
Bulan berada di ruangan pemotretan, dia aktif bekerja sebagai foto model. Dia sudah menggeluti pekerjaan ini sedari SMA, dulu modeling hanyalah sekedar hobi. Namun sekarang sudah menjadi pekerjaan semenjak ada salah satu agency model yang merekrutnya dan menawari gaji yang lumayan fantastis. Sebenarnya Papanya 'Zhafran' tidak setuju jika anaknya berkecimpung sebagai model karena kerap kali Bulan diharuskan berpenampilan sexy di depan kamera. Namun bagaimana lagi Bulan menyukai dunia ini, dia merupakan model yang cukup terkenal di Indonesia. Meskipun begitu dia juga ingin menjadi model di dunia internasional yang merupakan impiannya sejak kecil. Semua itu butuh proses tidak bisa secara instan.
Dia memang pernah mengenyam bangku kuliah, namun apa daya dia tidak mempunyai otak yang cukup pintar dalam mencerna materi pelajaran. Al hasil dia memilih berhenti, Bulan akui dia memang perempuan bodoh. Dia jadi teringat dulu di masa SMA, Alvaro sering mengajarinya mengerjakan PR.
"Bu endang tadi ngasih PR fisika halaman 55 isinya ada 10 soal." Ujar Alvaro memberitahu gadis didepannya.
"Banyak amat Al, mana soalnya sulit semua. Mending kamu ngerjain aja dulu, nanti aku tinggal nyontek deh." Sahut Bulan dengan seenak jidatnya membuat Alvaro memutar bola matanya berusaha sabar menghadapi Bulan.
"Nggak boleh Bul, kalau kamu nyontek terus kapan kamu pinternya. Aku akan ngajarin kamu sampai bisa."
"Iya-iya." Semalas-malasnya bulan dengan semua pelajaran di sekolah, jika Alvaro yang menjadi tutornya maka Bulan akan tetap semangat.
Alvaro membuka buku paket tebalnya. "Ini soal pertama." Jarinya menunjuk pada deretan tulisan dan angka. "Sebuah kapal mengukur kedalaman suatu perairan laut dengan menggunakan perangkat suara. Bunyi ditembakkan ke dasar perairan dan 5 detik kemudian bunyi pantul tiba kembali di kapal--"
Bulan yang mulanya mendengarkan setiap ucapan Alvaro, tapi lama kelamaan dia malah melamun. Gadis itu tersenyum dengan mata tak berkedip memandang lelaki tampan didepannya yang tengah membacakan soal untuknya. Bulan akui bahwa dia sangat mengagumi sahabatnya ini. Alvaro merupakan pemuda yang pintar, perhatian, baik dan selalu ada disamping Bulan. Cuma Alvaro teman Bulan satu-satunya.
Bagi Bulan, Alvaro adalah malaikat pelindung yang dikirim Tuhan untuk menjaganya. Di beberapa masalah yang dibuat oleh Bulan disekolah, lelaki itu kerap sekali membantunya karena banyak orang yang membenci Bulan. Sikapnya yang arogan dan menjengkelkan menyebabkan Bulan dibully habis-habisan. Baginya sekolah adalah neraka, bukan tempat untuk menuntut ilmu, oleh karena itu Bulan jarang masuk kelas, dia lebih memilih bolos.
Bulan menopang dagunya masih setia mengamati Alvaro, meskipun setiap hari mereka bertemu namun Bulan tidak pernah bosan. Mata elangnya yang menyorot tajam, bibirnya yang tebal sedang bergumam, dan wangi aroma mint dari tubuhnya membuat Bulan ingin sekali memeluk lelaki itu. Bolehkah? Huh, Alvaro kamu benar-benar mempesona.
"Jika cepat rambat bunyi di dalam air adalah 1500 m/s, tentukan kedalaman perairan tersebut. Kamu sudah tahukan rumusnya?" Alvaro mendongak melihat gadis didepannya malah cengengesan senyum-senyum sendiri seperti orang gila. "Bul." Panggilnya lagi sembari melambaikan tangan di wajah gadis itu, namun dia sama sekali tidak merespon.
"Bulan, woiii!" Bentak Alvaro keras, hingga membuat Bulan berjengkit kaget.
"Ehh, iya apaan Al?" Tanyanya Bulan membuat Alvaro mengelus dadanya.
"Kamu dengerin aku nggak sih tadi?"
"De-de-dengerin kok." Ujar Bulan terbata-bata sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Soalnya yang mana sih?" Tanyanya lagi.
Alvaro menghembuskan nafas lelah. "Ini bulan." Dia melingkari setiap soal yang harus dikerjakan. "Makanya jangan kebanyakan melamun, jadi nggak tahukan."
__ADS_1
"Hehehe, iya-iya maaf." Lagi-lagi Bulan cengengesan tanpa berdosa. "Trus ini rumusnya pakek yang mana aku nggak tahu."
"Untuk menentukan jarak dua tempat, atau kedalaman perairan dapat dilakukan dengan menggunakan prinsip pemantulan gelombang. Karena gelombang merambat dengan kecepatan konstan. Jadi rumusnya cepat rambat gelombang dikali waktu dibagi 2." Sahut Alvaro menjelaskan agar Bulan paham.
"Ohh, berarti 1500 dikali 5 dibagi 2 yah berarti 20 hasilnya." Sahut Bulan dengan percaya diri.
"Salah. Kamu gimana sih ngitungnya bul."
"Huhh." Bulan merasa kesal. "Aku memang nggak jago ngerjain ginian, pusing. Tapi kalau ngukur kedalaman cinta aku sama kamu, aku bisa."
Alvaro tersenyum sembari menggelengkan kepalanya tidak habis fikir. Bisa-bisanya gadis itu malah ngegombal!
"Nggak lucu bercadanya Bulan." Sahut Alvaro.
"Serius Al, aku itu benaran suka sama ka--."
"Sssttttt, diem!" Potong Alvaro dia tidak ingin mendengarkannya lebih jauh lagi. "Perhatikan ini, cara ngitung kamu salah. Gini 1500 dikali 5 dibagi 5 hasilnya 3.750 meter." Bulan mengangguk mencoba mencerna jawaban dari Alvaro yang dia tulis dibuku catatan. "Udah ngerti?" Tanyanya memastikan.
"Kak Alvaro." Terdengar seseorang memanggil, Bulan dan Alvaropun menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang gadis cantik berseragam putih dan rok selutut biru tua berdiri diambang pintu. Gadis itu berjalan mendekat, ikut duduk bersama mereka. Bulan nampak mengerling malas dengan kedatangan adik tirinya. Mengganggu suasana saja gadis itu!
"Bintang kamu kenapa pulangnya sore?" Tanya Alvaro penasaran. Bulan bisa melihat raut kecemasan tergambar di wajah lelaki itu membuat Bulan tambah kesal.
"Tadi sepulang sekolah aku masih ada bimbingan sama guruku kak untuk mempersiapkan olimpiade sains nasional tingkat SMP sederajat."
"Kamu memang hebat Bintang, aku bangga sama kamu." Ujar Alvaro berseri senang sembari mengacak rambut gadis itu dengan gemas. Jujur saja Bulan merasa iri, dia juga ingin dipuji seperti itu oleh Alvaro. Namun dia menyadari bahwa Bulan tidak mempunyai prestasi apapun.
"Kak Al apakah kakak mau membantuku untuk mengerjakan tugas? Guruku menyarankan aku untuk latihan mengerjakan soal-soal olimpiade tahun lalu. Tapi ternyata banyak soal yang sulit, aku bingung bagaimana cara mengerjakannya. Bisakah kak Al mengajariku?"
Bulan menggeram marah. "Untuk saat ini Alvaro masih sibuk ngajarin aku nyelesein PR, jadi mending--"
"Nggak apa-apa Bi." Potong Alvaro cepat membuat Bulan melongo. Belum juga dia menyelesaikan ucapannya sudah di sanggah Alvaro duluan. "Aku akan membantumu untuk menyelesaikan tugasmu. Coba aku ingin lihat sesulit apa soalnya." Bintang dengan semangat menyodorkan kertas yang berisi soal pilihan ganda.
__ADS_1
"PR aku aja belum selesai Al, baru juga nyampek nomer 2. Kamu malah beralih ngajarin Bintang, gimana sih? Selesain PR aku dulu dong." Bulan memberenggut kesal.
"Soal kamu itu gampang Bulan, kamu sebenarnya bisa ngerjain sendiri kalau kamu mau berusaha belajar. Rumusnya masih sama seperti tadi, kamu kerjain aja dulu sebisa kamu nanti aku koreksi." Mendengar penuturan pemuda itu, Bulan hanya bisa diam.
Dibanding dengan dirinya, Alvaro memang lebih menyayangi adik tirinya. Lihatlah bagaimana rona kebahagiaan pemuda itu ketika berada disamping Bintang, mereka tertawa riang ketika berhasil memecahkan soal bersama. Berbeda ketika Alvaro mengajarinya, pemuda itu kadang terlihat kesal dengan kebodohan Bulan yang tidak bisa menemukan jawaban dengan benar.
Alvaro memang lelaki yang populer, siapa sih perempuan yang tidak menyukainya? Para gadis disekolah saja selalu tebar pesona didepan lelaki itu, mereka berlomba-lomba ingin menjadi kekasih Alvaro. Jika ditanya bagaimana perasaan Bulan, jelas Bulan merasa cemburu rasanya dia ingin memusnahkan para gadis itu agar tidak mengganggu Alvaronya lagi.
Namun diantara mereka, ancaman terbesarnya adalah adik tirinya sendiri. Melihat kedekatan Bintang bersama dengan Alvaro membuat hati Bulan sakit. Dia cukup tahu bahwa Alvaro memang menyukai Bulan, sangat menyukainya. Sampai kapanpun Alvaro hanya akan menganggap dirinya sebatas sebagai seorang sahabat, tidak lebih karena lelaki itu mencintai Bintang. Hanya Bintang seorang...
Ketika seseorang mengungkapkan perasaan cintanya dengan serius, tapi hanya dianggap lecucon bagaimana perasaanmu? Jelas kesal, tapi itu tidak seberapa. Akan lebih menyakitkan jika kamu menyadari alasan mengapa dia mengelak adalah karena dia hanya menganggapmu sebagai sahabat, tidak akan pernah ada kata lebih. Bagaimana jika ternyata dia memang mempunyai gadis idaman di dalam hatinya dan itu bukan kamu, melainkan adikmu sendiri.
Miris! Tidak ada kesan yang menyenangkan semasa remaja, mengingat masa lalu malah membuat Bulan semakin tertekan akan kenyataan bahwa suaminya tidak akan pernah bisa mencintainya.
"Bulan 10 menit lagi giliran kamu, sebaiknya kamu bersiap-siap." Ujar Roni memberitahu, dia adalah seorang potographer profesional.
"Baiklah." Bulan segera beranjak untuk merias diri dibantu oleh seorang penata rias. Bulan menghembuskan nafas lelah, dia sedikit memijat punggungnya yang sakit karena tidur di sofa yang keras semalam.
"Ada apa denganmu?" tanya seorang wanita penata rias bernama Tamara. Wanita itu nampak mengerling nakal, Bulan bisa melihat eskpresi wajahnya di pantulan cermin. "Biasanya pasangan muda yang baru menikah akan giat-giatnya untuk memproduksi anak, bukankah begitu bulan?" Lanjutnya, membuat Bulan tersedak ludahnya sendiri.
"Apa?!" Bulan tidak habis fikir. Kenapa Tamara berfikiran mesum seperti itu sih?
"Tenang saja nanti nyerinya juga akan sembuh dengan sendirinya." Bulan masih tidak mengerti dengan ucapan Tamara yang sok tahu. Wanita itu mendekat membisikkan sesuatu di telinga Bulan. "Apakah suamimu sehebat itu di atas ranjang?" Tanyanya kemudian.
"Ha?!" Bulan langsung terkejut bukan main mendengarnya, Tamara pasti mengira sakit punggungnya karena mereka melakukan hubungan suami istri. Ya ampun Bulan bisa gila dibuatnya. Alvaro saja jijik untuk menyentuh tubuhnya.
Tamara malah tertawa cekikikan melihat ekspresi polos Bulan. Tamara bahagia melihat sahabatnya kini sudah menikah, menjalani kehidupan rumah tangga. Dan Tamara berharap dengan begitu Bulan akan melatih dirinya untuk bersikap dengan dewasa. Meskipun kebanyakan orang menganggap Bulan adalah wanita yang manja dan menyebalkan namun bagi Tamara, Bulan merupakan sahabat baiknya.
Bersambung...
Jangan lupa untuk dukung ceritaku dengan like dan komentar❤️
__ADS_1