
Bulan mengambil tempe, sayur sawi, wortel dan tauge dari dalam kulkas. Dia meletakkan keempat bahan tersebut diatas pantry. Bulan terdiam sesaat bingung harus dia apakan bahan-bahan ini? Menu makanan apa yang akan dimasak? Bulan meremas dress selututnya, ayolah Bulan suamimu sedang lapar menunggu masakanmu tapi apa yang kamu buat malah berdiri mematung membuang waktu.
Alvaro mengetuk-ngetuk jemari tangannya diatas meja, dia melihat istrinya itu begitu kebingungan. Ck, lama sekali! Alvaro beranjak berdiri, dia berjalan mendekati Bulan yang masih termangu. “Dasar bodoh! Minggir biar aku yang memasaknya.” Sentak Alvaro sedikit mendorong tubuh Bulan untuk menyingkir.
“Kamu mau kemana?” Tanya Alvaro menatap tajam Bulan yang tadinya akan pergi meninggalkan dapur, Bulan rasa dia tidak lagi dibutuhkan didapur jadi dia ingin kembali kedalam kamarnya.
“A-aku—“
“Bantu aku memasak, kamu potong tempe, wortel dan sayur sawinya.” Alvaro dengan tegas memerintah Bulan, akhirnya Bulan mengambil pisau. Dia mengiris kecil-kecil tempe didepannya sembari melirik Alvaro yang berdiri disampingnya dengan cikatan menyiapkan bumbu masakan.
Pemuda itu menuangkan minyak goreng di teflon, dia menggoreng tempe yang telah dipotong dadu oleh Bulan barusan. Menunggu hingga warna tempe kecoklatan, jika sudah dia angkat untuk ditiriskan. Alvaro menumis lengkuas, daun salam, dan daun jeruk hingga layu kemudian dia memasukkan irisan cabai rawit berbarengan dengan tempe.
Dia menaburkan sedikit garam, gula merah dan menuangkan kecap manis. Kelihaian Alvaro dalam memasak tidak luput dari pandangan Bulan, dia sebagai seorang perempuan merasa insecure melihat Alvaro yang handal dalam mengolah masakan.
“Kamu tahu apa makanan favoritku?” Tanya Alvaro kepada Bulan sembari menumis masakan didalam teflon, dia berusaha memecah keheningan diantara mereka berdua.
Bulan merasa canggung, kenapa tiba-tiba Alvaro bertanya demikian? Dia sedari tadi hanya diam karena tidak ingin membuat Alvaro kesal.
"Kamu menyukai opor ayam." Jawab Bulan dibalas anggukan oleh Alvaro.
"Kamu harus ingat itu, kapan-kapan aku ingin kamu membuatkannya untukku. Mamaku sudah mengajarkanmu cara membuatnya, seharusnya kamu sudah bisa."
Bulan mengenyitkan dahinya, ada yang tidak beres dengan pria ini. "Bagaimana kamu tahu kalau mama pernah mengajariku membuat opor ayam?" Aneh padahal waktu itu Alvaro masih berada di London.
__ADS_1
Alvaro tersadar jika dia sudah kelewatan dalam bicara. "Ehm, mama yang bilang kepadaku saat ditelefon." Ralatnya, padahal dia sendiri yang menyuruh mamanya untuk selalu datang kerumah dan diam-diam merekam setiap aktifitas Bulan dengan ponselnya.
"Aahh." Bulan meringis saat jari telunjuknya tanpa sengaja teriris pisau ketika dia tengah mengiris wortel. Alvaro segera mematikan kompornya, dia meraih jari tangan Bulan. Wanita itu melotot tatkala jari telunjuknya dihisap oleh Alvaro dengan mulutnya. Rasanya sedikit perih, tapi tidaklah seberapa ini hanyalah luka kecil.
"Bodoh! Mengiris wortel begitu saja kamu tidak becus." Sela Alvaro memarahi Bulan, wanita ini selalu ceroboh dalam melakukan segala hal. Apa kelebihan yang Bulan punya, sama sekali tidak ada! Dia tidak mempunyai otak yang pintar dan tidak tahu bagaimana cara mengurus rumah tangganya dengan baik. Selama ini Bulan hanya mengandalkan kecantikannya untuk memikat orang lain.
"Daripada kamu kelayapan tidak jelas, tebar pesona kepada lelaki hidung belang. Alangkah lebih baik kamu belajar memasak dirumah Bulan!" Tegas Alvaro menyindir membuat Bulan menciut, dia hanya diam saja tidak berani menjawab tuduhan dari suaminya.
Sebenarnya Bulan merasa kesal dengan segala kalimat pedas yang dilontarkan oleh Alvaro, namun sebisa mungkin dia menghadapinya dengan sabar. Lebih baik Bulan mengalah daripada mengundang pertengkaran, Alvaro adalah seorang pria yang mempunyai tempramen tinggi. Bulan pasti akan kalah menghadapi pria arogan seperti Alvaro yang selalu menganggap dirinya benar.
Alvaro bergegas mengambil handsaplast dari laci, dia membalut jari telunjuk Bulan agar pendarahannya berhenti.
Bulan menatap ekspresi Alvaro yang terlihat cemas namun tertutupi dengan sifat dingin dan jutek pria itu. "Terimakasih." Cicit Bulan seraya menyunggingkan senyum tipis.
Alvaro menarik dagu Bulan membuat wanita itu mendongak memandanginya lekat. Pemuda itu meneliti wajah cantik istrinya, dia membelai pipi halus Bulan. Entah mengapa semakin lama Bulan terlihat menawan, apalagi dengan tubuhnya yang berisi karena hamil. Alvaro seolah ingin selalu berada didekat wanita itu, aneh memang. Seharusnya dia juga merasakan hal yang sama dengan Bintang, tapi meskipun Alvaro bersama dengan Bintang dia merasa biasa saja.
Bulan perlahan berjalan mundur, dia tidak suka dipandangi dengan sorot mata tajamnya oleh Alvaro. Namun pinggulnya malah ditarik oleh pemuda itu hingga tubuh mereka saling menempel satu sama lain. Alvaro mendekatkan wajahnya pada ceruk leher istrinya, dia suka mengirup bau vanilla yang menguar dari tubuh Bulan begitu menenangkan.
"Engh, Al lepas." Cicit Bulan mendorong dada bidang suaminya. "Ka-kamu bilang akan memasak." Ujarnya memberitahu agar Alvaro berhenti merengkuhnya.
Bulan memekik kaget tatkala tubuhnya melayang, Alvaro mengangkatnya untuk duduk di atas pantry. "Al apa yang kamu lakukan?" Tanya Bulan mengerutkan dahi, dia merasa was-was dengan segala tindakan Alvaro yang tidak terduga.
"Breakfast." Bulan mendelik tatkala Alvaro mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka terpaut beberapa centimeter saja. Wanita itu bahkan bisa merasakan hembusan nafas Alvaro yang membelai kulitnya. Perlahan bibir Alvaro mengulum lembut bibir Bulan membuat wanita itu melotot atas tindakan suaminya.
__ADS_1
"Hmpptt." Bulan ingin memukul Alvaro namun kedua tangannya ditahan kebelakang punggung wanita itu. Alvaro menekan tengkuk Bulan untuk memperdalam lumatannya, dia menggigit pelan bibir bawah Bulan untuk membuka mulutnya.
"Hhhmmmppt." Mendapati bibir wanita dihadapannya terbuka, lantas Bulan memasukkan lidahnya dan mulai menggelitik rongga mulut Bulan. Alvaro mengerang disela-sela pagutannya, dia meremas pinggul Bulan menyalurkan hasratnya. Ciuman Alvaro semakin liar dan panas tatkala tangan kekarnya menelusup masuk kedalam dress selutut Bulan. Tubuh Bulan meremang merasakan sentuhan hangat di perutnya, membelainya perlahan lalu tangan besarnya naik ke atas meremas dua bulatan kenyal milik Bulan.
Alvaro sejenak menyudahi pagutannya memberi kesempatan istrinya untuk bernafas. Dada Bulan naik turun mengambil pasokan oksigen untuk memenuhi paru-parunya.
"Enngghh." Bulan melenguh ketika merasakan bibir basah Alvaro menyentuh leher jenjangnya, tangan kekarnya tidak tinggal diam menjalar menyusuri tubuh mulus Bulan. Hingga jemari tangan Alvaro menyentuh bagian bawah Bulan membuat wanita itu beringsut mundur.
"Al jangan, masih sakit." Cicitnya berbisik. Alvaro menegakkan tubuhnya, dia menatap lekat Bulan yang nampak kacau dengan baju yang sudah tersingkap karena ulahnya.
"Aku tidak bisa mengendalikan diriku." Gumam Alvaro seraya membenahi dress yang Bulan pakai. Dia menurunkan tubuh Bulan dari atas pantry, wanita itu hanya bisa melirik Alvaro dari ekor matanya. Dia tidak berani untuk sekedar berbicara, tadi Alvaro menciumnya penuh nafsu.
Bulan heran dengan suaminya, lelaki itu padahal terang-terangan membencinya tapi mengapa dia berulangkali malah menyentuhnya? Dulu Alvaro pernah berkata bahwa dirinya merasa jijik dengan Bulan, tapi mengapa sekarang dia malah seperti ini? Bulan tidak bisa menerima perlakuan Alvaro, tapi dia terlalu takut untuk memberontak. Jika pria itu marah, Alvaro tidak akan segan-segan bersikap kasar kepada Bulan. Dia tidak ingin anak dalam kandungannya terkena imbas karena ulah dari ayahya sendiri.
"Kamu pasti lapar, bantu aku siapkan piring. Letakkan di atas meja!" Perintah Alvaro merasa canggung dengan situasi ini, ayolah Al semalam kamu bahkan sudah mendapatkan kepuasan dari Bulan dan sekarang kamu juga menginginkannya lagi. Alvaro menggelengkan kepalanya, dia harus bisa menahan diri untuk tidak menerkam Bulan pagi ini.
"Al a-aku sudah mengiris wortel dan sawi, a-apakah kita tidak memasaknya?" Tanya Bulan berusaha bersikap biasa saja, padahal jantungnya saat ini berpacu dengan cepat. Ciuman panas Alvaro barusan terus terngiang-ngiang difikirannya.
"Biarkan saja, kita makan dengan tumis tempe saja." Balas Alvaro tanpa menatap wajah lawan bicara. Setiap melihat wajah cantik dan tubuh menggoda istrinya, dia tidak bisa fokus.
Pagi ini Alvaro dan Bulan makan bersama dengan keheningan, keduanya hanya diam menikmati makananannya tanpa bicara sepatah katapun. Keduanya larut dalam fikiran masing-masing. Bulan menganggap dirinya hanya dijadikan boneka pelampiasan oleh suaminya. Namun berbeda dengan Alvaro, dia mulai sadar bahwa Alvaro merasa dirinya mulai mencintai Bulan.
Bersambung...
__ADS_1
Bagaimana episode kali ini, menurut kalian semakin seru apa malah ngebosenin?