Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 108 : Berusaha Melindungi


__ADS_3

Alvaro melepas cengkramannya, dia lantas mengusap gusar wajahnya. Ancaman yang dia lontarkan tidak berpengaruh apapun untuk Bulan, wanita itu malah terlihat pasrah. Alvaro menatap tajam wanita disampingnya. "Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku barusan Bulan, jika besok kamu tetap kekeuh melanjutkan perceraian kita maka aku akan menjebloskanmu kedalam pesakitan dan ingat setelah anakmu lahir maka aku akan mengambil anak itu dari sisimu. Kamu tidak akan mempunyai apapun yang bisa kamu pertahankan." Dada Bulan berdenyut nyeri, jikapun Bulan memilih kembali bersama dengan Alvaro itu bukanlah pilihan yang tepat untuknya.


Bulan yakin bahwa pemuda itu pasti akan menorehkan luka kembali, Alvaro pemuda yang tempramental. Lagipula kenapa Alvaro kekeuh memintanya untuk kembali kepadanya? Bukankah Alvaro membencinya? Apakah Alvaro sengaja memintanya kembali agar Alvaro bisa melampiaskan dendamnya dengan menyiksanya? Pemuda itu pasti belum puas melihatnya menderita.


Bulan menatap nanar Alvaro dengan linangan air mata. "Tidak bisakah kamu melepaskanku saja Al?" Cicit Bulan dengan perasaan sedih karena Alvaro masih saja mengekangnya. "Jangan memaksaku lagi Al, aku benar-benar sudah lelah. Aku tahu kamu sangat membenciku, tapi bukanlah tindakanmu sudah sangat berlebihan menghukumku seperti ini." Bulan tidak tahu harus bagaimana, sekali lagi Alvaro ingin menghancurkannya.


"Tidak semudah itu kamu lepas dariku Bulan, aku akan mendapatkan apapun yang aku mau termasuk harga tubuhmu maupun hatimu! Aku bahkan tidak segan menyingkirkan siapapun orang yang merebut barang milikku." Ucapan Alvaro sungguh menyakiti perasaannya, pemuda itu menganggapnya sebuah benda yang hidup? Bulan tidak semurahan itu. Dengan uang yang dimiliki oleh Alvaro mungkin pemuda itu dengan mudah menjebloskannya dalam penjara dan mengambil hak asuh anaknya kelak. Ya tuhan permasalahan yang dihadapai Bulan malah semakin rumit. Bagaimana ini? Bulan benar-benar bingung.


"Al aku--."


Tok...tok...tok


Pintu kaca mobil Alvaro diketuk dengan keras oleh seseorang membuat Bulan dan Alvaro seketika menoleh kesumber suara. Mata Bulan membulat tatkala dia melihat Elfarez menjulang berdiri didepan kaca mobil, disampingnya juga terdapat Bintang yang menatapnya dengan ekspresi penuh amarah.


“Al buka pintunya!” Bentak Elfarez karena Alvaro sengaja mengunci pintu kendaraan beroda empat itu membuat Farez merasa geram.


Alvaro memandangi siluet keberadaan istri keduanya, kenapa Bintang bisa ikut berada disini? Alvaro yakin ini semua pasti perbuatan Farez yang menggiring Bintang untuk ikut berasamanya. Sialan! Farez membuatnya seolah dia tengah tertangkap basah diam-diam masih menemui Bulan. Memang benar, Farez melacak keberadaan Bulan karena ketika pemuda itu mendatangi rumahnya, Laura mengadu bahwa Bulan pergi tanpa berpamitan membuat Farez seketika cemas.


Tanpa pikir panjang Farez mencari keberadaan Bulan, entah mengapa dia selalu mencurigai Alvaro hingga dia mengunjungi apartemen Alvaro sampai rumah keluarga Mahendra karena Farez mengira Bulan telah diculik oleh lelaki bajingan itu. Dirumah keluarga Mahendra dia bertemu dengan Bintang, ketika Farez berhasil melacak keberadaan Bulan ternyata dia juga mendeteksi keberadaan Alvaro dalam lokasi yang sama. Akhirnya Farez membujuk Bintang untuk ikut bersamanya agar wanita itu tahu bagaimana kelakuan suami yang dicintainya.


“Aku akan pecahkan kaca mobilmu jika kamu tidak membukanya!” Ancam Farez tidak bisa membendung emosinya. Dia khawatir jika Bulan disakiti lagi oleh pria bajingan itu, sumpah Farez tidak akan segan-segan untuk menghabisi Alvaro jika dia berani menyentuh Bulan.


Melihat situasi saat ini tidak kondusif, Alvaro lantas membuka pintu mobilnya. Bulan segera turun begitupun dengan Alvaro, pemuda itu masih bersikap tenang. Farez menggenggam pergelangan tangan Bulan, dia ingin melindunginya. “Bulan kamu tidak apa-apakan? Apakah dia melukaimu?” Tanya Farez menatap Bulan tajam menuntut jawaban dari wanita itu. Melihat Elfarez yang menaruh perhatian kepada istrinya membuat Alvaro merasa muak, apalagi tangan pemuda itu berani menyentuh Bulan.


Wanita itu menggelengkan kepala. “Aku tidak apa-apa.” Balas Bulan memberitahu, dia sekilas melirik kearah Alvaro yang saat ini terus memandanginya lekat.


“Ayo kita pulang Bulan.” Alvaro menggiring Bulan untuk mengikuti langkahnya, reflek Bulan menurut. Lagipula Bulan tidak ingin berurusan dengan Alvaro maupun Bintang, akan lebih baik jika dirinya pergi bersama Elfarez.


Bintang nampak mengepalkan kedua tangannya, dia menoleh menatap suaminya yang kini menjulang berdiri dihadapannya. “Kak kamu tega bohongin aku!” Bentak Bintang emosi, wanita itu bahkan memukul dada Alvaro karena kesal namun Alvaro sama sekali tidak bergeming. Pemuda itu masih memasang ekspresi dingin seolah dia tidak melakukan kesalahan apapun.

__ADS_1


“Kak Al bilang kakak berada diluar kota untuk urusan bisnis, sekarang apakah kakak bisa menjelaskan kenapa kakak masih berada disini hah?" Tanya Bintang tersulut emosi, dia tidak habis fikir suaminya membodohinya seperti ini. "Hiks...hiks kak apakah kakak berbohong karena ingin menemui kak Bulan, iya apakah kakak masih mengharapkan kak Bulan?!"


Sialan! Ini semua gara-gara Elfarez, sungguh Alvaro tidak bermaksut berbohong. Kalau seperti ini Bintang pasti berfikiran macam-macam tentang dirinya dengan tuduhan yang tidak berdasar.


Bintang berderai air mata, dia kecewa dengan suaminya. Dia menunggu kepulangan Alvaro karena mengira bahwa pemuda itu berada diluar kota saat ini. Bintang menahan rasa rindunya yang menggebu, tapi malah kenyataan pahit yang diterima.


"Hiks...hiks...hiks, kenapa kamu diam kak? Kakak pasti sengaja berbohong karena kakak sedari awal memang mempunyai niat untuk kembali memadu kasih dengan kak Bulan iyakan kak?" Ujar Bintang dengan dada bergemuruh, dia rasanya ingin sekali melenyapkan kakaknya dari dunia ini agar wanita itu tidak lagi mengganggu hidupnya apalagi merebut suaminya.


Emosi Bintang semakin memuncak tatkala melihat Alvaro hanya diam, tidak merespon segala pertanyaan darinya. Dia tahu bahwa suaminya merupakan pria yang dingin dan irit bicara tapi setidaknya Bintang ingin mendengarkan sebuah penjelasan darinya.


"Hiks...hiks...hiks, aku kecewa denganmu kak. Kamu bilang aku satu-satunya wanita yang kamu cintai, namun hiks...hiks ternyata kamu membaginya untuk kak Bulan." Ujar Bintang menangis tersedu-sedu. "Aku membencimu kak!" Bintang memilih berjalan pergi, namun tangannya ditahan oleh Alvaro.


“Bi kamu mau kemana?” Alvaro berusaha menghentikan istrinya, namun Bintang malah memberontak. Dia melepas paksa tangan Alvaro yang mencengkram tangannya, hati dan perasaan Bintang terasa hancur. Bintang yakin bahwa bukan sekali ini saja suaminya berbohong, sebelum ini dia pasti diam-diam masih menemui kakaknya.


“Lepaskan aku kak, aku ingin pulang!” Bentak Bintang, dia berjalan pergi tidak menghiraukan suaminya.


“Bintang, tunggu aku akan mengantarkanmu pulang.” Bintang tidak merespon, dia tetap melanjutkan langkahnya masuk kedalam sebuah taxi yang kebetulan parkir di tepi jalan, Bintang meminta sopir untuk mengantarkannya pulang.


Alvaro lantas masuk kedalam mobilnya, dia melajukan kendaraan beroda empat itu dengan cepat membelah jalanan ibu kota. Kemarahan Bintang justru akan berdampak buruk baginya, saking kesalnya Alvaro berulangkali memukul setir dihadapannya. Dia menghela nafas gusar, Alvaro berusaha untuk tetap tenang. Dia harus mencari alasan yang tepat untuk meredam emosi istrinya. Jujur Alvaro sebenarnya enggan untuk berbohong, namun keadaanlah yang seolah memaksanya untuk melakukan ini.


Disisi lain Farez mengendarai mobilnya bersama dengan Bulan yang saat ini tengah berada disampingnya. Pemuda itu bisa melihat mata Bulan yang sembab seperti habis menangis membuat Farez curiga bahwa Alvaro pasti tadi telah berbuat kasar kepada Bulan.


“Kamu yakin tidak apa-apa?” Tanya Farez sesekali melirik kearah Bulan, wanita itu nampak menggelengkan kepalanya.


“Bulan bagaimana bisa kamu bertemu dengan Alvaro?” Farez penasaran, apakah Bulan memang merencanakan pertemuannya dengan Alvaro? Tapi tidak mungkin, Bulan saja terlihat ketakutan melihat Alvaro.


“Kami tidak sengaja bertemu ditaman.” Cicit Bulan memberitahu.


“Apakah Alvaro mengancammu lagi?” Tebak Farez seolah dirinya tahu apa yang terjadi. Bulan semakin menundukkan kepalanya, dia tidak bisa melupakan segala ancaman dari Alvaro. Dia semakin bimbang, haruskah Bulan tetap menjalankan proses perceraiannya?

__ADS_1


"Bulan, aku bertanya kepadamu. Apakah Alvaro mengancammu?" Tanya Farez sekali lagi karena Bulan hanya diam tidak terbuka dengannya. Saat ini permasalahan rumah tangga Bulan juga merupakan urusannya sebab kelak Bulan akan menjadi istrinya.


Wanita itu mengangguk, sudah Farez duga jika pria kejam seperti Alvaro pasti mengancam Bulan. "Apa yang dia katakan padamu Bulan?" Cerca Farez berusaha mengulik Bulan, dia ingin wanita itu jujur agar Elfarez bisa membantunya.


"Apa sebaiknya aku membatalkan perceraianku dengan Alvaro ya Rez?" Tanya Bulan balik membuat Farez seketika terkejut hingga dia tiba-tiba mengerem mobilnya mendadak. Kepala Bulan hampir saja terantuk ke dashboard karena mobil Farez tiba-tiba berhenti ditengah jalanan yang sepi.


"Apa maksutmu Bulan?! Apa kamu sudah gila!" Bentak Farez menatap Bulan dengan sorot mata tajam membuat Bulan mendelik. Pemuda itu memancarkan aura kemarahan, Bulan menjadi sedikit takut. Kenapa Farez emosinya tersulut seperti ini? Bulan meremas dress selututnya.


Farez tidak peduli mobilnya saat ini berhenti ditengah jalan, dia menyugar rambutnya karena kepalanya terasa pening dan hatinya seakan mendidih mendengar ucapan konyol Bulan barusan. Farez meraih dagu Bulan agar wanita itu mendongak menatapnya. Bulan menelan ludahnya susah payah, mata tajam pemuda itu mengamatinya intens.


"Bulan dengar, kamu sudah berjuang sejauh ini untuk lepas dari Alvaro dan kamu masih mempunyai fikiran untuk kembali kepada pria bejat itu." Farez menghela nafas kasar, padahal besok adalah sidang perceraian mereka digelar. Tinggal menunggu keputusan hakim dipengadilan maka Bulan akan bebas dari kekangan tali pernikahannya bersama dengan Alvaro namun Bulan malah berniat untuk membatalkannya. Sungguh Farez benar-benar geram, dia tidak rela jika Bulan kembali jatuh dalam pelukan Alvaro.


"Alvaro, dia ingin menjebloskanku kedalam penjara dan dia akan mengambil putriku ketika anakku lahir jika aku tetep kekeuh meneruskan proses perceraian ini. Aku tidak ingin berpisah dari anakku Farez hiks...hiks." Bulan tidak bisa membendung linangan air matanya, dia benar-benar bingung.


Farez mengepalkan tangannya, Alvaro tidak pernah berhenti mengganggu kehidupan Bulan. Dia terus-terusan mengekang Bulan, menjeratnya agar wanita itu tetap berada dalam kendalinya. Farez memang harus bertindak, Bulan bisa termakan ancaman Alvaro jika pria itu terus-terusan membujuk Bulan.


"Hiks...hiks, aku tidak ingin kehilangan anakku." Melihat Bulan menangis membuat Farez turut merasakan sakit. Pemuda itu melunak dia menggenggam tangan Bulan dengan lembut.


Farez lantas memeluk Bulan, dia mengusap punggung wanita itu dengan lembut. "Tenanglah Bulan, aku akan membantumu. Kamu jangan takut, fokuslah untuk menghadapi perceraianmu besok. Sisanya biarkan aku yang akan menyelesaikan masalahmu." Tutur Farez, Bulan semakin menenggelamkan kepalanya pada dada hangat pemuda itu.


“Ta-tapi aku takut Rez hiks…hiks.” Cicit Bulan masih terisak.


Alvaro mengurai pelukannya, dia memandangi lekat wajah Bulan yang memerah karena menangis. Tangan besarnya tergerak untuk mengusap cairan bening yang membasahi pipinya. “Percayalah padaku Bulan, apakah kamu meragukanku? Alvaro memang memiliki kuasa, tapi dia tidak akan menang melawanku.” Bulan mengangguk, dia cukup merasa tenang tapi dia seolah merasa bersalah kepada Farez. Dia merasa telah memanfaatkan kebaikan Farez hanya untuk kepentingannya.


“Jangan menangis hem.” Farez membelai surat rambut Bulan dengan sayang, apapun akan dia lakukan demi wanita yang dia cintai.


“Terimakasih Farez.”


Pemuda itu menyunggingkan senyumnya mendengar ucapan Bulan barusan, degan senang hati Alvaro akan selalu berada disamping Bulan. “Aku akan mengantarkanmu pulang.” Dia kembali menyalakan mobilnya, mengendarai kendaraan beroda empat itu menuju kediaman keluarga Bramasta.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2