Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 72 : Bertemu Di Rumah Sakit


__ADS_3

Alvaro berolahraga dengan berlari diatas treadmill, akhir-akhir ini dia sibuk hanya duduk manis di kantor. Sebenarnya olahraga hanyalah alibinya karena semalam dia tidak bisa tidur. Setelah lembur menyelesaikan tugas kantor yang dikirim oleh sekretarisnya lewat email, Alvaro lantas menghabiskan waktunya berada diruangan gym rumahnya. Alvaro menatap jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.01 pagi. Berolahraga semalaman tidak membuat Alvaro capek malah tubuhnya semakin bugar. Dia melepaskan kaosnya yang basah penuh keringat. Tangannya terulur mengambil botol air, dia lantas meminumnya untuk menghilangkan rasa haus.


Bukannya beristirahat Alvaro malah mendekati samsak yang tergantung ditengah ruangan. Dia memukul samsak itu dengan tangan kosong, seolah menyalurkan kekesalannya kepada seseorang.


Bugh...bugh...bugh


Pukulan keras bertubi-tubi dia layangkan pada samsak itu. Tangan kekarnya menonjolkan urat-urat berotot nampak menonjol dikulit sawo matangnya. Deru nafas Alvaro memburu, dia telihat emosi tergambar jelas pada raut wajahnya yang bengis. Ada dua orang yang ingin Alvaro singkirkan keberadaannya, mereka berdua cukup mengusik kehidupan tentramnya. Farez dan Daren, kedua pria itu adalah orang yang sangat Alvaro benci. Dan satu lagi adalah Bulan, wanita binal itu pantas untuk diberi pelajaran. Alvaro bersumpah akan membuat Bulan menderita karena dia telah menghianatinya.


Bugh...bugh...bugh


"Kak Al." Suara lembut seorang wanita menyapa indra pendengaran Alvaro. Pemuda itu berhenti sejenak, dia menoleh menatap nanar istri keduanya yang baru bangun tidur.


"Kamu semalaman tidak tidur?" Tanya Bintang sembari mengucek kedua matanya dibalas anggukan oleh Alvaro. Pantas saja ketika Bintang bangun dari tidurnya tidak menemukan keberadaan suaminya dikamar.


"Kenapa kamu tidak tidur kak?" Ujar Bintang berjalan mendekati suaminya.


"Aku tidak mengantuk." Alvaro mengelap tubuhnya yang berkeringat dengan handuk, Bintang menatap Alvaro dengan ekpresi murung.


"Apakah kamu memikirkan kak Bulan?" Tebak Bintang menyelidik karena tidak biasanya Alvaro seperti ini.


"Jangan asal bicara! Untuk apa aku memikirkan wanita murahan itu." Tegasnya membuat Bintang menyunggingkan senyumnya. "Sudahlah Bi, hari ini bukankah jadwalmu untuk cek kandungan ke dokter?" Ujar Alvaro berusaha mengganti topik pembicaraan, dia benar-benar malas membicarakan tentang Bulan.

__ADS_1


Bintang mengelus lembut perut besarnya. "Iya kak, apakah kakak bisa mengantarkanku ke rumah sakit?" Tanya Bintang, berharap Avaro mau melonggarkan waktunya untuk menemani check up.


Alvaro mengusap surai rambut Bintang dengan sayang. "Baiklah, aku ingin mengetahui tumbuh kembang anakku didalam rahimmu." Ujar Alvaro terlihat senang membuat hati dan perasaan Bintang seketika menghangat.


Ditempat lain seorang pemuda masih bergelung tidur disofa kamar, perlahan matanya terbuka. Dia menguap dan meregangkan tangannya sembari menatap sekeliling ruangan. Pandangannya jatuh pada sisi ranjang yang tertata rapi. Ternyata Bulan sudah bangun, lantas kemana dia? Farez merasakan tubuhnya terbalut hangat. Dia menunduk, keningnya mengernyit heran ketika melihat sebuah selimut melingkar ditubuhnya. Padahal semalam dia tidur disofa tanpa memakai selimut.


Pemuda itu mengulum senyum. "Tenyata Bulan sangat perhatian." Gumamnya merasa senang, dia bisa menebak bahwa Bulanlah yang telah memakaikan selimut untuknya. Farez lantas beranjak bangun, dia baru ingat bahwa semalam dirinya meminta Bulan untuk memasakkan sebuah bekal untuknya dikantor, mungkin wanita itu sedang berada didapur untuk memasak.


Farez berjalan menuju kamar mandi, dia ingin bersiap-siap terlebih dahulu sebelum menemui Bulan di lantai bawah. Tidak butuh waktu lama Farez membersihkan diri, dia lantas memakai kemeja dan jas abu-abunya. Biasanya Elfarez tidak memperdulikan penampilannya, tapi semenjak ada Bulan dia jadi berusaha untuk terlihat menarik dihadapan wanita itu.


Setelah selesai membenahi diri, pemuda itu keluar dari kamarnya berjalan menuruni tangga. Seperti dugaannya bahwa Bulan tengah berkutat didapur.


"Bulan." Panggil Farez membuat wanita itu seketika menoleh. Bulan menyunggingkan senyum kearah Farez. Jadi seperti ini rasanya memiliki seorang istri, dia dirumah ada yang mengurus memasakkannya makanan sungguh menyenangkan. Papanya memang mendesak Farez untuk segera menikah karena Giandra ingin segera menimang cucu. Tapi Farez selalu bilang jika sudah waktunya tiba dia akan membawa calon istrinya. Sebentar lagi, kurang 3 bulan wanita itu akan bercerai dari suaminya. Setelah itu maka Farez akan segera melamar Bulan menjadi istrinya.


"Bulan." Panggil Farez lagi seraya menyentuh pergelangan tangan wanita itu membuat Bulan terhenyak sesaat.


"Ada apa?" Tanya Bulan menatap heran pemuda dihadapannya.


"Bersiaplah, aku ingin mengajakmu pergi." Balas Elfarez, Bulan tambah bingung. Farez ingin mengajaknya kemana? Dia tidak ingin pergi dengan penampilan kucel seperti ini karena Farez pasti akan menanggung malu bersamanya. "Tidak usah banyak berfikir, sekarang kamu bersiaplah. Aku sudah membelikanmu baju untuk kamu pakai."


"Ayo cepatlah." Ujar Farez memaksanya. Bulan menurut, dia berjalan masuk kedalam kamar. Tatapan matanya jatuh pada paperbag coklat yang tergelatak di atas ranjang.

__ADS_1


Bulan membuka paperbag besar itu, matanya membola tatkala Farez membelikannya banyak baju ganti. Astaga semua pakaian ini pasti mahal, lagi-lagi Bulan merasa sungkan. Elfarez baik sekali, suatu saat Bulan berjanji dia akan mengganti semua barang-barang yang telah Farez belikan untuknya. Bulan tidak ingin aji mumpung merepotkan Elfarez.


Bulan bergegas berganti pakaian, dia tidak ingin Farez menunggu lama dibawah. Bulan menggerai rambutnya lalu menyisirnya agar tidak berantakan. Dia sama sekali tidak memakai make up membiarkan wajahnya nampak cantik natural. Bulan mengambil sebuah dress selutut, pakaian pemberian Farez sangat nyaman dipakai untuk ibu hamil sepertinya. Dengan kilat Bulan sudah selesai bersiap membuat Farez terkejut karena Bulan sudah muncul dihadapannya.


Farez menatap Bulan dengan mata berbinar. "Ayo." Pemuda itu menggenggam pergelangan tangan Bulan menggiringnya menuju mobil yang terparkir dipelataran rumah.


Bulan masuk kedalam mobil duduk disamping Alvaro, dia menatap Farez dengan dahi berkerut. "Farez kita mau kemana?" Tanya Bulan dengan penasaran.


Farez menyalakan mobilnya, dia melajukan kendaraan beroda empat itu. "Kita akan kerumah sakit untuk memeriksakan kandunganmu." Ujar Farez memberitahu.


Bulan menunduk menatap perut besarnya. "Alvaro tidak pernah menemaniku, dia tidak mau tahu bagaimana perkembangan anaknya dalam perutku." Cicit Bulan mengingat betapa tidak pedulinya Alvaro kepadanya, didalam hati suaminya dipenuhi dengan rasa benci dengan Bulan hingga menutup nurani pemuda itu.


Sebelah tangan Farez menggenggam lembut tangan Bulan. "Tenang saja Bulan, aku akan menemanimu."


Bulan tersenyum, dia menganggukkan kepalanya. "Terimakasih." Ujar Bulan.


Dia mengusap perut besarnya, Bulan memang sudah lama tidak memeriksakan kendungannya ke dokter. Dia berharap anaknya sehat, selama kehamilannya Bulan selalu dihadapkan dengan tekanan dari suaminya. Sejauh ini dia dan anaknya bisa bertahan, kadangkala Bulan merasa bersalah dengan anaknya karena dia tidak mampu melawan Alvaro. Dirinya terlalu takut, apalagi mamanya masih memaksa Bulan untuk bersama dengan Alvaro.


Bulan menatap nanar tangan besar Farez yang menggenggam tangannya. Farez adalah pria yang lembut, Bulan bisa melihat kasih sayang yang tulus dari pria itu. Farez terang-terangan mengatakan bahwa dirinya juga akan menerima anak yang berada dalam kandungannya jika Bulan bersedia menjadi istrinya. Katanya cinta akan datang karena terbiasa, mungkin Bulan akan sedikit membuka hatinya untuk Farez. Lagipula hubungannya dengan Alvaro akan segera kandas, tidak ada harapan lagi untuk bersatu kembali dengan Alvaro karena suaminya saat ini sangat membenci Bulan.


Farez datang membawa kenyaman untuk Bulan, memberinya perhatian yang tidak pernah dia dapatkan dari suaminya. Farez adalah pria yang hangat membuat Bulan tersenyum. Berbeda jauh dengan Alvaro yang dingin selalu mengintimidasi Bulan dan dia bahkan merasa takut jika berhadapan dengan Alvaro meskipun pemuda itu adalah suaminya sendiri. Tidak ada salahnya jika Bulan mempertimbangkan lamaran dari Farez jika itu memang yang terbaik untuknya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2