Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 9 : Masalah Baru


__ADS_3

Tamara mulai memberi bedak pada kulit wajah Bulan dengan merata. "Aku lihat pipimu yang memar sudah hilang." Ujar Tamara tiba-tiba membuat Bulan mengerutkan keningnya. "Aku masih tidak bisa percaya dengan alasanmu, aku bahkan curiga kamu mengalami kdrt oleh suamimu."


Bulan menegang mendengar ucapan sahabatnya. "Su-sudah aku jelaskan kemarin kepadamu, memar ini muncul karena aku terjatuh dari kamar mandi. Sudahlah jangan dipusingkan." Bulan sengaja berbohong, dia tidak ingin sahabatnya mengetahui masalah rumah tangganya. Kenyataannya tamparan dari suaminya yang membuat pipi mulus Bulan membiru.


"Lagipula ini bukanlah masalah besar, aku bisa menutupi memarnya dengan foundation." Kilahnya kemudian dengan gugup.


Tamara menyapukan blush on dipipi kiri Bulan. "Kamu tahu, wajahmu terlalu cantik untuk mendapatkan luka seperti itu. Sangatlah disayangkan." Tamara nampak menghela nafasnya.


Mendengar penuturan sahabatnya, Bulan hanya bisa tersenyum tipis. Bukan luka ini yang mengiris hatinya, tamparan saja tidak akan membuatnya sakit. Justru hinaan yang terlontar dari mulut Alvarolah yang selalu membuatnya teriris.


Tamara yang menyadari bahwa saat ini Bulan terlihat murung segera berusaha mencairkan suasana, dia tahu bahwa ada sesuatu yang Bulan sembunyikan darinya. Namun dia tidak ingin memaksa sahabatnya untuk terus terang. "Hahaha, aku ini bicara apa sih." Tamara menepuk jidatnya sendiri. "Suamimu pasti pria yang lembut dan sangat menyayangimu, tidak mungkin dia berlaku buruk iya kan? Jangan hiraukan perkataan ngawurku tadi, aku hanya bercanda hahaha."


Lagi-lagi Bulan hanya tersenyum menanggapi sahabatnya, lebih tepatnya tersenyum kecut. Sayang apanya? Alvaro sangatlah membenci dirinya sampai ke ubun-ubun. Mungkin jika negara ini tidak ada hukum, suaminya pasti sudah melenyapkan dirinya sebelum pernikahan berlangsung agar dia bisa bebas bersama pujaan hatinya 'Bintang'.


Bulan menggelengkan kepalanya, mengenyahkan segala fikiran negatif. "Tolong ambilkan pakaianku." Perintah Bulan kemudian, segera Tamara menyiapkan kebutuhan sahabatnya.


Long dress putih tanpa lengan dengan belahan sampai di atas paha memperlihatkan kaki mulusnya. Bulan nampak cantik seperti boneka porselen, tidak heran jika karirnya meroket dengan banyaknya tawaran job untuk ajang promosi di berbagi brand seperti pakaian, tas, sepatu, produk kecantikan dan lain-lain. Wajahnya yang ayu, body langsing, dan pintar berpose didepan kamera merupakan kelebihan wanita cantik itu.


Setiap barang yang di promosikan olehnya, pasti akan diserbu banyak orang untuk membelinya. Oleh karena itu setiap harinya tampang Bulan pasti selalu wara-wari di dunia periklanan televisi. Kali ini dia akan photoshoot untuk mempromosikan pakaian yang dirancang seorang desainer yang memiliki brand cukup terkenal.


1...2...3 cekrek.


"Ganti gaya." Instruksi Roni memerintah, Bulanpun menurut. "Bagus, angkat dagumu sedikit ke atas."


Cekrek.


"Sekali lagi, pertahankan posisimu." Perintahnya lagi.


Cekrek.


"Tanganmu posisikan dipinggang, ya benar begitu."


Cekrek

__ADS_1


"Sudah, selesai. Untuk hari ini cukup sampai disini!"


Bulan bernafas lega, bayangkan sudah 8 jam dia melakukan sesi pemotretan. Dia berjalan mendekati Roni untuk melihat hasil potonya yang terakhir di layar kamera. "Perfect..." Ujar Roni memuji.


"Seperti biasanya, aku melakukannya dengan baik." Roni tersenyum mendengar penuturan Bulan, dia juga merasa puas dengan hasil pekerjaannya hari ini.


"Bulan" panggil Tamara, seketika Bulan menoleh menatap perempuan itu.


"Ada apa?" Tanyanya.


"Ada seorang pria tampan yang ingin menemuimu, apakah dia selingkuhanmu? Dia menunggumu dari tadi." Ujar Tamara sembari menyenggol bahu Bulan berniat menggodanya.


"Ngomong apaan sih kamu, aku itu cinta mati sama Alvaro. Lagian siapa sih yang nyariin aku?" Tanya Bulan penasaran.


"Nggak tau Bul." Tamara nampak menggedikkan bahunya. "Kalau kamu nggak minat sama cowok itu, mending buat aku aja." Ujarnya dengan cekikikan khasnya tanpa malu.


"Ck, ada-ada aja." Bulan menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya yang gila. "Ya sudah aku akan menemuinya."


Bulan berjalan keluar ruangan, dia penasaran siapa lelaki yang ingin menemuinya. Pria gagah bersetelan jas kantor nampak duduk di kursi tunggu, Bulan hanya bisa melihatnya dari belakang. Namun dari punggung tegapnya dia bisa menebak siapa lelaki itu.


Merasa bahwa perempuan yang dia tunggu datang, pria gagah itu seketika berdiri lalu menoleh kebelakang. Daren Emilio Geraldo, rupanya tebakan Bulan benar. Meskipun lama tidak bertatap muka, namun Bulan tidak lupa dengan wajah familiar Daren.


Dia tersenyum sembari melepas kacamata hitamnya. "Hai sayang, apakabar?" Sapanya. Mendengarnya saja membuat Bulan muak.


"Apa urusanmu datang kesini?" Bukannya menjawab, Bulan malah balik bertanya.


"Kamu terlihat bahagia setelah menikah dengan Alvaro." Daren melangkah mendekati Bulan, tangannya mulai berani menyentuh rambut panjangnya. "Kamu semakin cantik dan menggoda." Ujarnya dengan tatapan mesum membuat Bulan risih.


Tiga tahun Daren tinggal di Amerika, mantan pacarnya semasa SMA dulu telah banyak berubah rupanya. Jangan tanya bagaimana mereka dulu bisa pacaran, ceritanya sungguh rumit. Diluar akal kewarasan manusia. Dulu semasa SMA mereka berpacaran bukan atas dasar suka sama suka melainkan untuk saling memanfaatkan. Bulan yang ingin memanfaatkan Daren untuk membuat Alvaro cemburu sedangkan Daren berpacaran dengan Bulan agar bisa lebih dekat dengan Bintang.


Bulan mundur, dia menampik kasar tangan lelaki itu. "Sebenarnya apa maumu?"


"Santai saja sayang, sudah lama kita tidak bertemu. Apakah kamu tidak merindukanku?" Tanya Daren dengan senyum mengerikan.

__ADS_1


"Jangan mimpi! Aku sama sekali tidak peduli." Bulan berbalik, dia ingin pergi meninggalkan Daren karena merasa pembicaraan kali ini sama sekali tidak penting jika diteruskan malah membuat Bulan semakin emosi.


"Apakah dia masih berhubungan dengan Bintang?" Tanya Daren tiba-tiba membuat Bulan berhenti melangkah dengan raut wajah bingung, kenapa Daren berkata demikian. "Aku melihat mereka berdua kerap bermalam di apatemen Alvaro." Daren tersenyum sinis, dia bisa melihat bahwa lawan bicaranya menegang kaku. Detik berikutnya Bulan menoleh menatap wajah bengis Daren dengan sorot mata tajam. Apakah Daren sekarang menjadi detektif dadakan? Kenapa dia seperti CCTV berjalan hingga repot-repot mengurusi saudara tirinya. Oh, iya Bulan hampir lupa jika laki-laki di depannya ini tergila-gila dengan Bintang. Menyebalkan!


"Apakah mereka bersenang-senang bersama tanpa mengajakmu?" Ledeknya lagi, kedua tangan bulan sudah terkepal kuat namun dia masih merapatkan mulutnya enggan untuk bicara.


Daren mendekat merapatkan diri untuk lebih dekat dengan Bulan. Mengikis jarak mereka berdua. "Bagaimana kalau kita bekerjasama?" Bulan mengernyitkan dahinya bingung.


"Akan aku pastikan bahwa Alvaro tidak akan pernah meninggalkanmu karena Bintang akan kujadikan milikku selamanya. Aku akan membantumu, jika kamu mau ikut andil dalam rencanaku." Ujar Daren angkuh dengan gaya meyakinkan. Bulan nampak berfikir, ada rasa tergiur. Tujuan Daren dan Bulan sebenarnya sama yaitu ingin memisahkan hubungan Alvaro dan Bintang.


"Bagaimana sayang?" Daren membelai pipi Bulan dengan sensual menunggu jawaban dari perempuan cantik dihadapannya. Bulan mendongak menatap lamat-lamat mata elang Daren. Lelaki itu tersenyum miring melihat gelagat Bulan, gadis itu pasti akan menerima tawarannya.


"Jangan menyentuhku bajingan, cuih." Diluar dugaan Bulan malah meludahi Daren tepat di wajah tampannya. "Aku tidak akan pernah sudi berurusan denganmu, apalagi bekerjasama dengan orang licik sepertimu. Tanpa bantuan mu, aku bisa mengatasi masalahku sendiri." Ujar Bulan dengan angkuh.


Bulan bukan orang bodoh yang mudah percaya begitu saja dengan orang lain. Dia tahu bahwa Daren mempunyai dendam kesumat dengan suaminya. Dia tidak akan terpancing dengan setiap perkataan dari mulut kotornya. Bisa saja Daren hanya memanfaatkan dirinya untuk menghancurkan Alvaro atau bahkan melenyapkannya. Daren merupakan manusia kejam yang rela melakukan apapun demi memuaskan kehendaknya, ambisinya selama ini adalah membuat musuhnya menderita hingga tidak ingin merasakan hidup didunia. Membayangkan Alvaro disiksa saja sudah membuat Bulan begidik ngeri. Bagaimanapun Bulan akan berusaha menjauhkan Alvaro dari orang seperti Daren.


"Jangan pernah ganggu keluarga kami! Jika kamu berani macam-macam atau bahkan menyentuh Alvaro barang sedikitpun maka aku sendiri yang akan menghabisimu!" Ancam Bulan balik sembari menunjuk tepat ke wajah Daren.


Daren mengelap wajahnya yang terkena ludah dengan sapu tangan. Dia menunjukkan smriknya yang menakutkan, berani-beraninya Bulan mengancamnya. Wanita yang menarik! Batin Daren memuji keberaniannya.


"Suatu hari nanti kamu pasti akan menyesalinya." Ujar Daren santai sedangkan Bulan mencelos dengan memalingkan muka. Tidak ingin ambil pusing Darenpun berjalan keluar dari kantor agency meninggalkan Bulan yang masih tertegun.


"Bulan!" Panggil Tamara, perempuan itu menarik tangannya. "Kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya serius ketika mendapati temannya menampilkan wajah yang masam. "Kamu nggak diapa-apainkan sama pria tampan itu?"


Bulan menghela nafas, dia menggeleng pelan. "Nggak kok tenang aja Tam, dia itu temen aku yang baru pulang dari Amerika. Kesini hanya ingin silaturahmi." Bulan berusaha menetralkan amarahnya, dia tidak ingin Tamara curiga mengenai perdebatan tadi.


"Ohh gitu, kirain kamu ada apa-apa sama pria tampan itu. Ya nggak heran sih, meskipun kamu sudah punya suami, masih banyak yang deketin karena kamu cantik. Jadi masih bisa ditikung tipis-tipis." Ujar Tamara ngawur.


"Aku bukan cewek gatel yang senggol sana sini Tam." Bela Bulan.


Tamara cengengesan. "Iya-iya Bul, aku kan bercanda doang. Jangan marah dong." Mood Bulan hari ini benar-benar buruk, apalagi ditambah lelucon dari Tamara yang sama sekali tidak lucu.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk like dan komentar agar aku semangat update cerita ini❤️


__ADS_2