
Farez menghentikan mobilnya di depan rumah megah bergaya Eropa. "Apakah ini adalah rumahmu?" Tanya Elfarez kepada seorang wanita disampingnya.
Bulan hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan dari Farez. Dia merasa jika Bulan masih marah kepadanya terbukti dengan sikap Bulan yang cenderung dingin. Tidak ingin berlama-lama semobil dengan pria asing, Bulan segera turun dari mobil namun langkahnya terhenti tatkala Farez menggenggam tangannya.
"Bulan, sekali lagi aku minta maaf atas perbuatan tidak sopanku kepadamu." Ujar Farez merasa bersalah, tidak seharusnya dia memperlakukan Bulan seperti itu. Dia tidak ingin Bulan membencinya.
Bulan menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dia telah memaafkan Farez. Lelaki itu sedikit lega, dia melepaskan tangan Bulan. Tanpa meneruskan pembicaraan mereka, Bulan bergegas melenggang masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Farez yang masih menatapnya dari dalam mobil
Menghela nafas berat, Bulan duduk sejenak di atas sofa. Dirumah sangatlah sepi, cukup membuatnya tenang. Bukannya dia tidak suka keramaian, hanya saja ketika Alvaro dan dirinya berada di rumah ini mereka selalu bertengkar dan itu membuat Bulan stres. Dia mengambil ponselnya dari dalam tas, sedari pagi tadi dia memang sama sekali tidak menyalakan ponselnya.
Betapa kagetnya Bulan ketika mendapati tigapuluh panggilan dari suaminya. Kenapa Alvaro menelfonnya? Tanyanya dalam hati. Apa mungkin lelaki itu ingin menanyakan kondisinya setelah tadi malam dia mencampakkan dirinya bagai sampah ditengah jalan? Bulan tertawa, dia merasa lucu. Suaminya yang kejam itu tidak mungkin mencemaskan dirinya. Lebih baik Bulan tidur saja untuk menghilangkan rasa lelah daripada memikirkan Alvaro yang malah membuat pikirannya pusing.
...****************...
23.31 PM
Alvaro berjalan sempoyongan menuju parkiran mobilnya, dia memegangi kepalanya yang terasa berputar-putar. Dia tadi minum 5 botol vodka di club bersama dengan teman-temannya. Sebenarnya dia sudah lama berhenti minum alkohol tapi kali ini dia merasa kalut dan untuk meredakan stres yang paling tepat adalah dengan alkohol.
Dia masuk ke dalam mobilnya lalu mengendarai mobil tesla hitam dengan kecepatan tinggi. Sesampainya dirumah dia menggedor pintu dengan keras.
Dorrr...dorrr...dorr
Bulan mengerjapkan matanya tatkala mendengar gedoran pintu rumahnya. Dia memang sedari tadi tidur disofa menunggu kedatangan Alvaro. Tidurnya mulai terusik dengan suara keras dari luar rumahnya. Bulan berjalan menuju pintu, dia mengernyitkan dahinya bingung. Kenapa dia harus menggedor pintunya, padahal jelas disana terdapat bel rumah. Gedoran keras itu membuat kepala Bulan pusing mendengarnya.
Betapa kagetnya Bulan ketika pintu dibuka, suaminya sudah dalam keadaan teler. "Astaga, Al kamu mabuk?" Tanya Bulan sembari mengibaskan tangannya di depan hidungnya karena bau alkohol yang begitu menyengat. Tidak biasanya Alvaro mabuk, pasti ada suatu masalah pemicu dia stres sampai harus melampiaskan dengan minum alkohol.
"Bintang." Gumam Alvaro melantur, entah kenapa pandangan matanya yang mengabur menampilkan wujud kekasihnya dihadapannya.
"Sadarlah Al, aku Bulan bukan Bintang." Entah kenapa Bulan merasa kesal tatkala Alvaro mengira dirinya adalah Bintang. Apakah dipikiran pria itu dipenuhi oleh kebucinannya terhadap Bintang? Bulan merasa muak. Dia menduga bahwa Alvaro mabuk seperti ini pasti karena perjodohan Bintang dengan Farez.
Bulan yakin jika Alvaro frustasi karena kekasih tersayangnya sebentar lagi akan bertunangan dengan pria lain. Tenang saja Al, meskipun mamanya yaitu Laura tidak menyetujui rencana perceraian yang akan diajukan oleh Bulan, namun Bulan akan tetap pada pendiriannya untuk berpisah agar Alvaro bisa bersama lagi dengan kekasihnya.
"Bi--." Gumam Alvaro meracau lagi.
Dengan sabar Bulan bergegas membopong Alvaro menuju ke dalam kamar lelaki itu. Bulan merebahkan tubuh suaminya di atas kasur. Tidak lupa dia melepas sepatu beserta kaus kaki suaminya agar tidurnya nyaman.
Ketika Bulan akan menyelimuti tubuh Alvaro tiba-tiba dengan gerakan cepat pria itu mencengkram pergelangan tangan Bulan membuatnya berjengkit kaget.
"Al lepaskan tanganku." Ujar Bulan berusaha melepaskan diri dari cengkraman Alvaro yang menyakitkan. Setelah berhasil terlepas Bulan memilih untuk segera pergi dari kamar Alvaro, namun ketika dia hampir menyentuh kenop pintu tubuhnya terhuyung membentur lemari. Rupanya Alvaro yang telah mendorong tubuhnya dengan kasar.
Ceklek
__ADS_1
Bulan membelalakkan matanya takut melihat Alvaro mengunci pintu kamarnya. Kuncinya dia masukkan kedalam saku celananya. "Al apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Bulan takut-takut melihat suaminya berjalan mendekat ke arahnya. "Aku janji Al, aku tidak akan mengganggumu lagi. Izinkan aku kembali ke kamarku ya." Mohonnya dengan sendu.
Alvaro tidak bergeming, dia malah menatap tajam Bulan dengan bengis. Terlihat sorot kemarahan yang tergambar pada raut wajah Alvaro. "Berani sekali kamu diam-diam selingkuh dibelakangku!" Tukas Alvaro geram. Dia bahkan mencengkram leher Bulan hingga wanita itu meringis kesakitan.
"Al, uhuk...uhuk. Lep-lepas sa-sakit." Bulan sampai tidak bisa bernafas karena tenggorokannya tercekik oleh tangan Alvaro. Bulan sampai meneteskan air matanya menahan sakit. Dia bisa mati jika Alvaro tidak segera melepaskan dirinya.
"Al, a-aku mo-hon." Suara Bulan tercekat hingga beberapa detik kemudian Alvaro melepaskan cengkramannya, seketika Bulan jatuh lemas terduduk di lantai.
"Uhuk...uhukk..uhukk." Menangis sesenggukan disela-sela batuknya, Bulan meraba lehernya yang pasti akan membekas memerah.
"Bangun kamu ******!" Tidak sampai disitu kekejaman Alvaro yang memang mempunyai sifat kasar ditambah pengaruh minuman alkohol dia menjambak rambut Bulan membuat wanita itu langsung berdiri mendongak menatap Alvaro.
"Apa kamu sengaja ingin balas dendam kepadaku hah?! Itu sebabnya kamu selingkuh dengan pria lain berharap aku akan cemburu kepadamu!" Tuduh Alvaro penuh emosi. Bulan bingung, dia tidak tahu apa-apa. Sebenarnya apa yang suaminya inginkan, kenapa dia berbicara ngawur seperti ini?
"Al kamu mabuk, jangan berbicara omong kosong. Aku tidak mengerti apa maksutmu." Bukannya melonggarkan jambakannya tapi Alvaro malah lebih erat menarik rambut Bulan hingga beberapa helai rambutnya rontok.
"Al hiks...hiks...sakit Al." Air mata Bulan membasahi pipinya. "Sadarlah Al hiks..hiks, tidak sepantasnya kamu memperlakukan istrimu seperti ini."
"Cihh." Alvaro meludah, dia merasa jijik sendiri. "Istri macam apa yang tidak tahu malu bercumbu dengan pria lain hah?!"
Bulan melongo mendengarnya. "Aku tidak mengerti--."
Bulan menendang perut Alvaro hingga pria itu mengaduh kesakitan. Jambakan di rambutnya terlepas. Wanita itu nampak menghela nafasnya berusaha menetralkan emosi.
Dia dengan berani menatap tajam ke arah suaminya sembari mengusap air matanya yang membasahi pipi. "Kenapa kamu marah jika aku menjalin hubungan dengan pria lain? Apa kamu tidak berkaca pada dirimu sendiri, berulang kali aku melihatmu dengan mesra bersama dengan Bintang aku hanya diam saja Al. Bahkan malam pertama pernikahan kita kamu memilih tidur bersama adikku hiks...hiks." Pecah sudah air mata Bulan tidak bisa dibendung. "Melihat itu hiks..hiks...aku memilih tetap diam, aku pura-pura tidak tahu untuk menyembunyikan aibmu. Dan satu lagi, semalam kamu dengan tega meninggalkanku sendirian di tengah jalan. Aku memang sengaja tidak pulang kerumah karena aku sudah muak melihatmu."
Bukannya merasa kasian Alvaro malah tersenyum sinis. "Ini telah menjadi resikomu Bulan, kamu sendiri dulu yang memohon agar aku menikahimu. Maka sekarang rasakan akibatnya." Bulan tidak habis fikir dengan ucapan suaminya barusan. Sungguh dada Bulan bergemuruh sesak, cukup sudah dia sabar selama ini. Dia benar-benar sakit hati, dia sudah tidak dapat membendung emosinya.
"Aku menyesal menikah denganmu Al! Aku akan bersedia cerai denganmu Al. Cerai! Jika itu membuatmu puas." Alvaro menaikkan alis tebalnya. Dia menatap tajam istrinya yang berani membentaknya barusan. Apalagi dia terang-terangan meminta cerai, ini bukanlah sifat Bulan yang sesungguhnya. Seharusnya Bulan memelas meminta maaf kepadanya. Bulan seharusnya bertekuk lutut memohon agar Alvaro tidak meninggalkan dirinya.
"Sudah cukup Al, kamu merendahkan diriku. Aku sudah tidak peduli lagi dengan pernikahan ini, aku ingin berpisah denganmu." Tegas Bulan pada akhirnya, sudah lama dia ingin mengutarakan isi hatinya. "Dan sekarang kamu bebas untuk kembali pada kekasih jalangmu itu--."
PLAKK
Tamparan keras melayang pada pipi kanan Bulan hingga membuat sudut bibirnya berdarah. Alvaro begitu emosi ketika Bulan menghina Bintang dengan sebutan ******. Namun pria itu lebih kesal lagi karena Bulan meminta cerai dari dirinya. Selama ini Bulan selalu bergantung dengannya, yang Alvaro tahu bahwa Bulan sangat mencintainya. Tapi kenapa sekarang dia malah menginginkan perpisahan? Alvaro menduga jika Farezlah penyebabnya, dia yakin jika Bulan memang telah menjalin hubungan dengan lelaki itu.
"Apakah karena kamu telah mempunyai korban baru sehingga kamu meminta berpisah denganku?" Tanya Alvaro dengan sinis. "Jadi sejauh mana hubungan kalian hah?! Aku yakin perempuan murahan sepertimu rela melemparkan tubuhmu demi uang, seorang Elfarez Roy Abraham pria kaya raya itu pasti akan senang menikmati tubuhmu dengan suka rela."
Bulan mendongak menatap bengis ke arah Alvaro, rasa panas dipipinya tidak sebanding dengan rasa sakit dihati. Bulir-bulir air mata terus mengalir, hinaan serta cacian yang Alvaro lontarkan membuat dadanya berdenyut nyeri.
"IYA KAMU BENAR AL." Jawab Bulan dengan lantang saking kesalnya dia harus berbohong meng-iyakan agar suaminya puas. Lagipula berbicara jujurpun Alvaro tidak akan percaya. "TERSERAH AKU MAU BERBUAT APA, TERMASUK MEMPERSILAHKAN LELAKI MANAPUN MENYENTUH TUBUHKU."
__ADS_1
"BULANNN!" Bentak Alvaro kemudian, mendengar pengakuan istrinya justru membuat Alvaro tersulut emosi kembali.
"KENAPA HAH?! KENAPA?" Bulan mendorong serta memukul dada suaminya yang berada di hadapannya menyalurkan rasa kesal yang tak terbendung. Namun lelaki itu nampak tidak bergeming karena pukulan Bulan tidak berpengaruh pada tubuhnya. "KENAPA KAMU MARAH? LEBIH BAIK AKU--"
PLAKK
Kini giliran pipi kiri Bulan yang mendapat tamparan keras Alvaro membuat perempuan itu terhuyung jatuh ke lantai. Kepalanya sampai pusing dan telinganya berdengung.
"Kemari kamu perempuan sialan!" Alvaro menyeret tubuh istrinya, dia membaringkan tubuh Bulan di atas kasur. Bulan berusaha bangkit, namun kedua tangannya segera ditahan oleh Alvaro. Alaram berbahaya di otak Bulan seolah berbunyi, dia ingin melarikan diri namun tangannya sudah dicengkram kuat oleh Alvaro di atas kepala Bulan.
"Lepaskan aku bajingan!" Umpat Bulan, dia masih berusaha memberontak.
"Aku akan menghapus semua jejak pria itu di tubuhmu." Bulan mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Alvaro, apalagi suaminya dengan beringas merobek baju tidurnya.
"Aku tidak mau, aku tidak mau! Lepaskan aku Al." Bulan berteriak histeris namun Alvaro tidak peduli, bahkan Alvaro tidak menunjukkan rasa kasihan sedikitpun melihat wanita dibawahnya menangis.
Bulan telah telanjang bulat begitupun dengan Alvaro yang telah melepas kemeja putihnya. "Aku mohon Al, jangan melakukan ini lagi. Aku janji aku mau berpisah denganmu hiks..hiks..hiks. Aku tidak akan mengganggumu lagi, kamu bisa bebas bersama dengan Bintang hiks...hiks." Bulan tidak akan sanggup menerima penyiksaan kejam yang suaminya berikan.
Mendengar penuturan Bulan malah membuat emosi Alvaro memuncak, entah kenapa setiap mendengar ucapan cerai dari Bulan membuat dada Alvaro panas. Apakah Alvaro tidak ingin kehilangan Bulan? Entahlah yang pasti Alvaro tidak suka jika istri yang dinikahinya diam-diam bermain api dengan pria lain dibelakangnya. Alvaro menggauli tubuh Bulan tanpa perasaan.
Dia sama sekali tidak merasa iba melihat perempuan dibawahnya kewalahan memenuhi hasratnya. Tubuhnya rasanya remuk redam, tidak ada perlakuan lembut, yang ada dirinya tersiksa oleh perlakuan Alvaro.
"Katakan Bulan, apakah Farez bisa memuaskanmu seperti diriku hahaha?" Tanya Alvaro sembari tertawa puas ke arah Bulan yang hanya bisa meneteskan air matanya, berbicara untuk sekedar menjawab saja rasanya kelu. Betapa hancur perasaan Bulan, dia sebagai perempuan merasa terhina dengan segala fitnah yang Alvaro lontarkan. Sifat dingin Alvaro tergantikan dengan tindakan gila yang dia lampiaskan kepada istrinya karena pengaruh alkohol.
Alvaro mendesah telah mencapai puncak kenikmatan. Keringat bercucuran mengalir pada tubuh atletisnya karena rajin berolahraga. Alvaro memang mempunyai tubuh gagah berotot, maka dari itu perlawanan dari Bulan tidak berarti apapun untuk seorang Alvaro. Bulan selalu kalah jika beradu fisik dengan dirinya.
"Perutku sakit." Rintih Bulan dengan tatapan sayunya meminta belas kasihan pria yang saat ini menindihnya, berharap Alvaro berhenti menyetubuhinya. Bulan sudah lelah, dia tidak kuat melayani nafsu pria itu. Lambat laun kesadarannya mulai menurun.
"Bulan." Desah Alvaro memanggil perempuan dibawah rengkuhannya yang kini telah memejamkan mata. Bulan nampak tidak bergeming, tidak merespon panggilan suaminya. "Kamu pasti sangat menikmatinya sampai tertidur pulas." Ucapnya sembari tersenyum remeh di dekat telinga Bulan.
Jujur saja, tubuh Bulan begitu candu bagi Alvaro. Di awal melakukan hubungan ranjang memang Alvaro selalu menolak istrinya hingga dia sampai memarahi Bulan habis-habisan dulu karena menjebak dirinya dengan obat perangsang, tapi sejatinya dia begitu menikmatinya. Sampai kadangkala dia membayangkan Bulan menggodanya, seketika hasratnya memucak dan wajah Bulan memenuhi fikiran Alvaro.
Namun saat ini ketika Alvaro meminta haknya, gantian Bulan yang selalu berusaha keras menolaknya karena trauma dengan hubungan ranjang yang pertama kali mereka lakukan cukup membuat Bulan takut untuk mengulanginya kembali. Bulan memang memiliki tubuh yang indah, dan Alvaro akui bahwa istrinya juga memiliki wajah yang sangat cantik dan menarik. Oleh karena itu Alvaro tidak akan rela jika pria lain menyentuh istrinya. Dan masalah bercerai, tidak semudah itu Alvaro melepas Bulan. Selama ini Bulan selalu membuat masalah dalam hidup Alvaro, maka biarlah Bulan tinggal bersama Alvaro lebih lama lagi karena Alvaro belum cukup puas membuat hidup Bulan menderita.
Alvaro memang pernah melakukan hubungan percintaan dengan Bintang rasanya biasa saja meskipun dia mencintai wanita itu namun berbeda ketika dia melakukan hubungan ranjang dengan istrinya hasratnya selalu memuncak.
Setelah mencapai kepuasaan, Alvaro ambruk tertidur di samping istrinya. Dia bergelung memeluk tubuh Bulan yang terasa nyaman. Alvaro memang membenci istrinya karena menurutnya Bulan mempunyai sifat yang licik dan manipulatif. Namun meskipun dia begitu kesal dengan Bulan, lelaki itu merasa ada sedikit kekhawatiran jika Bulan meninggalkan dirinya Alvaro sebenarnya belum rela.
Bersambung...
Jangan lupa like dan komentar agar aku semangat update❤️
__ADS_1