
Giandra berdiri menatap lekat Bulan maupun Laura. “Selamat datang dikediaman Abraham, saya sangat senang karena kalian menyempatkan waktu untuk makan malam bersama kami.” Ujar Giandra menyambut kedua tamunya yang spesial.
“Suatu kehormatan kami diundang untung menghadari jamuan makan malam bersama.” Balas Laura dengan senyum sumringah. Dia menyenggol bahu putrinya, mengedipkan matanya memberi instruksi kepada Bulan, dia bingung tidak mengerti maksut dari mamanya.
“Susst, cepat perkenalkan dirimu.” Bisik Laura menahan kesal karena Bulan hanya berdiam diri, seharusnya putrinya cari muka didepan Giandra agar pria paruh baya itu terkesan. Mendengar ucapan mamanya seketika Bulan memperkenalkan diri dengan sopan.
“Om perkenalkan saya Bulan, saya putri pertama dari keluarga Bramasta.” Ujarnya dengan suara gemetar, jujur Bulan benar-benar merasa canggung saat ini.
Giandra tahu bahwa Zhafran memiliki dua putri tapi dia belum pernah melihat putri pertama dari sahabatnya itu. Rasa penasaran Giandra cukup terobati dengan melihat langsung wanita pilihan dari putranya. “Silahkan duduk.”
Laura menggiring putrinya untuk duduk disamping Elfarez membuat Bulan melotot, namun wanita itu hanya bisa menurut dengan semua perintah Laura. Bulan meremas gaunnya untuk menetralkan rasa gugup yang kini menderanya, entahlah kenapa dia menjadi takut. Mungkin karena dia berhadapan dengan orang tuanya Elfarez, Bulan hanya bisa menghela nafas pasrah. Bulan menyerahkan segalanya kepada mamanya karena memang Lauralah yang berhak mengatur hidupnya bahkan Bulan sendiripun tidak berkenan mempunyai pilihan.
Bulan tersentak kaget tatkala sebuah sentuhan hangat menggenggam pergelangan tangannya. Dia melirik kebawah meja, menatap nanar tangan kekar Elfarez yang kini mengusap lembut jemari tangannya. Pemuda itu tahu bahwa Bulan saat ini merasa gugup, terasa dari tangan wanita itu yang dingin. Farez ingin menanangkan Bulan seolah mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Bulan menoleh, dia memandangi pemuda yang saat ini duduk disampingnya. Farez menyunggingkan senyum kepadanya membuat Bulan tersipu, berulangkali Bulan meminta maaf dalam benaknya karena dia telah memanfaatkan keadaan untuk kepentingan mamanya. Bulan mendekati Farez dan dia berusaha untuk meluluhkan pemuda itu semata-mata karena ingin mewujudkan keinginan mamanya bukan atas dasar cinta. Elfarez adalah pria yang baik, seharusnya dia bisa mendapatkan seorang wanita yang tulus menyayanginya.
“Ayo silahkan dimakan, kami mengundang seorang chef yang biasa memasakkan menu makanan untuk keluarga kami saat ada acara penting. Semoga saja kalian menyukai rasanya.” Ujar Giandra mempersilahkan Laura dan Bulan untuk mencicipi makanan yang telah tersaji diatas meja.
Bulan mengerutkan dahi melihat makanan yang nampak menggoda, perutnya menjadi keroncongan karena lapar. Semua makanan yang terhidang adalah masakan western, seingatnya Farez pernah mengatakan bahwa pemuda itu mempunyai usaha restaurant Prancis. Tidak mengherankan jika mereka menghidangkan makanan barat, mungkin lidah Giandra dan Farez terbiasa menyantapnya. Dulu Farez pernah diajak Bulan makan gado-gado tapi pemuda itu malah terasa asing dengan makanan khas negara sendiri. Mungkin Farez dan Giandra terlalu lama tinggal diluar negeri, jadi mereka lebih menyukai makanan western.
“Baguette, cog au vin, langue de bouef, soupe a loignon, croque monsieur serta desert clafoutis dan creme brulee. Ini adalah hidangan makanan favorit di keluarga kami.” Laura sesak nafas mendengar ucapan Giandra barusan, pasalnya Laura merasa asing dengan makanan dihadapannya. Namun karena dia tidak ingin terlihat norak jadi Laura tetap bersikap elegan dihadapan calon besannya. Laura sebenarnya pernah jalan-jalan keluar negeri, tapi dia sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya di Prancis.
__ADS_1
“Itu citron presse, tidak terdapat kandungan alkohol didalamnya karena murni terbuat dari perasan lemon jadi aman dikonsumsi untuk ibu hamil.” Ujar Giandra seraya menatap Bulan bermaksut memberitahu agar dirinya tidak perlu cemas memakan semua hidangan karena sama sekali tidak mengandung alkohol didalamnya. Sebelumnya pria paruh baya itu telah memberitahu sang koki agar menyajikan makanan yang sehat karena calon menantunya akan datang kerumahnya.
Bulan tersenyum canggung, dia lantas mengambil semangkuk sup loignon gratinee sejenis makanan berkuah dari bawang merah dan kaldu daging sapi yang dihidangkan dengan keju beserta roti. Dia mencicipi makanannya, terasa enak. Bulan menyukainya, apalagi cuaca malam hari ini sangat dingin mampu menghangatkan tubuhnya. Mereka menikmati makanan yang tersaji, begitupun dengan Laura yang mencicipi cog au vin yaitu paha ayam dibalut dengan saus tomat yang nampak menggiurkan.
“Aku dengar putrimu barusaja bercerai dengan suaminya.” Celetuk Giandra tiba-tiba membuat Laura seketika menghentikan suapannya. Bulan ikut melirik ke arah Giandra bergantian dengan melihat ekspresi mamanya yang nampak menegang. Farez pasti telah menceritakan semuanya mengenai Bulan kepada papanya termasuk kisah pilu kegagalan rumah tangganya.
Laura memasang wajah murung, dia mengambil sebuah tissue lalu mengusapnya di pipi seolah matanya mengeluarkan air mata kesedihan. “Iya benar, Bulan telah bercerai dengan suaminya. Malang sekali nasip putriku, dia menjadi korban kekerasan mantan suaminya sendiri hiks…hiks…hiks.” Laura berakting menangis berharap Giandra merasa iba. “Aku adalah seorang ibu, melihat putriku dianiyaya hatiku turut merasakan sakit. Aku membujuk Bulan untuk berpisah saja, lebih baik dia mengakhiri ikatan pernikahannya daripada dia hidup menderita bersama dengan pria kejam itu.”
Giandra mendengarkan dengan seksama cerita dari Laura mengenai putrinya, karena Giandra ingin tahu lebih jauh tentang masalalu calon menantunya. “Bukan hanya itu, Alvaro telah menduakan putriku bahkan dia tidak mengakui anak yang berada dalam kandungan Bulan adalah anaknya. Dia yang selingkuh tapi malah putriku yang difitnah, bukankah ini tidak adil bagi putriku?”
Bulan akui bahwa mamanya memang hebat dalam mendalami peran, dia berbicara seperti itu agar Giandra dan Elfarez merasa bersimpati kepadanya. Padahal masalah rumah tangga antara Bulan dan Alvaro tidak usah diungkit lagi karena Bulan merasa jengah mendengarnya. Baginya kisah ini adalah aib, biarlah berlalu dan Bulan tidak ingin mengingatnya kembali.
"Mirisnya orang ketiga yang telah merusak kehidupan rumah tangga putriku adalah adiknya sendiri hiks...hiks." Lanjut Laura terus mengoceh, dia menangis terisak sembari mengusap pipinya yang sama sekali tidak basah oleh air mata. "Padahal Bulan sangat menyayangi Bintang, tapi wanita itu malah tega menghianati kakaknya sendiri. Bulan memilih mundur demi kebahagiaan Alvaro dan Bintang hiks…hiks.”
“Lantas bagaimana dengan Zhafran? Mengapa dia diam saja mengetahui putrinya berpisah? Aku dengar dia berada diluar negeri saat ini.” Tanya Giandra lagi, dikala putrinya tengah menghadapi sidang perceraian kenapa Zhafran tidak turut mendampingi putrinya? Seolah pria itu tidak peduli dengan Bulan.
Laura mendelik mendengarnya, gawat! Giandra tidak boleh tahu bahwa hubungan antara Bulan dengan Zhafran bermasalah. Dia harus mencari alasan yang tepat untuk menjelaskan semuanya kepada Giandra, putrinya harus mendapatkan kesan yang baik dihadapan pria paruh baya itu.
“Suamiku jelas mengetahui perpisahaan ini, dia bahkan mendukungnya. Zhafran marah kepada Bintang dan juga Alvaro, suamiku sangat kecewa mengetahui perbuatan kejam mereka berdua. Namun putriku selalu ingin mendamaikan keluargannya, dia mengalah karena tidak ingin bersaing dengan adiknya.”
Bulan menatap sendu Laura, kenapa mamanya harus berbohong? Mungkin Laura ingin menutup aib papanya karena Zhafran memang sangat membenci Bulan. Sifat Zhafran berbanding terbalik dengan cerita yang dijelaskan oleh mamanya. Selama perceraiannya dengan Alvaro berlangsung, Laura maupun Bulan tidak memberitahu Zhafran. Lagipula tidak ada gunanya dia mendiskusikan perihal ini kepada papanya karena Zhafran pasti akan lebih mempercayai Alvaro.
__ADS_1
Giandra turut merasakan bagaimana sedihnya Laura melihat rumah tangga putrinya hancur, apalagi orang ketiga yang menjadi dalang keretakan dalam ikatan pernikahan antara Bulan dan Alvaro adalah Bintang yang notabennya adalah adik tirinya Bulan sendiri. Pria paruh baya itu sekilas mengamati Bulan, wanita itu terlihat pendiam tidak banyak bicara. Tatapan polosnya menunjukkan bahwa dia adalah wanita yang baik dan penurut. Semoga saja Giandra tidak salah menganalisis, putranya yaitu Elfarez membutuhkan istri penyabar agar dia bisa menghadapi sifat putranya yang kadang masih bersikap kekanak-kanakan.
“Tidak perlu bersedih Laura, bercerai dari seorang suami yang kasar dan suka bermain dengan wanita lain itu adalah pilihan yang tepat. Putrimu berhak bahagia, masa depannya masih panjang apalagi dia saat ini telah diberkati seorang anak dalam kandungannya.” Ujar Gindra membuat Bulan tercengang mendengarnya. Giandra benar-benar seorang ayah yang bijak, andaikan saja papanya memiliki sifat seperti Giandra pasti Bulan tidak akan pernah bertengkar dengannya.
Laura menyunggingkan senyumnya. “Iya, aku berharap putriku akan mendapatkan pasangan yang tulus mencintainya.” Celetuk Laura sembari melirik Elfarez yang saat ini tengah mendengarkan perbincangan mereka dengan seksama.
“Aku mengundang kalian kesini bukan tanpa alasan, ada topik penting yang harus aku sampaikan kepada kalian.” Ujar Giandra membuat Laura seketika fokus menatap calon besannya, dia penasaran hal penting apa yang akan pria itu utarakan. Begitupun juga Bulan, dia tambah cemas entah mengapa dia merasakan situasi saat ini berubah mencekam.
Giandra nampak menghela nafas, dia mengedarkan pandangan matanya kearah putranya. Dia harus menjelaskan keinginan Elfarez, sebagai orang tua Giandra harus segera meluruskan perihal niat baik putra semata wayangnya.
"Elfarez sangat mencintai Bulan, putraku ingin melamar putrimu." Mata Bulan seketika terbelalak mendengarnya, apa yang barusan Giandra ucapkan membuat Bulan terkejut. Berbeda dengan Laura dia malah terlihat antusias sesuai dengan prediksinya tepat sasaran, secepat inikah Elfarez meminang putrinya. Oh, Astaga! Laura benar-benar senang sekali bagaikan menemukan emas sekarung.
Bulan semakin meremas erat dressnya, seharusnya Giandra tidak mengatakan itu. Giandra tidak mungkin setuju jika putranya akan menikahinya. Dia adalah seorang janda yang bahkan telah mengandung anak dari mantan suaminya. Farez adalah pria terhormat, banyak diluaran sana wanita yang cantik dan pintar ingin menjadi istrinya. Kenapa bukan salah satu dari mereka saja? Bulan khawatir, dia hanya tidak ingin membuat Farez kecewa.
"Sebelumnya mohon maaf, apakah keluarga Abraham bisa menerima keadaan putriku?" Tanya Laura memastikan.
"Itu tidak menjadi masalah untuk kami." Balas tegas Giandra, dia memberikan kebebasan kepada Elfarez untuk memilih calon istrinya sendiri. Bulan terlihat memiliki sifat yang baik, dia merupakan wanita polos berhati lembut. Giandra rasa Bulan bisa menjadi pedamping hidup putranya terlepas dari statusnya saat ini bukanlah seorang gadis lagi tidak menjadi halangan bagi hubungan mereka. Farez menyayangi Bulan, dia hanya menginginkan Bulan untuk menjadi istrinya.
"Kami akan menerima Bulan maupun anak yang berada dalam kandungannya menjadi bagian dari keluarga Abraham. Ketahuilah bahwa putraku mengharapkan Bulan untuk menjadi istrinya, dia tulus menyayangi putrimu apa adanya." Ujar Giandra lagi berusaha meyakinkan Laura. "Aku telah memberikan restu untuk hubungan kalian menuju kepelaminan."
Laura senang mendengar Giandra merestui hubungan antara Bulan dan Elfarez. Rencana Laura sejauh ini masih berjalan mulus, dia tinggal membujuk putrinya agar Bulan mau menjadi seorang istri dari Elfarez Roy Abraham. Jika putrinya yang bodoh ini tetep kekeuh pada pendiriannya maka Laura tidak segan untuk menyeretnya menuju pelaminan.
__ADS_1
Bersambung...