Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 25 : Pasar Malam


__ADS_3

Bulan berdiri diambang pintu, dia melihat nanar Elfarez yang saat ini tengah duduk di kursi. Perlahan Bulan berjalan mendekati pemuda itu yang tengah santai menunggu dirinya. "Farez." Panggil Bulan membuat Elfarez seketika menoleh, dia tersenyum menatap Bulan yang hanya memakai baju terusan sederhana bewarna putih khas wanita rumahan. Bulan sangat cantik meskipun tanpa riasan yang melekat diwajahnya.


"Farez ada apa ya kamu kesini?" Tanya Bulan bingung dengan maksut dan tujuan Farez menemuinya. Elfarez beranjak berdiri, entah kenapa dia menjadi grogi dihadapan Bulan.


"Aku ingin mengajakmu makan malam." Ujar Farez memberitahu dengan ekspresi wajahnya yang kikuk. Bulan mengernyitkan dahi, ini sudah pukul 9 malam seharusnya Bulan istirahat di kamar namun melihat Farez yang antusias membuatnya tidak tega untuk menolak. Pemuda itu bahkan sudah memakai kemeja yang rapi demi mengajak dinner Bulan.


Tidak ada salahnyakan jika Bulan menerima ajakan Farez? Selama menikah dengan Alvaro dia tidak pernah diajak jalan-jalan ataupun sekedar makan bersama. Kenapa dia malah memikirkan Alvaro? Pemuda itu pasti sekarang tengah menikmati malam pertama bersama Bintang.


Bulan mengangguk. "Baiklah, aku ambil sweaterku dulu ya.."


Farez melongo, dia tidak percaya bahwa Bulan mau menerima ajakannya, sungguh dia benar-benar senang. Wanita itu masuk kembali kedalam rumah, namun tidak berselang lama Bulan keluar memakai sweaternya bewarna cream serta membawa tas selempang.


Farez menggenggam pergelangan tangan Bulan, menggiringnya menuju mobil. "Silahkan masuk." Bulan menurut, dia naik kedalam mobil milik Farez. Pemuda itu menghidupkan mobilnya, dia menjalankan kendaraan beroda empat itu membelah jalanan kota. Bulan menoleh kesamping kaca menatap deretan gedung-gedung pencakar langit begitu indah dengan kemerlap lampu.


Dia memejamkan matanya sesaat mengingat setiap masalah yang timbul akhir-akhir ini seperti pernikahan Alvaro bersama dengan adiknya sungguh membuat perasaannya hancur, serta hubungannya saat ini bersama dengan ayahnya tidak begitu baik. Bulan menghela nafas berat, kenapa hidupnya terlalu rumit? Rasanya kepala Bulan ingin pecah, dia hanya bisa berharap untuk terlepas dari sumber masalahnya yaitu Alvaro.


Tiba-tiba mobil Farez berhenti mendadak membuat Bulan sedikit terkejut, rupanya jalan didepan sana macet. Banyak rombongan orang-orang yang menyebrang menuju pinggir jalan. Bulan penasaran, dia membuka kaca mobil ingin melihat lebih jelas keramaian disebrang sana.


"Ada pasar malam." Gumam Bulan dengan mata berbinar senang. "Farez ayo kita lihat pasar malam saja." Ajak Bulan terlihat antusias.


Farez menukikkan alisnya tajam, dia ingin membawa Bulan untuk makan malam di restaurant mewah tapi Bulan malah kegirangan melihat pasar malam. Apa bagusnya pasar malam? Batin Farez keheranan karena seumur hidupnya dia tidak pernah masuk kedalam pasar malam.

__ADS_1


"Ayo pasti seru." Bulan turun dari mobil, mau tidak mau Farezpun mengikuti Bulan beriringan dengan rombongan warga sekitar yang ingin mencari hiburan dengan melihat pasar malam yang digelar dilapangan.


Farez nampak linglung karena dia baru pertama kalinya berada dipasar malam, dia melihat keramaian orang berlalu lalang. Kadang bahunya juga menyenggol orang yang lewat saking ramainya. Tidak heran jika jalan raya sampai mengalami kemacetan. Farez tersentak tatkala Bulan menggenggam tangannya erat, dia sengaja menggandeng pemuda itu agar tidak hilang. Bulan cukup tahu pria kaya seperti Farez mungkin tidak pernah menginjakkan kakinya ditempat ramai seperti ini.


"Jangan lepas tanganku ya." Ujar Bulan seraya tersenyum. Tidak, Farez tidak akan melepaskan tangan lembut Bulan. Jemari tangan Bulan begitu hangat membuat Farez merasa nyaman berada disamping Bulan. Dia tidak menghiraukan tatapan aneh orang-orang yang melihatnya karena memakai pakaian formal ditengah pasar malam. Untung saja dia tadi tidak memakai jasnya sekalian, kalau dia pakai Farez akan tambah malu.


Bulan mengajak Farez untuk melihat stand up comedy yang digelar di panggung sederhana diisi dengan banyolan orang sedang melawak. Sesekali Bulan tertawa dengan jokes receh pria di atas panggung. Begitupun Farez ikut tertawa terbahak-bahak sampai meneteskan air mata. Farez salut dengan komedian itu karena materi stand upnya berhasil membuatnya dan Bulan terhibur. Tatapan Bulan jatuh kepada penjual jajanan manis mengembang diujung sana, dia jadi kepingin mencicipinya.


"Farez ada arum manis, beli yuk." Farez yang tidak tahu makanan yang ditunjuk oleh Bulan hanya mengangguk mengikuti langkah kaki Bulan.


"Nih buat kamu." Bulan menyerahkan makanan bewarna pink seperti kapas itu untuk Farez, dengan senang hati pemuda itu menerimanya lalu memakannya, rasanya manis di lidah.


"Gimana, enak?" Tanya Bulan bertanya, penasaran dengan pendapat Farez.


Farez menyenggol bahu Bulan membuat wanita itu seketika terperanjat kaget. "Kamu kenapa Bulan? Jangan melamun." Ujarnya memberitahu membuyarkan lamunan Bulan yang sedang mengingat masa lalunya bersama dengan sang suami.


Bulan menggelengkan kepala. "Nggak, aku nggak melamun." Balasnya sembari melahap arum manisnya hingga habis.


Bulan menggandeng tangan Farez lagi mengajak jalan-jalan mengelilingi pasar malam, melihat stand yang didominasi dengan pakaian, mainan anak-anak dan para penjual makanan menggugah selera. Mereka membeli beberapa makanan untuk dicicipi. Semuanya terasa lezat, jujur Farez begitu menikmatinya apalagi ditemani oleh wanita yang dia sukai saat ini lebih dari cukup baginya. Dia tidak menyangka seorang model kalangan atas seperti Bulan senang bermain dipasar malam.


Bulan benar-benar wanita yang menarik, Farez semakin salut dengannya. Bagi Bulan daripada dia diajak ditempat mewah yang kebanyakan didatangi para orang sombong lebih baik disini dia bisa berbaur dengan warga biasa yang tidak akan pernah memandangnya rendah.

__ADS_1


Bulan menghentikan langkahnya di tengah jalan ketika matanya menatap benda bergerak memutar. Farez menyadari keinginan Bulan dari raut wajahnya yang berbinar seolah ingin merasakan wahana tinggi itu.


"Kamu mau naik?" tawar Farez.


"Emmm--." Bulan nampak berfikir sejenak, apakah Farez berani? Dia tidak ingin memaksa Farez untuk ikut naik bersamanya karena dulu Alvaro pernah trauma ketika Bulan memaksakan naik wahana bianglala.


"Jangan kebanyakan mikir, ayo kita naik." Ucap Farez seraya terkekeh pelan memberanikan diri mencoba.


Mereka menaiki bianglala, Bulan memekik senang karena ini adalah wahana favoritnya sejak kecil. Sudah lama dia tidak merasakan wahana ini, terakhir kalinya dia kepasar malam saat SMA. Setelah lulus SMA dia harus bolak-balik ke luar negeri untuk pekerjaan modeling yang dia tekuni. Sibuknya pekerjaan dia menjadi jarang merasakan kebebasan untuk sekedar refreshing, apalagi ditambah tuntutan dari mamanya yang harus dia turuti membuat Bulan kadangkala pusing memikirkannya.


Bianglala yang dinaiki Bulan dan Farez berhenti di atas, perempuan itu menikmati pemandangan yang disuguhkan dari atas ketinggian. Kerumunan orang menjadi sangat kecil dengan kemerlap lampu-lampu dari para pedagang berjejer rapi. "Bagus ya." Gumamnya seraya tersenyum sumringah.


Farez terkekeh pelan melihat kelakuan Bulan yang antusias malah menurutnya seperti bocah kegirangan. Senyuman Bulan begitu manis membuat Farez terpesona untuk sesaat, lambaian rambut panjang Bulan yang tertiup angin membelai wajah cantiknya. Sudah lama Farez mengagumi Bulan, dia hanya mampu melihat sosoknya lewat media sosial wanita itu saja. Tidak menyangka kini Farez bisa kesampaian untuk jalan berdua ditempat hiburan sederhana ini. Bulan menghela nafas, wajahnya berseri-seri senang. Setidaknya beban berat yang dia pikul sedikit terobati.


Setelah puas bermain wahana, mereka berdua melihat kembang api sebagai acara penutupan pasar malam.


Duarrr


Kembang api ditembakkan kelangit, semua kerumunan orang yang melihat bertepuk tangan begitupun Bulan dan Farez terlihat gembira. Sejenak Bulan melupakan masalah hidupnya larut akan suasana meriah pada malam hari ini. Farez reflek memeluk Bulan, melindungi tubuh wanita itu dari himpitan orang-orang yang merengsek ingin melihat kembang api lebih dekat. Jantung Farez rasanya berdebar-debar tatkala dia merasakan hangatnya tubuh Bulan dalam pelukannya, sebisa mungkin dia harus menjaga sikap dan menetralkan kegugupannya agar wanita itu tetap merasa nyaman didekatnya. Bulan mendongak menatap rahang tegas Farez cukup lama. Andai Alvaro mempunyai sikap lembut sepertimu Farez pasti Bulan akan merasa bahagia.


Bersambung...

__ADS_1


Kita biarkan Bulan bahagia sebentar dulu ya, karena kalau ketemu Alvaro nggak tahu lagi gimana jadinya :)


__ADS_2