
Tubuh Bulan rasanya terbakar panas jika dia berlama-lama melihat kemesraan Alvaro dan Bintang. Cukup dia mengintip di depan toilet seperti orang bodoh. Lebih baik dia segera kembali sebelum dia malah mendapatkan masalah karena ketahuan mengintip seseorang.
Ketika Bulan berbalik, betapa kagetnya dia mengetahui seorang lelaki berbadan tegap berdiri tepat dibelakangnya. "Astaga!" Umpatnya. Bagaimana dia tidak terkejut jika saat ini Farez rupanya juga ikut kesini.
"Ke-ke-kenapa kamu datang kesini?" Tanya Bulan dengan gugup.
"Apa tidak boleh aku buang air kecil disini?" Tanya Farez balik, iya Bulan tahu bahwa ini adalah toilet. Tapi kenapa dia harus buang air kecil disaat yang tidak tepat seperti ini. Jika Farez masuk ke dalam dan dia melihat Alvaro bermesraan dengan Bintang pasti akan menjadi masalah besar. Sebisa mungkin Bulan harus bisa menyembunyikan ini dari Farez.
"Kenapa kamu terlihat gelisah?" Tanya Farez kemudian.
"Tidak, aku-aku--." Bulan bingung, dia harus mencari alasan yang tepat agar pria dihadapannya ini segara pergi. Dia memegang kepalanya berakting pusing, tubuhnya dia buat lemas tak berdaya.
Bulan limbung, segera dengan sigap Farez menangkap tubuhnya. "Bulan kamu kenapa?" Tanya Farez khawatir karena Bulan tiba-tiba lemas. Dia merutuki dirinya sendiri, apakah aktingnya jelek? Bagaimana dengan wajahnya yang tidak pucat sama sekali, apakah Farez percaya?
"Farez, kayaknya aku sakit. Tolong antar aku kembali ke dalam ya sekarang." Mintanya memohon dengan tampang memelas.
"Iya Bulan, apa perlu aku menggendongmu?" Tanyanya menawarkan diri, sungguh dia hanya ingin membantu.
Bulan meringis mendengar penuturan Farez, tidak perlu sampai segitunya karena dirinya hanya berbohong. "Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri. Tolong antarkan aku ya, aku takut pingsan ditempat." Kilah Bulan berusaha meyakinkan sembari melirik-lirik ke belakang memastikan situasi aman.
"Baiklah ayo Bul." Farez dengan perhatian merangkul pundak Bulan. Dia menatap sekilas wajah Farez yang nampak cemas. Pria ini begitu baik, aku jadi kasian kepadanya. Tidak seharusnya dia menjadi korban dalam perjodohan ini. Batin Bulan merasa sedih. Padahal dirinya sendiri juga tak kalah pedihnya menjadi korban pelampiasan suaminya tapi dia masih sempat-sempatnya mengasihani orang lain.
"Bulan kenapa kamu terlihat murung?" Pertanyaan Farez seketika membuyarkan lamunan Bulan. "Jika kamu tidak kuat berjalan, biarkan aku menggendongmu." Bulan menggelengkan kepalanya tidak ingin merepotkan Elfarez.
Lelaki itu hanya bisa menghembuskan nafas berat. Wanita yang keras kepala! Batinnya seraya tersenyum. Farez menggiring Bulan menuju tempat makan mereka. Zhafran, Nadia termasuk Laura menatap heran dengan kedatangan Farez dan Bulan.
"Maaf om tante, tadi saat aku pamit kebelakang aku berpapasan dengan Bulan. Dia hampir saja pingsan disana, lebih baik dia pulang untuk istirahat."
Mendengar penuturan Farez, Laura seketika mendekati putrinya. "Ya ampun sayang, kamu sakit?" Laura khawatir, dia menempelkan punggung tangannya ke dahi Bulan yang tidak terasa panas sama sekali. Aneh!
Tanpa mereka sadari, Alvaro dan Bintang juga sudah kembali. Mereka berdua berdiri tepat di belakang Farez dan Bulan mendengarkan obrolan mereka. Alvaro mengeratkan rahangnya ketika melihat Farez yang dengan seenaknya masih merangkul istrinya.
"Om izinkan aku untuk mengantarkan Bulan pulang." Celetuk Farez meminta izin kepada Zhafran membuat Bulan melotot.
Alvaro melangkah maju mendekat, dia sengaja sedikit mendorong tubuh Farez agar rangkulannya terlepas. Dia meraih tangan kanan Bulan menggenggamnya dengan posesif. "Tidak perlu repot-repot, aku sendiri yang akan mengantarkan istriku pulang." Tandas Alvaro menekan ucapannya untuk memperjelas bahwa Bulan telah menjadi tanggung jawabnya.
Farez hanya terdiam, dia cukup sadar diri dimana posisinya disini hanyalah tamu. Sedangkan Bulan biasa saja menanggapi suaminya yang bertingkah sok baik didepan keluarganya.
"Papa Mama, Al sama Bulan pulang duluan. Kalian bisa lanjutkan acara makan malam kalian." Pamit Alvaro kepada mertuanya.
"Iya Al, hati-hati dijalan ya. Kalau perlu kamu bawa Bulan ke dokter. Mama takut kalau Bulan sakit parah." Ujar Laura, dia tidak ingin terjadi hal yang buruk dengan putri kesayangannya.
__ADS_1
Alvaro mengangguk patuh, kemudian dia menarik tangan istrinya membawanya keluar dari restaurant menuju parkiran.
"Masuk!" Perintah Alvaro dengan nada dinginnya, tidak ingin membuat suaminya marah lantas Bulan segera menurut.
Alvaro menjalankan mobilnya membelah jalanan ibu kota. Di dalam mobil rasanya begitu hening tidak ada pembicaraan hangat satu sama lain, diperparah dengan kondisi malam ditambah dinginnya AC mobil menambah kesunyian. Bulan lebih memilih menatap deretan bangunan tinggi yang dilewatinya dari balik kaca mobil disampingnya untuk membunuh kebosanan.
"Aku tahu kamu pura-pura sakit." Ujar Alvaro tiba-tiba memecah keheningan, seketika Bulan menoleh menatap suaminya yang tengah fokus menyetir. Bulan menelan ludahnya dengan susah payah, Alvaro selalu saja mengetahui segala alibinya.
Bulan menghela nafas pasrah, tidak ada gunanya dia berbohong di hadapan Alvaro. "Iya." Jawabnya singkat dan cenderung jutek membuat Alvaro menukikkan alisnya tajam.
"Kamu sengaja ingin menggoda calon suami adikmu sendiri dengan pura-pura menjadi wanita tidak berdaya?" Tuduh Alvaro kepada Bulan.
Bulan sudah kebal dihina sebagai wanita murahan oleh suaminya sendiri, dia tidak akan sakit hati. Lagipula seharusnya Alvaro berterimakasih kepadanya karena berkat dirinya kelakuan bejat Alvaro dengan Bintang tidak diketahui oleh Farez.
"Terserah." Lagi-lagi Bulan hanya menjawab dengan singkat tidak memuaskan rasa penasaran Alvaro yang menuntut penjelasan. Jujur Alvaro tidak menyukai sifat cuek istrinya.
Dengan menahan kesal Alvaro masih berusaha menarik perhatian Bulan dengan ucapan-ucapan pedasnya. "Mengenai perjodohan Bintang, aku yakin ini semua adalah rencanamu dan mamamu." Tuduh Alvaro, kali ini Bulan mulai terusik. Dia merasa difitnah oleh suaminya, sudah dia duga bahwa Alvaro akan menyalahkan dirinya atas perjodoan Bintang.
"Dengar ya Al, terserah kamu mau percaya atau tidak. Aku sama sekali tidak tahu mengenai perjodohan ini. Aku juga sama terkejutnya denganmu." Ujar Bulan dengan jujur. Jika memang perjodohan antara Bintang dan Farez adalah bagian dari rencana licik Mamanya, Bulan berani bersumpah bahwa dia tidak ada sangkut pautnya sama sekali.
Alvaro tertawa sinis mendengar penjelasan istrinya. "Stop membohongiku Bulan!" Desis Alvaro tajam, lelaki itu marah terlihat dari tangannya yang meremas kuat setir mobil hingga urat ditangannya nampak menonjol.
Bulan tidak ingin bertengkar dengan Alvaro. Dia lelah mendebatkan sesuatu yang tidak ada titik temunya, dimana pada akhirnya Bulan akan tetap salah dimata suaminya.
Alvaro terdiam sesaat, tanpa mengalihkan pandangannya yang lurus ke depan menatap jalanan. Dia tiba-tiba menghentikan mobilnya di tengah jalan yang sepi. "Turun."
Bulan terkesiap tatkala mendengar ucapan suaminya barusan. Apa dia tidak salah dengar? Bulan tidak bergeming sama sekali.
Alvaro menoleh, menatap istrinya yang nampak ketar-ketir. Dia tahu bahwa saat ini Bulan ketakutan dibalik wajah arogan yang selalu ditampilkannya.
"TURUN!" Bulan terlonjak kaget mendengar bentakan Alvaro, dia tidak habis fikir bahwa suaminya berniat menurunkan dirinya ditengah jalanan yang sepi.
Tidak kalah garang, Bulan menatap suaminya dengan berani. "Jika kamu tidak ikhlas mengantarkanku pulang, seharusnya sedari awal kamu tidak usah menawarkan diri. Lagipula aku bisa pulang sendiri naik ojek." Tukas Bulan emosi, dadanya naik turun menahan sasak didadanya. "Terimakasih telah mengantarkanku sejauh ini, aku sama sekali tidak membutuhkan bantuanmu."
Brakk
Bulan keluar dari mobil setelah melontarkan sindirannya, dia menutup pintu mobil suaminya dengan keras menyalurkan semua luapan emosi. Dengan tega Alvaro menjalankan mobilnya meninggalkan Bulan di tengah jalanan yang sepi sendirian.
Melihat mobil tesla hitam suaminya yang sudah hilang dari balik pandangan, Bulanpun merasa lemas. Tanpa terasa bulir air mata mengalir deras membasahi pipinya.
"SIALAN KAMU ALVAROOO!" Teriaknya dengan menggebu-gebu sembari meremas dadanya untuk menenangkan diri.
__ADS_1
Alvaro memang sudah gila! Dia tidak peduli dengan nyawa istrinya. Bagaimana kalau di tempat ini ada begal sudah pasti Bulan akan langsung mati dihabisi oleh mereka.
Bulan mengambil smartphonenya dari tas, dia mengorder ojek online untuk menjemputnya. Di situasi seperti ini Bulan hanya bisa menangis sambil berdoa agar dia selamat malam ini.
...****************...
Alvaro terbangun dari tidurnya, dia meraba nakas mengambil benda pipih canggih miliknya. Menatap layar di ponselnya menunjukkan pukul 09.05 pagi. Hari ini jadwal kerjanya longgar tidak terlalu padat, oleh karena itu dia sengaja bangun kesiangan.
Alvaro beranjak melangkahkan kakinya keluar kamar menuju dapur untuk mengambil segelas air minum karena haus. Namun langkahnya terhenti tatkala dia melewati kamar tamu, kamar yang saat ini sudah beralih kepemilikan menjadi kamar istrinya. Dia berhenti sejenak mengingat bahwa tadi malam dia meninggalkan Bulan ditengah jalan, apakah dia sudah berhasil sampai dirumah? Batin Alvaro penasaran.
Tidak bisa dibohongi bahwa ada sedikit rasa cemas dalam benak Alvaro. Secara naluri tangannya tergerak untuk membuka pintu kamar Bulan untuk memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja didalam. Namun ketika kamar Bulan terbuka, didalam kosong. Bulan tidak menampakkan batang hidungnya, bahkan ditoilet kamarnyapun juga tidak ada. Alvaro menyadari bahwa rumahnya sekarang sunyi, tanda bahwa tidak ada kehadiran Bulan semenjak semalam. Fikiran buruk berkecamuk membuat Alvaro tidak tenang.
Alvaro mengeluarkan ponselnya dari saku celana, dia menelfon ke nomer Bulan tapi tidak ada jawaban. Tidak putus asa Alvaro memanggil lagi dan lagi hingga beberapa kali namun tetap tidak ada jawaban. Sial! Kemana perginya wanita itu?" Batin Alvaro frustasi.
Drrtttt....drrttt...drrrttt
Ponsel Alvaro berbunyi, dengan antusias Alvaro melihat layar di ponselnya berharap jika Bulan menelfonnya kembali. Namun perkiraan Alvaro salah karena yang menelfonnya adalah rekan bisnisnya.
"Iya Hallo." Jawab Alvaro dengan malas.
"Al kamu dimana? Apa kamu lupa Al hari ini kita ada meeting di specta cafe. Kami telah menunggumu disini." Ujar seseorang dari balik teleponnya.
Alvaro memijat panggal hidungnya, astaga kenapa dia bisa lupa. "Tunggu aku disana, duapuluh menit lagi aku akan sampai."
Tit...
Alvaro bergegas mandi dan bersiap-siap untuk menemui rekan bisnisnya, setelah acara meetingnya selesai dia berencana akan mencari keberadaan istrinya.
Dilain tempat seorang wanita tengah menunggu di depan ruang ganti. Beberapa kali wanita itu menghela nafas karena telah lama berdiri namun orang yang ditunggunya tidak keluar juga. Beberapa menit kemudian wanita paruh baya keluar dari ruang ganti menenteng banyak pakaian.
"Aku rasa semua baju-baju ini tidak cocok untuk mama. Bulan lebih baik kita cari toko yang lainnya saja." Ujarnya memberitahu.
"Ma kita sudah mengunjungi setiap toko di mall ini, dan tidak ada satupun baju yang cocok menurut mama." Keluh Bulan, dia sudah capek mengantarkan mamanya berbelanja. Padahal banyak baju yang bagus-bagus disini, tapi mamanya bilang jelek. Sebenarnya baju seperti apa yang Laura inginkan?
"Mama bingung besok arisan mama harus pakai dress apa? Kalau tidak pakai baju baru dan mewah pasti mama akan malu didepan teman-teman mama." Curhatnya membuat Bulan mengerling malas dengan sikap sosialita Mamanya. "Bantu Mama memilih baju yang pas untuk mama ya?" Laura memohon kepada putrinya.
"Iya Ma." Bulan yang tidak tega, dia langsung menganggukkan kepalanya. "Bagaimana kalau kita ke butik temanku saja ma, siapa tahu ada baju yang cocok." Tawarnya yang langsung disetujui oleh Laura.
"Tapi sebelumnya, aku ingin menyampaikan sesuatu kepada Mama. Bisakah kita duduk dan membicarakan ini?" Tanya Bulan membuat Laura mengernyitkan dahinya penasaran.
"Baiklah."
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like dan komentar agar aku semangat update❤️