Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 22 : Keberanian Bulan


__ADS_3

Kedua bocah perempuan nampak sedang bermain bersama di pinggir kolam, mereka asyik mendandani boneka barbie masing-masing sembari berceloteh seolah mengajak benda mati itu berbicara. “Lihatlah bonekaku sangat cantik.” Ujar bocah berumur 7 tahun itu menunjukkan boneka barbie yang dipegangnya.


“Punyaku juga.” Balas bocah berumur 10 tahun menyahut.


“Boneka kak Bulan jelek seperti nenek lampir, kalau punyaku seperti princes.” Dihina oleh adiknya seperti itu Bulan hanya diam saja. Namun tiba-tiba boneka pemberian papanya direbut paksa oleh Bintang, anak kecil itu memutuskan kepala bonekanya lalu mematahkan tangan serta kaki lalu membuangnya asal. “Sudah aku bilang boneka kakak jelek, aku tidak ingin melihatnya!” Bulan hanya bisa melongo mendengar ucapan adiknya. Dia menatap nanar bonekanya yang kini tidak berbentuk padahal Bulan sangat menyukai boneka barbie pemberian papanya.


Bulan ingin marah namun dia tidak tega memarahi Bintang, bocah seumuran Bintang memang kadangkala nakal adalah hal yang wajar. Tatkala Bulan memunguti patahan bonekanya tanpa diduga Bintang malah mendorongnya, reflek Bulan memegang tangan adiknya hingga mereka berdua terjebur kedalam kolam yang dalam.


“Tol, blurrbb.” Bulan berusaha berteriak meminta tolong, dia tidak bisa berenang. Sama halnya dengan Bintang, bocah 7 tahun itu menggapai-gapai tangannya agar tidak tenggelam. “Tolong hah…hah…blurrbb.” Bulan ketakutan, apalagi melihat Bintang yang telah kehabisan nafas dia ingin menyelamatkan adiknya. Papanya berpesan bahwa dia harus menjaga Bintang, meskipun mereka berdua tidak lahir di rahim wanita yang sama tapi mereka tetap saudara.


“Tolong hah…hah.” Bulan sudah tidak bisa lagi bertahan, kakinya terasa kram. Mata Bulan berbinar melihat Papanya dari jauh.


“BINTANG!” Teriak lelaki itu gusar tatkala dirinya tahu kedua putrinya hampir tenggelam di kolam renang. Lelaki itu berlari mendekat kearah kolam renang, dia menjeburkan dirinya berenang untuk menyelamatkan putrinya. Namun harapan Bulan pupus ketika papanya berenang mendekati Bintang, meraih tubuh bocah 7 tahun itu ketepian meninggalkan Bulan yang sesak nafas berusaha untuk memanggil Papanya untuk kembali menyelamatkan dirinya. Suara Bulan tercekat, nafasnya memburu karena dia telah meminum air kolam cukup banyak.


“Papa Bulan disini, kenapa papa tega meninggalkan aku.” Batinnya merasa sedih, seolah dirinya dianggap tidak ada. Lamat-lamat dia bisa melihat Papanya panik memberikan nafas buatan untuk adiknya sedangkan Bulan masih didalam kolam kesusahan untuk tetap bertahan. Pasokan oksigen didalam paru-parunya menipis, tubuh Bulan sudah lemas.


“Papa selamat tinggal.” Ujarnya dari dalam hati sebelum tubuhnya sepenuhnya tenggelam kedasar kolam. Dirinya memang tidak berarti untuk Papanya, seolah Bulan hanyalah hembusan angin yang bisa dirasakan keberadaannya tetapi diabaikan karena wujudnya dianggap tidak ada.


Byurrrr


Laura menarik tangan putrinya, dia membawa tubuh bocah 10 tahun itu beranjak naik kepermukaan. Laura membaringkan tubuh putrinya di atas lantai, dia memberikan RJP berharap putri kesayangannya bangun. Terlihat wajah Laura panik, dia takut jika Bulan pergi meninggalkannya.


"Burrbb, hah...hah uhuk...uhuk." Bulan reflek memuntahkan air dari mulutnya. Laura lega akhirnya Bulan telah sadar. Bocah itu menatap lekat Mamanya yang telah menyelamatkan hidupnya.


"Mama hiks...hiks." Bulan memeluk tubuh Laura yang basah. "Aku takut ma hiks...hiks."


"BULAN!" Tiba-tiba tangannya ditarik kasar oleh seseorang membuat bocah itu mendongak menatap sesosok pria yang menjulang berdiri dihadapannya.

__ADS_1


PLAK


Zhafran menampar wajah Bulan membuat Laura seketika melotot tajam. "Kamu ini apa-apaan sih mas?" Sentak Laura marah karena putrinya ditampar sedemikian kerasnya hingga pipi mulus bocah itu memerah.


"Kamu ingin membunuh adikmu hah?!" Bentak Zhafran dengan emosi yang menggebu-gebu, Bulan hanya bisa menangis ketakutan melihat papanya yang mengamuk kepada dirinya.


"Huaaa hiks...hiks, kak Bulan merusak bonekaku bahkan dia mendorongku kekolam." Ujar Bintang mengadu kepada Papanya.


Bulan menggeleng. "Hiks...hiks, bohong itu tidak benar pa." Belanya sembari memegangi pipi kanannya yang terasa panas dan nyeri. Kenapa Bintang tega menfitnah dirinya? Padahal jelas-jelas bocah itu yang merusak bonekannya dan mendorongnya kekolam namun Bintang malah memutar balikkan fakta.


"Mas kamu ini benar-benar jahat ya, anak kita Bulan hampir saja mati tenggelam dan kamu malah memarahinya. Aku lihat kamu sama sekali tidak punya inisiatif untuk menolong Bulan. Sama halnya dengan Bintang, Bulan itu juga anak kamu mas. Tapi kenapa kamu tidak menyelamatkan dia hah? Untung saja ada aku yang segera menolongnya, kalau tidak sampai mati aku tidak akan pernah memaafkanmu kalau sampai terjadi hal yang buruk dengan putriku." Ujar Laura emosi, dadanya naik turun bergemuruh menahan kesal karena ulah suaminya.


Zhafran mengusap kasar wajahnya, dia benar-benar kalut. Jika terjadi sesuatu yang buruk dengan Bintang maka Nadia akan sedih. Tangan mungil seorang bocah menarik-narik tangan kekarnya, seketika Zhafran menunduk menatap wajah polos bocah berumur 7 tahun itu. "Papa, aku nggak apa-apa jangan cemas." Cicit bocah itu mampu meredam emosi Zhafran. Dia menggendong tubuh Bintang membawa bocah itu masuk kedalam rumah meninggalkan Bulan menangis tergugu dipelukan Laura.


"Hiks..hiks, papa jahat."


Seperti masalah rumah tangganya saat ini, Bintang yang nyatanya selingkuh dengan Alvaro dan bahkan dia sampai mengandung anak dari suaminya malah dibela oleh Zhafran, sedangkan dirinya yang merupakan istri sah dari Alvaro dicaci maki.


Bulan tidak habis fikir dengan pemikiran Papanya. Sebegitu sayangnya dia terhadap Bintang telah membutakan mata hatinya. "Apa Papa dan Mama Nadia tahu betapa jalangnya anak kesayangan kalian itu." Tunjuk Bulan dengan jari telunjuknya mengarah pada adiknya.


"BULAN!" Dada Zhafran bergemuruh, dia tidak suka putri bungsunya dihina oleh Bulan. Kini Nadia menatap lekat Bulan dengan perasaan sedih. Bulan sama sekali tidak menggubris Papanya, dia dengan lantang menyuarakan emosinya. "Bintang apa kamu tidak punya malu hamil diluar nikah dengan pria bersuami? Oh iya, aku lupa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dulu ibumu juga seorang pelakor, merebut papa dari hidup kami." Sekilas Bulan melirik Mama Nadia yang termangu ditempatnya berdiri. Bulan memang sengaja mengejeknya agar tahu diri dimana posisi mereka. Dalam benak Bintang dia sebenarnya marah diolok-olok oleh kakaknya, namun didepan semua orang diruangan tamu ini dia harus tetap tenang agar Papa dan Alvaro menaruh simpati kepadanya.


"Mama Nadia pasti bangga memiliki putri ****** seperti dirimu Bintang, dia--."


"CUKUP BULAN!" Tangan Zhafran terangkat keatas dia siap menampar pipi putri sulungnya yang kurang ajar, namun dengan gesit Bulan menahan tangan ayahnya dengan cengkraman kuat. Jangan pernah meremehkan wanita yang terlihat lemah, karena ketika dia tersulut emosi maka tanpa takut siapapun pasti akan dilawannya. Alvaro dibuat heran dengan keberanian Bulan barusan melawan papanya sendiri yang terkenal mempunyai sifat keras, bahkan wanita itu kuat menangkis tangan Zhafran.


Bulan menghempaskan tangan ayahnya kasar. "Papa ingin menamparku?" Tanya Bulan tersenyum sinis. "Tidak pa, pipiku ini sudah sering mendapatkannya. Untuk kali ini aku tidak ingin mendapatkan hadiah tamparan darimu hanya karena membela pelakor murahan seperti Bintang." Tegasnya lagi memberitahu.

__ADS_1


"Kakak jaga ucapanmu!" Timpal Bintang ikut bicara, dia sudah gerah mendengarkan hinaan Bulan yang terang-terangan ditunjukkan kepadanya. Bintang takut jika Papanya akan terpengaruh dengan ucapan Bulan barusan. Wanita itu menggenggam jemari Zhafran dengan tatapan sendu. "Papa akan merestui pernikahan kamikan Pa?


Pernikahan? Bulan dan Laura dibuat melongo mendengarnya. Bulan sudah menduga lambat laun Alvaro pasti akan menikahi Bintang, namun secepat inikah mereka akan melangsungkan pernikahan? Dianggap apa Bulan selama ini? Mereka berdua bahkan tidak meminta izin darinya selaku istri dari Alvaro.


“Papa akan menyiapkan pernikahan kalian minggu depan.” Ujar Zhafran memberi keputusan tegas, dia tidak ingin putri bungsunya mengandung tanpa suami.


“Mas kamu sudah gila, Alvaro sudah mempunyai istri mas. Kamu tega menikahkan Alvaro dengan Bintang, apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Bulan hah?” Teriak Laura berusaha menyadarkan suaminya. Laura ingin berjalan mendekati Zhafran namun tangannya digenggam oleh Bulan menahannya untuk meredam kemarahan mamanya.


Bulan mendongak menatap lekat papanya dengan mata berkaca-kaca. “Dulu papa berselingkuh dengan mama Nadia hingga mempunyai anak darinya, membuat hati mamaku saat itu hancur. Apa papa pernah menanyakan bagaimana perasaan mamaku?” Bulan menggeleng, dia tersenyum kecut seolah memberitahu bahwa dirinya dan mamanya selama ini tidak baik-baik saja. “Nggak, papa nggak pernah satu kalipun bertanya. Papa nggak peduli karena yang papa fikirkan hanyalah kebahagiaan papa sendiri. Apa papa tahu kalau setiap malam mamaku selalu menangis sembari memelukku ketika papa menghabiskan malam bersama mama Nadia. Papa nggak pernah tahu betapa terlukanya mama ketika papa membagi hati kepada perempuan lain.” Mirisnya apa yang menimpa mamanya juga akan terjadi kepadanya juga.


Dada Bulan terasa sesak, namun dia berusaha untuk membendung air matanya agar tidak luruh. “Papa dan Alvaro itu sama.” Ujarnya memberitahu sembari mengedarkan pandangan kepada semua orang didalam ruangan tamu tersebut. “Sama-sama serakah, tidak pernah puas memiliki satu pendamping hidup.”


Bulan berjalan mendekati suaminya yang sedari tadi hanya diam membisu, dia tahu bahwa Alvaro bukanlah tipe pria yang banyak bicara. Sikapnya yang dingin justru kadangkala membuat siapapun yang berhadapan dengannya akan merasa takut. Tapi kali ini Bulan harus berani, dia tidak ingin terlihat lemah didepan keluarganya apalagi Alvaro.


Wanita itu berdiri tepat dihadapan suaminya, menatap pupil mata Alvaro yang tajam menusuk tanpa gentar sedikitpun.


“Jika kamu ingin menikah lagi, silahkan. Aku tidak akan melarangnya, lagipula siapa diriku yang berani mengatur hidupmu? Sampai detik ini ternyata kamu masih mencintai Bintang, maka aku tidak akan lagi memaksamu bertahan disampingku. Aku menyerah Al." Entah mengapa dada Alvaro terasa sesak tatkala Bulan mengatakan bahwa dia ingin menyerah terhadap pernikahan mereka. Jangan salahkan Bulan, dia memang sudah lelah dengan semua luka yang telah ditorehkan oleh suaminya selama ini.


Bulan beralih berjalan mendekati Bintang yang mulai menegang karena mendapat tatapan sinis dari kakaknya. "Selamat ya Bintang, kamu telah berhasil menghancurkan rumah tanggaku. Mamamu pasti bangga." Ujarnya sarkas sembari melirik Mama Nadia yang berdiri kaku. Bulan tahu saat ini Bintang tengah menahan amarah karena ejekannya. Biarlah! Bulan memang sengaja, lagipula Bintang pantas mendapatkannya.


"Kadang wajah yang terlihat polos belum tentu memiliki hati yang tulus." Lanjut Bulan memberitahu, dia mengeratkan tas selempangnya lalu berjalan pergi keluar dari rumah meninggalkan semua keluarganya yang masih termangu ditempat.


Hari ini Bulan begitu berani melawan keluarganya, Alvaro dibuat takjub dengan keberanian istrinya. Bahkan wanita itu tadi berani menatapnya tajam padahal biasanya Bulan akan ketakutan melihat tampang garangnya. Tatkala melihat kepergian istrinya dengan keadaan kalut entah kenapa hati Alvaro berdenyut nyeri, dia tahu bahwa Bulan pasti kecewa terhadap dirinya. Nanti Alvaro akan mengajak istrinya berbicara agar membuatnya tenang. Meskipun sikap Bulan kadang menyebalkan bagaimanapun dia adalah istrinya, apalagi Bulan tengah mengandung darah dagingnya. Akibat ulah darinya mungkin akan membuat Bulan stres, dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada anaknya yang berada didalam kandungan Bulan.


Bersambung...


Apakah kalian masih ingin lanjut? Haduh Alvaro mau nikah sama Bintang pada setuju nggak? Jangan lupa untuk like dan komentar agar aku semangat update❤️

__ADS_1


__ADS_2