
Bulan sedang mencuci piring dan teflon diwestafel, dia baru saja membuatkan sarapan untuk Farez, pemuda itu menghabiskan nasi goreng buatannya hingga dua piring. Bulan menyunggingkan senyumnya, dia teringat tadi Farez berangkat bekerja dengan perasaan senang hanya karena memakan masakannya. Pemuda itu sangatlah lucu, setiap hari Bulan hanya membuatkan menu nasi goreng tapi Farez tidak merasa bosan. Entah mengapa menatap binar wajah sumringah diwajah tampannya membuat hati Bulan menghangat.
Bulan segera menggeleng, dia menepuk kepalanya beberapakali. Apa yang sedang dia fikirkan? Kenapa otaknya dipenuhi oleh Elfarez? Bulan menghela nafas, astaga hatinya mudah sekali luluh hanya karena kebaikan seseorang.
Tring...tring...tring
Suara ponsel berdering membuyarkan lamunan Bulan, dia segera mematikan kran westafel yang sedari tadi terus menyala. Bulan berjalan menuju meja makan, karena meletakkan ponselnya disana. Dia menatap layar benda pipih itu, rupanya mamanya yang menelfon. Bulan memgernyitkan dahi, kenapa mamanya menelfon dirinya? Tanpa pikir panjang Bulan mengangkat telfon dari Laura.
"Hallo ma." Sapa Bulan.
"Hallo sayang kamu ada dimana sekarang?" Tanya Laura menyelidik. Bulan menelan ludahnya susah payah, dia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa saat ini dirinya berada dirumah temannya karena diusir oleh suaminya. Sungguh Bulan tidak ingin menambah beban pikiran mamanya.
"Bu-bulan ada dirumah ma." Jawabnya dengan perasaan gugup.
"Dirumah mana?" Tanya Laura lagi, membuat jantung Bulan berdebar cepat. Mamanya seolah mengintimidasi Bulan dengan pertanyaan yang dilontarkannya. Mamanya tahu jika hubungan rumah tangganya berada diujung tanduk, tapi wanita paruh baya itu tidak tahu bahwa Alvaro selama ini menyiksanya bukan hanya batin saja melainkan juga dari fisiknya. Akan lebih baik jika Mamanya tidak tahu penderitaan yang dialaminya demi kesehatan wanita itu.
"Di-dirumahnya Alvaro ma, me-memangnya dirumahnya siapa lagi?" Kilah Bulan, dia tersenyum kecut karena harus berbohong kepada mamanya. "Me-memangnya ada apa ma?" Tanya Bulan pada akhirnya dengan perasaan gugup.
"Uhuk...uhuk...uhuk." Bulan bisa mendengar suara batuk dari sebrang telefon.
"Ma, mama kenapa?" Tanya Bulan merasa cemas.
"Ma-mama sakit Bulan, kamu bisa datang kesini? Mama kangen sama kamu, dirumah tidak ada siapa-siapa hiks..hiks mama sendirian sayang." Suara Laura bergetar diiringi isakan tangis yang menyayat hati. Bulan memang sempat mendengar jika papanya dan mama Nadia sedang berada di luar negeri. Ya ampun mengapa mereka tega meninggalkan mamanya dalam keadaan sakit sendirian dirumah.
__ADS_1
"Ma, mama tenang saja disana ya. Jangan kemana-mana, Bulan akan kesana sekarang. Mama sebaiknya istirahat saja ya." Bujuk Bulan berusaha menenangkan mamanya. Rasa khawatir kini bergelayut dalam benaknya, bagaimana kondisi mamanya saat ini? Mendengar suara mamanya yang serak dan pilu membuat Bulan kalut. "Ma, mama jangan nangis. Aku akan siap-siap kesana."
"I-iya hiks...hiks, cepatlah datang ya sayang. Mama menunggumu." Ujarnya disela-sela isakannya, dia lantas mematikan ponselnya. Laura mengusap pipinya yang sama sekali tidak mengeluarkan air mata, dia menatap nanar dinding kosong kamarnya yang sunyi.
Maafkan mama Bulan, mama terpaksa menipu dirimu. Batin Laura, dia melakukan ini bermaksut agar rumah tangga anaknya tetap bertahan.
Bulan berjalan menuju kamarnya, dia segera berganti pakaian. Perasaannya begitu gelisah karena memikirkan mamanya. Bulan tadi memesan taxi online untuk menjemputnya. Sembari menunggu taxi datang Bulan masih menyempatkan diri merapikan kamarnya. Mungkin nanti dia akan menginap dirumah mamanya karena Bulan juga sudah lama tidak berkunjung kesana dikarenakan hubungannya dengan papanya tidaklah baik. Setiap Bulan datang papanya tidak pernah menyambutnya, hanya tatapan sinis yang terpancar pada wajah tegasnya. Oleh sebab itu Bulan malas datang kerumah orang tuanya.
Ponsel Bulan berdering, ada sebuah pesan masuk dari driver taxi online yang memberitahunya bahwa dia sudah sampai di depan rumah. Bulan merasa lega, setidaknya dia tidak perlu menunggu lama lagi. Bulan bergegas keluar dari rumah, dia segera masuk kedalam taxi pesanannya tanpa tahu jika seorang pria tengah mengamatinya dari dalam mobil. Dia adalah Alvaro yang sedari tadi berada didepan rumahnya Farez.
Pemuda itu mengepalkan kedua tangannnya, dadanya bergemuruh menahan emosi. Seperti dugaannya bahwa istri pertamanya itu tinggal dirumah Farez, dasar perempuan murahan! Setelah bergumul dengan Daren, lantas sekarang Bulan menjajakan tubuhnya untuk Farez. Alvaro tidak bisa menerima ini, bagaimanapun Bulan masih menjadi istri sahnya. Hati maupun raganya akan tetap menjadi miliknya.
Pengemudi taxi menyalakan mesin mobilnya, kendaraan beroda empat itu berjalan menyusuri jalan raya. Tidak ingin kehilangan jejak, lantas Alvaro bergegas mengikuti mereka. "Hari ini kamu tidak akan bisa lari dariku Bulan." Gumam Alvaro tersenyum sinis, istrinya itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya.
Didalam taxi, Bulan berulangkali berdoa berharap mamanya baik-baik saja. Dia tadi sudah mengabari Elfarez bahwa dirinya akan menginap dirumah mamanya, mungkin selama seminggu. Bagi Bulan ini adalah kesempatannya untuk tinggal dirumah orang tuanya pumpung ayah dan mama tirinya berada di luar negeri. Bulan merogoh ponselnya dari tas, dia mengetikkan sebuah pesan untuk mamanya.
Bulan
Bulan menghela nafas, dia menoleh kesamping menatap pohon-pohon serta gedung-gedung pencakar langit yang dia lewati dari balik kaca mobil. Apa sebaiknya dia membelikan makanan terlebih dahulu untuk mamanya, biasanya jika mamanya sakit dia akan sulit untuk makan. Mama sangat menyukai soto ayam, sebaiknya dia membawakan makanan favoritnya itu agar mamanya senang.
"Pak nanti kita berhenti sebentar di warung soto ayam yang jualan dipinggir jalan sebelah swalayan sana ya pak." Ujar Bulan memberitahu dibalas anggukan oleh pria paruh baya yang sedang mengemudi di depan.
Bulan memainkan ponselnya untuk menghilangkan jenuh karena perjalanan masih jauh. Dia mendapatkan balasan pesan dari mama Laura, Bulan segera membukanya.
__ADS_1
Mama
Iya sayang
Bulan seketika tersenyum, dia tidak sabar untuk bertemu dengan mamanya. Tiba-tiba taxi yang ditumpangi oleh Bulan berhenti mendadak di tengah jalan yang sepi. Bulan mengerutkan dahi, dia heran kenapa pak sopir mengerem mobilnya padahal belum sampai tujuan.
"Maaf mbak, ada mobil yang menghalangi perjalanan kita." Bulan mendongak menatap lurus kedepan, wanita itu mendelik melihat mobil hitam milik Alvaro menghadang di tengah jalan. Bulan menelan ludahnya susah payah, apa yang sedang Alvaro lakukan? Perasaan Bulan menjadi tidak karuan, dia merasa takut. Pria itu keluar dari mobilnya berjalan mendekat kearah taxi yang ditumpangi oleh Bulan.
"Mbak mengenalnya?" Tanya pak sopir dibalas gelengan kepala oleh Bulan.
"Tidak pak, sa-saya tidak mengenalnya." Bulan menunduk, dia berusaha bersembunyi. "Pak, kita putar balik saja pak. Cepat pak." Sopir itu bingung melihat Bulan gemetar ketakutan.
Tok..tok...tok
Alvaro mengetuk kaca mobil, dia bisa melihat Bulan yang berusaha bersembunyi darinya. "Hentikan mobilnya pak!" Bentak Alvaro dengan tegas tatkala sopir itu akan putar balik untuk menghindarinya. Alvaro lantas membuka pintu mobil belakang, dia meraih tangan Bulan memaksanya untuk turun dari taxi.
"Tidak, lepas!" Bulan memberontak dia enggan untuk turun dari taxi. Alvaro tidak menggubrisnya, dia menyeret Bulan hingga wanita itu hampir terjungkal karena Alvaro bersikap kasar. "Lepaskan aku, lepaskan aku Al. Pak tolong saya pak." Bulan berteriak berharap sopir taxi itu mau membantu dirinya. Jalanan disini sangatlah sepi, jika ramai mungkin Bulan akan menyuruh warga untuk mengeroyok Alvaro.
Sopir itu juga ikut turun dari mobilnya, berusaha menolong Bulan. "Pak saya akan panggilkan polisi jika anda tidak melepaskan wanita itu." Ancamnya memberanikan diri.
Bulan menangis, jujur dia sangat takut. Bulan tidak tahu mengapa Alvaro melakukan ini. Pergelangan tangannya dicengkram begitu kuat hingga Bulan meringis sakit. "Al lepas hiks..hiks...hiks." Ujarnya disela-sela tangisnya.
Alvaro menatap sengit pria paruh baya dihadapannya yang telah berani mengancamnya. "Dia adalah istri saya pak, dia ini gila suka berkeliaran dimana-mana oleh karena itu saya ingin menjemputnya pulang." Ujarnya memberitahu tambah membuat pria paruh baya itu bingung. Dia harus mempercayai siapa?
__ADS_1
Bulan terkejut mendengarnya, tega sekali Alvaro berbohong dengan menyebut dirinya gila. "Hiks...hiks...hiks, tidak-tidak pak. Jangan percaya dengan dia. Di-dia berbohong pak!" Teriak Bulan membantah.
Bersambung...