
Dihina dan dicaci maki oleh Laura sebagai pelakor tidak mengurangi rasa sayangnya kepada putrinya. Dia tahu bahwa perbuatan Bintang salah namun nasi sudah menjadi bubur, disesali juga tidak bisa merubah apapun. Nadia mengelus lembut surai rambut Bintang yang tengah merebahkan diri di pangkuannya. Orang-orang tidak tahu bagaimana sulitnya dia saat mengandung Bintang tanpa didampingi seorang suami. Jika mengingat masa lalunya membuat Nadia menangis pilu, dia hanya seorang anak dari keluarga miskin yang bekerja disalah satu pabrik milik Zhafran.
Kebaikan dan ketulusan pria itu membuatnya jatuh hati, bahkan Zhafran membantu keluarganya terbebas dari lilitan hutang rentenir. Tanpa bantuan dari Zhafran mungkin Nadia dan keluarganya akan hidup menjadi gelandangan. Ketika Zhafran datang untuk melamarnya, Nadia senang karena rupanya rasa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Dia sebenarnya ragu karena kasta mereka berbeda, Zhafran dari kalangan berada tidak seperti dirinya yang miskin. Bodohnya Nadia tidak mengulik kehidupan Zhafran lebih jauh, disaat dirinya menikah siri secara diam-diam dengan pria itu ternyata Zhafran telah mempunyai istri dan seorang anak.
Nadia marah, dia terluka dibohongi oleh suaminya namun sejurus alasan yang diungkapkan oleh Zhafran membuat Nadia luluh kembali. Zhafran mengaku dirinya menikahi Laura karena paksaan dari orang tuanya demi mengembangkan bisnis keluarga, pria itu sama sekali tidak mencintai Laura. Demi anaknya yaitu Bintang yang dia kandung, Nadia harus menerima kenyataan pahit ini. Selama sembilan bulan dia mengandung, Zhafran tidak pernah menemaninya. Pemuda itu hanya mengiriminya sejumlah uang saja untuk mencukupi kebutuhannya. Dia berjuang sendirian, Nadia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang istri simpanan. Kelahiran Bintang merupakan anugrah bagi Nadia, putrinya seolah membawa lentera bagi hidupnya yang terasa gelap hingga Bintang menginjak umur 3 tahun Zhafran memberanikan diri membongkar semua rahasianya didepan Laura.
Sebagai seorang wanita jelas Nadia bisa merasakan sakit yang dialami Laura ketika tahu bahwa sang suami telah berkhianat. Nadia hanya bisa terdiam, detik itu juga hidupnya berubah. Tinggal satu rumah dengan Laura tidaklah mudah, setiap hari mentalnya diuji untuk sabar menerima kata-kata kasar dari perempuan itu. Nadia bersyukur memiliki Bintang dalam hidupnya, selama ini yang membuat dirinya kuat bertahan adalah putrinya.
“Sayang kamu hari ini jangan pulang, tidur disini ya nemenin mama.” Ujar Nadia berharap putrinya menurut. Bintang mendongak menatap lekat mamanya dengan dahi mengernyit, jika dia tidak pulang kerumah bagaimana nanti dengan Alvaro?
“Besok siang kamu sudah berangkat ke London, selama 3 bulan kamu akan menetap disana. Setidaknya untuk hari ini mama ingin menghabiskan waktu bersamamu, besok pagi saja kamu pulangnya ya.” Bintang menghela nafas seraya tersenyum menggenggam tangan kanan mamanya. Meskipun telah menikah Bintang masih kerap menyambangi rumah orang tuanya, seperti saat ini dia sengaja menemui mamanya karena kangen. Jika mamanya sudah memohon seperti ini bagaimana Bintang bisa menolak, jelas dia akan menurut.
Bintang beranjak duduk disamping mamanya. "Iya ma aku akan temani mama." Balas Bintang menyetujui membuat Nadia senang. Tiga bulan bagi Nadia adalah waktu yang lama. Sebelumnya Bintang tidak pernah pergi jauh darinya, itu yang membuat Nadia tidak tega. Tapi apalah daya jika berbulan madu ke London memang menjadi pilihannya, Nadia hanya bisa mendukung demi kesenangan sang putri.
"Aku coba telfon kak Al dulu ma untuk mengajaknya nginep dirumah ini." Ujarnya seraya mengambil ponsel dari tas. Bintang memanggil nomer suaminya, berharap segera diangkat oleh Alvaro.
Disisi lain lebih tepatnya di kantor, Alvaro tengah menandatangani berkas. Dia sibuk membaca laporan mengenai perkembangan bisnisnya. Setidaknya dia akan menyelesaikan setengah tugasnya karena besok dia berangkat ke London, sehingga melimpahkan pekerjaannya kepada papanya dan Zhafran. Sesekali Alvaro meminum kopi untuk menghilangkan dahaga dan berharap penatnya berkurang. Siang hari yang melelahkan, batinnya.
Tring...tring...tring
Ponsel Alvaro berdering, dia mengernyitkan dahi tatkala menatap layar ponselnya tertera nama istri keduanya. Dia menjawab panggilan telefon dari Bintang, penasaran kenapa istrinya menghubungi dirinya.
“Hallo.”
“Hallo kak Al, kamu lagi sibuk ya sekarang?” Tanya Bintang dari sebrang telefon.
“Iya Bi, ada beberapa laporan yang harus aku kerjakan.” Balas Alvaro sembari memijat pelipis kepalanya karena sedikit pusing melihat berkas didepannya yang menumpuk.
__ADS_1
“Kak aku cuma mau minta izin sama kamu kalau nanti malam aku tidur dirumah papa, aku harap kamu juga mau untuk menginap bersamaku.” Ujar Bintang dengan antusias, alasan Bintang mengajak Alvaro karena dia tidak ingin jika suaminya dirumah berdua saja dengan Bulan.
Bintang adalah tipe cewek pencemburu, semua perhatian Alvaro seharusnya hanya ditunjukkan kepadanya saja. Meskipun Bulan juga merupakan istri dari suaminya namun sebisa mungkin Bintang akan menyingkirkan kakaknya dari hidup Alvaro. Lagipula Alvaro membenci Bulan, akan semakin mudah untuk memisahkan hubungan mereka berdua.
“Maaf Bi, aku tidak bisa karena nanti malam aku kerja lembur. Aku berencana tidur di apartemen saja yang jaraknya dekat dengan kantor.” Balas Alvaro memberitahu. Bagi Bintang tidak masalah jika suaminya tidur di apartemen, itu malah bagus.
“Oh begitu, baiklah kak. Sesibuk-sibuknya pekerjaanmu jangan lupa makan ya kak.” Nasehat Bintang, dia ingin suaminya tetap menjaga tubuhnya. Alvaro memang pemuda yang gila kerja, sebagai seorang istri yang baik dia akan selalu senantiasa mengingatkan Alvaro mengenai pentingnya kesehatan.
“Iya Bi.”
Tidak ingin mengganggu pekerjaan suaminya, Bintang lantas mematikan panggilan telefonnya. Dia cukup lega dengan jawaban Alvaro yang memilih untuk tidur di apatemen, setidaknya Bintang tidak perlu risau berfikiran negatif bahwa Alvaro akan berduaan saja dirumah bersama Bulan.
Bohong! Nyatanya meskipun Alvaro pulang larut malam sehabis menyelesaikan pekerjaannya pemuda itu tetap pulang kerumah. Dia memang sengaja tidak jujur kepada Bintang, karena tidak ingin ditanya macam-macam oleh wanita itu. Bintang akhir-akhir ini selalu menaruh curiga kepadanya membuat Alvaro kadang kala menjadi risih. Alvaro sampai dirumah pukul 23.05 malam, dia mandi untuk menyegarkan diri lalu memakai kaos putih dipadukan dengan celana pendek selutut.
Fikirannya kini melayang pada sosok istri keduanya, apakah dia sudah tidur? Dengan langkah lebar Alvaro turun kebawah menuju kamar Bulan. Pintu kamar Bulan nampak sedikit terbuka, pemuda itu berdiri diambang pintu melihat dari celah pintu mengamati aktifitas Bulan didalam kamarnya secara diam-diam. Bulan rupanya belum tidur, wanita itu nampak mengoleskan minyak kayu putih diperutnya, mengusapnya lembut.
"Semoga saja nanti kamu mirip mama aja ya, jangan sampai sifatmu menurun seperti papamu yang kejam itu." Alvaro menukikkan alisnya tajam, jujur dia tersinggung dengan ucapan Bulan barusan seolah menjelekkan dirinya dibelakangnya. Seharusnya wanita itu berkaca, dirinya tidak lebih licik dari seekor serigala.
Bulan menghela nafas panjang, dia mendongak menatap langit-langit kamarnya. "Bodohnya mama, meskipun tahu papamu kejam memperlakukan mama selama ini. Namun mama masih tetap menyayanginya."
Hati Alvaro berdenyut nyeri, pengakuan Bulan seolah menyentil nuraninya. Sejahat-jahatnya Bulan, dia adalah seorang wanita yang memiliki hati serapuh kertas. Tidak seharusnya Alvaro membalas dengan memperlakukannya dengan buruk, apalagi wanita itu tengah mengandung buah hatinya. Alvaro sadar bahwa dia bersikap tidak adil kepada kedua istrinya, Bintang dia perlakukan dengan baik sedangkan Bulan tidak dipedulikan keberadaannya dirumah ini. Jujur ada sedikit perasaan lega ketika Bulan mengaku bahwa dirinya masih menyimpan perasaan cinta kepadanya.
Alvaro memutuskan untuk masuk kedalam kamar Bulan, membuat wanita itu seketika terkejut melihat suaminya yang tiba-tiba menjulang berdiri dihadapannya. Bulan membenahi baju tidurnya yang tersingkap, dia mengernyitkan dahi bingung menatap suaminya lekat.
"Apa kamu sudah minum susu?" Tanya Alvaro dibalas anggukan oleh Bulan. "Vitaminmu?" Alvaro bertanya lagi, jangan sampai Bulan melupakan vitamin penguat kandungan yang telah diberikan dokter.
"Aku sudah meminumnya Al." Ujar Bulan mendelik heran. Tidak biasanya pemuda itu perhatian seperti ini. Oh iya, Alvaro bersikap peduli hanya untuk anaknya saja bukan semata-mata untukmu Bulan. Terlihat jelas Alvaro hanya menginginkan buah hatinya. Batin Bulan menyadarkan dirinya.
__ADS_1
"Al aku mengantuk, aku ingin tidur." Tegas Bulan beranjak berbaring di kasur. "Kalau kamu keluar, tolong untuk tutup pintunya ya." Alvaro malah menatap Bulan tajam, dia geram dengan wanita ini seolah mengusirnya dari kamar. Bulan tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan Alvaro karena ketika bersama dengan pemuda itu selalu memancing pertengkaran, apalagi sekarang dia hanya berdua dirumah ini. Entah kemana adiknya itu, sedari pagi tadi rumah sepi.
Alvaro menutup pintu kamar, dia lantas berjalan kembali mendekati kasur lalu ikut berbaring disamping Bulan. Wanita itu nampak melotot tajam melihat tingkah suaminya, kenapa pemuda itu malah tiduran disini? Diakan punya tempat tidur sendiri dengan Bintang dikamar atas.
"Malam ini aku tidur disini." Ujar Alvaro tegas membuat Bulan melongo.
"Kamu seharusnya tidur dikamar bersama Bintang." Balas Bulan terlihat kesal, dia sudah terbiasa tidur sendiri. Bulan merasa terusik jika ada orang lain yang masuk kedalam kamarnya, termasuk suaminya sendiri.
"Bintang hari ini nginep dirumah papa." Jawab Alvaro memberitahu.
"Tap-tapi." Bulan masih berusaha mengelak.
"Sudah, tidurlah Bulan!" Alvaro menggeram marah. "Ingat aku adalah suamimu, apakah salah jika aku ingin tidur bersama dengan istriku sendiri?!" Bulan menggeleng pelan, akhirnya dia pasrah karena tidak ingin memancing emosi Alvaro. Wanita itu tidur membelakangi Alvaro dengan perasaan dongkol.
Tubuh Bulan meremang tatkala sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang. Kepala Alvaro mendusel pada ceruk leher Bulan menghirup bau tubuh istrinya yang menenangkan. Tidak sampai disitu jemari Alvaro menyusup dibalik baju tidur Bulan, membelai perut istrinya yang masih rata.
Bulan hanya diam, dia memilih memejamkan matanya merasakan usapan hangat pada perutnya. Beberapa menit kemudian Bulan terlelap, Alvaro bisa mendengar dengkuran halus istrinya. Wanita itu beralih menghadapnya tanpa sadar, hidung mereka berdua saling bersentuhan membuat dada Alvaro entah mengapa berdesir tatkala dirinya menatap wajah cantik Bulan yang hanya berjarak beberapa centimeter darinya. Pemuda itu masih terjaga, tangan besarnya perlahan membelai pipi halus Bulan.
Dia memandangi wajah Bulan yang terlihat natural tanpa polesan make-up apapun, tapi malah terkesan mempesona bagi Alvaro. Perasaan apakah ini? Apakah dia memang mulai mencintai Bulan? Alvaro menggeleng seolah ingin menolak, sebisa mungkin dia menegaskan bahwa hanya Bintanglah yang ada dihatinya. Namun perasaan tidak bisa dibohongi, mengelak bagaimanapun dihatinya memang terdapat ruang spesial khusus untuk Bulan.
Besok dirinya akan berangkat ke London, menetap beberapa bulan disana. Sebenarnya Alvaro berat untuk meninggalkan Bulan, tapi dia tidak bisa membatalkan liburannya bersama Bintang begitu saja. Tatapan Alvaro jatuh pada bibir ranum Bulan yang menggoda. Dia mendekat, ******* bibir manis istrinya yang sedikit terbuka menyalurkan hasratnya untuk sesaat. Dia mensesap lembut menikmati sensasi dari benda kenyal itu meskipun ciumannya tidak direspon oleh Bulan.
Alvaro menyudahi pagutannya, dia mengusap bibir basah Bulan dengan jempol tangannya. "Aku pasti akan merindukanmu Bulan." Ujarnya dengan sendu menatap lekat istrinya yang tertidur mengarungi dunia mimpi.
Bersambung...
Bagaimana menurut kalian dengan episode hari ini? Jangan lupa untuk tinggalkan jejak agar aku semangat update❤️
__ADS_1
Aku juga mau ngucapin semoga puasa kalian di bulan ramadhan ini lancar ya☺️🙏