Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 27 : Jodoh Pasti Bertemu


__ADS_3

Bulan duduk termenung disebuah restaurant untuk beristirahat sejenak dari rutinitasnya. Sore hari ini Bulan selesai menemui atasannya dari pihak agency, dia berniat ingin bekerja kembali tapi mereka rupanya tidak bisa menerimanya dengan alasan konyol tak masuk akal. Alvaro Artha Mahendra mengancam apabila pihak agency menerima Bulan sebagai salah satu modelnya maka Alvaro tidak segan-segan membuat bisnis mereka hancur.


Sumpah Bulan tidak habis fikir, mengapa atasannya takut dengan ancaman Alvaro padahal agency yang menaungi dirinya merupakan perusahaan besar. Bulan mendengar bahwa perusahaan Mahendra Groub yang dipimpin oleh Alvaro berkembang pesat akhir-akhir ini, banyak perusahaan raksasa termasuk GA groub yang bekerjasama dengannya. Posisi Alvaro saat ini memang sedang diatas, orang penting manapun sekelas bosnya Bulan bisa dengan mudah ditaklukkan oleh Alvaro.


Alvaro pasti sengaja ingin menghambat karirku karena ingin membuatku menderita, sebegitu dendamnya dia kepadaku hingga ingin menghancurkan masa depan dan impianku. Batin Bulan merasa kesal, dia benar-benar menyesal menikah dengan Alvaro jika tahu akan seperti ini kejadiannya seharusnya Bulan bisa tegas kepada Mama Laura yang memaksa kehendaknya.


Bulan bingung, menjadi model profesional merupakan cita-citanya sejak kecil. Dia tidak akan menyerah semudah ini, mungkin nanti Bulan akan mencoba mencari agency lain yang mau menerimanya. Dari pengalaman yang Bulan dapat di dunia modeling beberapa tahun ini seharusnya dia bisa dengan mudah masuk kembali kedalam agency. Bulan menghembuskan nafas berat, entahlah dia cuma bisa berusaha dan berdoa semoga apapun jalan yang dia ambil saat ini bisa dipermudah oleh tuhan.


“Bulan.” Bulan tersentak kaget tatkala sebuah tangan menepuk bahunya, dia seketika menoleh. Dahinya mengkerut melihat Farez berdiri dihadapannya. Astaga, lagi-lagi dia malah bertemu dengan Elfarez seolah dunia ini sempit. "Kenapa kamu ada disini?" Tanya Bulan menyelidik.


"Memangnya aku tidak boleh berada disini?" Tanya Elfarez malah balik bertanya membuat Bulan menjadi salah tingkah. "Ini adalah restaurant milikku, hari ini aku memang sengaja kesini karena aku menggantikan papaku untuk menemui rekan bisnisnya." Ujar Farez menjelaskan. Dia senang bisa bertemu Bulan disini, apakah mereka jodoh? Seketika Farez menghapus fikiran bodohnya, sadarlah Farez wanita dihadapanmu saat ini masih berstatus sebagai istri orang.


Bulan menganggukkan kepalanya. "Oh begitu."


Farez nampak clingak-clinguk mengedarkan pandangan kesekitar. "Apa kamu membuat janji untuk bertemu seseorang disini?" Tanya Farez penasaran.


"Tidak, aku kesini sendirian." Balas Bulan menjawab jujur.


"Kalau begitu aku akan menemanimu disini." Tanpa meminta izin Farez langsung duduk semeja dengan Bulan tanpa canggung seolah mereka adalah teman yang sudah akrab. Farez memang tipe pria yang ramah, apalagi kalau menyangkut dengan wanita yang dia sukai pasti dia akan gencar untuk mendekatinya.

__ADS_1


Di atas meja tidak ada satupun makanan, hanya ada sisa jus alpukat tinggal setengah gelas bekas Bulan. Farez lantas memanggil salah satu pelayan. "Saya pesan beef bourguignon, cassoulet, farci poitevin, bouillabaisse, foie gras dan untuk dessert crepe cake dua ya." Ujar Farez sembari menatap kertas menu, sedangkan pelayan wanita yang berdiri disampingnya nampak fokus mencatat pesanan dari Elfarez. Bulan hanya duduk diam mengamati tingkah pemuda didepannya ini.


"Minumannya kita berdua pesen calvados." Putus Farez dengan seenaknya sendiri tanpa meminta pendapat dari Bulan.


"Farez aku tidak minum alkohol, kalau ada aku pesen jus alpukat lagi." Timpal Bulan memberitahu. Dia tadi sebenarnya tidak ada niat untuk pesan makanan, dia masuk kedalam restaurant ini hanya nebeng tempat duduk saja sekaligus melepas dahaga dengan memesan jus. Karena Farez sekarang duduk bersamanya dia tidak enak hati meninggalkan pemuda itu disini, apalagi Farez terus mengoceh mengajaknya berbincang dengan antusis.


"Baiklah tuan nona, mohon tunggu sebentar. Pesanan akan segera diantar, saya permisi." Ujar pelayan wanita menunduk sopan dibalas anggukan oleh Farez dan Bulan. Pelayan itupun berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.


Farez beralih menatap intens wanita dihadapannya membuat Bulan mendelik merasa aneh. Sekian lama dia terbiasa dengan sifat dingin suaminya bahkan ayahnya sendiri bersikap cuek kepadanya, mendapat perlakuan baik serta kepedulian Farez membuatnya trenyuh.


"Apakah kamu sekarang masih tinggal bersama temanmu itu?" Tanya Farez tiba-tiba, dia sebenarnya cemas melihat Bulan yang kalut kerena permasalahan rumah tangganya.


Bulan nampak tersenyum kecut. "Aku sudah kembali kerumah." Balasnya membuat Farez menukikkan alisnya tajam, dia semakin dibuat penasaran bisa-bisanya Bulan malah kembali kerumah bajingan itu.


Jika boleh jujur Elfarez menyukai Bulan, dia tidak ingin Bulan terus terbelenggu hidup bersama dengan pria brengsek itu. Bodohnya Bulan, dia tidak peka dengan perasaan Farez. Bulan terlalu fokus dengan permasalahan hidupnya hingga mengabaikan lelaki yang tulus mencintainya.


Ditengah Farez bertanya dengan serius bermaksut untuk mengorek urusan rumah tangga Bulan, tiba-tiba pelayan datang mengantarkan makanan. "Permisi, ini makanan pesanan kalian tuan nona." Pelayan wanita meletakkan beberapa piring berisi makanan dan segelas minuman di atas meja. Farez nampak memberikan instruksi lewat ekor matanya agar pelayan itu segera pergi. Seolah sudah hafal tabiat dari bosnya, pelayan itupun pamit undur diri.


"Silahkan dimakan Bulan, ini khusus untukmu. Anggap saja aku mentraktirmu." Bulan jadi sungkan kalau begini, dia juga tidak terlalu lapar. Kalau saja dia tahu bahwa restaurant bergaya perancis ini milik Farez dia tidak akan kesini, baginya Farez terlalu baik kepadanya hingga repot-repot mentraktir dirinya.

__ADS_1


"Iya." Dengan segan Bulan mengambil crepe cake, dia ingin makan yang manis saja. Setidaknya Bulan ingin menghargai Farez yang telah mentraktir dirinya makanan perancis ini.


"Bulan mengenai suamimu--."


"Aku akan bercerai setelah anak yang kukandung lahir." Potong Bulan memberitahu Farez. Pemuda itu seketika tercengang, ada rasa bahagia mendengar bahwa Bulan sebentar lagi akan menjadi janda. Jika Bulan bercerai otomatis Farez bebas mendekati Bulan tanpa ada penghalang. Farez merasa dia seperti orang jahat yang mengharapkan orang lain bercerai. Tapi dia tidak salah, Alvaro adalah suami yang kejam. Pilihan yang tepat jika Bulan memilih berpisah. Bertahanpun malah akan membuat wanita itu tekanan batin setiap harinya.


Dilain tempat Alvaro mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi kembali ke restaurant untuk mengambil ponselnya yang ketinggalan. Dia tadi selesai meeting bersama dengan pimpinan GA Groub, namun yang datang malah anaknya Pak Giandra yaitu Elfarez untuk mewakilinya. Alvaro berdecih sinis, pemuda itu tahu apa mengenai bisnis. Giandra dengan seenaknya sendiri menyuruh pecundang itu untuk menghandle bisnis hotel yang sedang mereka jalankan. Elfarez yang minim pengalaman bisa saja menghancurkan proyek besarnya.


Alvaro memang membenci Elfarez sejak pertama kali bertemu, tapi seharusnya dia tidak meremehkan keahlian Farez tanpa melihat performanya terlebih dahulu. Tidak butuh waktu lama Farez sampai di restaurant, dia memarkirkan mobilnya diparkiran lalu segera masuk kedalam menuju kasir.


"Mbak maaf, di meja nomer 5 apakah ada ponsel yang tertinggal ya? Ponsel saya dengan casing bewarna hitam sepertinya tertinggal di atas meja." Ujar Alvaro memberitahu.


"Ah iya pak, ini ponsel anda." Pelayan kasir itu mengembalikan ponsel yang ditemunya di atas meja membuat Alvaro lega karena didalam ponselnya terdapat file penting.


Disisi lain, pada tempat yang sama Farez tengah mendengarkan Bulan bicara. Tidak banyak jawaban yang dia dapat dari mulut Bulan mengenai apa saja alasan yang membuat Bulan memantapkan hati untuk bercerai. Apakah hanya karena Alvaro telah menduakannya ataukah masih ada faktor lainnya? Bulan seolah menutupi persoalan rumah tangganya. Farez memakluminya karena ini bukan ranah pemuda itu turut ikut campur dalam urusan keluarga orang lain.


Farez menggenggam tangan kanan Bulan membuat wanita itu sedikit kaget dengan sentuhan lembutnya. "Bulan aku tahu kamu pasti bisa menjalani ini. Jika kamu butuh bantuan, aku akan selalu siap untukmu." Ujarnya bermaksut memberikan dorongan untuk menguatkan Bulan, wanita itupun tersenyum mendengarnya.


"Terimakasih Farez." Senyuman manis Bulan lagi-lagi mampu membuat Farez hanyut. Ya tuhan, jika boleh izinkan aku bersanding dengan perempuan ini. Aku ingin dia menjadi milikku, akan aku terima segala kekurangannya. Aku pasti akan membuatnya bahagia, tidak akan aku sia-siakan wanita secantik dan sebaik Bulan. Batin Farez berdoa dari dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung...


Maaf kemarin nggak bisa update karena sibuk di dunia nyata, aku harap kalian meninggalkan jejak agar aku semangat update. Kalau Alvaro tahu Bulan berduaan sama Farez kira-kira bagaimana reaksinya?


__ADS_2