Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 73 : Alvaro


__ADS_3

Mobil mercedes benz hitam memasuki parkiran rumah sakit, Bulan dan Elfarez turun dari mobil. Mereka berdua berjalan menuju ruangan dokter spesialis kandungan, dengan sabar Farez menggiring Bulan untuk duduk diruang tunggu. Bulan menatap sendu Farez yang berjalan kesana kemari untuk mengurus nomer antriannya dan melakukan pendaftaran.


Bulan menyunggingkan senyumnya, untuk yang kesekian kalinya Elfarez memberikan perhatian mengantarkannya check up ke dokter. Dulu ketika Alvaro pergi ke luar negeri untuk bulan madu bersama dengan Bintang juga Farezlah yang selalu menemaninya kerumah sakit. Padahal bayi yang dikandung Bulan bukanlah benihnya, tapi pemuda itu selalu peduli dengan kondisi anaknya.


"Kurang dua antrian lagi kita akan segera masuk." Ujar Elfarez memberitahu seraya duduk disebelah Bulan. Dia menganggukkan kepalanya, jujur Bulan tidak sabar melihat anaknya di layar monitor ketika di USG. Terakhir kali dia cek kandungan, dokter mengatakan bahwa anaknya berjenis kelamin perempuan. Bulan hanya diam, Alvaro tidak pernah menanyakan kondisi anak yang berada dalam kandungannya. Pemuda itu terlalu sibuk mengurusi Bintang, suaminya selalu mengabaikannya.


"Seharusnya kemarin aku membawamu ke rumah sakit, dokter Dea yang pernah memeriksamu menyarankanku untuk segera check up ke dokter spesialis kandungan. Tapi kemarin aku terlalu sibuk di kantor, jadi aku tidak sempat." Mendengar ucapan Farez barusan membuat Bulan trenyuh.


Bulan mengulum senyum. "Tidak apa-apa Farez, lagipula aku juga merasa baik-baik saja." Balas Bulan, pemuda itu terlalu khawatir kepadanya. Bulan menghela nafas, dia mengedarkan pandangannya kesekelilingnya yang dipenuhi dengan para ibu hamil. Mereka semua didampingi oleh suaminya masing-masing membuat Bulan merasa iri. Betapa bahagianya ibu-ibu itu bisa melihat tumbuh kembang anaknya bersama dengan suaminya disetiap bulannya.


Tatapan mata Bulan beralih pada siluet pemuda yang tengah berdiri diambang pintu, tubuh Bulan seketika menegang. "Al-Alvaro." Cicit Bulan terbelalak, melihat suaminya bersama dengan Bintang.


Farez mengerutkan dahinya, ada apa dengan Bulan? Kenapa dia tiba-tiba melamun. "Bulan ka--." Bulan beranjak berdiri, dia lantas menarik tangan Elfarez, membuat pemuda itu terkejut dengan tindakannya. Farez menurut kemana Bulan membawanya, wanita itu mengajaknya sembunyi dibalik tembok.


Pemuda itu nampak kebingungan karena Bulan terlihat gelisah, berulang kali wanita itu mengintip seseorang dari balik tembok. "Bulan ada apa?" Tanya Elfarez pada akhirnya, dia sungguh penasaran.


Bulan menoleh, dia menatap sayu Elfarez. "Di-disana ada Alvaro, aku takut jika dia melihatku." Cicit Bulan gemetar, Alvaro saat ini sangatlah membencinya. Jika pemuda itu tahu keberadaannya mungkin akan memicu pertengkaran lagi. Akan lebih baik Bulan menghindar, jujur Bulan tidak ingin bertemu dengan Alvaro. Sudah cukup pria itu membuatnya sakit hati karena tega mengusirnya.


Farez ikut mengintip untuk memastikan, ternyata benar ucapan Bulan bahwa Alvaro berada di rumah sakit ini bersama dengan Bintang, kelihatannya mereka baru selesai check up. Bulan heran mengapa dirinya bisa bebarengan kesini dalam waktu yang sama. Jujur saja ketika mengetahui bahwa suaminya menemani adiknya untuk memeriksakan kandungannya membuat dada Bulan terasa nyeri. Dia merasa ini tidak adil baginya, kenapa dia yang harus menanggung derita? Kenapa bukan Bintang?

__ADS_1


Farez menggenggam lembut tangan kanan Bulan berusaha menenangkan wanita itu. Bintang terlihat mengusap beberapa kali perut besarnya. "Kak dokter tadi bilang bahwa anak perempuan kita didalam kandungan dalam kondisi sehat, huh aku tidak sabar menunggu kelahirannya. Dia pasti cantik sepertiku."


Alvaro mengulas senyum, dia mengacak gemas puncak kepala Bintang membuat wanita itu memberenggut kesal karena rambutnya menjadi berantakan. "Biasanya anak perempuan akan mirip seperti ayahnya." Celetuk Alvaro membalas ucapan istrinya.


"Hm, kak maafkan aku. Dulu kamu pernah bilang menginginkan anak laki-laki, tapi aku malah mengandung anak perempuan." Ujar Bintang tertunduk murung, dia memakluminya karena Alvaro merupakan pemimpin kerajaan bisnis. Dia ingin anak laki-laki yang kelak menjadi pewaris perusahaannya.


Alvaro mengusap perut Bintang dengan penuh perhatian. "Laki-laki maupun perempuan sama saja Bi, aku akan tetap menyayanginya. Aku tidak sabar menunggu kelahiran putri kita." Alvaro bersikap begitu lembut kepada Bintang.


Setiap perlakuan Alvaro kepada adiknya tidak luput dari pandangan Bulan yang menatap lekat interaksi mereka berdua. Reflek Bulan mengelus perutnya, anak dari Bintang begitu disayang oleh Alvaro berbeda dengan bayi yang berada didalam perutnya sangat dibenci oleh pemuda itu bahkan Alvaro menghinanya anak haram. Dada Bulan terasa nyeri, dia tidak ingin anaknya bernasip sama seperti dirinya. Bulan semakin yakin jika dia memang harus mengakhiri hubungannya dengan Alvaro dan membuka hatinya untuk Elfarez. Cukup selama ini dia menjadi wanita bodoh yang mencintai pria kejam seperti suaminya.


"Bi kamu duduklah, tunggu saja disini sebentar. Aku akan menebus obat di apotik." Ujar Alvaro menyuruh Bintang untuk duduk dikursi. Rumah sakit ini adalah milik keluarga Mahendra. Jadi Alvaro tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk mengantri.


"Ada aku yang akan selalu berada disampingmu." Bulan tersenyum mendengar penuturan Farez, entah mengapa hatinya kini merasa tenang seolah dirinya ada tempat untuk bersandar. Bulan mengangguk menegaskan bahwa dirinya baik-baik saja tidak akan terpengaruh dengan kebersamaan antara Alvaro dan Bintang.


Saat ini Bulan sudah memantapkan diri untuk menutup rapat-rapat hati dan juga perasaannya untuk suaminya. Rasa cintanya kepada Alvaro kini perlahan tergerus dengan perasaan benci, satu hal yang benar-benar membuat Bulan sakit sampai ke relung hatinya tatkala Alvaro melontarkan ucapannya yang mengatakan bahwa anaknya adalah anak haram. Bagi Bulan itu adalah kesalahan Alvaro yang tidak akan pernah dia maafkan sampai kapanpun juga.


Farez melihat bahwa Alvaro sudah berjalan pergi bersama dengan Bintang. Pemuda itu bernafas lega karena mereka tidak perlu lagi bersembunyi, Farez sebenarnya tidak ingin menghindar bagaikan pengecut seperti ini. Tapi dia memilih menuruti Bulan yang enggan untuk menemui suaminya, Farez menghargai keputusannya.


"Mereka sudah pergi, ayo kita masuk. Nomer antrian kita sedari tadi sudah dipanggil." Ujar Farez menggiring Bulan untuk masuk kedalam ruangan dokter.

__ADS_1


"Tunggu." Bulan menghentikan langkah kaki Farez ketika mereka sampai diambang pintu. "Apakah kamu juga ikut masuk?" Bulan menelan ludahnya susah payah, dia baru ingat jika dokter Sinta spesialis kandungan bertugas disini. Dokter perempuan itu adalah kenalan Alvaro, jika Bulan datang cek kandungan bersama dengan pria lain pasti dokter itu akan berfikiran macam-macam tentangnya. Bisa saja dokter itu melaporkannya kepada Alvaro sehingga akan menimbulkan fitnah baru.


"Iya aku ingin menemanimu masuk kedalam kali ini." Farez langsung menarik tangan Bulan kedalam ruangan tanpa menunggu jawaban dari Bulan. Pada akhirnya Bulan menurut karena Farez terlihat bersemangat untuk melihat anaknya Bulan. Ayolah sebentar lagi dia yang akan menggantikan Alvaro untuk menjadi suami Bulan dan ayah dari anak itu. Sudah seharusnya Farez dekat dengan anak Bulan sebelum mengikat hati wanita itu.


"Selamat pagi." Sapa seorang dokter muda dengan ramah, Bulan lega karena ternyata yang bertugas hari ini bukanlah dokter Sinta. Dia sedari tadi sudah was-was karena jika dokter Sinta yang memeriksa dirinya maka bisa menjadi masalah untuk Bulan.


"Pagi dok." Balas Farez dengan sumringah. "Kami ingin memeriksakan kandungan istri saya dok." Ujar Farez membuat Bulan melongo karena Farez seenaknya mengaku bahwa dia adalah suaminya. Namun Bulan memilih diam membiarkan Farez berbuat sesuka hatinya selama dia tidak melakukan hal yang lebih jauh dari ini.


Dokter muda itu nampak melihat buku rekam medis dari Bulan. "Baiklah, silahkan ibu tiduran di brankar dulu. Saya siapkan alatnya." Bulan menurut, dia tidur berbaring di atas brankar sembari menatap langit-langit rumah sakit. Sejenak dia menoleh kearah Elfarez yang tengah berdiri sembari memandanginya lekat.


"Mohon maaf bu, saya buka bajunya ya." Izin dokter muda itu sembari menyibakkan dress yang dipakai Bulan ke atas sehingga memperlihatkan perut besarnya. Bulan merasakan sebuah cairan dingin dioleskan pada kulitnya, lalu dokter itu menggerakkan tranducer yang ditempelkan diatas perut Bulan seolah mencari keberadaan letak janinnya agar terlihat jelas pada layar USG.


"Bayi perempuan yang cantik." Gumam dokter muda itu yang bernama Clarisa, Bulan bisa mengetahui dari name tag yang ditempelkan pada dada perempuan itu.


Farez menatap layar monitor USG, pemuda itu bisa melihat dengan jelas janin yang sedang meringkuk itu. Bahkan kaki kecilnya bergerak-gerak seperti menendang sesuatu. Bulan penasaran, dia juga turut melihat putrinya di layar. Jantung Bulan berdesir dengan perasaan terharu, ya tuhan bayi yang manis sekali. Bulan sangat merindukannya, dia tidak sabar kelak untuk menggendong buah hatinya.


"Anak kita lucu sekali ya ma." Celetuk Farez seolah mengajak Bulan bicara. Pemuda itu heboh sendiri membuat dokter Clarisa mengulum senyumnya. Bulan malah merasa kikuk dengan situasi ini, pasalnya mereka bukanlah pasangan suami istri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2