Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 86 : Mengakhiri Hidup


__ADS_3

Bulan duduk ditepi ranjang menatap nanar jendela kamar yang tertutup rapat dengan pandangan kosong. Sudah sebulan lamanya dia dikurung dikamar tanpa bisa menghirup udara kebebasan membuat Bulan merasa frustasi. Air matanya menetes tanpa bisa dibendung, dia ingin mengakhiri penderitaannya. Tangan lentiknya merogoh bantal, dia mengambil sebilah pisau yang memang sengaja dia sembunyikan disana.


Tangan kiri Bulan terulur, dia memegang pisau yang dia tempelkan tepat pada urat nadinya. Bulan merasa sudah lelah hidup, tidak ada harapan lagi untuknya. Setiap hari dia mendapatkan siksaan dan tekanan dari Alvaro membuat mentalnya semakin lama terguncang. Alvaro tidak mencintainya, namun pemuda itu hanya memanfaatkan tubuhnya untuk melayani nafsunya semata.


"A-aku bisa gila jika hidup seperti ini hiks...hiks." Gumam Bulan berderai air mata, tangan kanannya gemetaran memegangi pisau tajam yang siap mengiris urat nadinya. Bulan perlahan memejamkan matanya, baginya mati adalah jalan keluar satu-satunya. Sejenak dia melupakan mamanya dan bahkan bayi dalam kandungannya, dia terlalu kalut hingga tidak bisa membedakan bahwa tindakannya salah. Dikala dirinya hampir menggoreskan pisau tajam itu, tiba-tiba bayangan masa lalu berputar diotaknya.


“Hiks-hiks, kamu mau ninggalin aku dan lebih memilih perempuan lain iya kan? Hiduplah bahagia dengannya dan kamu akan berduka atas kematianku. Sampai mati aku nggak akan rela kamu bersama dengannya hiks-hiks.”


“BULAN!!” Lagi-lagi lelaki itu membentaknya, dia bosan mendengar drama memuakkan yang dilakukan Bulan.


Alvaro sudah frustasi menghadapi Bulan. “Jika itu keputusanmu, maka lakukanlah.”


Bulan membulatkan kedua matanya, dia menelan ludahnya dengan susah payah. Bulan bahkan memegang pisau tajam itu dengan gemetar. Terlihat raut ketakutan di wajahnya, dia bimbang dan Alvaro dengan tatapan dingin malah tersenyum sinis meremehkan.


Gadis itu mengusap air matanya sejenak. “Ba-ba-baiklah, aku pasti akan melakukannya. Da-dan ka-kamu pasti a-a-akan menyesalinya.” ucapnya terbata-bata.


Alvaro masih berdiri santai menatap gerak-gerik Bulan tanpa minat. Sebisa mungkin Alvaro tidak akan termakan oleh gertakan gadis keras kepala itu.


Bulan menghela nafas panjang, mengumpulkan nyalinya. Dia memejamkan mata perlahan. “Selamat tinggal.”


Sreet. Darah memuncrat berceceran di lantai, rasanya begitu nyeri dan perih. Bulan benar-benar memotong urat nadinya sendiri.


"Tidak!" Teriak Bulan, dia seketika membuka matanya. Dia sungguh ketakutan, dia tidak ingin merasakan sakit.


Bulan memasukkan kembali pisau tajam itu dibawah bantalnya. Kedua tangannya mengusap tetesan keringat di wajahnya, dulu dia pernah menyayat tangannya untuk mengancam Alvaro agar pemuda itu menikahinya dan sekarang dia ingin mengakhiri hidupnya untuk bisa keluar dari belenggu Alvaro. Dunia benar-benar mempermainkannya saat ini, seolah tidak membiarkan Bulan mencicipi kebahagiaan.

__ADS_1


"Hiks...hiks...ma Bulan takut ma." Ujarnya menangis tersedu-sedu. "Bu-bulan ingin pulang hiks...hiks." Dia meremas dress selututnya, Bulan merasa kesal dengan dirinya sendiri karena menjadi perempuan lemah.


Dia tidak bisa melawan suaminya sehingga pemuda itu memperlakukannya dengan semana-mena. Alvaro lelaki arogan yang tidak berperasaan, disaat dirinya tengah hamil besar dia tetap mempergunakan tubuhnya untuk memuaskan nafsunya. Bulan setiap hari harus menahan sakit dan perih yang dia rasakan sendiri dirungan bisu ini. Teriakan ketakutan, tubuh remuk yang dijamah kasar serta mendengar cacian dan hinaan membuat perasaannya terluka. Bulan tidak sekuat itu untuk bertahan, dia sangat membenci Alvaro.


Srek...srek...srek


Kedua mata Bulan membola tatkala telinganya menangkap suara derap langkah seseorang menuju kamarnya, bahkan Bulan mendengar bunyi nyaring kunci yang sedang dimasukkan kedalam kenop pintu. Bulan bisa menebak itu pasti Alvaro yang sedang menyambangi apartemen ini. Bulan gemetar takut, dia hafal dengan kebiasaan pemuda itu. Setiap datang ke apartemen ini, dia akan menyentuh tubuhnya dengan paksa tidak peduli Bulan lelah ataupun sakit Alvaro akan tetap mementingkan nafsunya saja.


Bulan berlari masuk kedalam kamar mandi, dia mengunci pintunya dari dalam. Dia duduk di closet dengan jantung berdebar tidak karuan, Bulan tidak akan menuruti perintah Alvaro lagi. Dia sudah capek, Alvaro memperlakukan dirinya seperti pelacur didalam apartemen ini.


"Bulan!" Bulan mendengar suara Alvaro yang memanggil dirinya, dia membekap mulutnya sendiri. Bulan tidak ingin bertemu dengan Alvaro, pemuda itu membuat mental Bulan menjadi depresi.


"BULAN!" Kali ini Alvaro memanggilnya dengan keras hingga suaranya menggelegar membuat Bulan tersentak. Sebisa mungkin Bulan meredam isakan tangisannya.


Dor...dor...dor


"BULAN BUKA PINTUNYA!" Alvaro menggeram, emosinya tidak bisa dia kendalikan lagi menghadapi istrinya yang selalu membangkang.


"Hiks...hiks...hiks." Bulan mengelus perut besarnya yang tiba-tiba terasa sangat nyeri seolah anaknya juga bisa merasakan kekhawatiran yang dialami oleh ibunya. "Mama, mama takut sama papa kamu hiks...hiks."


"BULAN, KAMU AKAN MENERIMA HUKUMAN JIKA KAMU TIDAK MEMATUHI PERINTAHKU!" Alvaro tidak pernah main-main dengan ucapannya.


Bulan perlahan berjalan mendekati pintu, dia menelan ludahnya susah payah. "Bagaimana ini hiks...hiks. Apa yang harus mama lakukan?" Tangannya mengusap perutnya untuk mengajak bayinya berbicara.


Tatapan Bulan jatuh pada sebuah botol pembersih lantai yang berada di sudut toilet. Dia mengambil botol bewarna biru pekat itu. Bulan mulai membukanya, aroma menyengat tercium begitu menusuk. Tangan Bulan menggenggam botol itu dengan gemetar hingga sebagian cairannya tumpah membasahi tangan. Fikiran Bulan saat ini benar-benar kalut, dia ingin menenggak cairan pekat itu untuk mengakhiri semuanya tanpa ada rasa sakit yang dia rasakan.

__ADS_1


BRAK


Alvaro berhasil mendobrak pintu kamar mandi, dia terkejut bukan main tatkala melihat Bulan siap untuk meminum cairan pembersih lantai. Reflek tangannya merebut botol dari genggaman Bulan lalu melemparkannya membentur tembok hingga cairan pembersih itu berceceran ke lantai. Bulan terpaku menatap nanar Alvaro dengan nafas memburu, dia kesal Alvaro mengganggu dirinya.


PLAK


Bulan jatuh tersungkur sembari memeganggi pipinya yang terasa panas. Saking kerasnya tamparan Alvaro membuat sudut bibir Bulan mengeluarkan darah segar. Rahang Alvaro bergemelatuk menahan amarah, Bulan berniat bunuh diri di depan matanya. Wanita bodoh! Alvaro tidak akan membiarkan Bulan semudah itu untuk pergi darinya.


"Kemari kamu!" Alvaro menarik lengan Bulan agar wanita itu beranjak berdiri menghadapnya.


"Lepaskan aku." Ujar Bulan, dia memberontak untuk lepas dari cengkraman tangan suaminya. "Lepaskan aku Al!" Bentak Bulan dengan berani. Alvaro menyeret Bulan untuk keluar dari kamar mandi, dia lantas mendorongnya hingga tersungkur dilantai.


"Ahh." Dia meringis merasakan perutnya yang sakit, tangan Bulan berpegangan pada tiang kasur. Dia berusaha untuk beranjak berdiri, menahan rasa nyeri di perutnya. "Cukup Al!" Bulan mengepalkan kedua tangannya, nafasnya memburu sembari menatap tajam Alvaro.


Bulan mengusap lelehan air mata yang menggenang dipipinya. "Aku bukanlah pelacurmu Al, kamu tidak berhak atas tubuhku maupun hatiku." Tegas Bulan membuat Alvaro menukikkan alisnya tajam, berani sekali Bulan membantahnya. Rupanya istrinya sekarang berani melawannya, Alvaro menyukai Bulan yang penurut dan penakut sehingga dia bisa tunduk kepadanya. "Aku sangat membencimu sampai aku sulit untuk bernafas ketika melihat wajahmu Al."


Alvaro berdecih mendengar ucapan Bulan barusan. "Jangan berbicara seolah kamu tidak menyukaiku Bulan, ingat dulu kamu mengemis cinta padaku."


Bulan menggelengkan kepalanya. "Kamu salah Al!" Bentak Bulan, dia sudah lelah menjadi penipu. Kebohongannya malah menjerumuskan Bulan kedalam derita, dia tidak ingin menuruti kemauan mamanya lagi. "Rasa cintaku untukmu telah lama hilang Al, kini yang ada hanyalah benci didalam hatiku." Ujar Bulan dengan jujur, dia sudah muak dengan suaminya.


"Ketahuilah Al, aku terpaksa menikah denganmu karena tuntutan dari mama. Mama ingin aku untuk menjalin ikatan pernikahan bersamamu untuk membalaskan dendamnya kepada mama Nadia dan juga Bintang. Bodohnya aku menuruti semua rencananya mama, sekarang aku malah terikat dengan pernikahan yang menyiksa ini. Dari lubuk hatiku, aku sebenarnya tidak ingin menikah denganmu."


Alvaro terkejut mendengar penuturan Bulan barusan, dia mencengkram bahu Bulan dengan kuat. "Apa maksutmu Bulan!" Bentaknya tersulut emosi, ini sulit untuk dipercaya.


Jadi selama ini Bulan hanya memanfaatkan dirinya sebagai alat untuk balas dendam. Satu hal yang tidak bisa Alvaro terima adalah ketika Bulan mengatakan bahwa wanita itu rupanya tidak mencintainya. Sedari awal Bulan tidak pernah berniat untuk menjadi istrinya Alvaro, dia merayu dan menggoda Alvaro hanya karena perintah dari mamanya saja. Selama ini Alvaro menganggap bahwa Bulan cinta mati kepadanya namun ternyata tidak demikian, semua ini hanyalah setingan yang dibuat oleh mama Laura.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2