
Bulan memutuskan duduk berbincang di foodcourt, memesan segelas jus alpukat. Laura menyruput minumannya untuk melepas dahaga. "Jadi perbincangan serius apa yang ingin kamu bicarakan denganku sayang?" Tanya Laura kemudian.
Bulan menundukkan kepalanya lesu, dia sebenarnya takut mamanya akan marah jika mendengar keputusannya ini. Tapi mental Bulan sudah tidak kuat, dia harus menyelesaikannya segera. "Aku ingin bercerai dari Alvaro."
"Apa?!" Laura kaget, hingga tanpa sadar menggebrak meja membuat beberapa pengunjung melotot memandangnya.
Laura yang sadar menjadi pusat perhatian seketika kembali bersikap anggun. "Apa kamu sudah gila Bulan." Cerca Laura menatap tajam putrinya. "Mama sudah berjuang untuk menyatukan kalian berdua, tapi sekarang kamu malah minta pisah." Laura tidak habis fikir. Lagipula kenapa tiba-tiba Bulan meminta cerai? Apa ada masalah? Jikapun ada percekcokan dalam rumah tangga itu adalah hal biasa, dan sudah seharusnya Bulan menyelesaikannya dengan kepala dingin. Dan bercerai bukanlah solusinya.
"Apakah kamu sudah tidak mencintai Alvaro?" Tanya Laura mulai mengintimidasi Bulan.
"Aku-aku sangat mencintainya Ma." Jawab Bulan dengan jujur, Alvaro adalah cinta pertamanya dan tidak mudah untuk menghilangkan perasaan cintanya begitu saja. "Dari awal aku bilang ke Mama bahwa aku nggak mau menikah dengan Alvaro ta-tapi Mama terus saja memaksaku. Maafkan aku Ma, aku nggak bisa lagi menuruti semua rencana balas dendam Mama."
"Jika alasanmu bercerai karena Bintang yang menjadi ancaman dalam kehidupan rumah tanggamu maka kamu tidak perlu cemas Bulan." Sungguh Laura tidak ingin Bulan berpisah dengan Alvaro, dia tidak ingin rencana yang telah dia susun selama ini hancur begitu saja. "Bintang dan Farez akan segera bertunangan. Dan aku berencana untuk mempercepat pernikahan mereka agar Bintang tidak bisa mengganggumu lagi." Ujarnya berusaha meyakinkan putrinya.
"Ma, aku tetap tidak bisa." Kekeuh Bulan, dia sudah lelah menjalani rumah tangganya bersama Alvaro. Mentalnya tidak sekuat itu untuk bertahan. Mengingat kejadian semalam saja membuat Bulan sadar bahwa dia tidak ada artinya bagi Alvaro. Matipun, lelaki itu tidak memperdulikannya. Mungkin Alvaro akan senang jika Bulan tidak ada didunia ini.
Semalam karena rasa kesalnya terhadap suaminya, Bulan memutuskan naik ojek online untuk mengantarkannya ke apartemen sahabatnya yaitu Tamara. Dia numpang menginap disana karena tidak ingin melihat tampang suaminya yang menyebalkan dirumah.
"Berusaha sekeras apapun Alvaro tidak akan pernah mencintaiku Ma. Dan balas dendam yang mama bicarakan seharusnya mama bisa berdamai dengan itu, ini semua juga demi kebaikan mama." Nasehat Bulan berusaha menyadarkan mamanya.
Laura meneteskan air matanya membasahi pipi. "Bagaimana bisa mama berdamai dengan masa lalu yang menyakitkan Bulan. Tidak ingatkah kamu betapa tidak adilnya Papamu memperlakukan kita, papamu tidak pernah menganggap kita ada Bulan."
Ketika Bulan duduk di kelas 5 SD dia pernah mengikuti lomba menari tradisional tingkat provinsi, dia ingat betul bahwa dia meminta Papanya untuk hadir di acara tersebut untuk melihat penampilannya. Namun sejuta alasan yang disampaikan oleh Papanya tidak bisa hadir di acara penting itu karena pekerjaan.
"Ma kenapa papa nggak dateng?" Tanya Bulan sedih.
Laura mengangkat dagu putri kecilnya. "Meskipun papamu nggak datang ada mama disini yang mendukungmu sayang. Jadi kamu harus semangat narinya ya biar jadi juara." Ujarnya seraya mengelus gemas rambut Bulan. Anak itu tersenyum sumringah kembali. Mamanya selalu ada disampingnya, memberi semangat untuk Bulan dan dia tidak ingin mengecewakan Laura.
Namun ketika adiknya Bintang yang mengikuti kompetisi menggambar, tanpa diminta Papanya rela meninggalkan pekerjaan sepenting apapun demi menghadiri kompetisi Bintang.
Beranjak remaja Bulan sudah bisa mencari uang sendiri. Dimasa SMA dia ikut dalam pemotretan untuk cover majalah. Gaji pertamanya yang tidak seberapa itu dia belikan jam tangan untuk Papanya. Namun apa yang dia dapat malah makian dari Zhafran.
__ADS_1
Zhafran dengan tega membanting jam tangan yang baru saja dibeli oleh Bulan hingga kacanya pecah. "Aku tidak akan sudi memakainya!" Tungkasnya dengan kasar membuat Bulan menunduk takut.
"Kamu fikir Papa akan bangga dengan penghasilanmu dari foto-foto dewasa itu. Papa saja yang melihatnya merasa jijik." Hinanya didepan semua keluarga. Tuntutan pekerjaan memang kadangkala mengharuskan Bulan untuk berpakaian sexy dikala usianya masih belia. Namun pakaian yang dikenakan masih tergolong wajar menurutnya.
"Seharusnya kamu belajar Bulan. Lihatlah adikmu." Zhafran menunjuk Bintang yang tengah berdiri di samping Nadia. "Setiap semester dia selalu menjadi juara kelas, tidak seperti dirimu yang selalu mendapatkan peringkat terbawah. Bintang adalah putri kebanggaanku, tidak sepertimu yang selalu membuat Papa malu."
Mendengar ucapan Papanya membuat perasaan Bulan tertohok, dadanya terasa nyeri. Siapa orang yang tidak merasakan sakit ketika seorang ayah membandingkan dirinya dengan anaknya yang lain? Bulan kala itu hanya bisa terdiam menahan sesak, dari dulu Papanya tidak pernah mendukung apapun yang Bulan lakukan.
Bahkan semenjak kehadiran Mama nadia dan Bintang di kehidupan keluarganya, Papanya tidak pernah sekalipun menghadiri acara ulang tahunnya setiap tahun. Bulan hanya merayakan ulang tahunnya berdua bersama Mamanya saja berbeda dengan adiknya Bintang, pesta ulang tahunnya selalu digelar mewah oleh Zhafran. Jika dibilang iri, iya Bulan memang iri kepada adiknya yang mendapatkan kenyamanan dan kasih sayang seorang ayah. Namun beranjak dewasa, dia semakin mengerti dia tidak bisa memaksa orang untuk menyukainya. Bahkan Mamanya sendiri 'Laura' yang selama ini dianggap tulus mencintainya nyatanya hanya menjadikan dirinya sebagai alat untuk balas dendam.
"Fikirkan ini baik-baik Bulan jika kamu memang kekeuh dengan keputusanmu." Tegas Laura seketika membuyarkan lamunan Bulan. "Apakah kamu rela membiarkan Nadia dan putrinya menang? Mereka pasti akan tertawa bahagia melihatmu menjadi janda dan Bintang akan segera menggantikan posisimu sebagai nyonya Bintang Mahendra seorang istri dari Alvaro Artha Mahendra."
Apa yang harus Bulan lakukan sekarang? Dia sejujurnya tidak ingin membuat Mamanya kecewa namun disisi lain dia tidak ingin menyiksa dirinya dengan mempertahankan pernikahan yang telah lama terasa hambar.
"Mama rasa perbincangan kita cukup sampai disini, mood mama sudah hancur." Laura beranjak berdiri, tanpa pamit kepada putrinya dia berjalan pergi meninggalkan Bulan.
Laura menganggap balas dendam bisa membuat perasaannya lega. Dengan menyatukan hubungan Alvaro dengan putrinya dalam pernikahan akan membuat Bintang terluka. Nyatanya bukan Bintang yang terluka melainkan Bulan yang tambah menderita.
"Mama!" Panggil Bulan seraya ikut beranjak berjalan mengikuti Laura pergi. "Tunggu Bulan Ma." Bulan menghela nafas berat tatkala dia kehilangan jejak kepergian mamanya, dia sampai mengikutinya ke parkiran. Namun kelihatannya mobil Laura sudah keluar karena dari deretan mobil-mobil yang berjejer, mobil mamanya tidak ada. Huffft...
"Tidak kusangka kita bertemu lagi disini." Ujar Farez tersenyum senang. "Bagaimana keadaanmu? Semalam aku sangat cemas memikirkanmu."
"Tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja." Balas Bulan memberitahu, kenapa malah Farez yang mencemaskannya? Padahal suaminya saja sama sekali tidak peduli.
"Farez!" Terdengar suara perempuan memanggil pemuda itu dengan lantang. Wanita itu berjalan mendekat, terlihat dari raut wajahnya dia menahan kesal entah apa pemicunya Bulan tidak tahu. "Farez katakan siapa perempuan ini?!" Tanyanya menatap berang ke arah Bulan.
"Kamu mengikutiku?" Bukannya menjawab Farez malah balik bertanya.
"Iya aku mengikutimu." Jawabnya dengan jujur. "Aku ingin tahu perempuan seperti apa yang kamu kencani hingga kamu memutuskan hubungan kita yang telah kita jalin selama hampir satu tahun ini." Perempuan itu nampak menilai Bulan, dia merasa menciut sebagai seorang perempuan karena dia merasa kalah cantik dari Bulan.
"Jangan menggangguku lagi, sekarang aku telah memiliki kekasih." Farez merangkul Bulan membuat perempuan dihadapannya geram. "Aku tidak mau dia cemburu." Ujarnya seraya menatap Bulan yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Apakah dia kekasihmu?" Tanya perempuan itu sembari menunjuk ke arah Bulan.
Bulan yang tidak ingin terlibat dalam pertengkaran mereka, dia ingin segera menyelesaikan kesalahpahaman ini. "Bu--."
"Iya dia kekasihku." Farez dengan cepat memotong ucapan Bulan. Dia melotot mendengar jawaban Farez yang ngawur. Lihatlah sekarang perempuan itu menatap Bulan dengan tatapan seolah ingin membunuhnya.
"Aku tidak percaya kalau dia pacarmu." Kekeuh perempuan itu masih tidak ingin menyerah.
Farez menarik bahu Bulan untuk menghadapnya dan beberapa detik kemudian dia mendaratkan bibirnya pada bibir Bulan bahkan Farez perlahan ******* bibir manis wanita dihadapannya. Bulan terkejut dengan tindakan tak terduga yang Farez lakukan, dia ingin mendorong tubuh pria itu namun tangannya di tahan oleh Farez.
Tanpa disadari, seorang lelaki tengah mengamati mereka. Tangannya terkepal kuat tatkala melihat Farez dengan berani terang-terangan mencium Bulan. Dia sebenarnya ingin keluar dari mobilnya untuk memberikan bogeman mentah kepada Farez namun dia urungkan.
Bukannya menyudahi ciumannya, Farez malah menekan tengkuk Bulan untuk memperdalam. Farez sengaja melakukan ini untuk membuat mantan pacarnya jera mengejarnya. Namun sejujurnya, Farez menikmati ciuman ini, mungkin karena dia memang tertarik dengan Bulan sejak pertama kali mereka bertemu.
Tidak ingin merasa sakit hati lebih dalam lagi, perempuan yang mengaku mantan pacarnya Farez akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.
Melihat kepergian perempuan itu, Farez menyudahi tautan bibir mereka. Bulan seketika mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. Rasanya dia ingin menampar Elfarez atas tindakan kurang ajarnya tersebut jika tidak mengingat bahwa dia adalah calon suami adiknya. Untung saja parkiran tengah sepi jadi tidak ada orang yang melihatnya, jika ada wartawan yang merekam kejadian ini pasti akan heboh di media sosial.
"Maafkan aku Bulan, aku tidak bermaksut bersikap kurang ajar kepadamu." Mohon Farez sembari menggenggam tangan Bulan.
Bulan hanya terdiam, jujur dia kesal sekali dengan sikap Farez. Meskipun Alvaro sebagai suaminya tidak pernah menghargainya, namun Bulan tidak akan membiarkan lelaki manapun menyentuhnya.
"Aku harus pulang sekarang." Ujar Bulan dengan nada dingin.
"Aku akan mengantarkanmu pulang ke rumah." Farez menarik tangan Bulan begitu saja menggiringnya ke dalam mobil. Bisa dibilang lelaki itu sendikit memaksa Bulan untuk semobil dengan dirinya. Bulan hanya menurut, lagipula dia memang butuh tumpangan untuk pulang.
Alvaro tidak pernah melepas pandangannya dari Farez dan Bulan. Melihat istrinya digiring kedalam mobil Farez dia yakin bahwa Bulan diam-diam berselingkuh di belakangnya. Dan entah kenapa melihat Bulan bersama dengan pria lain membuat dadanya bergemuruh sakit. Semalam istrinya tidak pulang kerumah, apakah jangan-jangan dia menginap bersama dengan Farez? Sial! Kenapa Alavaro dibuat frustasi oleh Bulan. Bahkan ketika dia sampai di tempat meeting bersama rekan bisnisnya dia tidak bisa fokus dengan topik pembahasan yang disampaikan.
Specta cafe yang menjadi lokasi meetingnya merupakan tempat makan yang berada di dalam mall. Alvaro tidak mengira bahwa dia akan memergoki istrinya sedang jalan berdua di mall bersama dengan Farez. Apa yang menyebabkan Bulan mengkhianatinya? Padahal Bulan selalu berkata bahwa hanya Alvaro satu-satunya pria yang dicintainya. Apakah Bulan berselingkuh karena ingin balas dendam kepadanya? Batin Alvaro menerka-nerka. Apalagi mereka sudah berani berciuman, apakah mereka juga melakukan hal lebih jauh daripada ini semalam? Arrghhh, Alvaro bisa gila memikirkannya.
Awas saja kamu Bulan, aku pasti akan memberimu pelajaran! Ancam Alvaro dengan emosi yang memuncak.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk like dan komentar agar aku semangat update❤️