
Bulan mengintip dari jendela kamarnya, sebuah mobil tesla hitam keluar dari gerbang. Alvaro telah pergi bersama dengan Bintang, mungkin pemuda itu berangkat kekantor sekalian mengantarkan Bintang ke kampus. Bulan mengeratkan cardigan yang dikenakannya, dia keluar dari kamarnya. Rumah nampak sepi seperti biasanya dia ditinggal sendirian, tapi tidak apa-apa Bulan mengambil kesempatan ini untuk menyelesaikan urusannya. Jika Alvaro tetap berada dirumah pasti lelaki itu tidak mengizinkannya pergi karena Alvaro selalu menaruh curiga kepadanya.
Bulan berjalan menuju sebuah taxi yang dipesannya lewat aplikasi, dia masuk kedalam mobil duduk dikursi belakang. Tujuannya hari ini dia akan ke service center mengambil ponsel Daren, tadi pagi seorang teknisi service menelfon bahwa ponselnya sudah berhasil dibuka passwordnya. Bulan senang, dia berdoa semoga lewat ponsel yang dia curi dari Daren bisa mendapatkan sebuah bukti perselingkuhan adiknya dengan Daren.
Didalam perjalanan Bulan merasa cemas jika dia tidak mendapatkan hasil apapun didalam ponsel tersebut. Dilain sisi Bulan juga merasa takut karena dia telah berurusan dengan orang yang berbahaya seperti Daren. Bulan menghela nafas kasar, dia sedari awal sudah memikirkan matang-matang apapun resikonya. Dia sebenarnya ingin mengalah kepada adiknya, namun setelah tahu kebusukan Bintang entah kenapa hatinya tergerak untuk sekali lagi mencoba mempertahankan hubungannya bersama dengan Alvaro.
Bulan tahu bahwa Alvaro membenci seorang penghianat, jika Bulan datang kepadanya dengan membawa bukti kebobrokan istri kesayangannya, Bulan yakin Alvaro pasti akan melepaskan Bintang dan beralih memihaknya.
Bulan menunduk, dia mengusap lembut perut buncitnya. “Mama berjuang demi kamu nak, mama ingin kamu tetap memiliki keluarga yang lengkap.” Gumamnya sendu, dari kecil dia tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah meskipun Papanya berada didekatnya. Hanya Bintang yang Zhafran sayangi sedangkan Bulan tidak dipedulikan. Bulan ingin hidup bahagia seperti orang-orang yang membesarkan anaknya bersama dengan suaminya.
Jika boleh jujur Bulan memang masih berharap bisa tetap bersanding dengan Alvaro. Namun dia tidak bisa menerima jika Bulan dimadu apalagi wanita kedua itu adalah adiknya sendiri, orang yang dibencinya. Perpisahan memang jalan satu-satunya, agar dia bisa terbebas dari belenggu pernikahan toxic ini. Setelah bercerai yang Bulan takutkan dia tidak bisa melihat anaknya lagi, bagaimanapun juga Bulan adalah seorang ibu yang sangat menyayangi bayinya.
"Mbak sudah sampai." Ujar sopir taxi memberitahu Bulan dengan sopan.
"Iya pak, terimakasih." Balas Bulan, dia turun dari taxi yang ditumpanginya bergegas berjalan menuju service center.
Sesampainya disana Bulan segera menebus biaya service ponselnya. Matanya berbinar tatkala ponsel Daren kini berada ditangannya kembali, tidak ingin menunggu lama karena penasaran Bulan memilih duduk disebuah kursi panjang, dia mengecek ponsel Daren yang telah berhasil dibuka passwordnya. Bulan membaca setiap pesan whatsaap, namun nihil dia tidak menemukan apa-apa. Lanjut Bulan beralih ke galeri foto, tatapan matanya terbelalak tatkala dia menemukan sebuah vidio dewasa.
__ADS_1
Bulan menelan ludahnya, dia mengecilkan volume suaranya. Dengan rasa penasaran Bulan memutar vidio itu, matanya seketika terbelalak tatkala dia melihat pemeran dalam vidio panas itu adalah Bintang dan juga Daren yang sedang melakukan pergumulan. Astaga, saking kagetnya Bulan hampir saja menjatuhkan ponsel Daren. Tangannya gemetaran, dilihat dari riwayat tanggal di layar bahwa vidio ini diambil sebelum Bintang menikah dengan Alvaro.
Nampaknya vidio ini diambil diam-diam oleh Daren karena ada beberapa bagian dari vidio ini yang terlihat blur, namun wajah Bintang dan Daren sangat terlihat jelas. Bulan curiga anak yang berada dikandungan Bintang kemungkinan besar adalah anak dari Daren. Itu bisa saja terjadi karena adiknya itu berhubungan dengan dua lelaki. Bulan mengeratkan tangannya pada tas selempangnya, dia sejenak berfikir untuk meyakinkan hatinya. Iya, dia harus segera memberitahu Alvaro mengenai bukti yang telah dia dapatkan.
Bulan keluar dari tempat service center, dia mengedarkan pandangannya kesekeliling mencari taxi pesanannya. Padahal tadi Bulan sudah meminta pak sopir untuk menunggu di halaman luar agar Bulan dengan mudah menemukannya. Ditengah dirinya yang clingak-clinguk mencari keberadaan taxi, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Bulan seketika menoleh mendapati seorang pria memakai masker hitam dengan kepala terbalut dengan topi hingga Bulan tidak bisa mengenali sosok itu. Kedua matanya membola tatkala mendapati tangan pemuda itu mengacungkan pisau lipat disamping pinggangnya.
Bulan terdiam kaku, dia menatap nanar pisau tajam itu dengan perasaan takut. "Jangan berteriak! Atau pisau ini akan aku tancapkan keperutmu." Ujar pemuda itu berbisik, tempat ini memang terlihat sepi namun pemuda itu terlihat was-was dengan situasi sekitar karena masih ada beberapa orang yang berlalu lalang.
"Jika kamu tidak ingin mati ikutlah denganku!" Perintah pemuda itu menarik tangan Bulan. Dia menggeleng menolak ajakan pemuda itu, sungguh Bulan saat ini merasa takut. Pemuda itu nampak serius mengancam dirinya, reflek Bulan mrnyentuh perutnya. Jika pisau itu menancap pada perutnya maka bayinya akan terbunuh. Tidak, tidak! Bulan akan melindungi anaknya, sebenarnya apa yang diinginkan oleh pemuda ini?
"Cepat ikut denganku!" Desisnya tajam memaksa Bulan, namun wanita itu malah memberontak ingin melawannya bahkan pisau lipatnya sempat menggores lengan Bulan. Seolah merasa kebal dengan rasa sakit Bulan tetap mencoba melawan. Dalam situasi seperti ini Bulan sudah tidak bisa berfikir jernih sebisa mungkin dia akan mempertahankan diri dari orang jahat yang ingin menyakitinya.
Pemuda itu bergegas menggendong tubuh Bulan, lalu memasukkannya kedalam mobil van hitam. Sebelum kejahatannya diketahui, lantas pemuda itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibu kota.
Dia mengambil benda pipih dari saku bajunya, menelfon seseorang. "Hallo bos, saya sudah berhasil menangkap wanita yang anda cari." Ujarnya sembari mengemudikan mobilnya.
"Bagus, bawa dia kerumahku secepatnya." Balas seorang pemuda dari sebrang telefon.
__ADS_1
"Siap bos." Dia senang karena setelah ini bosnya pasti memberikan imbalan yang besar untuknya. Dia tidak peduli dengan wanita ini. Melihat wajah cantik Bulan pemuda itu menduga pasti Bulan adalah salah satu korban penghangat ranjang bosnya, mengingat banyaknya wanita yang berdatangan menggoda bosnya yang kaya. Tapi aneh, biasanya para wanita datang dengan sukarela lantas kenapa wanita ini harus repot-repot menculiknya terlebih dahulu. Apalagi dia dalam keadaan hamil, astaga bosnya memang benar-benar sudah gila!
...****************...
Seorang pemuda tampan menatap lekat wanita yang terbaring nyenyak di atas kasurnya, dia duduk ditepi ranjang memandangi wajah sayu wanita dihadapannya. Namun dalam keadaan seberantakan apapun, dia tetap terlihat cantik dari sudut manapun.
Ceklek
Suara pintu kamar dibuka membuat Daren seketika menoleh menatap pria jangkung yang merupakan anak buahnya. "Bos Daren maaf mengganggu, saya ingin menyerahkan tas milik wanita itu yang rupanya masih tertinggal dimobil." Daren menerimanya, ini adalah tas selempangnya Bulan. Pemuda itu menatap nanar tasnya Bulan dengan menyunggingkan senyum sinis seolah meremehkan sesuatu hal.
Tidak ingin mengganggu bosnya, lantas pemuda jangkung itu pamit untuk pergi. Perlahan dia menutup pintu kamar membiarkan bosnya berdua bersama wanita tawanannya. Didalam kamar Daren membuka tas selempang milik Bulan, dia mengambil ponselnya yeng dicuri oleh Bulan. Cihh, Daren tidak sebodoh itu membiarkan Bulan kabur membawa semua bukti. Dia tahu bahwa Bulan yang diam-diam telah menyembunyikan ponselnya. Namun Daren memang sengaja membiarkannya, dia ingin sedikit bermain-main dengan mantan pacarnya yang cantik ini.
Bintang menyuruhnya untuk segera melenyapkan Bulan, demi wanita itu Daren akan melakukan apapun juga. Dia tidak punya rasa belas kasihan, jadi dia tidak segan untuk mengotori tangannya. Sebelumnya Daren memang sudah memberitahu Bintang bahwa kakaknya sudah mengetahui rahasia hubungan mereka bahkan Daren sudah memperingatkan Bintang untuk berhati-hati karena semua bukti vidio diponselnya berada didalam genggaman Bulan. Awalnya Bintang kaget dan memarahi Daren, namun pemuda itu berusaha menenangkan Bintang karena dia memiliki rencana lain. Bintang sama sekali tidak peduli apapun itu! Sekarang yang dia inginkan hanyalah kematian kakaknya.
Daren kembali memandangi lekat Bulan yang terpejam. "Kamu masih terlalu muda untuk mati Bulan. Tapi aku tidak akan menyia-nyiakan sisa waktu kita bersama begitu saja." Gumam Daren seraya tersenyum miring seolah dia memikirkan sesuatu yang kotor didalam otaknya.
Pemuda itu beranjak berdiri, dia berjalan menuju nakas lalu membuka sebuah laci yang terdapat shotgun revolver. Daren mengambil pistolnya, dia memasukkan beberapa peluru didalamnya.
__ADS_1
"Kita lihat saja, apakah kamu masih bisa selamat?" Gumamnya sembari melirik Bulan yang terbaring diatas ranjang.
Bersambung...