
"Aarrgghh sakit." Perut Bulan rasanya seperti diremas-remas, dia sampai menggigit bibirnya menahan nyeri. Ada apa dengan perutku? Sakit sekali. Batin Bulan bingung, apakah ini merupakan reaksi anaknya yang sedang marah dihina oleh Alvaro.
"Sayang sabar ya, mama mohon jangan siksa mama seperti ini." Gumam Bulan seraya mengelus lembut perutnya, berharap rasa sakitnya mereda tapi kini malah semakin parah.
Alvaro menangkup pipi Bulan dengan kedua tangannya, terlihat jelas dari raut wajahnya bahwa pemuda itu khawatir. "Bulan mana yang sakit?" Tanyanya menatap lekat istrinya.
"Hiks...hiks...hiks, pe-perutku sakit." Bulan menangis, dia sudah tidak kuat menahan nyeri yang menderanya. "Sakit banget Al hiks...hiks." Adunya disela-sela isakannya. Lamat-lamat pandangan matanya mulai mengabur, tubuhnya tiba-tiba melemas hingga dia pingsan tidak sadarkan diri.
"Bulan, bulan!" Alvaro menepuk pipi istrinya perlahan, namun tidak ada respon. "Bulan bangun." Perasaan Alvaro kini menjadi kalut, dia takut terjadi hal yang buruk terhadap Bulan dan anaknya dalam kandungan. Ya tuhan ada apa denganmu Bulan?
Alvaro segera menyalakan mobilnya, dia melajukan kendaraan beroda empat itu dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibu kota. Tujuannya adalah rumah sakit, sesekali dia mengacak rambutnya frustasi menyalahkan dirinya sendiri. Mungkin dia terlalu arogan tadi memarahi Bulan hingga menyebabkan istrinya seperti ini. Dia lupa jika kandungan Bulan lemah, dokter Sinta pernah mengatakan bahwa Bulan tidak boleh stres karena akan mempengaruhi kehamilannya. Bagaimana Bulan tidak stres, dia selalu mendapat tekanan dari Papanya, Mamanya dan bahkan dari suaminya.
Setibanya dirumah sakit Bulan segera mendapatkan penanganan medis. Alvaro mondar mandir didepan pintu ruangan obgyn, dia berharap Bulan baik-baik saja dan janin dalam kandungannya bisa bertahan. Sialan, Alvaro kamu benar-benar bodoh! Istrimu sedang hamil tapi kamu masih bersikap kasar kepada Bulan. Sumpah Alvaro menyesal, dia sering kalap jika berhadapan dengan Bulan karena wanita itu selalu membangkang perintahnya. Namun meskipun begitu Alvaro sangat menyayangi calon anaknya, walaupun dia sangat membenci Bulan.
Pintu ruangan obgyn dibuka, seketika Alvaro mendekati dokter Sinta yang keluar ruangan ingin menemui Alvaro untuk memberitahu keadaan Bulan saat ini.
"Apakah istri dan anakku baik-baik saja?" Tanya Alvaro kepada dokter Sinta.
__ADS_1
Perempuan berjas putih itu nampak menghela nafas. "Janin yang berada dalam kandungan istrimu baik-baik saja Al." Alvaro lega mendengarnya, dia tadi khilaf berbuat kasar kepada Bulan.
"Kram perut yang dialami Bulan disebabkan oleh perubahan hormon yang terjadi di dalam tubuh, ini biasa dialami ibu hamil di masa awal kehamilan. Oleh karena itu ibu hamil cenderung sensitif sehingga emosinya tidak stabil. Ibu hamil akan sering merasa sedih, marah dan cemas secara tiba-tiba."
Alvaro masih mendengarkan penjelasan dari dokter Sinta. "Perlu diketahui bahwa perubahan emosi drastis saat hamil akan berdampak pada janin. Emosi yang tidak terkontrol bisa meningkatkan risiko keguguran. Adapun beberapa gangguan fisik yang dapat ditimbulkan berupa perut terasa kram atau nyeri, mual muntah dan nafsu makan berkurang." Dokter Sinta menatap tajam Alvaro berharap pemuda itu memahami nasehatnya. Dia miris melihat Bulan lagi-lagi dibawa kerumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sinta curiga bahwa Alvaro melakukan tindak kekerasan kepada Bulan melihat pergelangan tangan kanan wanita itu yang memerah seperti bekas cengkraman kuat dari seseorang.
Sinta merasa bahwa Alvaro perlu diberikan penekanan edukasi. Sinta tahu bahwa Alvaro mempunyai watak yang arogan dan keras kepala. Dia bisa menebak bahwa Alvaro dengan istrinya ada permasalahan internal, sehingga dia tega melakukan tindakan kekerasan terhadap Bulan. Terlepas apapun pemicu masalah dalam rumah tangganya tidak seharusnya Alvaro menyiksa istrinya kejam seperti ini.
"Dampak stres berlebihan saat hamil dapat meningkatkan risiko persalinan prematur, menghambat pertumbuhan janin, mempengaruhi tempramen bayi, meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah serta dapat meningkatkan bayi rentan terhadap berbagai penyakit." Lanjut dokter Sinta sengaja membeberkan resiko buruk yang dapat terjadi dimasa depan jika Alvaro membuat mental Bulan terganggu. Alvaro termangu, dia seolah tersadar jika perbuatannya yang sadis kepada Bulan akan berimbas buruk kepada darah dagingnya.
"Iya Sin aku paham." Balas Alvaro merasa bersalah. Alvaro seharusnya bisa menjaga buah hatinya tapi malah dia sendirilah yang menjadi sosok ancaman didalam kehidupan Bulan.
"Apakah aku bisa menemui istriku?" Tanya Alvaro ingin segera melihat kondisi Bulan.
"Kamu boleh menemuinya, nanti sore istrimu sudah diperbolehkan untuk pulang kerumah." Alvaro mengangguk, dia lantas berjalan masuk kedalam ruangan tempat istrinya berada. Dia menutup pintu agar tidak ada orang yang mengganggu. Alvaro melangkah mendekati Bulan yang ternyata sudah sadar, wanita itu tengah duduk bersandar di tiang brankar. Melihat Alvaro berdiri disampingnya, Bulan bersikap acuh. Tetesan air mata tanpa bisa dibendung mengalir membasahi pipinya.
"Bulan." Alvaro menyentuh tangan wanita dihadapannya, namun Bulan terlihat merintih menahan sakit. Alvaro merutuki dirinya sendiri, tatapan matanya jatuh pada pergelangan tangan Bulan yang lecet, pasti rasanya perih.
__ADS_1
Tangan besarnya terulur mengusap lembut cairan bening dipipi istrinya. "Maafkan aku Bulan." Ujar Alvaro menatap lekat wajah pucat Bulan, dia sadar jika sikapnya kepada wanita itu sungguh keterlaluan.
Bulan menoleh, memandang Alvaro bingung. Apakah dia tidak salah dengar? Tumben Alvaro meminta maaf kepadanya. Tapi Bulan tidak akan percaya begitu saja, dia sudah hafal dengan tabiat Alvaro. Pemuda itu mempunyai tempramental yang tinggi, egonya bisa berubah kapan saja.
"Bulan." Alvaro memanggil istrinya sekali lagi karena sedari tadi Bulan tidak merespon. Wanita itu hanya diam membisu enggan untuk menanggapinya. Alvaro tahu bahwa Bulan saat ini merasa kesal kepadanya, sumpah dia tidak bermaksut menyakiti Bulan. Istrinya saja yang bebal selalu membangkang, jika Bulan menjadi wanita penurut seperti dulu pasti Alvaro tidak akan sekasar ini.
"Hiks...hiks...hiks." Bulan malah menangis tergugu, entah kenapa tiba-tiba dia menjadi takut tanpa sebab. Alvaro melihat Bulan terisak seketika memeluk tubuh wanita itu bermaksut menenangkan.
Bulan tahu jika dulu dia telah berbuat jahat kepada Alvaro dengan memaksakan kehendak pemuda itu, dia menyesal menikah dengan Alvaro. Maka dari itu Bulan ingin memperbaiki semuanya, dia akan melepaskan Alvaro memberi kesempatan untuknya hidup bahagia bersama dengan wanita yang dia cintai. Namun kelihatannya Alvaro masih menaruh dendam kepada Bulan hingga pemuda itu selalu bersikap kasar kepadanya, membatasi ruang gerak Bulan seolah dia adalah tawanan.
Bulan bingung, harus bagaimana lagi dia membuktikan kepada Alvaro bahwa dirinya telah berubah. Jika sekarang Alvaro menyuruhnya pergi, maka detik ini juga dia akan menjauh dari kehidupan suaminya. Memang itukan yang Alvaro mau, sedari dulu dia ingin menyingkirkan Bulan.
"Lepaskan, hiks...hiks lepaskan aku." Bulan berusaha mendorong dada bidang suaminya. Dia memberontak tidak ingin jatuh pada perangkap Alvaro lagi. Pemuda itu memang kadang bersikap baik menjadi sosok pria yang hangat seolah dia peduli, namun tanpa diduga Alvaro dalam sekejap dapat berubah beringas tidak berperasaan.
"Lepaskan Al, lepas hiks...hiks." Alvaro semakin erat memeluk Bulan, membiarkan dadanya dipukuli oleh istrinya. Tidak apa-apa bagi Alvaro jika dengan begitu bisa menyalurkan emosinya.
"Suusstt, tenanglah Bulan." Bisik Alvaro sembari mengelus lembut surai rambut Bulan membuat wanita itu perlahan terdiam dalam rengkuhannya. Tubuh Bulan saat ini masih lemah, entah mengapa dia menjadi mengantuk. Lamat-lamat kedua matanya kembali terpejam, dia tertidur dalam pelukan Alvaro.
__ADS_1
Bersambung...
Menurut kalian Alvaro aneh nggak sih? Dia berbuat kasar seperti itu karena memang dendam sama Bulan apa karena mulai cinta sama Bulan ya?