
"Ma aku hamil." Ujar Bulan dengan ekspresi dingin. Tidak ada raut kebahagiaan di wajah Bulan, wanita itu malah terlihat murung dan lesu.
Berbeda dengan putrinya, Laura yang mendengarnya langsung dari mulut Bulan merasa sangat senang. Wajah Laura begitu sumringah, idenya untuk menjebak Alvaro dengan obat perangsang benar-benar manjur. Buktinya sekarang Bulan hamil, dengan adanya keberadaan anak Alvaro yang berada di dalam kandungan putrinya otomatis rencana Bulan untuk bercerai dari Alvaro gagal. Rencana Laura akan tetap berjalan seperti semestinya.
Pantas saja pagi ini dia ingin sekali menemui putrinya, ternyata ini mungkin adalah firasat bahwa dirinya akan mendapatkan kabar baik bahwa sebentar lagi dia akan memiliki cucu. Terbuktikan sekarang, tidak sia-sia dia berdandan untuk datang kerumah menantunya. Tapi ngomong-ngomong Laura tidak melihat batang hidungnya Alvaro kemana dia? Ah, mungkin saja dia pergi bekerja. Menantunya itukan pemimpin perusahaan besar, pasti sekarang lagi sibuk bekerja.
Laura menatap putrinya tajam. "Kamu tidak akan meminta cerai kepada Alvarokan Bulan?" Tanya Laura menyelidik, jika putrinya tetap pada pendiriannya untuk bercerai berarti dia bodoh.
"Aku bingung Ma." Jawab Bulan menghela nafas berat.
Laura rasanya gemas sekali melihat tingkah putrinya yang tidak tegas dalam mengambil keputusan. “Bulan jika kamu tidak peduli dengan dirimu sendiri setidaknya kamu memikirkan anakmu.”
Bulan menggeleng, jika terus-terusan seperti ini Bulan bisa gila. “Aku akan tetap memilih cerai setelah bayi ini lahir dan meneruskan karirku sebagai model.” Putus Bulan menatap sendu Mamanya.
Alvaro memang pernah mengancam dirinya jika Bulan kekeuh meminta cerai maka Alvaro akan berusaha keras untuk mendapatkan hak asuh anaknya dan pria itu tidak akan mengizinkan Bulan bertemu dengan anaknya lagi. Jika sampai hal itu terjadi maka Bulan akan berlapang dada meninggalkan anaknya bersama dengan Alvaro. Bulan yakin Alvaro akan merawat anaknya dengan baik bersama Bintang.
Laura merasa jengah, bagaimana lagi dia harus meyakinkan putrinya untuk tetap bertahan disisi Alvaro. Dia tidak mau anak wanita sialan itu menggantikan posisi putrinya sebagai seorang istri dari Alvaro Artha Mahendra. Laura menggenggam tangan putrinya, dia memasang wajah sedih agar Bulan merasa iba. “Bulan Mama mohon tetaplah bersama dengan Alvaro, balaskan dendam Mama. Buatlah hidup Bintang menderita sayang. Hanya kamu harapan Mama, kamu tidak mau lihat mamamu ini sedihkan Bulan?”
Lagi dan lagi Laura memaksakan kehendaknya, kapan mamanya akan sadar. Bulan sudah capek diperalat oleh mamanya, dari kecil hidup Bulan sudah dikekang. Tidak bisakah Bulan merasakan kebebasan dalam hidupnya?
“Aku tidak ingin melihat mama sedih, aku sangat sayang sama mama. Tapi, mama apa tega melihat putri mama sendiri menderita bertahan hidup bersama Alvaro yang jelas-jelas menikahiku hanya untuk menyiksaku.” Bulan heran dengan pemikiran mamanya, mengapa Laura egois? Dia hanya memikirkan balas dendamnya saja, tidak pernah mencari tahu bagaimana perasaan Bulan saat ini. Tanpa terasa Bulan meneteskan air matanya, dia bingung dan merasa tertekan karena tidak ada satu orangpun yang mendukungnya ataupun sekedar memberikan solusi.
Laura menatap lekat wajah sayu putrinya, tersirat raut kesedihan yang nampak jelas di raut wajahnya. Jemari tangannya terulur mengusap air mata yang membasahi pipi putrinya, wanita paruh baya itu memeluk Bulan sembari mengelus lembut surai rambut panjang putri kesayangannya. “Untuk sementara ini, tolong bertahanlah sebentar Bulan sampai anakmu lahir.” Bisik Laura pelan didekat telinga putrinya. “Jika memang tidak ada perubahan dalam rumah tanggamu, kamu bebas untuk memilih pisah.” Saran Laura dibalas anggukan patuh oleh Bulan. Sebagai seorang anak, Bulan menyadari bahwa dirinya belum bisa membanggakan mamanya.
Tring…tring…tring
Suara ponsel Laura berdering, wanita paruh baya itu melepaskan pelukannya. Dia merogoh ponsel dari dalam tas selempangnya mengangkat panggilan dari suaminya.
__ADS_1
"Hallo!" Ujar Laura sembari menempelkan benda pipih canggih itu ditelingannya. "Iya baiklah kita akan segera kesana."
Bulan mengernyitkan dahinya bingung menatap Mamanya tengah berbicara dengan seseorang dari sebrang telefon. Terlihat Laura mematikan sambungan telefonnya sepihak, dia beralih memandang putrinya. "Papa menyuruh kita untuk datang menemuinya." Ujar Laura memberitahu Bulan.
"Kenapa?" Cicit Bulan penasaran, entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak.
Laura menggedikkan bahunya. "Entahlah mama tidak tahu. Katanya ada hal penting yang harus kita sekeluarga bicarakan."
Bulan mengangguk. "Baiklah kalau begitu Ma." Dia mengambil tasnya, lalu bergegas pergi bersama dengan Laura mengendarai mobil milik wanita paruh baya itu.
...****************...
Tidak berselang lama mobil mereka sampai di pelataran rumah, Laura dan Bulan turun dari mobil lalu segera masuk ke dalam rumah menemui Zhafran. Betapa terkejutnya Bulan tatkala dia melihat Alvaro menjulang berdiri disamping Bintang. Kenapa Alvaro ada disini? Batinya heran, pandangan mata Bulan mengedar pada ruang tamu yang saat ini keluarga mereka berkumpul termasuk mama Nadia yang tengah duduk di sofa bersama dengan papanya yaitu ‘Zhafran’
“Ada apa ini pa?” Tanya Laura dengan dahi berkerut heran. “Kenapa kamu menyuruh kami untuk berkumpul disini, ada hal penting apa yang ingin kamu sampaikan?” Sama halnya dengan Laura, Bulanpun juga penasaran. Jika keluarga dikumpulkan seperti ini pasti ada sesuatu persoalan yang penting.
“A-apa ma-maksut papa?” Ujarnya dengan terbata-bata, jujur saja Bulan merasa takut. Dari raut wajah Zhafran terlihat pria paruh baya itu menahan emosi menghadapinya.
“Tidak ada gunanya kamu berpura-pura lagi, kami semua sudah tahu rencana busukmu selama ini Bulan.”
Deg
Bulan termangu di tempat, dia melirik Laura yang masih setia berdiri disampingnya. Laura nampak mengepalkan salah satu tangannya. Gawat, jika Zhafran sampai tahu rencana licik yang selama ini aku susun untuk menghancurkan Bintang bisa jadi bencana untuknya. Batin Laura merasa cemas jika rahasianya selama ini terbongkar.
“Tega-teganya kamu membohongi Papa mengenai kehamilanmu.” Ujar Zhafran kecewa dengan putri sulungnya itu. “Kamu bilang sama Papa bahwa kamu telah hamil, oleh karena itu Papa menyetujui pernikahanmu bersama dengan Alvaro agar mendapatkan pertanggung jawaban. Namun rupanya kamu berbohong, sebelum menikah bahkan Alvaro tidak pernah menyentuhmu.” Bulan hanya mampu menatap nyalang Papanya, dia tidak pernah mempunyai ide licik seperti itu. Mamanya yang menyuruh, namun bagaimana lagi Bulan tidak akan tega berbalik menyalahkan mamanya.
“Sebelum menikah denganmu rupanya Alvaro telah menjalin hubungan dengan Bintang, namun kamu dengan tega menghancurkan hubungan mereka. Bodohnya aku percaya dengan ucapan manismu yang mengatakan bahwa Alvaro sangat mencintaimu dan bahkan menfitnah Alvaro telah menodai kesucianmu agar kamu bisa terikat benang pernikahan dengannya.” Zhafran geleng-geleng kepala dengan sikap manipulatif putrinya.
__ADS_1
“Alvaro dan adikmu saling mencintai, tapi kamu malah merebut Alvaro dengan paksa dari sisi Bintang. Apa salahnya Bintang hah? Selama ini dia selalu baik kepadamu, menganggapmu sebagai kakaknya. Namun kenapa kamu tega berbuat jahat kepadanya? Andai sedari awal papa tahu jika gadis yang dicintai Alvaro adalah adikmu sendiri, maka papa tidak akan pernah merestui pernikahanmu dengan Alvaro.”
Mengetahui bahwa putrinya tengah dipojokkan, Laura melangkah maju mendekati suaminya. “Mas, aku tahu kamu marah karena Bulan telah berbohong. Ta-tapi sekarang Bulan telah hamil beneran, Bulan hamil anaknya Alvaro mas.” Bela Laura, berharap emosi Zhafran mereda. Zhafran tersenyum meremehkan, sudah tidak ada kepercayaan lagi dirinya kepada putri sulungnya itu.
Bintang terkejut mendengar ucapan Mama Laura barusan. Apa? Kakaknya hamil? Jujur Bintang tidak bisa menerima ini. Jika kak Bulan hamil apakah kak Alvaro akan tetap menceraikan Bulan? Lagipula bagaimana bisa dia hamil? Apakah mereka telah melakukan hubungan badan? Tidak-tidak, jikapun iya pasti kak Bulan telah menjebak kak Alvaro. Dia tidak mungkin bernafsu dengan kak Bulan, jelas-jelas dihati pemuda itu hanya dirinyalah seorang. Batin Bintang menahan kesal.
Situasi didalam ruangan besar itu nampak tegang, Bintang sengaja semakin memanaskan suasana. Jemari lentiknya mengusap perut ratanya dengan lembut. “Papa mama, aku juga hamil anaknya kak Al. Bukankah seharusnya kak Al harus bertanggung jawab.” Zhafran terlihat santai menanggapi kehamilan dari Bintang karena Alvaro telah memberitahunya termasuk membongkar kebusukan Bulan yang memang membenci adiknya selama ini.
Ada rasa kecewa ketika mengetahui bahwa putri bungsunya hamil diluar nikah, Zhafran hampir saja emosi ingin memukul Alvaro karena berani menyentuh Bintang. Namun melihat bagaimana Bintang membela Alvaro habis-habisan membuat Zhafran sadar bahwa mereka berdua memang saling mencintai. Dalam permasalahan ini yang patut untuk disalahkan adalah Bulan yang sedari awal membohongi keluarga.
Nadia terlihat murung, dia adalah seorang ibu bagaimanapun kondisi Bintang dia pasti akan mendukung putrinya, namun dia juga merasa kasian dengan Bulan. Wanita itu pasti terluka mendapatkan kabar kehamilan Bintang, dimana suaminya adalah ayah dari anak yang dikandung Bintang. Sedangkan Laura hanya bisa menatap sengit kearah Bintang. Rupanya Alvaro belum jera, dia masih bermain api di belakang Bulan. Laura mengumpat dari dalam hatinya, betapa bodohnya Bulan yang tidak becus menjaga suaminya sendiri sehingga bisa kebobolan seperti ini.
Bintang menundukkan kepalanya, dia menangis terisak. "Hiks...hiks, Papa Mama maafkan Bintang ya?" Ujarnya merasa bersalah atas perbuatannya.
Zhafran mendekati putri kesayangannya, dia mengelus surai rambut putri bungsunya. "Sayang jangan bersedih, kamu tidak bersalah. Ini semua terjadi karena ulah Bulan, sudah seharusnya dia meminta maaf kepada kita semua."
Mendengar penuturan Papanya barusan membuat hati Bulan berdenyut nyeri. Sedari tadi dia diam namun lama-kelamaan Bulan merasa gerah karena terus saja disalahkan. Bulan tersenyum sinis sembari menatap tajam Papanya yang menurutnya tidak adil dalam memperlakukan anak-anaknya.
"Jika dulu budak memiliki kasta terendah, tentunya saat ini wanita penggoda suami orang sepertimu lebih pantas menggantikan posisi itu." Ujar Bulan menatap tajam kearah adiknya yang kini berbalas memandangnya dengan dahi mengkerut. " Ah tidak-tidak." Bulan menggelengkan kepalanya. "Sebutan budak masih terlalu bagus untukmu Bintang, bagiku kamu tidak lebih dari seonggok kotoran menjijikkan."
"BULANN!" Bentak Zhafran emosi mendengar hinaan dari putri sulungnya.
"Kenapa? Papa marah?" Remeh Bulan malah menantang. "Aku akui aku memang salah karena telah berbohong. Namun apakah dibenarkan adanya perselingkuhan didalam rumah tangga?" Tanya Bulan beralih menatap tajam kearah papanya yang sedari tadi terus membela putri bungsunya. "Terlepas dari kesalahan yang pernah aku perbuat, ketahuilah Pa bahwa saat ini Alvaro adalah suamiku. Dan putri kesayangan papa tahu betul akan status dari Alvaro. Jika Bintang adalah orang yang baik seperti ucapan papa, seharusnya dia tidak akan pernah mau menjadi wanita simpanan suamiku tapi kenyataannya dia telah merendahkan harga dirinya atas nama cinta."
Bulan sudah tidak peduli lagi jika Papanya memarahinya. Sekarang yang Bulan butuhkan hanyalah mengungkapkan isi hatinya selama ini.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar agar aku semangat update❤️