
Bulan mengerjabkan kedua matanya, lamat-lamat dia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dia mencoba bangkit dari tidurnya. “Arrggh.” Bulan merintih merasakan nyeri dan pegal dikedua kakinya.
Bulan mengingat kejadian semalam menimpa dirinya, dimana Alvaro menggaulinya dengan paksa. Dia menoleh kesamping ranjang, wanita itu menghela nafas menatap nanar ranjang kosong disebelahnya. Setelah memuaskan hasratnya Alvaro meninggalkannya begitu saja. Bulan tertawa miris, apa yang Bulan harapkan dari pemuda egois seperti suaminya? Dia dimata Alvaro hanyalah objek penghangat ranjangnya saja.
Tubuh Bulan terasa lengket, dia mengambil cermin kecil dari laci yang berada tidak jauh dari kasurnya menatap pantulan tubuhnya dicermin penuh dengan tanda kemerahan disekujur tubuh telanjangnya. Dia kembali meneteskan air mata, mati-matian Bulan mencoba menahan emosinya. Sungguh dia merasa sangat kacau saat ini, sampai kapan Bulan hidup dalam belenggu Alvaro? Bulan ingin kebebasan seperti layaknya wanita normal lainnya.
Perlahan Bulan beranjak dari tempat tidurnya, dia berjalan tertatih menuju kamar mandi. Bulan menyalakan shower hingga air dingin membasahi tubuhnya, dia mengambil sabun cair. Dengan kasar dia menggosok kulitnya berharap bekas-bekas cumbuan Alvaro hilang dari tubuhnya.
Disisi lain Alvaro duduk disofa ruang tamu sembari memeriksa laporan yang dikirimkan sekretarisnya lewat email. Hari ini seharusnya dia bekerja ke kantor namun Alvaro memilih izin karena dia tidak ingin meninggalkan Bulan sendirian dirumah. Entah mengapa dia enggan jauh-jauh dari wanita itu, dia juga heran seolah seperti ada magnet yang menariknya untuk berada di dekat Bulan. Wanita itu terlalu memikat untuknya, pantas saja Farez tergila-gila dengan Bulan.
Alvaro menatap jam dinding rumahnya, jarum menunjukkan pukul 08.00 pagi. Fikirannya berkelana pada istri keduanya yang belum pulang. Apakah Bintang belum menyelesaikan tugas kuliahnya? Batin Alvaro bertanya dalam hatinya. Tidak ingin menerka-nerka, Alvaro mengambil ponselnya. Dia menelfon Bintang karena perasaan cemas kini hinggap didalam benaknya.
Tring...tring...tring
Tidur Daren terusik dengan suara ponsel berdering, dia terpaksa membuka matanya meraba-raba sisi nakas. Setelah menemukan barang yang dicarinya matanya mengernyit menatap nama si penelefon rupanya adalah suami dari Bintang. Pemuda itu melihat Bintang tengah tertidur pulas dengan kepala wanita itu bertumpu pada dada bidangnya. Daren mengelus lembut surai rambut Bintang dengan sayang agar Bintang merasa nyaman. Dia tidak ingin Bintang terganggu dengan deringan telefon dari Alvaro, lantas Daren secara sepihak sengaja mematikan panggilannya.
Daren membuka whatsapp di ponsel Bintang, dia mengetikkan pesan kepada Alvaro agar tidak mengganggunya lagi. Ayolah, Daren masih ingin menghabiskan waktu berdua dengan Bintang. Alvaro saja mendapatkan waktu 3 bulan untuk liburan bersama Bintang, dia juga ingin mendapatkan jatah yang sama.
Bintang
Kak Al maaf, aku mendadak harus ke Surabaya bersama dengan temanku untuk penelitian.
^^^Kak Alvaro^^^
__ADS_1
^^^Kenapa mendadak Bi? Apakah kamu sudah berangkat kesana? Kamu tidak pulang dulu kerumah?^^^
Daren berdecih sinis membaca pesan dari Alvaro yang banyak bertanya, dia nampak khawatir dengan Bintang membuat Daren tambah muak membaca pesan dari Alvaro.
Bintang
Iya aku dalam perjalanan kesana, aku minta izin untuk tinggal di Surabaya selama seminggu ya kak?
^^^Kak Alvaro^^^
^^^Baiklah Bi, tapi ingat jaga dirimu baik-baik ya. Semoga tugasmu cepat selesai dan kamu bisa pulang kerumah.^^^
Alvaro mengela nafas kasar, dia meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Ada yang aneh dengan Bintang, tidak biasanya wanita itu bertingkah seperti ini. Seharusnya jika dia ingin pergi keluar kota, sedari awal dia akan berunding dulu kepadanya bukan malah pergi mendadak tanpa pamit seperti ini. Alvaro memijat pelipis kepalanya yang terasa pening memikirkan istrinya. Dia sudah tidak bisa fokus lagi menatap laporan dilayar laptopnya, fikirannya sudah menjalar kemana-mana.
Bulan mengintip dari balik pintu kamarnya, dia ingin memastikan bahwa suaminya tidak berada dirumah. Dia baru selesai mandi dan bersiap-siap untuk pergi. Rumah nampak sepi, perlahan Bulan memberanikan diri untuk keluar dari kamarnya. Dia mengeratkan tangannya pada tas selempangnya, Bulan memutuskan untuk menemui Farez hari ini. Kasian Farez menunggunya, kemarin pemuda itu mengiriminya pesan ingin mengajaknya jalan-jalan. Ponsel Bulan sudah rusak karena semalam dibanting hingga hancur olrh Alvaro, jadi dia tidak bisa lagi mengirimi Elfarez kabar.
"Mau kemana kamu?!" Tanyanya seraya beranjak berdiri membuat Bulan bingung harus menjawab apa. Gawat, Bulan mengira bahwa Alvaro sudah berangkat bekerja tapi rupanya pemuda itu masih ada dirumah.
Bulan menunduk dia saling menautkan jemari tangannya takut. "A-aku, aku ingin pergi ke supermarket untuk membeli sesuatu.
Alvaro mengernyitkan dahi, Bulan memang seorang pembohong yang handal. Pemuda itu meneliti penampilan istrinya dari kaki hingga kepala, pakaian yang rapi dengan dress selutut serta polesan tipis diwajahnya. Dia tahu bahwa Bulan pasti akan menemui seseorang. Wanita ini dalam keadaan perutnya yang membuncit masih saja ingin tebar pesona dengan laki-laki lain. Dasar tidak tahu diri!
"Kamu ingin menemui Farezkan?" Tanya Alvaro to the point membuat Bulan seketika mendelik. Dengan mudahnya Alvaro bisa menebaknya. Bagaimana ini? Pasti Alvaro akan memarahinya lagi.
__ADS_1
"Ti-tidak i-itu tidak benar." Kilah Bulan, dia masih mencoba untuk membuat Farez percaya.
"Aku bukanlah orang bodoh Bulan! Aku tidak akan mengizinkanmu pergi." Jawab Alvaro mutlak, mau tidak mau Bulan menurut. Mungkin kapan-kapan dia kan menjelaskan situasinya sekarang sehingga tidak bisa menemui Elfarez hari ini.
Dengan berat hati Bulan kembali menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti tatkala tangan besar suaminya menahan pergelangan tangannya. Bulan menoleh menatap bingung Alvaro. “A-ada apa Al?” Cicitnya bertanya.
“Buatkan aku sarapan, aku lapar.” Bulan terkejut mendengarnya, bukankah selama ini dia selalu menolak semua makanan yang dimasak oleh Bulan? Alvaro pernah menghina masakannya sama sekali tidak enak, hingga pemuda itu bahkan membuang makanan yang capek-capek dibuatnya.
Bintang sesaat nampak berfikir. “Kemana Bintang? Apakah dia tidak memasak makanan untukmu pagi ini?” Tanyanya memberanikan diri, dia sedari tadi tidak melihat keberadaan adiknya itu. Apakah Bintang sudah berangkat kekampus?
Alvaro melepaskan pergelangan tangan Bulan. “Bintang pergi ke Surabaya selama seminggu. Kenapa? Apa kamu senang dia pergi?” Alvaro malah bertanya balik kepada Bulan.
“Tidak.” Bulan malah merasa was-was jika Bintang tidak berada dirumah, dia jadi teringat kejadian semalam. Astaga, Bulan benar-benat takut! Semoga saja Bintang cepat pulang kerumah setidaknya dengan begitu Bulan sedikit merasa aman.
“Kamu juga istriku Bulan, tanpa kuperintah seharusnya kamu mempunyai inisiatif untuk melayani kebutuhan suamimu.” Bulan merasa tersentil dengan ucapan suaminya, seolah-olah dia adalah istri yang tidak berguna.
Bulan menghela nafas, dia memang tidak jago memasak namun Bulan akan mencoba untuk membuatkan sarapan untuk Alvaro. Entah bagaimana nanti masakannya, Bulan tidak peduli.
“Aku akan membuatkan sarapan untukmu.” Ujar Bulan dengan percaya diri, dia lantas berjalan menuju dapur diikuti dengan Alvaro.
Pemuda itu duduk dikursi sembari mengamati Bulan, penasaran apakah wanita itu benar-benar bisa memasak. Bulan melirik Alvaro yang sedari tadi terus memandanginya, wanita itu jadi seperti terintimidasi. Bulan memilih mengabaikan Alvaro, dia membuka pintu kulkas untuk melihat bahan-bahan yang tersedia di dalam sana. Matanya mengernyit tatkala dia hanya menemukan tempe, sayur sawi, wortel dan tauge.
Bulan hanya bisa menatap nanar ketiga bahan tersebut. Ya tuhan makanan apa yang harus aku masak? Aku hanya bisa membuat telur dadar dan nasi goreng saja.
__ADS_1
Bersambung...
Selama seminggu Bintang nggak akan balik kerumah, kira-kira selama Bintang pergi Alvaro bakalan apain Bulan? Apakah dia akan berbuat semena-mena sama Bulan.