
Alvaro berkutat didapur, dia baru saja membuat sarapan nasi goreng dengan telur dadar mata sapi. Pemuda itu sengaja membuat sarapan sederhana seperti ini karena simpel, tidak butuh banyak bahan. Namun meskipun begitu dia bisa menjamin bahwa makanan ini rasanya enak. Alvaro menyunggingkan senyum mengingat pergumulannya semalam bersama dengan Bulan, dia masih ingat setiap inchi tubuh Bulan yang telah dia beri tanda. Dia menggelengkan kepalanya, fikiran mesum apa yang berputar di otaknya? Dengan membayangkan tubuh polos istrinya membangunkan hasratnya kembali. Tadi Bulan masih tertidur pulas diranjangnya, Alvaro tidak tega membangunkan wanita itu karena Bulan terlihat begitu letih.
Semalam Alvaro menggempur tubuh Bulan, setidaknya pagi ini dia membuatkan sarapan untuk wanita itu agar tenaganya pulih kembali. Bahkan Alvaro juga menyeduh susu ibu hamil agar anaknya yang berada dalam kandungan Bulan kuat.
"Kak Al." Alvaro terkejut tatkala tubuhnya dipeluk oleh seseorang dari belakang. Pemuda itu sangat mengenal suara lembutnya, dia adalah wanita yang beberapa hari ini sangat Alvaro rindukan. Seketika dia menoleh menatap lekat wanita yang saat ini tersenyum manis dihadapannya.
"Bintang." Gumam Alvaro menatap lekat istri keduanya, ternyata dia sudah pulang kerumah tidak memberi Alvaro kabar sama sekali. Alvaro memakluminya, selama seminggu lamanya Bintang menetap di Surabaya untuk penelitian tugas skripsi, pasti dia sangat sibuk hingga jarang membuka ponselnya.
"Aku kangen sama kakak." Bintang menenggelamkan kepalanya pada dada bidang suaminya, rasanya dia ingin menangis. Seminggu tidak bertemu dengan suaminya sungguh berat bagi Bintang menjalani kehidupannya. Terkekang oleh Daren, disiksa batin maupun fisiknya membuat mental Bintang terguncang.
Disisi lain Bulan membuka matanya, saking lelahnya dia semalam hingga membuat dirinya bangun kesiangan. Jam dinding menunjukkan pukul 08.21 pagi. Dia menatap disamping ranjangnya ternyata kosong. Bulan menghela nafas kasar, setelah tubuhnya dipakai semalam Alvaro malah meninggalkannya begitu saja.
"Ahh, ssttt." Bulan meringis tatkala dia merasa perutnya tiba-tiba sakit.
Tangannya terulur untuk mengusap lembut perut besarnya. "Apa papamu sebrutal itu semalam, maafkan mama ya sayang." Ujarnya memberitahu, seolah mengajak anaknya bicara.
Perlahan rasa nyeri yang dirasakan Bulan menghilang, dia bisa bernafas lega. Dalam kondisi seperti ini dia tidak ingin mengeluh, karena berkeluh kesahpun dia bingung mengadu pada siapa? Orang satu-satunya yang sayang kepadanya hanyalah mama Laura, tapi dia tidak tega untuk menceritakan masalahnya kepada mamanya karena selama ini Laura telah banyak mendapatkan banyak tekanan, Bulan tidak ingin menambahi beban mamanya.
__ADS_1
Bulan beranjak dari ranjang, dia mencari keberadaan dressnya semalam. "Kemana bajuku?" Gumamnya mencari-cari di sekeliling ruangan. Dia tidak mungkin kembali kekamarnya dengan telanjang bulat seperti ini.
Bulan membuka lemari ingin mengambil baju Alvaro, namun lemarinya terkunci membuat Bulan geram. Matanya menelisik pada sebuah lingerie hitam yang terdapat di standing hanger portable. Bulan begidik tatkala menatap koleksi lingerie milik Bulan yang berjejer rapi.
Apakah adiknya itu setiap malam memakai baju sexy ini untuk menggoda Alvaro? Pantas saja pria itu memiliki hasrat yang tinggi dalam berhubungan. Astaga! Bulan seketika menepuk jidatnya untuk menyadarkan dirinya yang telah berfikiran jauh. Bulan menatap sebuah kemeja milik Alvaro yang bertengger di sofa kamar, dia segera mengambil kemeja kotor milik Alvaro lalu memakainya. Tidak ada salahnya jika Bulan meminjam baju ini sebentar, hanya untuk menutupi tubuh polosnya sampai ke kamarnya yang berada di lantai bawah. Lagipula dirumah ini kosong tidak ada orang, seharusnya Bulan tidak perlu merasa cemas.
Dia merasa risih memakai baju milik Alvaro, Bulan jadi merasa geli sendiri menatap tubuhnya yang terbalut dengan kemeja kebesaran ini. Namun tidak ada pilihan, dia harus segera turun menuju kamarnya untuk mandi.
Kembali pada Bintang dan Alvaro yang kini tengah saling berbincang untuk menyalurkan rasa rindunya satu sama lain. Bintang bisa bernafas lega melihat suaminya tercinta, bayangkan berhari-hari dia berada di apartemen Daren seperti orang gila yang direnggut kebebasannya. Dia mendapatkan berbagai ancaman dari pemuda brengsek itu, Bintang mau tidak mau harus menuruti keinginan Daren agar dia tetap menutup mulut busuknya.
"Bagaimana tugasmu? Apakah sudah selesai?" Tanya Alvaro penasaran, dia tahu bagaiamana sulitnya menjadi anak kuliahan karena Alvaro dulu juga sempat terkendala dengan skripsinya. Namun meskipun begitu Alvaro bisa tetap lulus tepat waktu dengan nilai terbaik.
Alvaro mengusap lembut surai rambut istri keduanya, Bintang adalah wanita yang gigih. Dia tidak pantang menyerah untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Sebelumnya Bintang adalah mahasiswi pintar di kampusnya, mungkin karena sekarang wanita itu sudah menikah dia menjadi kesulitan untuk membagi waktu antara kuliah dengan kesibukannya mengurus rumah tangga. Alvaro memakluminya karena Bulan yang notabennya sebagai istri pertamanya tidak pernah membantu Bintang untuk mengurus rumah.
Tatapan mata Bulan terpaku pada dua piring nasi goreng di atas meja dan juga segelas susu yang Bintang yakini pasti untuk Bulan. Bintang mengalihkan pandangan, dia terbelalak melihat Bulan turun dari tangga hanya mengunakan kemeja putih kebesaran milik Alvaro. Fikiran Bintang melayang tidak karuan memikirkan apa yang telah mereka berdua lakukan dibelakangnya selama seminggu ini ketika ditinggal olehnya. Bagaimana bisa Bulan memakai kemeja milik Alvaro? Kakaknya itu turun dari lantai atas dimana kamar Alvaro berada, berarti semalam mereka tidur bersama. Bintang menutup mulutnya tidak percaya, dada Bintang seketika bergemuruh karena emosi yang menggebu.
Sedangkan Bulan yang tengah menuruni tangga seketika termangu ditempatnya berdiri menatap adiknya yang sudah kembali kerumah. Bulan merasakan aura membunuh dari sorot mata adiknya yang tajam. Bintang terlihat mengepalkan kedua tangannya, dia melirik Alvaro lalu beralih menoleh ke arah Bulan dengan sengit. Rahang Bintang bergemalatuk menahan kesal, sudah dia duga bahwa kakaknya pasti menggoda Alvaro ketika dirinya tidak berada dirumah.
__ADS_1
Bintang berjalan mendekati Bulan, dia meneliti penampilan kakaknya yang terlihat sayu khas orang yang sedang bangun tidur dengan rambut sedikit berantakan, dua kancing baju teratasnya terbuka memperlihatkan sebagian dadanya terdapat kissmark yang begitu kentara. Air mata Bintang menetes merasakan sakit diulu hatinya, Alvaro padahal sudah berjanji kepadanya bahwa dia tidak akan menyentuh kakaknya.
Bintang memegang janji dari suaminya, tapi apa yang dia lihat sekarang hah? Mereka terbukti telah melakukan hubungan intim semalam. Bintang tidak bisa membendung luapan emosinya, tangan Bintang terayun ingin menampar pipi kakaknya dengan reflek Bulan memejamkan mata. Anehnya Bulan tidak merasakan tamparan dipipinya, dia perlahan membuka matanya. Alvaro terlihat menahan tangan kanan Bintang untuk melindungi Bulan dari pukulan wanita itu.
"Bintang apa yang kamu lakukan hah?!" Bentak Alvaro mengerutkan dahi heran dengan tingkah Bintang yang agresif ingin menyakiti Bulan tanpa sebab.
Bintang melepaskan tangannya dari cengkraman Alvaro, dia menatap nanar suaminya. "Kak katakan apa yang telah kamu lakukan selama aku pergi? Kakak setiap malam menghabiskan malam bersama kak Bulankan? Katakan kak!" Perempuan itu menangis histeris, dia tidak rela jika Alvaro menyentuh tubuh kakaknya yang hina itu. Alvaro hanya miliknya, dia tidak mau cintanya terbagi.
Alvaro cukup terkejut dengan respon Bintang, sebegitu cemburunya dia dengan kakaknya sendiri. "Bulan juga istriku Bi, dia berhak mendapatkan perlakuan yang sama sepertimu." Tegas Alvaro membuat Bintang melongo mendengarnya.
Dia ingat betul ucapan Alvaro bahwa pemuda itu membenci Bulan bahkan Alvaro pernah berujar bahwa dia akan merasa jijik bercumbu dengan wanita licik seperti kakaknya. Lalu kenyataannya apa sekarang? Terlihat jelas bukti tanda-tanda kemerahan ditubuh mulus Bulan adalah ulah dari Alvaro. Bintang tidak bisa menerima ini, hatinya sungguh terbakar hingga rasanya dia ingin menyakiti kakaknya dengan kedua tangannya.
"Aku kecewa denganmu kak!" Sentak Bintang dengan berlinang air mata.
"Bi dengarkan aku." Alvaro mengulurkan tangannya ingin menyentuh pundak istri keduanya, namun Bintang memilih menghindar membuat Alvaro menjadi kalut memikirkan bagaimana menenangkan Bulan yang terbakar api cemburu.
Bintang menatap Alvaro dengan sendu, dari sorot matanya dia benar-benar terluka. "Aku tidak ingin mendengarkanmu kak!" Bentaknya dengan penuh emosi, Alvaro hanya bisa menutup mulutnya. Jika dia menjawab malah akan membuat emosi Bulan menjadi tidak terkendali lagi.
__ADS_1
Alvaro memandangi Bulan, dari ekpresi wajahnya dia tahu bahwa Bulan bingung dengan situasi ini. Wanita itu hanya diam membisu tidak ingin turut ikut campur. Alvaro akui dia memang salah karena telah menjilat ludahnya sendiri, dia mencintai Bintang dan juga Bulan. Selama kepergian Bintang dia merasa kesepian, hasratnya sebagai lelaki selalu muncul tatkala dia berada didekat Bulan. Dia tidak membantah bahwa dirinya menginginkan Bulan bukan hanya tubuhnya namun juga hatinya.
Bersambung...