
London, Britania Raya at 02.00 AM
Alvaro menatap lekat istrinya yang terbaring disampingnya, dia memastikan bahwa saat ini Bintang masih terlelap dalam tidurnya. Perlahan pemuda itu beranjak bangun dari ranjang, dia diam-diam keluar dari kamarnya menuju balkon hotel. Alvaro mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk menerima panggilan video call. Dia sengaja menekan tanda unmute speakernya, layar ponselnya menangkap jelas sosok wanita yang saat ini tengah memasak didapur membantu mamanya. Alvaro menyunggingkan senyum, hatinya seketika menghangat. Entah kenapa dia merindukan sosok wanita itu, tapi terhalang rasa gengsi untuk mengakuinya.
Perbedaan waktu antara London dan Jakarta adalah 7 jam, jadi jangan heran jika ditempat Alvaro berada masih dini hari sedangkan di Jakarta sudah pukul 9 pagi.
"Bulan kamu aduk opor ayamnya, biar bumbunya meresap. Mama sudah taburi garam tadi." Ujar Clara memberitahu, wanita paruh baya itu sedang mengoseng capcay sayur diwajan.
"Iya ma ini sudah aku aduk, hm baunya harum sekali aku jadi lapar." Bulan berkata jujur, mencium aroma masakan membuat perutnya menjadi keroncongan.
"Opor ayam adalah makanan favoritnya Alvaro." Celetuk Clara membuat Bulan mengernyitkan dahi. Iya Bulan tahu, bahkan Bintang kerap membuatkan Alvaro opor ayam hampir setiap hari.
"Kak Al bisa makan dengan lauk opor ayam dari pagi, siang, sore, malam tanpa bosan saking sukanya dia dengan masakan ini." Timpal Tiara memberitahu mengingat kebiasaan kakaknya itu.
Clara melirik Bulan. "Apa kamu tidak kangen sama Alvaro?" Tanya Clara penasaran. Putranya itu pergi liburan bersama istri keduanya meninggalkan Bulan, sebelumnya Clara sudah menasehati Alvaro agar dirinya tidak pergi karena kasihan melihat Bulan akan sendirian berada dirumah. Sebenarnya Alvaro juga enggan ke London tapi Zhafran memaksanya karena bulan madu ini adalah impian Bintang.
Sebagai seorang wanita jelas Clara bisa merasakan sakit hati yang dialami oleh Bulan, tidak ada seorang istri manapun yang rela dimadu. Dia sangat menyayangi kedua menantunya, Clara tidak tahu bagaimana masa depan pernikahan mereka dimasa depan. Namun Clara berharap hubungan mereka akan rukun baik-baik saja tanpa menyakiti satu sama lain.
Tiara sengaja menyenggol bahu Bulan, gadis itu gemas melihat kakak iparnya diam saja tidak menjawab pertanyaan dari mamanya. “Kangen nggak kak?” Tanyanya menuntut. Dari sebrang telefon Alvaro juga menantikan kalimat apa yang akan dilontarkan oleh Bulan, dia berharap Bulan juga merindukannya.
Bulan mengangguk. “Iya ma.”
__ADS_1
Clara seketika tersenyum, dia tahu betapa cintanya Bulan kepada putranya sangatlah besar. Dengarlah nak, Bulan merindukanmu maka cepatlah pulang dan temui istrimu. Batin Clara berbicara dari dalam hatinya. Alvaro merasa lega mendengarnya, sebenci apapun Bulan kepada Alvaro namun wanita itu tidak bisa berbohong bahwa dia rupanya masih menyimpan hatinya hanya untuk Alvaro. Clara membenahi letak ponselnya, dia memang sengaja diam-diam menyorot kamera ponselnya kearah Bulan atas permintaan putranya.
Alvaro menyuruhnya untuk menjenguk Bulan dirumah untuk memastikan bahwa istri keduanya itu dalam kondisi baik dan aman. Hubungan antara Alvaro dan Bulan memang masih memanas sampai saat ini, apalagi Bulan sama sekali tidak menghubunginya membuat Alvaro cemas. Pemuda itu bahkan telah menurunkan harga dirinya dengan menelfon Bulan, namun Bulan malah menolak panggilannya berkali-kali.
“Sudah siap semuanya.” Teriak Tiara yang sudah selesai meletakkan nasi beserta lauk diatas meja makan. “Ayo kita sarapan bersama.”
Clara dan Bulan berjalan menuju meja makan, mereka beranjak duduk. Hari ini mereka memasak capcay dan opor ayam saja, bagi Bulan ini adalah masakan yang sangat spesial karena mereka memasaknya bersama-sama. Dengan penuh perhatian Clara mengambilkan nasi beserta lauk diatas piringnya Bulan.
"Makanlah yang banyak sayang." Perintah Clara sembari mengelus lembut surai rambut Bulan. Kasih sayang dari Clara membuat hati Bulan tersentuh, setidaknya dia masih memiliki ibu mertua dan adik ipar yang sangat baik.
Disisi lain Bintang yang tengah tertidur diranjangnya meraba-raba seseorang disampingnya, dia mengernyitkan dahi tatkala tidak merasakan keberadaan suaminya. Wanita itu seketika membuka matanya, ranjang disampingnya kosong. Kemana perginya kak Alvaro?
"Kak kamu dimana?" Teriaknya lagi.
Tatapan matanya jatuh pada pintu yang mengarahkan pada balkon hotel terbuka. Bulan berjalan mendekat, dia menangkap siluet seorang pria gagah tinggi besar berdiri menjulang dibalkon kamarnya, Bintang tahu betul bagaimana perawakan tubuh suaminya.
"Kak Al." Alvaro sedikit terkejut mendengar suara istrinya. Dia segera mematikan panggilan vidio call secara sepihak. Pemuda itu segera memasukkan ponselnya kembali kedalam saku celananya, dia moneh menatap lekat Bintang dengan ekspresi dinginnya.
Ditatap tajam seperti itu oleh suaminya membuat Bintang heran. "Kak apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Bulan penasaran.
"Aku hanya mencari udara segar." Balas Alvaro, Bintang tidak serta merta percaya. Alvaro terlihat mencurigakan, jawaban dari Alvaro sama sekali tidak memberinya kepuasan.
__ADS_1
"Benarkah kak?" Tanyanya lagi memastikan.
Alvaro terlihat menghela nafas lelah. "Sudahlah Bi, aku masih mengantuk. Aku ingin tidur." Pemuda itu tanpa menggubris Bintang berjalan memasuki kamarnya. Wanita itu jelas marah, tapi sebisa mungkin dia meredam emosinya.
Ada apa sebenarnya denganmu kak? Kenapa kamu seolah berubah? Tanya Bintang dari dalam hatinya. Liburannya ke London seharusnya membawa bahagia tapi entah kenapa Bintang masih diliputi dengan rasa curiga dan cemburu. Bintang merasa hidupnya masih dibayang-bayangi dengan keberadaan kakaknya.
...****************...
Kepergian mama Clara dan Tania membuat rumah yang ditinggali Bulan menjadi sepi kembali, padahal Bulan berharap mereka akan menginap disini. Bulan duduk ditepi ranjang kamarnya. Dia menghela nafas, perlahan tangannya membelai perutnya. Bulan tersenyum kecut, seharusnya dia tidak merasa kesepian karena ada anaknya yang selalu menemani dimanapun dia berada.
"Omamu dan tentemu sudah pulang, mama sedih." Ujar Bulan memberitahu, seolah mengajak janin dalam kandungannya berbicara. Beberapa jam lalu sejenak Bulan merasakan bahagia, dia bisa bersenda gurai dengan mama Clara dan Tiara. Sebelumnya didalam keluarganya sendiri dia tidak pernah merasakan kehangatan seperti itu.
"Apakah benar kamu kangen sama papamu?" Tanya Bulan sembari menatap lekat perutnya. "Bukan mama yang kangen, tapi kamu yang merindukannya." Gumamnya lagi, seolah mepertegas bahwa dia sudah tidak menginginkan Alvaro lagi disisinya.
Bulan tadi hanya membual saja kepada mama Clara mengaku bahwa dirinya merindukan Alvaro padahal sama sekali tidak. Tapi kadangkala Bulan juga merasakan hal aneh dalam dirinya semenjak hamil. Dia selalu ingin dekat dengan Alvaro, mungkin ini adalah bawaan bayi.
Dia pernah membaca sebuah artikel di internet bahwa hal ini wajar dialami oleh ibu hamil karena sang bayi ingin selalu diperhatikan oleh sang ayah. Kebiasaan anehnya ini sungguh mengganggunya. Namun setidaknya dengan kepergian Alvaro ke London membuat Bulan bisa melatih menahan hasratnya. Dia hanya mampu mengucapkan sabar kepada anak dalam kandungannya.
Benar yang dikatakan orang-orang bahwa kehamilan seorang istri bisa menjaga keharmonisan antar pasangan karena seorang istri ingin selalu ditemani oleh sang suami. Akan tetapi berbeda dengan Bulan, suaminya tidak mencintainya. Setiap dia ingin mendekati Alvaro pasti pemuda itu akan memarahinya. Lagipula untuk apa Bulan memikirkan hal itu, berulangkali dia menegaskan bahwa hubungan antara dia dengan Alvaro akan segera berakhir setelah dia melahirkan seorang anak. Pernikahan mereka sudah tidak ada harapan lagi untuk bertahan.
Bersambung...
__ADS_1