
Kepulan asap menguar dari mulut seorang pemuda dengan sebatang rokok di tangannya. Tubuh gagahnya berdiri di balkon apartemen menikmati sesapan barang berbahan tembakau itu. Semilir angin malam yang berhembus cukup menusuk tubuh Alvaro yang bertelanjang dada dibawah sinar rembulan. Hujan gerimis membasahi bumi menambah dinginnya udara. Dia memasukkan ponsel pintarnya kedalam saku celana, dia barusaja menerima telefon dari Bintang.
Alvaro terpaksa berbohong dengan mengatakan bahwa malam ini dirinya tidak bisa pulang kerumah karena lembur dikantor padahal nyatanya tidak seperti itu. Alvaro malah bergumul bersama dengan istri pertamanya, tidak! Lebih tepatnya memaksa Bulan untuk melayani nafsunya.
Sekilas Alvaro melirik wanita yang tengah bergelung dikamarnya, Bulan nampak masih terisak menangis membuat Alvaro terusik dengan suara wanita itu. Dia membuang puntung rokoknya ke lantai lalu menginjaknya dengan kaki. Alvaro berjalan mendekati Bulan, mengetahui derap langkah Alvaro wanita itu semakin mengeratkan selimut yang membungkus tubuh telanjangnya.
"Berisik!" Umpat Alvaro mendekati Bulan, dia duduk di tepi ranjang mengamati Bulan yang meringkuk bersandar dikepala ranjang. Alvaro mengulurkan tangannya ingin menyentuh Bulan namun wanita itu menghindar, dia menunduk takut.
Bayangkan saja Bulan disetubuhi dengan paksa oleh Alvaro, tubuhnya terasa remuk bahkan sampai sekarang kakinya lemas sulit untuk digerakkan. Bulan merasa melayani Alvaro bukanlah kewajibannya, mereka sebentar lagi akan bercerai. Hati Bulan bukan lagi untuk Alvaro, perlahan rasa cintanya telah sirna. Sekarang yang ada hanyalah kebencian dan muak melihat Alvaro.
"Kenapa? Kamu membiarkan pria lain untuk mencicipi tubuhmu, tapi kamu malah enggan untuk kusentuh." Ujar Alvaro menggeram marah, dia tidak suka penolakan yang dilakukan oleh Bulan.
"Hiks...hiks...hiks." Bulan berusaha menahan tangisnya, tapi tidak bisa. Lelehan air mata terus menggenang dipipi mulusnya.
Alvaro mencengkram dagu Bulan agar wanita itu mendongak menatapnya, dia tidak suka jika dirinya bicara diabaikan oleh wanita itu. "Bi-biarkan a-aku pergi hiks...hiks." Cicit Bulan memohon.
"Membiarkanmu pergi?" Alvaro berdecih sinis menatap tajam perempuan dihadapannya. "Tidak, aku tidak akan membiarkanmu bisa bebas bersenang-senang dengan Daren atupun Farez diluaran sana." Bulan tidak habis fikir dengan Alvaro, dia dibutakan oleh segala fitnah yang ditujukan kepada Bulan tanpa mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.
Alvaro menarik selimut yang menutupi tubuh Bulan membuat wanita itu memekik karena terkejut, dia mencoba ingin meraih selimut itu kembali namun ditahan oleh Alvaro. "Kamu bisa leluasa menginap dirumah keluarga Abraham karena kamu telah membayarnya dengan tubuhmu, iyakan?" Hina Alvaro sengaja memancing emosinya Bulan. Wanita itu memilih bungkam, tidak ingin menimbulkan perdebatan lagi.
__ADS_1
Pandangan mata pemuda itu meneliti setiap lekuk tubuh Bulan, kulit putihnya dipenuhi dengan tanda kemerahan akibat ulahnya. Bulan merasa tidak nyaman, dia seolah dijadikan pemuas nafsu birahi oleh Alvaro. Dia sebagai wanita tidak pernah ada harganya dihadapan suaminya. Tangan pemuda itu menyentuh kaki jenjang Bulan membuat Bulan melebarkan matanya. Tubuhnya meremang tatkala tangan kekar pemuda itu naik mengusap pahanya dengan sensual.
"Pantas saja Farez menyukaimu, kamu menggodanya dengan wajah cantikmu dan tubuh indahmu ini." Bulan meremang tatkala tangan Alvaro bergerak membelai area sensitifnya.
Bulan menahan tangan Alvaro agar tidak bertindak lebih jauh lagi. Rasanya masih sakit, dia menitihkan air mata. Tidak sampai disitu jemari tangan Alvaro meremas buah dada Bulan membuatnya melenguh. "Eengghhh Al, berhenti." Cicit Bulan, dadanya naik turun menahan reaksi tubuhnya.
Bulan mendorong dada pemuda dihadapannya agar menyingkir namun tidak digubris oleh Alvaro. Pemuda itu malah merebahkan tubuh Bulan terlentang dikasur, Bulan terbelalak. Apa yang akan Alvaro lakukan?
"Al jangan! Hiks...hiks, aku lelah Al." Ujar Bulan memberontak karena Alvaro kembali menindihnya, kedua tangannya dicengkram oleh Alvaro. Pemuda itu menundukkan wajahnya, dia menciumi tengkuk leher Bulan.
"Ahh, engghh Al hiks...hiks berhenti." Jika Alvaro menggempur tubuhnya lagi sungguh Bulan sudah tidak kuat lagi, kakinya masih terasa kebas. Untuk memberontak saja Bulan sudah lemah tidak berdaya.
Kruk...kruk
Alvaro mendongak menatap wajah sayu Bulan, dia mendengar suara perut Bulan keroncongan, Bulan memang lapar. Wanita itu hanya sempat sarapan nasi goreng dipagi hari tadi, sedari siang sampai malam perutnya belum terisi. Dia saat ini sedang hamil besar membuat Bulan mudah lapar karena bukan hanya dirinya saja yang membutuhkan nutrisi akan tetapi janinnya juga.
Alvaro seketika beranjak bangun dari tempat tidurnya, dia melemparkan selimut pada Bulan untuk menutupi tubuh telanjangnya. Bulan terisak pelan menatap nanar kepergian Alvaro keluar dari kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun.
...****************...
__ADS_1
Alvaro berada di dapurnya, dia membuka laci untuk mencari persediaan makanan di apartemennya. Pemuda itu mengambil dua buah bungkus mie instan. Melihat Bulan yang kelaparan dirinya segera turun tangan untuk membuatkan makanan, dia tidak ingin Bulan mati kelaparan didalam apartemennya. Jujur Alvaro masih perlu memanfaatkan tubuh Bulan untuk menjadi penghangat ranjangnya. Anggap saja ini adalah hukuman dari Alvaro untuk wanita murahan seperti Bulan. Wanita itu tidak pantas diperlakukan baik seperti seorang istri, Bulan lebih pantas dijadikan pelacur untuk memuaskan nafsunya.
Dia akui dirinya salah mengusir Bulan dari rumahnya, dengan membiarkan Bulan pergi berarti memberikan perempuan itu kebebasan untuk menggoda para lelaki. Buktinya setelah Alvaro mengusirnya malam itu Bulan langsung menginap di rumahnya Elfarez, mereka pasti telah bersenang-senang tinggal berdua disana. Alvaro menduga Farez sudah bercinta dengan Bulan berulangkali, pemuda itu mana mungkin tahan melihat tubuh indah Bulan. Tangan Alvaro terkepal kuat membayangkannya, dia lantas memukul kepalanya. Kenapa otaknya menjadi kotor seperti ini?
Alvaro akui tubuh Bulan seperti candu baginya, apalagi aroma bau vanilla yang menguar sungguh memabukkan. Meskipun dalam keadaan hamil besar Bulan malah semakin menawan dengan tubuh berisinya. Sangat disayangkan anak yang berada dalam kandungan Bulan bukan dari benihnya, itu yang membuat Alvaro marah dan membencinya.
Pemuda itu meletakkan panci yang telah berisi air diatas kompor, dia menunggu air itu mendidih. Alvaro juga menggoreng satu buah telur ceplok di atas teflon. Setelah air mendidih Alvaro memasukkan mie kedalam panci. Tidak butuh waktu lama, mie instan sudah matang. Alvaro segera mematikan kompornya, dia menaruh mie kedalam mangkuk lalu menuangkan beberapa bumbu. Alvaro mengaduknya hingga rata agar bumbu meresap. Tidak lupa Alvaro menaruh telur ceplok diatasnya, hanya ini makanan yang tersedia dirumah. Mungkin besok dia akan belanja kesupermarket untuk membeli bahan makanan karena untuk beberapa bulan kedepan dia akan sering berada di apartemen ini bersama dengan Bulan.
Alvaro meletakkan semangkuk mie diatas nampan beserta segelas air putih, dia lantas membawanya menuju kamar.
Ceklek
Bulan masih meringkuk bersandar di kepala ranjang, Alvaro bisa melihat lelehan air mata yang mengering di pipi wanita itu. Bulan menatapnya nanar, seolah dia berhadapan dengan setan. Dari raut wajahnya tergambar jelas jika wanita itu ketakutan.
Alvaro berusaha menurunkan egonya, dia duduk ditepi ranjang berhadapan langsung dengan Bulan. "Makanlah!" Perintah Alvaro menyodorkan nampan makanan didepan Bulan.
Bulan menelan ludahnya, perutnya sangat lapar sekali, tangannya terulur mengambil semangkuk makanan yang berisi mie goreng. Dia memakan mie itu dengan lahap, air matanya menetes lagi. Seperti inilah hidupnya, sekali lagi kebebasannya direnggut oleh Alvaro. Pemuda itu telah menjerat dirinya kembali hingga tidak bisa berkutik. Tubuhnya remuk redam menjadi pelampiasan hasrat suaminya.
Alvaro menatap tajam Bulan, entah mengapa hatinya tersentil melihat Bulan makan sembari menitihkan air matanya. Ada perasaan tidak tega sebenarnya, namun rasa ibanya tidak bisa menutupi kebencian dalam hati Alvaro. Bulan pantas untuk mendapatkannya, dia akan menyiksa Bulan sampai wanita itu sadar akan kesalahannya.
__ADS_1
Bersambung...