
“Katakan apakah kamu tidak mencintaiku?” Tanya Alvaro menatap tepat pada manik mata coklat Bulan dengan intens. Bulan menangis tersedu-sedu, dia berharap mamanya cepat kembali keparkiran dan mencari keberadaannya.
“Aku sama sekali tidak mencintaimu Al hiks…hiks..hiks.” Mendengar penuturan Bulan membuat Alvaro mengepalkan tangannya erat. Pemuda itu meraih dagu Bulan hingga mendongak, perlahan tangan pemuda itu menyentuh lembut kedua sisi wajahnya. Bulan menelan ludahnya susah payah, dia masih menangis sesenggukan. Sepasang matanya bersitatap dengan iris hitam suaminya yang memandangnya lekat. Bulan bisa merasakan deru nafas Alvaro menyapu kulitnya, membuatnya seketika merinding takut.
“Kamu menyukai Elfarezkan, karena dia bersikap lembut?” Gumam Alvaro menebak. Alvaro tahu jika Bulan mempunyai pria idaman lain, mungkin saja jika Alvaro benar-benar sudah bercerai maka Elfarez akan menikahi Bulan. Cih, jika Alvaro tidak bisa menyeret Bulan kembali dalam pelukannya lagi maka dia tidak akan membiarkan Bulan bahagia dengan pria lain. “Aku juga bisa bersikap lembut kepadamu jika kamu menurut.”
Mata Bulan membola tatkala Alvaro memagut bibirnya, wanita itu memberontak dengan mendorong tubuh suaminya namun Alvaro mencekal kedua tangan Bulan memitingnya kebelakang punggung. Bulan menoleh kekanan dan kekiri menolak ciuman dari pemuda itu.
Tangan kanan Alvaro menekan tengkuk Bulan agar wanita itu tidak banyak bergerak. Bulan menitihkan air matanya, pemuda itu memaksa agar bibirnya terbuka dengan menggigit bibir bawah Bulan. Ciuman Alvaro begitu mendominasi hingga Bulan kuwalahan. Bulan hanya bisa memejamkan matanya menangis, tangan Alvaro bahkan kini menelusup masuk kedalam dressnya membelai perutnya naik ke atas menyentuh buah dadanya.
Kenapa? Kenapa Alvaro selalu membuka luka dihatinya, dia bahkan menorehkan trauma baru didalam hidup Bulan.
“Hmmpptt.”
Pemuda itu mensesap bibir manis Bulan, dia semakin memperdalam pagutan bibirnya. Alvaro beranggapan bahwa Bulan masih menjadi miliknya baik jiwanya maupun raganya. Alvaro tidak akan membiarkan siapapun menyentuh istrinya, karena dia akan berusaha keras untuk menggagalkan sidang perceraian mereka apapun caranya akan Alvaro tempuh.
Merasakan tubuh wanita dihadapannya mulai lemas Alvaro masih memagut bibir atas dan bawah Bulan secara bergantian. Hanya Bulan yang bisa membuat gairah Alvaro memuncak, tangan besarnya *******-***** dua bulatan sintal milik Bulan. Setiap pagutan bibir Bulan menciptakan rasa memabukkan. Sejenak Alvaro melepas tautan dibibirnya, menatap wajah memerah Bulan karena menangis. Nafas wanita itu tersengal-sengal menghirup pasokan oksigen unutuk memenuhi rongga dadanya. Namun beberapa detik kemudian Alvaro kembali mengulum bibir ranum Bulan, dia menekan tengkuk Bulan untuk memperdalam pagutannya menelusupkan lidahnya mengeksplor seluruh isi dalam mulut Bulan.
Disaat Alvaro hanya fokus menikmati tubuhnya, Bulan merasakan cengkraman ditangannya mulai melemas. Bulan mengepalkan tangannya, dia meninju perut Alvaro hingga pemuda itu meringis kesakitan. Bulan membenahi dressnya yang tersingkap, dia dengan tergopoh-gopoh berlari membuka pintu toilet kamar mandi. Alvaro mengejarnya, dia kembali menarik tangan Bulan membuat wanita itu menggeram marah.
PLAK
Bulan menampar pipi Alvaro, saat ini Bulan benar-benar tidak dapat menahan luapan emosinya hingga tangan kanannya tergerak untuk menampar pipi suaminya. Dia mengernyitkan dahi tatkala melihat Alvaro malah menyunggingkan senyum sinis sembari menatap lekat Bulan.
__ADS_1
“Tamparan dari tanganmu bagiku adalah sebuah belaian lembut untukku Bulan.” Bulan berjalan mundur tatkala Alvaro mulai melangkah perlahan mendekat.
Alvaro meraih lengan Bulan, mencengkramnya kuat hingga membuat Bulan meringis nyeri. “Al hiks..hiks, lepaskan aku.”
Pemuda itu enggan untuk melepaskannya, tidak rela Bulan kabur darinya. “Tolong, tolong mama tolong Bulan hiks…hiks…hiks.” Alvaro kembali mendorong tubuh Bulan bersandar ditembok mengurungnya.
“Kenapa kamu terlihat takut Bulan, kamu akan aman bersama dengan suamimu.” Gumam Alvaro sembari membelai surai rambut panjang Bulan.
“Hiks…hiks….”
Bugh
Tubuh Alvaro terpelanting jatuh terjerembab tatkala seseorang memukul pipinya dengan keras hingga sudut bibir Alvaro megeluarkan darah segar. Dia menoleh menatap nanar seorang pria yang kini berdiri dihadapannya dengan angkuh bersama dengan Laura yang datang langsung menenangkan putrinya. Laura tadi pergi sebentar ingin menemui jonathan selaku pengacaranya untuk memberikan sebuah berkas sidang perceraian putrinya. Namun ketika Laura kembali dia kaget karena Bulan sudah tidak ada diparkiran membuat Laura seketika khawatir. Tanpa diduga dia bertemu dengan Elfarez yang sengaja datang ke pengadilan menyempatkan diri untuk melihat sidang mediasi antara Alvaro dan Bulan.
“Brengsek kamu Al, tidak sepantasnya kamu memperlakukan wanita dengan kasar. Apalagi dia adalah istrimu sendiri.” Bentak Elfarez dengan emosi yang menggebu-gebu, pemuda itu lantas menarik kerah kemeja Alvaro agar dia beranjak berdiri.
Alvaro menatap Elfarez dengan tatapan tajam. “Tidak usah ikut campur kamu dalam urusan rumah tanggaku!” Bentak Alvaro dengan sarkas. “Aku berhak melakukan apapun terhadap Bulan, karena dia masih menjadi istriku.”
“Bajingan kamu Al!” Farez kembali melayangkan pukulan keras kepada Alvaro hingga dia membentur tembok. Alvaro tidak terima, di lantas berbalik memberikan bogeman mentah tepat pada pipi kiri Farez. Bulan yang melihat perkelahian mereka menjadi cemas dan bingung, sedangkan Laura malah merasa senang. Dia mendukung Farez untuk tetap memukuli Alvaro kalau bisa hingga babak belur, Alvaro pantas mendapatkannya karena telah menyakiti putrinya hingga menangis.
Bugh…bagh…bugh
“Tolong kalian berhenti berkelahi.” Cicit Bulan gemetar ketakutan, apalagi melihat Alvaro dan Farez sama-sama terluka. Farez memukul perut Alvaro hingga pemuda itu terkapar di lantai, dia menindih tubuh Alvaro agar pemuda itu tidak bergerak lantas Farez dengan emosi yang tidak lagi bisa dibendung dia memukuli wajah Alvaro berulangkali hingga Alvaro terlihat lemas.
__ADS_1
Seolah hati Farez mati rasa, dia terus memukuli Alvaro tanpa ampun. Farez tidak peduli jika saat ini mama Laura melihat betapa brutalnya dia memukuli Alvaro mungkin wanita paruh baya itu akan takut sehingga tidak memperbolehkan Bulan untuk dekat lagi dengannya. Kali ini emosi Farez sudah memuncak, sedari dulu dia memang ingin menghukum atau bahkan menghabisi Alvaro karena telah membuat Bulan menderita
“Farez cukup.” Pukulan Elfarez melayang diudara, dia seketika berhenti memukuli Alvaro tatkala Bulan memeluknya dari belakang. “Farez kumohon berhenti hiks…hiks…hiks.” Bulan menenggelamkan kepalanya pada punggung pemuda itu.
Elfarez beranjak berdiri, dia berbalik menatap lekat Bulan yang saat ini terlihat ketakutan. “Maafkan aku Bulan.” Ujar Farez seraya menggenggam jemari tangan Bulan, wanita itu menggeleng pelan. Tidak seharusnya Farez meminta maaf kepadanya, pemuda itu berniat baik menolongnya.
Farez memandangi Alvaro yang terkulai lemah dilantai. “Dengar Al, hubungan pernikahanmu dengan Bulan sebentar lagi akan berakhir, tinggal menghitung hari saja. Kamu tidak berhak apapun atas diri Bulan, setelah bercerai jangan pernah campuri urusan dia lagi. Dan jikapun Bulan kelak bersama dengan pria lain, kamu seharusnya bisa menerima kenyataan itu. Kamu yang sebelumnya telah menyia-nyiakan Bulan maka terimalah penyesalanmu, jangan harap Bulan mau kembali padamu lagi.”
Farez tahu disisa kesadarannya Alvaro, pemuda itu bisa mendengarkan suaranya. Dia menggiring Bulan dan mama Laura keluar dari toilet menuju parkiran mobil mereka. Bulan yang tubuhnya masih gemetar katakutan dia memilih untuk masuk kedalam mobil untuk menenangkan dirinya. Sedangkan Laura dan Elfarez masih enggan untuk masuk kedalam kendaraan beroda empatnya. Laura jadi sedikit cemas kepada menantunya, bagaimana kalau Alvaro mati beneran? Dia bisa terseret masuk bui melihat betapa parahnya Farez memukulinya.
“Apakah tidak apa-apa kita meninggalkan Alvaro dalam kondisi tidak sadarkan diri seperti itu?” Tanya Laura kepada Elfarez.
“Tidak apa-apa tante, lagipula Alvaro tidak selemah itu. Pukulan tak seberapa dariku tidak mungkin membuatnya mati.” Tegas Farez memberitahu agar wanita paruh baya itu tidak terlalu khawatir. Laura lega mendengar penuturan Elfarez, dia tadi sempat ketakutan.
Laura menatap wajah tampan Farez yang babak belur penuh memar, sudut bibirnya sobek dan jemari tangannya lecet-lecet karena habis memukuli Alvaro. “Farez ikutlah bersama tante kerumah, nanti biar Bulan yang obati lukamu. Kamu tidak mungkin pulang dalam keadaan bonyok beginikan? Nanti jika keluargamu tahu, bukankah akan menjadi masalah besar untukmu?”
Farez sejenak berfikir, benar yang dikatakan oleh tante Laura, jika papanya tahu pasti dia akan marah besar. “Tante apakah aku boleh menginap dirumahmu?”
“A-apa?!” Laura terkejut mendengar ucapan Elfarez barusan. “Kamu mau menginap dirumah tante?” Tanya Laura untuk memastikannya.
“I-iya tante, apakah boleh?” Farez sebenarnya merasa canggung mengatakannya, namun ini adalah salah satu cara agar dia bisa lebih dekat lagi bersama dengan Bulan.
Laura menyunggingkan senyumnya. “Boleh.” Pemuda itu seketika sumringah mendengarnya.
__ADS_1