadapannya yang terlihat gusar. "Kamu kenapa?" Tanyanya penasaran.
Bulan langsung menggeleng. "Nggak, aku nggak apa-apa." Dada Bulan naik turun, dia berusaha menetralkan rasa takutnya. "Daren aku pulang duluan, Alvaro tadi menelfonku untuk segera kenbali kerumah." Wanita itu segera beranjak berdiri, Bulan melangkah cepat keluar dari cafe. Daren bingung dengan gelagat Bulan, dia hanya bisa menatap nanar kepergian wanita itu.
__ADS_1
Bulan bernafas lega ketika dia berhasil menjauh dari Daren, dia mengeratkan jemari tangannya pada tali tas selempangnya. Daren pasti akan segera menyadari jika ponselnya hilang. Mudah bagi Daren untuk menemukan pelaku yang mengambil ponselnya dengan melihat CCTV di cafe. Bulan sudah tahu resiko yang dia ambil, tapi sebelum itu Bulan harus bertindak cepat menemukan bukti perselingkuhan Daren dan Bintang. Wanita itu akan menuju ke service center untuk mengotak-atik ponsel dari Daren. Dengan bantuan teknisi dia yakin bisa menjebol password di ponsel Daren.
Ya tuhan, semoga aku bisa mendapatkan bukti untuk meyakinkan Alvaro bahwa ucapanku selama ini benar adanya. Doa Bulan dari dalam hatinya agar jalannya dipermudah.
...****************...
Rapat hari ini sebenarnya tidak terlalu penting bagi Alvaro karena dia bekerjasama dengan perusahaan kecil. Namun bagaimana lagi, ayahnya meminta untuk memberikan sokongan dana untuk bisnis manufaktur yang baru merintis itu. Dia merasa jenuh dengan presentasi yang disampaikan lelaki dihadapannya ini, bukannya menyepelekan namun Alvaro memang terbiasa bekerjasama dengan pimpinan besar agar perusahaannya semakin maju. Untuk mempercepat waktu akhirnya Alvaro langsung menyetujui kerjasama mereka, dia ingin segera melakukan pekerjaan lainnya yang menunggu acc darinya.
Alvaro beranjak berdiri dari tempat duduknya dengan aura dingin yang terpatri jelas diwajah tegasnya. "Sepertinya rapat hari ini sudah selesai, saya akhiri. Selamat siang." Ujarnya singkat. Semua rekan bisnis maupun karyawan di perusahaannya mengetahui sifat jutek Alvaro yang irit bicara. Pemuda itu memang tidak akan banyak bicara jika hal itu tidak terlalu penting baginya.
"Baik, pak." Jawab mereka semua mengangguk patuh, lalu berpamitan keluar dari ruangan rapat.
"Rima tunggu." Panggil Alvaro kepada sekretarisnya yang ingin beranjak pergi. "Nanti untuk laporan hasil rapat hari ini, berkasnya segera kamu antar ke ruangan saya."
"Siap pak." Ujar Rima dengan sopan.
Tok...tok...tok! Suara pintu diketuk.
"Pak saya Rima ingin mengantarkan berkas yang bapak minta." Ujar Rima dari luar memberitahu. Alvaro segera memasukkan kalung liontin itu kembali didalam laci.
"Masuk." Sahut Alvaro.
Ceklek
Rima memasuki ruangan Alvaro, dia berjalan mendekat kemudian meletakkan map merah berisikan sebuah berkas laporan yang diminta bosnya. "Pak, saya ingin menyampaikan bahwa Pak Elfarez sekarang ada disini. Beliau ingin menemui anda, jika anda tidak sibuk."
__ADS_1
Alvaro berdecak sinis, ngapain cecunguk itu ingin menemuinya? Alvaro benar-benar malas menatap wajahnya yang congak itu. "Langsung suruh dia masuk kemari." Ujar Alvaro menginstruksi, bagaimanapun pria itu adalah rekan bisnisnya. Setidaknya Alvaro akan sedikit menghormatinya.
"Baiklah pak." Rima pamit untuk mengundurkan diri keluar dari ruangan.
Alvaro membaca berkas yang diberikan sekretarisnya barusan, sampai akhirnya fokusnya teralihkan saat mendengar pintu dibuka dibarengi dengan ketukan suara sepatu pantofel mendekat.
"Apa kabar Al?" Sapa Elfarez basa-basi berusaha bersikap santai dihadapan Alvaro, didunia kerja mereka adalah teman bisnis tapi urusan wanita mereka adalah rival.
Alvaro mendongak seraya tersenyum menatap pria di depannya. "Kabarku baik, silahkan duduk." Ujarnya dengan dingin.
"Apakah aku mengganggumu?" tanya Farez memastikan, karena Alvaro terlihat masih fokus dengan lembaran kertas ditangannya.
"Kamu sama sekali tidak menggangguku, lagipula pekerjaanku juga hampir selesai." Kilah Alvaro padahal dirinya belum memulai mengerjakan apapun. "Ada keperluan apa kamu menemuiku?" Tanya Alvaro penasaran.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa minggu depan kita ada jadwal penerbangan ke Swedia untuk meninjau pembangunan hotel baru, aku tidak bisa datang. Aku harap kamu yang berkenan untuk mewakilinya." Ujar Farez memberitahu. Alvaro mengernyitkan dahinya menatap sengit Elfarez, bisa-bisanya pemuda itu dengan seenak jidatnya menyuruhnya.
Alvaro bukanlah orang yang bodoh, Farez pasti sengaja ingin membuatnya pergi ke Swedia agar dia bisa menemui Bulan dengan bebas. Alvaro tidak akan pergi kemana-mana, lebih baik dia meminta Papanya yang meninjau proyek pembangunan hotel di Swedia.
"Aku memutuskan untuk tidak pergi ke London, Papaku yang akan kesana. Lagipula istriku saat ini tengah hamil, aku tidak mungkin tega meninggalkannya." Kilah Alvaro membuat alasan agar Elfarez tidak melimpahkan tugas peninjauan keluar negeri kepadanya. Proyeknya di Swedia akan berjalan selama sebulan, Alvaro malas untuk pergi keluar negeri lagi apalagi tanpa didampingi kedua istrinya. Ayolah dia tidak mungkin mengajak Bulan maupun Bintang yang tengah hamil besar untuk ikut bersamanya.
Elfarez menghela nafas gusar, dia padahal berharap Alvaro akan ikut ke Swedia. Jika pemuda itu terus berada didekat Bulan maka Farez tidak akan mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan wanita itu. Farez tahu betapa arogannya Alvaro, pemuda itu padahal tidak mencintai Bulan tapi setiap Farez menemui Bulan maka Alvaro akan marah bahkan tidak segan untuk menghajarnya. Dasar pria aneh!
"Akan lebih baik kamu saja yang ikut ke Swedia, sebagai seorang pria yang belum membina kehidupan rumah tangga kamu belum ada beban tanggung jawab sepertiku." Ujar Alvaro sengaja menyindir Elfarez yang belum mempunyai pasangan. "Sekalian mungkin kamu bisa mencari seorang istri disana."
Elfarez menukikkan alisnya tajam mendengar ucapan Alvaro barusan. Jujur dia sama sekali tidak tersinggung dengan ejekan Alvaro, karena sebentar lagi dia juga akan menikah. Setelah Alvaro bercerai dari Bulan maka Farez yang akan menikahi mantan istri dari pemuda itu.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak dengan like, komen, vote dan memberi gift supaya aku semangat update.