
Niat hati Elfarez ingin membawa Bulan ke restaurant yang menyediakan menu gado-gado tapi wanita itu malah memilih untuk makan dipedagang kaki lima. Alhasil mereka berdua sekarang duduk lesehan diemperan sebuah ruko menunggu makanan pesanannya datang.
“Kamu yakin ingin makan ditempat ini?” Tanya Farez menatap nanar Bulan yang duduk tepat dihadapannya dengan tenang. Sebelumnya Elfarez tidak pernah makan dipinggir jalan seperti ini, bahkan pedagangnya tidak menyediakan tempat duduk yang nyaman untuk pembelinya. Mereka hanya menyiapkan tikar yang digelar di lantai, itupun nebeng dihalaman ruko.
"Iya, kenapa memangnya?" Tanya Bulan balik membuat Farez merasa canggung. Bulan bisa melihat dari ekspresi pemuda itu enggan untuk makan ditempat ini. Farez tadi mengajaknya untuk makan di restaurant tapi Bulan tidak mau, lagipula mana ada restaurant yang buka ditengah malam seperti ini. Tidak ada salahnya makan dipinggir jalan bukan? Tempat ini cukup bersih menurut Bulan dan juga harganya jauh lebih terjangkau.
"Tidak apa-apa. Aku hanya, ehm aku kira kamu tidak nyaman berada disini." Ujar Farez tergagap, dia jadi salah tingkah.
"Aku menyukai tempat ini." Balas Bulan dengan jujur. Dia sudah terbiasa makan dipinggir jalan seperti ini karena makan dipedagang kaki lima dengan di restaurant sama saja, sama-sama membuat perut kenyang.
Tidak berselang lama makanan mereka datang. "Ini gado-gadonya mas, mbak. Dan ini teh hangatnya, selamat menikmati." Ujar seorang ibu paruh baya mengulurkan dua piring makanan dan dua gelas minuman.
"Terimakasih buk." Sahut Bulan dengan mata berbinar melihat makanan yang dia idamkan.
Irisan lontong dicampur sayur-sayuran rebus yang diguyur dengan kentalnya saus kacang sungguh menggugah selera, ditambah toping telur dan juga kerupuk membuat Bulan tidak sabar untuk mencicipinya.
“Yang coklat ini apa ya?” Gumam Farez sembari mengaduk makanan yang berada dipiringnya.
Bulan tertawa mendengar ucapan Farez barusan, pemuda itu terlihat bingung. Dia memakluminya mungkin Farez belum pernah makan gado-gado jadi dia tidak tahu. Pria sekelas Elfarez pasti setiap hari makan-makanan western. Mendengar Bulan menertawakannya Farez jadi malu karena nampak bodoh didepan wanita itu.
“Ini saus kacang, cobain deh enak kok. Nih…” Bulan menyodorkan sesendok gado-gado didepan mulut Farez, pemuda itu tertegun sejenak menatap wanita dihadapannya yang ingin menyuapinya. Dengan senang hati Elfarez menerima suapan dari Bulan, diluar dugaan ternyata benar gado-gado sangatlah enak.
“Bagaimana rasanya?” Tanya Bulan antusias menunggu jawaban dari Farez.
“Enak, aku menyukai rasanya.” Bulan tersenyum mendengarnya, dia merasa lega. “Kamu tahu apa yang membuat makanan ini terasa sangat enak?” Tanya Farez membuat Bulan mengernyitkan dahinya bingung.
“Bumbu kacang.” Tebak Bulan.
__ADS_1
“Bukan.” Bulan semakin dibuat bingung sekaligus penasaran.
“Apa?” Kali ini Bulan menyerah, dia tidak tahu jawabannya.
“Yang membuat gado-gado ini enak karena suapan dari tanganmu seolah menyihir makanan ini menjadi terasa sangat enak bagiku.” Bulan termangu mendengar jawaban dari Farez. Dia menunduk tersipu, ada-ada saja kelakuan Farez. Bulan tidak ingin menanggapinya, dia lebih memilih untuk melanjutkan makannya karena dia lapar.
Farez tersenyum menatap rona merah dipipi Bulan, dia mengusap kepala wanita itu. “Nikmatilah makananmu.” Ujarnya, dia senang melihat Bulan makan dengan lahap.
Meskipun Bulan mengandung anak dari pria lain, Farez bisa menerimanya. Dia peduli dengan Bulan termasuk janin dalam kandungannya. Farez tidak ingin hal yang buruk menimpa Bulan. Demi menjaga mamanya, Bulan sampai telat makan padahal ada janin yang harus tetap mendapatkan nutrisi.
Jujur Farez geram dengan suaminya Bulan, pemuda itu tidak memperlakukan kedua istrinya dengan adil. Farez tahu bahwa Alvaro pergi ke London bersama dengan Bintang, oleh karena itu pekerjaan kantornya dihandle oleh ayah dan mertuanya. Saat ini Bulan butuh teman, namun kelihatannya keluarganya sama sekali tidak peduli. Sebagai suami yang bertanggung jawab seharusnya Alvaro yang selalu mendampingi Bulan dikala dirinya terpuruk tapi apa yang Alvaro lakukan malah bersenang-senang dengan istri keduanya meninggalkan Bulan sendirian. Alvaro memang kejam, dia memperlakukan Bulan dengan semena-mena. Jika Alvaro tidak mencintai Bulan maka lepaskan saja dia, Farez siap menerima Bulan untuk membahagiakannya.
Farez mendongak melihat Bulan beranjak berdiri membawa piring kosongnya. “Mau kemana?” Tanyanya penasaran.
“Aku mau tambah gado-gadonya.” Jawab Bulan, dia masih lapar. Satu porsi tidaklah cukup untuk ibu hamil sepertinya.
“Buk gado-gadonya nambah satu ya.” Ujar Elfarez memberitahu.
“Siap mas, saya buatkan.” Balas seorang wanita paruh baya itu dengan sigap meracik gado-gado di atas piring. “Mas mbaknya tadi istrinya mas ya?” tanyanya kepada Farez penasaran.
Farez menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ehm, istri. I-iya buk dia istri saya.” Ujarnya gelagapan, dia melirik sekilas kearah Bulan.
“Beruntung banget mas dapet istri secantik dia.” Celetuk ibu itu sembari mengiris lontong dipiring. “Wajahnya mirip kayak model iklan di TV, siapa ya namanya?” Ibu itu mencoba mengingat-ingat tapi sudah terlanjur lupa. Farez hanya diam saja pura-pura tidak tahu, jelas ibu itu pernah lihat wajah Bulan di TV karena Bulan adalah seorang bintang iklan yang kerap wira-wiri untuk menjadi model beberapa produk periklanan televisi.
“Jaga baik-baik mas kalau punya istri cantik begitu jangan disia-siakan, meleng sedikit bisa disikat sama yang lain.” Ujarnya lagi, sebagai seorang perempuan wajah cantik Bulan memang mampu menghipnotis lawan jenis.
“Punya istri harus disayangi mas, diperhatikan, jangan sampai dia hidup sengsara sama suami. Bisa saja dia ngambek minta cerai trus pindah kelain hati nanti masnya yang nyesel.” Farez tersenyum menanggapi nasehat dari ibu penjual gado-gado itu. Kalau dia kelak menjadi suami dari Bulan jelas Farez tidak akan menyia-nyiakaan Bulan.
__ADS_1
Farez sangatlah mencintai Bulan, dia tergila-gila dengan wanita itu. Alvaro saja yang bodoh, tidak bisa melihat kelebihan yang dimiliki Bulan karena dia sudah dibutakan oleh pesona Bintang.
“Eh iya mas ini cuma tambah satu saja?” Tanya ibu itu memastikan.
“Iya bu satu saja untuk istri saya yang lagi ngidam karena hamil muda.” Ujar Elfarez kembali mengaku bahwa Bulan adalah istrinya padahal bukan.
"Oh istrinya hamil ya, wah pasti anaknya bakalan ganteng dan cantik mirip sama papa dan mamanya." Farez tersenyum kecut mendengarnya. Andai saja Bulan beneran istrinya pasti dia saat ini tengah mengandung anaknya, betapa bahagianya Farez jika itu terjadi. Sayangnya anak itu adalah benih dari pria jahanam seperti Alvaro. Farez berharap semoga anak dalam kandungan Bulan memiliki sifat lembut sepertinya.
"Iya buk." Balas Farez menganggukkan kepalanya. Melihat racikan gado-gado sudah siap, Farez lantas membawa sepiring gado-gado itu kepada Bulan yang sudah menunggunya.
"Ini gado-gadomu, makanlah." Bulan menerima sepiring gado-gado itu dengan raut wajah sumringah.
"Terimakasih." Ucapnya kepada Elfarez membuat pemuda itu seketika tersenyum. Bulan menikmati makanannya sembari melihat sepinya jalan raya didepan sana. Hanya beberapa kendaraan saja yang lalu lalang ditengah malam seperti ini, bahkan ibu penjual gado-gado itu terlihat sudah membereskan beberapa perlengkapan masaknya.
Farez kembali duduk disamping Bulan. "Pelan-pelan saja makannya Bulan, jangan buru-buru." Nasehat Elfarez bermaksut baik, dia tidak ingin Bulan sampai tersedak. Wanita itu dinasehati hanya menganggukkan kepalanya saja membuat Farez menghela nafas.
Tatapan Farez jatuh pada sudut bibir Bulan yang sedikit belepotan. "Aku sudah kenyang." Ujar Bulan meletakkan piring kosongnya.
Tangan pemuda itu terulur mengusap lembut sudut bibir Bulan dari saus yang menempel. Sentuhan tangan Farez membuat Bulan terpaku, mereka berdua saling menatap satu sama lain seolah waktu berhenti sejenak. Debaran jantung didada Farez berdetak cepat, reaksi ini muncul karena pesona Bulan sulit untuk dihindari. Apalagi melihat bibir ranum Bulan yang sedikit terbuka membuat fikirannya melayang kemana-mana.
Farez segera menarik tangan kanannya. Astaga fikiran nakal apa yang ada diotaknya. Terakhir kali dia pernah membuat masalah dengan mencium Bulan tanpa izin di parkiran mall sehingga menyebabkan Bulan marah besar kepadanya. Dia tidak ingin mengulanginya lagi, ayolah Farez jangan samakan Bulan dengan para mantan pacarmu sebelumnya yang akan merasa senang mendapatkan ciuman darimu atau bahkan mereka dengan sukarela bermalam denganmu. Bulan berbeda, dia adalah wanita baik-baik yang akan menjaga kehormatannya hanya untuk suaminya.
"Farez ayo kita kembali kerumah sakit." Sentuhan lembut ditangannya membuat Farez sedikit terkejut, dia menoleh menatap lekat wajah cantik Bulan.
"I-iya baiklah." Ujarnya seraya tersenyum canggung, berulang kali Farez mengatur nafasnya yang memburu. Dia menyesal kenapa dia tidak lebih dulu bertemu dengan Bulan. Andai saja waktu bisa diputar kembali dia tidak akan membiarkan Bulan menikah dengan Alvaro. Hanya dirinyalah yang pantas menjadi pendamping hidup bagi Bulan.
Bersambung...
__ADS_1
Apakah Elfarez terobsesi sama Bulan? Bagaimana menurut kalian?