Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 83 : Menghangatkan Ranjang


__ADS_3

Alvaro masuk kedalam apartemennya, hari ini dia akan bermalam disini bersama dengan Bulan. Dia membuka kamar, dahinya mengernyit tatkala melihat kamar kosong. Matanya mengedarkan pandangan kesekitar ruangan, dia melihat pintu yang mengarah ke balkon terbuka. Langkah kaki pemuda itu mendekat, perasaannya lega melihat Bulan berdiri disana. Bulan masih belum sadar jika sesosok pria tengah berdiri dibelakangnya, dia mengusap perut besarnya sembari menikmati dinginnya udara sore menjelang malam. Dikurung dikamar terus-terusan membuat Bulan bosan, tidak ada yang dapat dia lakukan selain pasrah. Semilir angin membelai kulit wajahnya, menyibakkan rambut panjangnya yang tergerai.


Alvaro masih mengamati wanita hamil itu, matanya terkunci padanya. "Kakimu sudah sembuh?" Tanyanya pada akhirnya membuat wanita itu terkejut, seketika dia menoleh menatap nanar suaminya. Bulan benar-benar cantik meskipun dengan wajah pucat tanpa riasan sedikitpun membuat Alvaro betah untuk berlama-lama memandanginya.


Alvaro bisa melihat raut ketakutan tergambar jelas pada manik matanya, Bulan hanya diam tidak menjawab pertanyaan dari Alvaro. Wanita itu menunduk seolah sadar bahwa kedatangan Alvaro kesini adalah sebuah ancaman besar baginya. Alvaro manarik tangan Bulan menggiringnya masuk kedalam kamar kembali. Dia meletakkan paperbag berisi makanan di atas nakas.


"Aku membawakanmu makanan." Ujar Alvaro memberitahu. Bulan melirik makanan di atas nakas, dia mengelus pelan perutnya. Dia sungguh kelaparan karena dari kemarin Alvaro belum memberinya makan, kejamnya pemuda itu hanya menyiapkan segelas air putih beserta roti tawar didalam kamarnya.


Bulan duduk ditepi ranjang, tangannya terulur untuk mengambil makanan yang dibungkus paperbag dari KFC. Rupanya isinya ada sekotak nasi beserta ayam goreng, Alvaro juga membelikannya fish burger combo yang dilengkapi dengan minuman banana milk. Tanpa pikir panjang Bulan yang perutnya keroncongan melahap makanan itu, rasanya sangat enak.


Alvaro memandangi Bulan, dia nampak menunggu wanita itu menyelesaikan makanannya. Tatapannya meneliti pada tubuh Bulan yang memakai kemeja putih kebesaran nampak menggoda, kemeja pemberiannya memang tembus pandang sehingga Alvaro bisa melihat lekuk tubuh indah Bulan dengan jelas. Hasratnya lagi-lagi terpancing, dia menginginkan istrinya.


Bulan mengelap mulutnya, dia menghabiskan makanannya hingga semuanya tandas. Mata Bulan mendelik tatkala dia mendapati Alvaro sedari tadi menatapnya dengan tajam. Bulan menguji gairahnya, pandangan Alvaro jatuh pada bibir tipis istrinya, dia menarik tangan wanita itu untuk merebahkannya di atas ranjang.


Dia menindih tubuh Bulan. "Al ke-- hhmmppptt." Alvaro memagut bibir ranum Bulan, dia ******* bibir istrinya. Wanita itu terbelalak dengan tindakan mendadak Alvaro. Dia mendorong dada Alvaro agar menjauh darinya namun Alvaro malah menekan tengkuk Bulan memperdalam ciumannya. Tangan besar Alvaro menyusuri paha mulus Bulan naik ke area sensitifnya membuat wanita itu meremang.


Bulan memberontak mencoba melepaskan diri dari Alvaro, wanita itu meneteskan airmata seolah enggan untuk disentuh. Alvaro melepaskan tautan bibirnya, dia mengusap lelehan air mata Bulan yang membasahi pipi.

__ADS_1


"Al berhenti, hiks...hiks. Ja-jangan sekarang." Cicit Bulan menolak, dia berusaha bangkit dari ranjangnya. Dia mendorong tubuh Alvaro agar menyingkir.


Alvaro mengeram marah, dia kembali mendorong Bulan di atas kasur menindihnya kembali. Alvaro mulai membuka kancing kemaja Bulan hingga menampilkan dua bulatan sintal wanita itu tanpa adanya penghalang.


Bulan mendorong dada Alvaro yang berada di atasnya. "Ah, al tu-tunggu hiks..hiks." Cicit Bulan memberitahu, Alvaro membelai pipi wanita itu mencoba menenangkan ketakutan istrinya. Bulan sungguh trauma karena Alvaro selalu memperlakukannya dengan kasar.


"Berhentilah menangis Bulan!" Sentak Alvaro merasa terganggu dengan tangisan istrinya. "Ini sudah kewajibanmu untuk melayaniku." Pemuda itu lantas melepas baju dan celana yang melekat ditubuhnya. Mereka berdua sama-sama telanjang, melihat tubuh polos istrinya membuat Alvaro tambah gerah.


Perut Bulan yang nampak menonjol tidak mengurangi keindahan dan kecantikannya. Entah mengapa dimatanya Bulan malah semakin menggoda, pipinya yang chubby dan buah dada wanita itu semakin terlihat berisi karena faktor kehamilan.


Alvaro mendekatkan wajahnya, dia mencium leher jenjang Bulan. Tangannya bergerak menyusuri paha mulusnya sengaja melakukan foreplay. Wanita itu melenguh tatkala tangan Alvaro naik membelai area sensitifnya membuat kaki Bulan menggelinjang.


Alvaro beralih meremas buah dada Bulan. "Eengghhhh Alvaro." Bulan melenguh sembari membusungkan dada, tubuhnya terangsang tatkala tangan dingin Alvaro menyentuhnya. "Al jangan disitu, ahhh." Tubuh Bulan reflek menggelinjang merasakan sensasi panas.


"Alvaro, aahhh akh aku mo-mohon sudah." Alvaro menukikkan alisnya tajam, ini saja masih pemanasan dan Bulan malah menyuruhnya berhenti. Miliknya saja mengeras belum terpuaskan.


"Ini baru permulaan Bulan." Bisik Alvaro didekat telinga Bulan. Wanita itu nampak pasrah dibawah rengkuhan Alvaro karena tangannya ditahan oleh pemuda itu sehingga dia tidak bisa berkutik. Perlahan Alvaro melakukan penyatuan mereka didalam tubuh hangat Bulan.

__ADS_1


"Arrgghhh." Bulan merintih merasakan nyeri. "Aaahh, Alvaro." Wanita itu lagi-lagi menggigit bibirnya membuat Alvaro semakin bergairah melihat ekspresi Bulan membuatnya tergoda.


"Aaahhh Al, pelan--hmpptt." Alvaro ******* bibir Bulan intens untuk mengalihkan dari rasa sakit, perlahan dia menggerakkan penyatuan mereka. Bulan mencengkram sprei kuat untuk menetralkan rasa sakit yang dia rasakan


"Enghh hmmpppttt." Bulan memejankan matanya, dia sedikit kewalahan mengimbangi Alvaro dalam berhubungan.


"Aaahhh...aahhh...ahhh." Tubuh Bulan begitu nikmat, tidak lama kemudian Alvaro sampai pada puncaknya. Tubuh Bulan gemetar, nafasnya menderu dengan dada naik turun. Alvaro menyelipkan anak rambut yang mengurai menutupi wajah cantik Bulan dibalik telinganya. Dia ingin memandangi wajah menawan Bulan disetiap detiknya


"Alvaro a-aku capek." Cicit Bulan menatap pemuda di atas tubuhnya dengan memelas. Alvaro masih menginginkannya lagi, dia tetap melanjutkannya.


"Eeennngghhh Al, ahh...ah." Tangan Bulan semakin mencengkram kuat sprei kasurnya. Pemuda itu mengulum buah dada wanita dibawah rengkuhannya membuat Bulan kembali melenguh merasakan sentuhan menggelitik ditubuhnya.


"Aaaahhhh." Alvaro merasa puas, keringat membasahi tubuh telanjang mereka. Berulangkali Alvaro mengelap peluh didahi Bulan, wanita itu nampak sudah lemas dengan nafas memburu. Tangan kekarnya mengelus perut besar Bulan, dia bisa merasakan sebuah tendangan samar dari dalam membuat jantung Alvaro berdesir.


"Al hiks..hiks, perutku sakit." Cicit Bulan berurai air mata berharap Alvaro mau mendengarkannya dan memberinya waktu untuk istirahat.


Kenapa dadanya berdenyut nyeri? Tendangan itu, apakah dari bayi yang berada dalam kandungan Bulan? Alvaro mengusapnya, dia merasakan pergerakan mahkluk hidup dalam perut wanita itu. Ya tuhan, padahal janin itu bukan dari darah dagingnya, tapi mengapa hatinya menjadi menghangat tatkala tangannya merasakan sentuhan itu.

__ADS_1


Alvaro merebahkan diri disamping Bulan, dia memandangi wajah cantik istrinya lamat-lamat. Kelopak mata Bulan perlahan tertutup, wanita itu benar-benar lelah dan mengantuk. Alvaro lantas menyelimuti tubuh telanjang mereka berdua agar tidak kedinginan, tangan kekarnya terulur mengelus lembut perut Bulan lagi. Dia bingung, apakah ada kemungkinan jika bayi yang berada dalam kandungan Bulan adalah anaknya? Batin Alvaro gamang dengan perasaannya sendiri.


Bersambung...


__ADS_2