Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 35 : Pergi Meninggalkanmu


__ADS_3

Di bandara Alvaro harap-harap cemas, peluh sampai menetes di pelipisnya. Bintang yang duduk di sebelah mengeluarkan tissue untuk mengelapnya. Alvaro menghela nafas lelah, beberapa kali dia menelfon Bulan tapi tidak ada jawaban. Pemuda itu tadi belum sempat berpamitan karena Bulan buru-buru kerumah sakit.


"Your attention please, passengers of Garuda Indonesia on flight number GA123 to London please boarding from door A11, thank you." Pengumuman keberangkatan pesawat menggema.


“Cepatlah kalian masuk, pesawatnya akan take off.” Ucap Zhafran memberitahu.


Bintang memeluk mamanya erat, beberapa bulan di London dia pasti akan sangat merindukan mamanya. Alvaro mendongak berharap melihat Bulan dari kejauhan datang untuk menemuinya, namun nihil. Dada Alvaro rasanya tercekat setidaknya dia ingin sekedar mengucapkan pamit kepada Bulan, panggilan telefonnya tidak di angkat bahkan pesannya juga tidak dibalas. Pemuda itu memakluminya, mamanya Bulan sekarang sedang sakit oleh karena itu dia enggan datang ke bandara. Tidak ada yang menjaga Laura dirumah sakit, karena Zhafran maupun Nadia malah memilih berada di bandara untuk menemui Bintang.


Bintang melepaskan pelukannya, kini Nadia menatap wajah putrinya dengan sendu. "Hei, kenapa kamu murung?" Tanya Nadia sembari membelai lembut pipi putrinya.


Bintang menggeleng. “Aku nggak apa-apa ma.” Dia tersenyum menatap lekat mamanya, tidak ingin wanita yang melahirkannya itu cemas. “Setiap hari aku pasti akan menelfon mama.” Ujarnya dibalas anggukan oleh Nadia.


Bintang menoleh beralih menatap papanya. “Pa aku sama kak Al berangkat ya.” Zhafran mengangguk, dia mengecup kening Bintang dengan sayang.


Putri bungsunya akan berada jauh darinya, sebagai seorang ayah sebenarnya dia merasa cemas. Kedua putrinya memiliki karakter yang berbeda. Bulan yang berprofesi sebagai model sudah kerap berulang kali ke luar negeri, bisa dibilang Bulan merupakan anak yang mandiri. Sedangkan Bintang dia hanyalah anak rumahan, Zhafran sangat menyayanginya hingga dia membatasi lingkup pertemanan Bintang. Dia tidak pernah berada jauh dari kedua orang tuanya selama ini, dan sekarang Bintang akan ke London bersama suaminya cukup membuat Zhafran dan Nadia khawatir. Mereka berdua memang memanjakan Bintang, seolah dia merupakan anak emas didalam keluarganya.


Zhafran menepuk pundak Alvaro membuat pria itu tersentak dari lamunannya. “Jaga putriku baik-baik Al, aku percayakan dia kepadamu.”


“Iya pa, aku pasti akan menjaga istriku.” Zhafran lega mendengarnya, dia bisa melepaskan putrinya dengan tenang. Sekarang Bintang sudah dewasa, bahkan sebentar lagi dia akan memiliki anak. Ya Zhafran akan menimang cucu, tanggng jawab Bintang sepenuhnya ada pada Alvaro.


Bintang menggenggam tangan suaminya, wanita itu tersenyum lembut memandangi Alvaro lalu menggiringnya untuk masuk beriringan dengan penumpang lainnya. Nadia melambaikan tangan kepada putrinya, dia berharap semoga Bintang dan suaminya selamat sampai tujuan.


Alvaro terseyum miris, dia bodoh karena masih berharap Bulan akan menemuinya. Maafkan aku karena pergi tanpa mengucapkan pamit.

__ADS_1


...****************...


Bulan termenung di ruang tunggu rumah sakit, fikirannya tidak karuan. Rasa khawatir mendera, mamanya terbaring lemah tidak berdaya di CVCU. Fikirannya melayang kejadian dimana dirinya berbincang dengan dokter yang menangani mamanya.


"Dari hasil pemeriksaan medis, kami mendiagnosis gejala jantung koroner." Bulan terkejut mendengarnya, dia menutup mulutnya tidak percaya bahwa mamanya mengidap penyakit mematikan seperti itu.


Dokter memperlihatkan hasil CT Scan kepada Bulan, dia menunjukkan titik bagian yang bermasalah pada organ dalam Laura. "Terdapat plak pada dinding pembuluh arteri bu Laura. Semakin bertambahnya usia, risiko pembentukan plak semakin tinggi. Jika tidak segera dilakukan pengobatan dan pencegahan plak ini menyebabkan berkurangnya elastisitas pembuluh darah arteri dan mengganggu aliran darah." Ujarnya menjelaskan sedetail mungkin agar Bulan paham.


"*Jika dibiarkan dan tidak diobati maka plak akan semakin besar sehingga pembuluh arteri jantung akan menyempit. Akibatnya, suplai darah oksigen ke jantung semakin berkurang. Selain itu plak juga dapat lepas dan menyumbat sebagian besar aliran darah pada pembuluh arteri. Apabila terjadi pada arteri koroner, serangan jantung dapat terjadi." Tanpa bisa dibendung air mata Bulan menetes, di dunia ini dia hanya punya mama yang selalu mendukungnya. Mendengar Laura sakit Bulan benar-benar merasa takut, Bulan belum mampu membahagiakan mamanya.


Ya tuhan berikan kesembuhan bagi mamaku*…


Bulan menatap dokter pria didepannya dengan mata berkaca-kaca. “Dok apakah mama saya bisa sembuh?” Tanyanya menuntut jawaban.


Dokter muda itu menghela nafas. “Penyakit jantung koroner tidak bisa sembuh total. Dinding arteri dan otot jantung yang sudah rusak akibat penyakit ini tidak dapat pulih seperti semula. Artinya jika ibu anda mengalami jantung koroner maka ibu anda harus hidup dengan penyakit ini selama hidupnya.” Bulan mengusap air mata yang membasahi pipinya, dia nampak murung mendengar penuturan dokter mengenai kondisi mamanya.


"Dok berikan pelayanan dan tindakan yang terbaik untuk mama saya. Berapapun biayanya saya akan membayarnya asalkan mama saya kondisinya bisa membaik." Bulan tidak ingin kehilangan mamanya, dulu kakek dan neneknya Bulan meninggal juga karena penyakit jantung. Usia mamanya masih terbilang muda, jika terjadi sesuatu yang buruk kepada mamanya sungguh Bulan belum siap.


"Kami akan berusaha demi kesehatan ibu anda, akan tetapi kami juga membutuhkan kontribusi dari keluarga agar pasien mempunyai semangat. Pasien dianjurkan untuk tidak bekerja berat yang membuatnya cepat lelah, pasien juga tidak boleh banyak pikiran yang dapat menyebabkan stres dan kami harap pasien mendapatkan istirahat yang cukup." Bagaimana mamanya tidak stres, jika setiap hari mama selalu mendapatkan tekanan batin dari Papanya. Apalagi selama ini Bulan juga tidak bisa selalu mengawasi mamanya karena rumah mereka jaraknya cukup jauh.


"Baik dok." Bulan terlihat gusar, hanya ada satu cara yang bisa membuat fikiran mamanya tenang yaitu keberadaan Papa disampingnya. Bulan tahu bahwa mama sangat menyayangi Papa, sekejam apapun sifat papa kepada mama dia akan tetap bertahan disisinya. Apapun itu demi keselamatan mamanya, maka Bulan pasti akan berusaha keras untuk membuat mamanya selalu bahagia.


Bulan menyentuh dadanya yang terasa sesak, dia mengusap lelehan air mata yang menggenang dipipinya. Dia harus kuat menghadapi cobaan ini, Bulan tidak ingin mamanya ikut sedih. Sebisa mungkin dia harus bersikap tegar dihadapan mamanya. Bulan beranjak berdiri, dia berjalan menuju ruangan mamanya dirawat. Perlahan dia membuka pintu, matanya menatap lekat mamanya yang terbaring lemah di atas brankar.

__ADS_1


Langkah kaki Bulan semakin mendekat, dia duduk dikursi samping Laura. “Mama.” Cicitnya memanggil lirih, Bulan mengatur nafas agar tangisnya tidak pecah. Perlahan kelopak mata Laura terbuka, dia nampak tersenyum simpul melihat putri semata wayangnya datang menjenguknya.


“Ma.” Suara Bulan tercekat, rasanya dia tidak mampu untuk sekedar bicara. “Mana yang sakit?”


Dengan tangan gemetar Laura menyentuh dadanya. Pasti sakit banget ya ma? Batin Bulan turut merasakan nyeri didadanya.


Bulan menggenggam lembut tangan kanan Laura yang terdapat jarum infus melekat dipunggung tangannya. “Mama paling takut dengan jarum suntik apapun itu jenisnya. Bulan ingat dulu ketika mama sakit tipes, mama hampir kabur dari rumah sakit saat diinfus.” Ujar Bulan sembari tertawa kecil untuk menghibur mamanya.


Laura ikut tersenyum sembari mengingatnya. “U-untung a-ada papamu yang menahan mama uhuk..uhuk.” Bulan sedikit terkejut dengan respon mamanya yang terbatuk-batuk. Laura saat ini memakai selang oksigen yang terpasang dihidungnya. Dia sebenarnya tidak nyaman menggunakannya, namun jika dilepas Laura susah untuk bernafas.


“Mama, mama nggak apa-apakan?” Laura menggelengkan kepalanya, dia bisa melihat putrinya mencemaskan dirinya. “Ma jangan banyak bicara, mama istirahat dulu saja." Ujar Bulan memberitahu, dibalas anggukan oleh Laura.


“Pa, papamu mana?” Tanya Laura penasaran, dia sedang sakit tapi entah kemana suaminya itu. Bulan mendelik, dia bingung mencari alasan karena saat ini papanya pasti berada di bandara untuk menemui Bintang.


“Papa tadi ada disini ma, dia sedang di kantin mencari makan. Dia menyuruhku untuk nemenin mama duluan kesini.” Kilah Bulan terpaksa berbohong, Laura bisa sedih jika mengetahui kebenarannya bahwa Zhafran sama sekali tidak peduli dengannya.


Lihatlah Laura nampak berbinar mendengar penuturan Bulan barusan, dia merasa lega jika Zhafran ada disini. Setidaknya lelaki itu menaruh sedikit perhatian untuknya.


“Mama tidur ya, aku akan temani mama disini.” Bulan membelai surai rambut mamanya dengan lembut, usapan tangan putrinya membuat Laura mengantuk. Dia memejamkan matanya tertidur lelap kembali, Bulan menatap wajah pucat mamanya nampak begitu lelah.


Sebenarnya apa yang mama fikirkan? Apakah mama masih menyimpan dendam kepada mama Nadia? Batin Bulan bertanya-tanya. Kapan mama akan sadar bahwa dendam tidaklah baik, malah akan mendatangkan penyakit.


Bulan mengusap wajah putih mamanya, kerutan dikeningnya tidak luput dari pandangan Bulan. “Ma Bulan sayang sama mama, semoga mama panjang umur ya ma.” Beberapakali Bulan mencium punggung tangan kanan Laura, dia terisak menangis tidak sanggup melihat mamanya menderita.

__ADS_1


Bersambung...


Setelah baca episode kali ini apakah ada yang ikutan sedih apa malah kesel?


__ADS_2