Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 55 : Hadiah Dari Alvaro


__ADS_3

Bulan menatap pantulan dirinya di cermin yang memakai long dress pemberian dari suaminya, dia merasa nyaman memakainya karena longgar jadi cocok untuk ibu hamil sepertinya. Dress itu terlihat anggun dengan adanya motif bunga sakura yang nampak indah. Rambut hitam Bulan yang lurus sengaja dia curly. Wajahnya yang biasa tampil polos sehari-hari kini dia poleskan make up dengan taburan bedak. Sapuan blush on tipis dipipi serta liptint dibibir ranumnya menambah kecantikan gadis manis itu. Entah mengapa Bulan tidak percaya diri, dia takut jika membuat Alvaro malu disana. Bulan belum terbiasa makan malam bersama dengan rekan bisnisnya Alvaro, jadi wajar jika dia gugup.


Ponsel barunya berdering, dia melihat notifikasi dari Alvaro yang menyuruhnya untuk segera keluar dari rumah. "Astaga, aku bisa kena omel jika membuat Alvaro menunggu." Gumam Bulan sembari melihat jam di ponselnya menunjukkan pukul 19.05 malam. Segera dia mengambil tas selempangnya, dengan perlahan dia membuka pintu kamar.


Bulan memakai flatshoes di kaki jenjangnya, dia tidak berani memakai high heels takut kesleo dan malah membahayakan kehamilannya nanti. Wanita itu melihat seorang pria bertubuh tinggi tegap berdiri bersandar pada mobil tesla miliknya sembari memainkan posel pintarnya. Ya tuhan, Alvaro nampak begitu gagah dan tampan memakai kemeja putih dipadukan dengan tuxedo hitam. Bulan menggelengkan kepalanya, sadarlah Bulan kamu telah mengagumi pria yang salah.


Meskipun dia adalah suaminya sendiri tapi jangan lupakan bahwa dia adalah pria kejam yang telah menyakitimu. Tapi akhir-akhir ini Alvaro selalu bersikap baik kepadanya membuat Bulan perlahan luluh dengan perhatian suaminya. Ternyata tidak segampang itu untuk mencoba move on dari Alvaro, karena pada dasarnya Bulan sangat mencintai Alvaro bahkan sejak dirinya masih kecil. Apa daya Bulan? Dia hanya seorang wanita yang lemah akan perasaan. Seberapa keras Bulan menghindar dan mencoba menolak akan tetap kalah dengan hatinya yang tertuju pada satu sosok pria arogan dihadapannya ini.


"Al apakah kamu tadi menungguku lama disini?" Mendengar suara lembut Bulan membuat Alvaro mendongak, dia termangu menatap lekat penampilan istrinya malam ini yang luar biasa menawan. Bulan terlihat elegan menggunakan dress pilihannya, meskipun perutnya nampak menonjol namun tidak mengurangi kecantikan wanita itu.


"Al, Alvaro hei." Bulan menyentuh bahu suaminya, seketika Alvaro tersentak dari lamunannya karena terhanyut dalam pesona Bulan.


Alvaro akui bahwa Bulan sangatlah cantik sedari dulu namun kenapa baru sekarang hatinya menjadi kalut dan jantungnya berdebar setiap berdekatan dengan Bulan. Ini bukan lagi karena faktor kehamilan Bulan yang menyebabkan Alvaro ingin selalu bersama Bulan, akan tetapi Alvaro memang mencintai Bulan. Sekarang Alvaro sadar dia kini tertarik dengan istri pertamanya itu, rasa memiliki semakin terpatri kuat. Egonya masih terlalu tinggi untuk mengakui, Alvaro takut jika dia mengungkapkan isi hatinya maka Bulan akan menjadi besar kepala.


"Aku baru saja datang." Ujar Alvaro memberitahu, dia memang habis dari tempat kerja karena kesibukannya yang padat mengharuskan Alvaro mandi dan mempersiapkan diri dari kantornya. Sehingga dia datang kerumah tinggal untuk menjemput Bulan saja.

__ADS_1


"Ada sesuatu yang ingin aku berikan untukmu." Ujar Alvaro membuat Bulan penasaran.


Barang apalagi yang akan Alvaro berikan padaku? Tanyanya dari dalam hati. Alvaro nampak merogoh saku celananya, mata Bulan terbelalak tatkala dia melihat sebuah liontin berlian yang nampak indah. Alvaro berjalan mendekati Bulan, dia menyibakkan rambut panjang istrinya kesamping untuk memasangkan kalung liontin itu dilehernya.


Bulan tertegun sejenak, dia mendongak menatap lekat suaminya cukup lama. Tangannya terulur menyentuh kalung liontin yang menggantung indah dilehernya. Kalung berinisial A, entah apa maksut Alvaro memberikan hadiah mewah seperti ini. Bulan bisa menebak bahwa barang ini pasti harganya mahal. Apakah dia juga memberikan kalung yang sama seperti ini kepada Bintang?


"Kalung itu limited edition, aku membelinya di London khusus untukmu. Jadi jangan sampai menghilangkannya, paham?!" Ujar Alvaro dibalas anggukan patuh oleh Bulan. Istrinya itu adalah wanita yang ceroboh, Alvaro berharap Bulan bisa menjaganya dengan baik.


Bulan senang menerima hadiah dari Alvaro, namun dia masih merasa bimbang. “Al apakah kamu saat ini dalam keadaan sadar? Kamu tidak mabukkan sehingga kamu memberikan kalung ini untukku?” Tanya Bulan lagi memastikan, dia masih tidak percaya hal ini terjadi.


Wanita itu menggeleng pelan, Bulan hanya merasa aneh ketika Alvaro menaruh perhatian kepadanya dan sekarang pemuda itu malah memberikannya barang mewah yang diidamkan para wanita. Bukankah seharusnya Alvaro memberikannya pada Bintang? Apa sebelumnya Bintang telah menolaknya, lantas Alvaro menyerahkan kalung ini padanya? Bulan sama sekali tidak mengerti. Tapi meskipun begitu Bulan sangat menghargai pemberian Alvaro ini.


Di London Alvaro tidak serta merta melupakan keberadaan Bulan dirumah, anggap saja itu oleh-oleh darinya. Alvaro baru berani memberikannya kepada Bulan sekarang karena dia fikir ini adalah waktu yang tepat. Kalau Bintang tahu wanita itu pasti akan cemburu. Alvaro tidak ingin menimbulkan masalah baru didalam kehidupan rumah tangganya. Dia berharap kedua istrinya bisa akur, bukannya malah saling menjatuhkan satu-sama lain.


“Kalung itu terlihat cantik saat kamu memakainya.” Ujar Alvaro membuat Bulan melongo. Pipi Bulan seketika merona merah, istri mana yang tidak tersipu tatkala suaminya menyanjung dirinya. Apalagi pria dingin seperti Alvaro yang irit bicara, sekalinya bicara pemuda itu akan mengatakan hal yang menyakitkan kepada Bulan, tapi saat ini pemuda tampan itu malah terang-terangan memujinya.

__ADS_1


Jujur Bulan terharu mendapatkan kejutan istimewa dari Alvaro, dia sangat menyukai kalungnya. Mata Bulan berbinar senang, dia ingin menangis tapi berusaha untuk ditahannya. Sebelumnya Alvaro tidak pernah memperlakukannya seromantis ini dengan membelikannya sebuah barang yang sangat indah. Bulan pasti akan menjaganya dengan baik, kalung ini sangat berarti untuknya.


Kalung insial A memiliki makna bahwa kamu adalah milikku Bulan, kalung ini akan mengikatmu dalam benang merah. Entah kapan benang ini akan terputus, tapi sebisa mungkin aku akan memupuknya agar tetap kuat. Batin Alvaro tersenyum puas melihat binar kebahagiaan Bulan.


"Terimakasih ya Al, aku sangat-sangat-sangat menyukainya." Ujar Bulan dengan gembira.


Alvaro mengusap surai rambut Bulan dengan lembut. "Iya, aku bahkan bisa menebak jika reaksimu akan seperti ini." Balas Alvaro sudah hafal dengan segala tingkah Bulan, dulu jika Alvaro memberikan hadiah apapun itu bentuknya maka Bulan akan menerimanya dengan antusias.


Alvaro membukakan pintu mobilnya untuk Bulan. "Ayo kita berangkat." Bulan mengangguk, dia segera masuk kedalam mobil diikuti oleh Alvaro duduk dikursi mengemudi.


Alvaro menyalakan mobilnya, dia melajukan mobil itu keluar dari gerbang rumahnya. Kendaraan beroda empat bergerak membelah jalanan ibu kota, melewati gedung bertingkat yang memancarkan gemerlap cahaya. Bulan tidak henti-hentinya tersenyum sembari menunduk untuk melihat kalung pemberian dari suaminya.


Bulan mengusap lembut perut besarnya. Mama senang nak, ini adalah kado pertama yang mama dapatkan dari papamu selama kita menikah. Ujarnya dari dalam hati memberitahu anaknya bahwa kini Alvaro perlahan sudah mulai berubah.


Bulan lantas menoleh manatap suaminya yang kini fokus menyetir mobil. Barang pemberianmu sangat berharga bagiku, tapi jika boleh meminta bisakah aku mendapatkan hatimu sepenuhnya untukku? Andai aku adalah satu-satunya wanita pendamping dihidupmu, aku pasti akan sangat bahagia.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2