Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 84 : Tawanan Alvaro


__ADS_3

1 bulan kemudian


Suara musik remix berdentum keras memekakkan telinga, para muda-mudi menari dan bergoyang tanpa malu dibawah lampu disco. Terlihat Farez yang hanya duduk termenung di bar bersama salah satu teman sekantornya. Farez menyalakan rokok, dia menyesapnya menikmati benda berbahan tembakau itu.


"Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi jika kamu mencintai wanita yang telah bersuami itu adalah hal yang salah." Ujar Ricky yang merupakan karyawan kantornya, dia teman dekat Farez sejak dibangku menengah pertama. Dirinya menyadari dengan perubahan Farez, tenyata bosnya itu berada dalam hubungan terlarang.


Farez menenggak segelas vodka di atas meja, ini sudah gelas kedelapan yang dia minum. "Suaminya memperlakukannya dengan kejam. Aku tidak tega melihatnya menderita, rasanya aku ingin melenyapkan pria itu." Ujar Farez seraya menghela nafas panjang, saat ini dia tidak tahu dimana keberadaan Bulan. Farez sudah berusaha mencarinya, tapi entah mengapa seolah Alvaro memang sengaja menyembunyikan Bulan.


"Diluaran sana masih banyak gadis cantik Farez, kenapa kamu membuang waktu untuk mengejar perempuan yang belum lepas dari ikatan pernikahannya." Ricky merasa heran, padahal Farez adalah pria yang tampan dan kaya raya. Semua gadis pasti akan terpikat dengan pesonanya, Farez tinggal memilih gadis mana yang dia inginkan.


Farez tersenyum kecut, iya memang banyak gadis cantik didunia ini. Tapi disekian banyak dari mereka, Farez akan tetap memilih Bulan. Dia sendiri juga heran kenapa hatinya hanya tertuju kepada Bulan, sungguh Alvaro tergila-gila padanya.


"Sebentar lagi dia akan bercerai dari suaminya, setelah dia berpisah maka aku akan menjadikannya istriku." Kekeuh Farez dengan percaya diri. Ricky yang duduk diamping Farez hanya bisa menyunggingkan senyum, dia menepuk bahu Farez untuk mendukungnya. Bagi Ricky tidak apa-apa mendekati seorang janda, itu akan lebih baik daripada merusak rumah tangga orang lain.


Tring


Ponsel Farez berdering, pemuda itu membaca sebuah pesan dari seseorang. Farez mengerutkan dahi, dia beranjak berdiri dari tempat duduknya. "Ada apa Rez? Siapa yang menghubungimu?" Tanya Ricky penasaran.


"Aku harus pulang sekarang, papaku saat ini ada dirumah." Ujar Farez memberitahu.


"Bukannya papamu masih berada di luar kota?" Tanya Ricky lagi, setahunya Pak Giandra pergi ke London untuk mengurus bisnis hotelnya disana.

__ADS_1


Farez memasukkan ponselnya kedalam saku celana, pemuda itu terlihat cemas. "Aku juga terkejut, papa pulang tidak memberitahuku. Yasudah Ric, aku pergi sebelum membuat papaku marah karena menungguku." Ricky mengangguk mempersilahkan Farez untuk pergi.


Elfarez berjalan keluar dari club malam tempat dia tadi menongkrong bersama dengan Ricky, dia menuju parkiran dimana mobilnya berada. Pemuda itu mengemudikan kendaraan beroda empat itu dengan kencang membelah jalanan ibu kota. Tidak butuh waktu lama Farez sudah sampai dipelataran rumahnya, dia segera masuk untuk menemui papanya yang baru pulang dari London.


"Darimana kamu Farez?" Suara bariton seorang lelaki menyapa indra pendengaran Elfarez, pemuda itu menatap nyalang pria paruh baya yang tengah duduk disofa ruang tamu.


"Papa." Gumam Farez, dia bisa melihat jika papanya menatap dirinya dengan sorot mata tajam. Giandra beranjak berdiri berjalan mendekati putra semata wayangnya itu.


"Darimana saja kamu?" Tanya Giandra lagi sembari meneliti penampilan putranya yang kacau, bahkan dia bisa mencium bau alkohol yang cukup menyengat. Giandra bisa menebak jika Farez pasti habis dari club berfoya-foya bersama dengan wanita malam.


"Aku habis nongrong dengan temanku." Balas Farez.


Giandra menghela nafas kasar, putranya adalah pria berumur 25 tahun seharusnya diumurnya yang sudah dewasa dia memikirkan masa depannya. Bukan malah berkeliaran tidak jelas seperti ini yang sama sekali tidak ada faedahnya. Apalagi Farez kembali pada kebiasan buruknya dulu yaitu minum-minuman beralkohol sungguh membuat Giandra geram karena minuman laknat itu tidak baik untuk kesehatan Farez.


Ini pasti perihal putusnya kerjasama antara Mahendra Groub dengan GA Groub, Farez sama sekali tidak menyesal membatalkan hubungan kerjasama mereka. Farez akan tetap kekeuh pada pendiriannya, dia tidak mau untuk berbisnis dengan pria pecundang seperti Alvaro.


"Apa sebenarnya alasanmu memutuskan kerjasama dengan Alvaro hah? Padahal bisnis kita berkembang pesat dengan adanya campur tangan darinya."


Telinga Farez panas mendengarnya. "Perusahaan kita besar pa, bukan kita yang membutuhkan mahendra gorub tapi merekalah yang menginginkan kerjasama dengan kita. Aku pasti akan membuktikan bahwa aku bisa memajukan perusahaan kita dengan menggaet perusahaan raksasa lainnya, tapi tidak dengan mahendra groub." Ujar Elfarez dengan percaya diri membuat Giandra hanya bisa bersabar menghadapi keras kepala putra sulungnya itu.


Giandra butuh waktu untuk memulihkan kembali sebagian bisnisnya, akibat batalnya kerjasama antara GA groub dan mahendra groub membuat kerugian yang cukup besar. Giandra memutuskan untuk pulang kembali ke Indonesia karena ingin menemui putranya yang sulit untuk diatur, pria paruh baya itu menganggap bahwa putranya masih perlu bimbingan langsung darinya. Kalau bisa Gaindra ingin mengirim putranya untuk ke London karena disana ada temannya yang siap untuk mengajari putranya dalam berbinis.

__ADS_1


"Buktikan kepadaku bahwa kamu mampu untuk mengurusi binismu di Indonesia karena jika kamu tidak bisa mengembangkan perusahaan maka kamu harus menerima konsekuensinya. Papa akan mengirim dirimu ke London, dan kamu harus siap." Tegas Giandra mengancamnya membuat Farez merasa tertekan. Dirinya tidak ingin pergi jauh dari Bulan. Saat ini Farez masih menunggu perceraian Bulan dengan Alvaro.


Farez mengepalkan kedua tangannya, dia menghela nafas kasar. "Baiklah, jika itu kemauan papa." Farez lantas pergi begitu saja meninggalkan Giandra, padahal pria paruh baya itu belum selesai untuk menasehatinya.


Giandra mengelus dadanya, dia cukup memaklumi dengan sifat keras kepala Farez yang menurun darinya. Sedari kecil putranya tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu, dan Giandra mendidiknya dengan penuh otoriter. Pemuda paruh baya itu menatap sebuah foto yang terpajang didinding, foto pernikahannya bersama dengan sang istri yang telah meninggal.


"Nayla anak kita sudah besar, sekarang bahkan dia berani membantahku. Aku tidak bisa sesabar seperti dirimu, andai kamu ada disini pasti kamu bisa mencairkan kerasnya hati putramu." Gumam Giandra merindukan sosok istrinya, dia sebagai seorang ayah hanya ingin yang terbaik untuk putra semata wayangnya.


...****************...


Graharaja Residence at 08.09 AM


Perlahan Bulan beranjak dari tempat tidurnya, dia meringis menahan nyeri pada perutnya. Dia sudah sebulan lamanya dikurung di kamar apartemen Alvaro, dia menjadi tawanan suaminya sendiri. Hampir setiap hari Alvaro menggauli dirinya, tubuhnya terasa remuk rendam karena dia dipaksa melayani pemuda itu dalam keadaannya yang tengah hamil besar. Saat ini usia kandungannya sudah 9 bulan membuat pergerakan Bulan semakin terbatas. Apa yang bisa Bulan lakukan? Dia adalah seorang wanita hamil, melawanpun dia tidak mempunyai kekuatan sebesar itu.


Selama ini Bulan hanya pasrah membiarkan Alvaro melampiaskan hasratnya kepada dirinya. Semalam bahkan Bulan terjaga karena Alvaro menggempur tubuhnya berjam-jam, hingga Bulan sulit untuk beristirahat. Tubuhnya terasa lengket, dia berjalan tertatih menuju kamar mandi. Bulan menatap lekat pantulan tubuhnya di depan kaca yang penuh dengan kissmark menjijikkan dimana-mana. Dia kembali meneteskan air mata, mati-matian Bulan mencoba menahan emosinya. Sungguh dia merasa sangat kacau saat ini. Sampai kapan dia hidup dalam belenggu Alvaro? Bulan ingin kebebasan seperti layaknya perempuan lainnya.


"Hiks...hiks...hiks." Bulan membiarkan air matanya menggenang membasahi pipi.


Dia menyalakan shower hingga air dingin membasahi tubuhnya, Bulan mengambil sabun cair. Dengan kasar dia menggosok kulitnya berharap bekas-bekas cumbuan Alvaro hilang dari tubuh.


Cukup lama Bulan membersihkan diri, dia akhirnya keluar telah mengenakan pakaian lengkap. Matanya membola tatkala melihat Alvaro duduk ditepi ranjang sembari menatapnya tajam seolah ingin menguliti tubuhnya. "A-ada apa?" Cicit Bulan lirih.

__ADS_1


"Aku lapar, buatkan aku nasi goreng." Perintah Alvaro mutlak membuat Bulan mengerutkan dahi, kenapa tiba-tiba pria itu memintanya untuk memasak? Padahal Bulan hafal betul jika Alvaro tidak menyukai makanan buatannya.


Bersambung...


__ADS_2