Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 69 : Bingung


__ADS_3

"Alvaro mengira aku masih berhubungan dengan Daren, dia adalah mantan kekasihku sewaktu kami duduk disekolah menengah atas." Farez meradang, ternyata saingannya bukan hanya Alvaro saja. Akan tetapi ada Daren yang mungkin saja masih belum bisa melupakan Bulan. Meskipun begitu Farez tidak akan menyerah, dia akan mendapatkan Bulan bagaimanapun caranya.


"Daren adalah pria yang jahat, dia ingin membuatku menderita. Mungkin Daren mempunyai dendam kepadaku sehingga dia tega menjebakku." Entah mengapa air mata Bulan menetes disela-sela dia bercerita, sebenarnya dia memang butuh pendengar. Hidup didalam atap yang sama dengan suaminya, Bulan hanya diam tidak pernah mengungkapkan isi hatinya karena Alvaro tidak memberikan kesempatan untuk berbicara baik-baik.


Farez mengusap lelehan air mata Bulan yang membasahi pipinya, dia lantas menarik tubuh wanita itu dalam pelukan hangatnya. "Jangan bersedih Bulan, biarlah suamimu tidak percaya dengan semua ucapanmu. Tapi aku yakin bahwa kamu adalah orang yang jujur." Bulan mendongak, dia bisa melihat rahang tegas Farez bergemelatuk menahan kesal. Tangan kekar pemuda itu mengusap punggungnya berusaha untuk menenangkan Bulan.


Pelukan Elfarez terasa nyaman, dia seolah mendapatkan perhatian dari seorang kakak. "Bulan jangan siksa dirimu dengan tetap bertahan bersama Alvaro." Ujar Farez menasehati membuat Bulan mendelik, dia mengurai pelukan mereka.


"Aku pasti akan bercerai dengan Alvaro, ta-tapi setelah bayiku lahir." Cicit Bulan menatap sendu Elfarez. Perpisahan mereka akan berjalan dengan semestinya, kurang 2 bulan lagi itu adalah waktu yang cepat.


Elfarez mengulurkan tangannya, dia mengusap lembut surai rambut Bulan membuat gadis itu mengerutkan dahinya. "Bulan setelah kamu bercerai dengan Alvaro tolong fikirkan baik-baik lamaranku. Aku sangat mencintaimu, setelah resmi berpisah dengan Alvaro menikahlah denganku."


Bulan menunduk sejenak, dia sedikit terbebani dengan ungkapan Farez. Berulang kali pria itu selalu mengatakan bahwa dia sangat mencintai Bulan dan ingin menikahinya. Bulan menjadi bimbang karena dirinya menganggap Elfarez hanya sebatas teman, tidak lebih. Melihat kegigihan Elfarez membuat dirinya semakin sungkan untuk menolak pria itu. Bagaimana ini? Bulan juga tidak ingin memainkan perasaan Farez.


"Bulan, kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku akan memberimu waktu untuk berfikir." Kekeuh Elfarez berusaha membujuk Bulan, dia semakin gencar untuk merebut perhatian Bulan. Farez tidak ingin perjuangannya sia-sia, sudah cukup Alvaro menyakiti Bulan. Dia akan menjadikan Bulan miliknya, setelah itu terjadi maka Alvaro tidak akan berani menyentuh Bulan lagi.


"I-iya." Dia menganggukkan kepala, Bulan tidak ingin membuat Elfarez kecewa. Pemuda itu sudah banyak membantunya, untuk sementara ini biarlah hidupnya berjalan apa adanya. Dia tidak tahu kapan hatinya bisa melupakan Alvaro dan bisa menerima keberadaan Elfarez. Pemuda itu nampak menyunggingkan senyum, entah kenapa dia selalu percaya diri bahwa seiring berjalannya waktu dia bisa meluluhkan Bulan.


"Farez." Bulan memanggil namanya, pemuda itu lantas berdehem membalasnya.

__ADS_1


"Hem, ada apa?" Tanya Farez merasa gemas melihat ekspresi Bulan yang malu-malu. Mungkin dia tidak terbiasa tinggal ditempat baru jadi Bulan sedikit merasa canggung.


Tangan Bulan mencengkram kerah baju yang dikenakannya. "Pakaian ini, milikmu?" Farez terhenyak, ada rasa takut jika Bulan berfikiran buruk tentangnya.


"Iya itu kemejaku, semalam kamu basah kuyup menggigil kedinginan. Tapi tenang saja, temanku yang menggantikan pakaianmu. Dia dokter perempuan yang aku undang untuk mengobatimu." Kilah Farez, padahal semalam memang dirinya yang menggantikan pakaian Bulan. Dia sengaja tidak mengaku karena pasti Bulan akan menganggap dirinya adalah pria mesum. Padahal Farez hanya ingin menolong Bulan agar tidak memperparah sakitnya. Lebih baik dia berbohong daripada menimbulkan masalah untuknya.


Bulan tersenyum, Farez begitu baik hingga dia semalam sampai memanggilkan dokter untuk memeriksanya. "Maaf ya Rez, aku sudah sangat merepotkanmu."


"Tidak, aku malah senang membantumu." Balas Elfarez berharap Bulan tidak lagi merasa sungkan dengannya.


"Aku telah membelikanmu bubur ayam, makanlah selagi hangat." Ujar Farez seraya menyodorkan semangkok bubur untuk Bulan. Bubur itu nampak menggugah selera, jujur saja Bulan memang sangat lapar. Bayangkan saja sejak kemarin dirinya disekap oleh Daren, dia sama sekali belum makan. Melihat makanan tersaji didepannya jelas perutnya langsung keroncongan.


Bulan memakan buburnya dengan lahap, sungguh Farez merasa miris melihat Bulan. Selama ini wanita itu tinggal dirumah Alvaro mungkin dia disiksa dan kebutuhan nutrisinya tidak terjamin. Kasihan Bulan, tidak seharusnya dia menanggung penderitaan seperti ini.


"Aku sudah kenyang." Balas Bulan seraya meletakkan kembali gelas di atas baki.


"Baiklah, kalau begitu aku akan meninggalkanmu untuk pergi ke kantor. Apakah tidak apa-apa jika aku meninggalkanmu dirumah sendirian?" Tanya Alvaro kepada Bulan untuk memastikan.


"Sendirian?" Cicit Bulan bingung. "Keluargamu ada dimana?" Bulan mengeryitkan dahi penasaran.

__ADS_1


"Aku dirumah ini hanya tinggal berdua bersama papa, saat ini papaku sedang berada di luar negeri mengurus bisnisnya." Bulan tidak menyangka jika Farez hanya tinggal berdua saja bersama dengan papanya. Tapi setelah difikir-fikir, Farez sama seperti dirinya karena Bulan juga hanya memiliki orang tua tunggal yaitu mamanya yang berada disisinya. Meskipun dia masih mempunyai papa tapi Bulan tidak pernah dianggap anak oleh ayah kandungnya sendiri.


Bulan mendongak menatap pria dihadapannya yang memang sudah rapi menggunakan kemeja lengkap dengan tuxedo hitamnya, melekat sempurna ditubuh atletisnya. "Berangkatlah bekerja Rez, jangan sampai kamu telat karena aku."


Pemuda itu menatap jam tangan rolex miliknya. Ternyata sudah pukul 09.05 pagi, padahal hari ini dirinya ada rapat bersama dengan rekan bisnisnya. Rapat sebentar lagi pasti akan dimulai, sudahlah lagipula mereka tidak akan bisa memulai rapatnya tanpa kehadirannya. "Kalau begitu aku berangkat ya Bulan." Farez mengusap lembut kepala Bulan, lantas dia mengecup dahi Bulan membuat wanita itu membeku ditempat.


Bulan hanya bisa menatap nanar kepergian Farez yang perlahan menghilang dari balik tembok kamarnya. Perlahan Bulan menyentuh dahinya, apakah ini dibenarkan? Farez dengan sesuka hati mencium dahinya padahal dia bukanlah suami Bulan. Apakah ini bisa dibilang selingkuh? Tidak...tidak! Bulan menggeleng, Farez melakukannya karena merupakan wujud kasih sayangnya sebagai teman. Entah mengapa meskipun dia berulang kali disakiti oleh suaminya, Bulan masih tetap memikirkan Alvaro karena hanya suaminyalah yang berhak menyentuhnya.


...****************...


Pagi ini dilaksanakan rapat untuk membahas peluncuran produk otomotif yang baru dikembangkan oleh perusahan Alvaro, dia ingin bekerjasama dengan GA Groub karena Alvaro tahu bahwa perusahaan raksasa itu mampu mamberikan sumbangan dana yang besar untuk bisnisnya. Sebelumnya mereka sudah bekerjasama dalam pembangunan hotel, dimana bisnis tersebut sudah maju. Bahkan mereka mendirikan puluhan hotel yang tersebar di Indonesia maupun di luar negeri.


Alvaro mengetuk-ngetukkan jemari tangannya dimeja, semua karyawannya telah berkumpul diruangan rapat bahkan pimpinan dari perusahaan kecil lainnya juga turut menunggu. Beberapa kali Alvaro melirik jam ditangannya, dia mendengus kesal karena pimpinan dari GA groub belum datang. Tidak biasanya Giandra yang terkenal menjunjung tinggi kedisiplinan telat dalam sebuah rapat penting seperti ini. Lama-kelamaan Alvaro geram dibuatnya, jujur saja pekerjaannya menumpuk saat ini. Daripada dia membuang waktu hanya untuk menunggu, akan lebih baik dia duduk diruangannya sembari membaca laporan dari beberapa proyeknya.


"Rima apa kamu tadi sudah menelfon Pak Giandra, aku takut jika pria tua itu sudah pikun sehingga lupa jika hari ini dia ada rapat." Ujar Alvaro bertanya kepada sekretarisnya yang tengah duduk tepat disebelahnya.


"Maaf pak Al, kelihatannya bukan pak Giandra yang akan datang kesini melainkan putranya yang akan memiliki wewenang untuk memimpin rapat hari ini." Alvaro terperanjat, dia mengerutkan dahinya heran mendengar jawaban dari sekretarisnya.


"Selamat pagi semuanya..." Suara bariton seorang pria menggema di ruangan rapat, semua orang yang melihat kedatangannya seketika berdiri untuk memberikan penghormatan wujud dari sopan santunya kepada pimpinan yang memiliki jabatan paling tinggi. Reflek Alvaro menoleh menatap sengit seorang pemuda yang saat ini dengan santainya berjalan menuju kursi kebesarannya. Alvaro enggan untuk menyambut Elfarez, dia tetap tenang duduk dikursinya malas untuk berdiri.

__ADS_1


"Selamat pagi pak Elfarez, semoga hari-hari anda senantiasa menyenangkan." Ujar salah satu seorang pria membuat Alvaro berdecih. Dasar penjilat! Umpatnya dalam hati. Pria itu hanyalah pemimpin perusahaan kecil, jadi wajar kalau dia berusaha cari muka didepan Elfarez.


Bersambung...


__ADS_2