
Bulan tidak menyangka Giandra dengan mudahnya memberikan restu. Ya tuhan, padahal Bulan memiliki keyakinan bahwa Giandra akan menentang hubungan mereka berdua sehingga bisa membuat mamanya menyerah untuk menjodohkannya dengan Farez. Bagaimana ini? Bulan tidak ingin menikah dengan Elfarez. Kalau seperti ini mamanya pasti akan leluasa untuk terus mendesaknya, dan Bulan tidak mampu untuk berbuat apapun selain menuruti keinginan Laura.
“Sebelum hubungan ini berlanjut ke jenjang yang lebih jauh, aku ingin memastikan terlebih dahulu apakah Bulan juga mencintai putraku?” Tanya Giandra memandangi lekat wanita yang saat ini berada tepat dihadapannya. Bulan terlihat gugup, dia masih terdiam kaku bingung harus menjawabnya karena dia takut jika salah bicara maka mamanya akan marah.
Giandra tidak ingin putranya menjalin ikatan tanpa dasar cinta, ketulusan dari dalam hati adalah kunci langgengnya suatu hubungan. Melihat banyaknya pasangan yang bercerai membuat Giandra khawatir, semua orang tua pasti berharap anaknya hanya menikah sekali dalam seumur hidup. Putra semata wayangnya harus bahagia dengan wanita yang tepat.
“Putriku juga sangat mencintai Elfarez.” Sahut Laura dengan lantang, bukannya memberi kesempatan agar Bulan menjawab tapi Laura malah nerocos duluan. “Bulan bercerita kepadaku bahwa dirinya juga mempunyai perasaan yang sama besar seperti putramu, namun Bulan cukup sadar diri bahwa dirinya hanyalah seorang janda yang mungkin saja keluarga Abraham tidak akan menerimanya. Putriku lebih memilih untuk memendam rapat perasaannya daripada dia menelan kekecewaan.” Bulan mendelik mendengar penuturan mamanya, sungguh Laura pintar sekali berbohong.
“Kami tidak pernah mempunyi fikiran seperti itu tante.” Sahut Farez meluruskan, keluarganya justru menerima Bulan dengan baik.
"Benarkah itu Bulan?" Tanya Giandra masih menantikan jawaban langsung dari calon menantunya.
Bulan mendongak, dia menatap nanar mamanya yang saat ini melemparkan tatapan tajam kearahnya seolah memberitahu bahwa dirinya harus mengatakan kalimat yang tepat sesuai dengan perintah Laura. Apakah Bulan harus berbohong demi mamanya? Bulan tidak ingin Laura kecewa, selama ini mamanya telah banyak menderita. Jika memang dengan menikah bersama Elfarez merupakan satu-satunya cara untuk balas budi kepada Laura maka Bulan akan melakukannya.
Laura menginjak kaki putrinya membuat Bulan tersentak karena perbuatan mamanya barusan. "I-iya saya mencintai Farez om." Tutur Bulan pada akhirnya, Laura bisa bernafas dengan lega.
Jujur perasaan Elfarez saat ini menghangat karena dia mengetahui kenyataan bahwa rupanya Bulan juga mencintainya hanya saja wanita itu memiliki ketakutan untuk menyampaikan isi hatinya. Demi tuhan, Farez tidak pernah mempermasalahkan status Bulan. Dia akan menerima dan menganggap anaknya Bulan seperti putrinya sendiri.
Giandra turut senang, kedua belah pihak rupanya saling mencintai. Dulu pertunangan Farez pernah batal dengan Bintang namun sekarang putranya malah mendapatkan kakaknya Bintang. Dunia memang sempit, tapi Giandra tetap bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan jodoh untuk putranya.
"Kami tidak ingin menunggu lama, alangkah lebih baik jika pernikahan segera dilangsungkan." Ujar Laura memberikan saran, dia sebenarnya khawatir jika Giandra berubah fikiran. Pernikahan Bulan dan Elfarez harus digelar secepatnya, menjadi bagian dari keluarga Abraham adalah tujuannya. Harta, tahta, dan kekuasaan akan dia sambut dengan sukacita. Dengan kedudukan yang dia miliki maka Laura akan mudah untuk menghancurkan Nadia dan Bintang.
"Pernikahan adalah acara yang sakral, perlu adanya persiapan. Lagipula kami perlu mendiskusikannya dengan pimpinan keluarga Bramasta." Balas Giandra dengan tegas, dia tidak ingin buru-buru karena pernikahan butuh persiapan yang matang. Saat ini Zhafran masih sibuk mengurus bisnisnya, menunggu sebentar bukan menjadi masalah bagi Giandra.
Laura berdecak kesal, dia perlu memutar otak untuk menghasut suaminya. Zhafran seharusnya juga turut merestui hubungan Bulan dengan Elfarez agar rencananya berjalan lancar. Bagaimana caranya dia bisa memanipulasi suaminya? Ck, Nadia adalah penghambat dalam hidupnya. Wanita itu seolah menjerat Zhafran tidak memberikan ruang bagi Laura untuk bicara. Suaminya tidak tahu jika Bulan telah bercerai dari Alvaro, entah nantinya Zhafran mungkin akan terkejut mengetahui kenyataan ini.
__ADS_1
"Kapan Zhafran akan pulang?" Tanya Giandra lagi membuat Laura sejenak termenung. Dia tengah memikirkan cara untuk tetap mempercepat pernikahan putrinya. Farez adalah pria tampan yang kaya raya, bisa saja dia kepincut dengan wanita cantik lainnya jika kelamaan menunggu.
"Mungkin 2 minggu lagi." Balas Laura, dia sebenarnya tidak tahu kapan suaminya pulang. Pergi keluar negeri bersama dengan istri keduanya saja Zhafran sama sekali tidak berpamitan dengan Laura seolah keberadaannya tidak dianggap.
"Baiklah, aku perlu untuk berbicara dengan Zhafran." Ujar Giandra memberitahu.
Laura tersenyum kecut, sungguh dia dibuat pusing karena memikirkan Zhafran. Semoga saja ketika Zhafran pulang dia bisa memberikan restu kepada putrinya. Jika difikirkan kembali tidak ada ruginya Bulan bercerai dari Alvaro, dengan begitu putri kesayangan Zhafran yaitu Bintang bisa menjadi istri satu-satunya dalam hidup Alvaro. Ah sudahlah, yang terpenting saat ini Giandra sudah menerima Bulan untuk sisanya Laura akan mengurusnya nanti.
"Silahkan lanjutkan makan." Ujar Giandra seraya menyunggingkan senyumnya.
Mereka kembali menikmati makanan mereka sembari mengobrol, lebih tepatnya Laura yang sedari tadi terus saja mengoceh menanyakan segala sesuatu kepada Giandra. Sedangkan Bulan, dia hanya memandangi piring dihadapannya dalam keheningan. Mulai sekarang dia harus menata hati dan perasaannya, jika memang Bulan ditakdirkan hidup berdampingan bersama Elfarez maka dia akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk pemuda itu.
Drrrttt....drrrttt
Laura menatap jam dinding menunjukkan pukul 21.05, sesibuk itukah Giandra hingga dia sekarang malah pergi ditengah acara makan bersama. "Tapi ini sudah malam." Cicit Laura heran.
"Iya tante, papa benar-benar sibuk. Sebelum dia berangkat keluar kota papa ingin melihat calon menantunya, oleh karena itu aku menyempatkan diri untuk mengundang kalian makan malam disini." Sahut Elfarez memberitahu.
"Aku pamit pergi, kalian nikmatilah jamuan makannya." Giandra beranjak berdiri, lantas dia berjalan meninggalkan mereka bertiga di meja makan.
Laura menatap nanar kepergian Giandra hingga pria itu hilang dari balik pandangannya, tiba-tiba sebuah ide terlintas diotaknya. Dia beralih memandangi putrinya dan juga Elfarez yang saat ini tengah menyantap makanan. “Em, Farez toilet ada dimana ya?” Tanya Laura.
“Pelayanku akan mengantarkan tante ke toilet.” Balas Farez seraya memanggil seorang pelayan wanita paruh baya untuk mendekat, dia menyuruh pelayan itu untuk mengantarkan Laura ke toilet.
Laura beranjak berdiri, dia lantas pergi mengikuti kemana pelayan itu menggiringnya. Bulan sudah selesai menghabiskan makanannya begitupun juga Elfarez. “Bulan, bagaimana menu makan malam ini apakah enak?” Tanya Farez basa-basi karena dia bingung memulai pembicaraan dengan Bulan mulai darimana.
__ADS_1
“Iya, aku menyukainya.” Balas Bulan tersenyum manis.
“Bulan ikutlah denganku sebentar, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Ujar Elfarez berharap wanita itu mau untuk menuruti keinginannya.
Bulan nampak mengerutkan dahinya, namun beberapa detik kemudian dia mengangguk. “Baiklah.” Dia beranjak berdiri, tangan kekar Elfarez menggenggam lembut pergelangan tangan Bulan menggiringnya menuju belakang rumah megahnya.
Rupanya pemuda itu mengajak Bulan menuju taman dibelakang rumah megahnya, pandangan mata Bulan menatap kagum hamparan rumput hijau yang luas. Disetiap sudut terdapat lampu temaram yang menyorot indahnya bunga-bunga peony yang telah mekar. Bulan berjalan mengelilingi taman menikmati pemandangan yang disuguhkan dihadapannya. Tubuhnya merasakan sejuknya udara malam yang membelai kulit. Farez mengikuti Bulan dari belakang, menatap punggung wanita didepannya dengan senyum terpatri jelas diwajah tampannya. Bulan begitu antusias tatkala menginjakkan kakinya ditaman membuat Farez turut senang jika Bulan menyukai tempat ini.
“Bulan.” Panggil Elfarez, seketika langkah kaki Bulan berhenti. Dia menoleh menatap pemuda yang berada tepat dibelakangnya.
Elfarez menyentuh pundak Bulan, dia memandangi wanita itu lekat. Bulan bisa melihat raut kegelisahan diwajah Farez sepertinya pemuda itu ingin mengungkapkan sesuatu kepadanya. “Ada apa Farez?” Tanya Bulan penasaran.
“Bulan sejak kapan kamu mulai menyadari jika kamu mencintaiku?” Tanya Farez tiba-tiba. Bulan sejenak termangu, dia bingung bagaimana dia harus menjawabnya.
“A-a-aku.” Bulan tergagap. Ayolah Bulan fikirkan kalimat yang tepat untuk menjelaskan kepada Elfarez, batin Bulan merutuki dirinya sendiri. “Se-sejak kamu menolongku dari Alvaro pada waktu dipengadilan, aku menyadari bahwa kamu telah meluluhkan hatiku. Kamu selalu ada disampingku disaat aku membutuhkanmu, a-aku benar-benar mencintaimu.” Tutur Bulan tertunduk lesu, maafkan aku Farez aku terpaksa harus berbohong.
Senyum Elfarez seketika mengembang. "Seharusnya kamu bilang sejak dulu Bulan. Setiap hari aku selalu merasa bimbang jika kamu akan menolak lamaranku. Mendapatkanmu begitu sulit bagiku, aku berjuang hanya untuk membuktikan kepadamu bahwa aku adalah lelaki yang tepat untuk menjadi suamimu." Ujar Elfarez mengingat betapa gigihnya dia mendekati Bulan agar wanita itu terkesan kepadanya. Dia tertarik dengan Bulan semenjak karir wanita itu melejit dalam dunia modeling, Farez sering melihatnya saat Bulan membawakan sebuah iklan di salah satu stasiun televisi dan Farez kagum dengan model cantik itu.
“Bulan kamu tidak perlu mencemaskan anakmu, setelah menikah aku akan menyayanginya seperti anakku sendiri.” Ujar Elfarez, dia tahu bahwa Bulan sebagai seorang ibu ingin selalu melindungi bayi yang berada dalam kandungannya.
Bulan akan melakukan apapun juga demi anaknya, jika selama ini wanita itu khawatir mengenai keluarga Abraham tidak akan menerimanya, sungguh salah besar. Papanya bersikap bijak dengan memberikan restu karena Elfarez sangat mencintai Bulan dengan tulus, pria paruh baya itu tidak memaksakan kehendaknya. Dia memberikan kesempatan bagi Elfarez untuk menentukan calon istrinya sendiri.
“Terimakasih Farez karena kamu mau menjadi ayah bagi anakku.” Balas Bulan seraya mengusap perut besarnya.
Bersambung...
__ADS_1