Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 100 : Tidak Ingin Melihat Wajahmu


__ADS_3

Dalam gugatan perceraiannya, Bulan menuliskan beberapa poin penting sebagai alasan untuk bercerai dengan Alvaro karena pria itu telah selingkuh dan bahkan memiliki anak dari wanita lain. Selain itu dia juga melakukan kdrt kepada penggugat. Hakim mediasi tampaknya cukup mengerti dengan keputusan Bulan, namun dia harus bersikap profesional dengan tidak memihak pada salah satu dari mereka.


Hakim mediasi kembali menatap Bulan. “Bisakah anda fikirkan kembali. Apa anda tidak memikirkan bagaimana nasib anak yang sedang anda kandung? Apakah anda siap dengan menyandang status janda nantinya? Cobalah kembali dibicarakan secara kekeluargaan bagaimana untuk menyelesaikan masalah ini.


Hakim mediasi merasa miris dengan kasus seperti ini. Bercerai disaat istri hamil, bukankah itu hal yang sangat menyakitkan? Jelas tetap dari pihak perempuan yang akan dirugikan. Seharusnya pihak perempuan bisa memikirkannya kembali.


“Saya juga berharap adanya perdamaian seperti itu pak hakim.” Alvaropun menyahut. Pemuda itu terus memandangi Bulan, menantikan jawaban yang sama.


Bulan mencelos, semakin lama dia melihat tingkah Alvaro begitu menyebalkan membuat Bulan muak. "Karena saya memikirkan kesehatan anak saya, makanya saya memilih untuk bercerai. Selama saya hamil tinggal serumah bersamanya, saya mengalami depresi dan tertekan karena suami saya selalu bersikap kasar bahkan disaat dia tahu bahwa saya tengah mengandung. Oleh karena itu saya sempat beberapa kali melarikan diri darinya. Kalau bapak tidak percaya, anda bisa lihat barang bukti visum dari dokter yang telah saya lampirkan pada berkas yang saya ajukan. Jika saya tetap tinggal bersama dengan suami saya, apa yang akan terjadi hah? Mungkin saja saya bisa kehilangan anak saya karena keguguran akibat frustasinya saya saat itu, mungkin dapat mempengaruhi janin saya. Namun anak saya adalah bayi yang kuat sehingga bisa tetap bertahan dalam kandungan saya." Ujar Bulan menjelaskan sembari mengusap lembut perut besarnya.


Bagi Bulan keputusannya adalah yang paling tepat, kalau bisa dia malah ingin secepatnya bercerai dari Alvaro. Dia tidak masalah menjadi janda, akan lebih baik seperti itu daripada dia harus sakit menahan derita setiap hari dengan tetap menjadi seorang istri dari Alvaro Artha Mahendra.


"Saya tetap pada pendirian saya untuk bercerai." Ujar Bulan dengan penuh penekanan disetiap kata, dia sudah jenuh dan tersiksa dengan rumah tangganya. Perpisahan baginya adalah jalan yang terbaik.


Pria paruh baya itu mengehela nafas, mediasi hari ini yang dilakukan penggugat dan tergugat gagal mencapai kesepakatan. Hakim mediator akan menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada hakim majelis yang memeriksa perkara. Dan para pihak penggugat maupun tergugat akan menghadap hakim pada hari sidang selanjutnya yang telah ditentukan, untuk menjalani sidang yang semestinya.


“Baiklah kalau memang begitu keputusan dari ibu dan bapak, saya selaku hakim mediasi tidak bisa memaksakan kehendak dari bapak dan ibu. Saya akan membuat surat putusan bahwa mediasi yang dilakukan pada hari ini tidak berhasil."


Bulan tersenyum, dia akan melanjutkan sidang selanjutnya yang menjadi proses akhir untuk sidang perceraian mereka.Tidak ada mediasi lagi, dia akan bertemu Alvaro kembali pada sidang yang sesungguhnya dimana ketuk palu hakim yang akan menjadi saksi bisu berakhirnya biduk rumah tangga mereka. Bulan tersenyum sumringah begitupun dengan Laura, berbanding terbalik dengan Alvaro tersenyum kecut karena hasil mediasi hari ini tidak memuaskan hatinya.


Bulan dan mamanya segera keluar dari ruangan mediasi diikuti oleh Alvaro dibelakang mereka. Saat ini Bulan ingin pulang, menjawab pertanyaan dari hakim tadi membuat Bulan lelah dan merasa lapar namun dia cukup lega karena bisa menyelesaikannya dengan baik. Sedari tadi Alvaro terus memandanginya membuat Bulan merasa risih.

__ADS_1


"Ayo sayang kita pulang." Ujar Laura menggenggam pergelangan tangan putrinya berjalan menuju parkiran. Bulan menurut, dia mengikuti mamanya.


Tring...tring...tring


Ponsel mamanya berdering, wanita paruh baya itu segera mengambil ponselnya dari dalam tas. Laura segera menjawab panggilan telefon itu. "Hallo Jo. Ada apa? Hah?" Bulan bisa mendengar percakapan mamanya yang terlihat penting.


"Ck, apa kamu tidak bisa mengurusnya sendiri? Aku malas kesana, oke iya baiklah." Laura mematikan ponselnya dengan perasaan kesal. Bulan mendekati mamanya, dia merasa penasaran mamanya tadi bicara dengan siapa? Apakah dia sedang berbicara dengan pengacaranya tadi?


Laura menoleh menatap putrinya, dia mengelus surai rambut Bulan. "Sayang mama tinggal sebentar ya, kamu tunggulah disini."


Bulan menahan pergelangan tangan mamanya. "Mama mau kemana? Bulan ikut ya." Cicitnya merasa takut jika ditinggal sendirian.


"Sayang kamu tunggu saja didalam mobil." Ujar Laura membujuk putrinya. Bulan menghela nafas, dia mengangguk patuh membuat Laura seketika tersenyum. Wanita paruh baya itu berjalan meninggalkan Bulan diparkiran sendirian.


"Al lepaskan aku." Bulan memberontak, wanita itu bisa melihat gurat amarah yang tegambar jelas diwajah tegas suaminya. Bagaimana ini, diparkiran saat ini sangatlah sepi. Jika Alvaro macam-macam dengannya habislah riwayat Bulan, tidak ada yang menolongnya.


"Ikut denganku!" Perintah Alvaro dibalas gelengan kepala oleh Bulan, dia menolak dengan memberikan perlawanan.


"Tidak! Aku tidak mau Al, lepaskan aku. Mama, ma tolong bu--hmmppt." Tidak ingin mendengar teriakan Bulan lantas Alvaro membungkam mulutnya agar diam. Pemuda itu menyeret Bulan menuju area toilet yang sepi sama sekali tidak ada satu orangpun selain mereka berdua. Dia memaksa Bulan untuk masuk kedalam salah satu ruangan toilet pria yang cukup besar.


"Hmmppt." Tenaga Bulan tidak sebanding dengan kekuatan Alvaro, jelas dia akan kalah.

__ADS_1


"Aargh." Alvaro merintih sakit tatkala tangannya digigit oleh Bulan hingga bungkaman dimulut Bulan otomatis terlepas.


Bulan hampir kehabisan nafas karena bungkaman dari tangan Alvaro, melihat ada kesempatan dia berlari menghindari pemuda itu namun kalah cepat dengan Alvaro yang berhasil menangkapnya. Pemuda itu mendorong tubuh Bulan hingga membentur tembok, mengurungnya dengan kedua tangannya. Bulan saking takutnya sampai menangis, air matanya berlinangan dipipi mulusnya.


Alvaro mengusap lembut cairan bening yang mengalir dipipi Bulan. "Kenapa kamu menangis hem? Kamu tidak ingin berpisah denganku kan?" Gumam Alvaro menatap lekat wajah cantik Bulan.


"A-apa maumu Al? Kumohon lepaskan aku hiks...hiks...hiks." Alvaro menukikkan sebelah alis tebalnya. Mertua liciknya itu tidak pernah memberikan kesempatan Alvaro untuk berbicara atau bahkan sekedar untuk menemui Bulan secara baik-baik. Maka hanya dengan cara ini Alvaro bisa menatap istri pertamanya secara langsung.


"Aku ingin kamu mengatakan kepada mamamu jika kamu akan membantalkan gugatan perceraian kita.” Bulan menatap nyalang Alvaro, dia heran kenapa Alvaro kekeuh untuk tetap mempertahankan pernikahan mereka. Dia benar-benar dibuat pusing dengan tingkah Alvaro yang keras kepala, Bulan tidak akan menuruti perintah Alvaro. Dia bukanlah boneka yang bisa diatur ataupun dikendalikan oleh orang lain.


“Tidak! Aku tidak mau, aku ingin segera bercerai darimu.” Bentak Bulan dengan berani, menegaskan bahwa hubungan mereka tidak ada lagi harapan. Bantahan dari Bulan membuat Alvaro tersulut emosi, rahang pemuda itu bergemelatuk membuat Bulan semakin takut. Alvaro mencengkram dagu Bulan dengan kuat hingga dia mendongak menatap sendu pemuda dihadapannya.


“Hiks…hiks…hiks, Al tolong lepaskan aku. “ Ujar Bulan memelas, berharap Alvaro akan membiarkannya pergi.


“Dengarkan aku.” Alvaro mendekatkan wajahnya membuat Bulan mendelik merasa terintimidasi oleh Alvaro. “ Jika kamu tetap melanjutkan proses perceraian kita maka aku akan mengambil hak asuh bayi yang berada dalam kandunganmu. Apa kamu paham! Tegas Alvaro sengaja mengancam Bulan agar wanita itu merasa tertekan. Bulan tertegun, tega sekali Alvaro ingin merebut anaknya setelah dia berulangkali menghina bayinya adalah anak haram. Dimana letak urat malu Alvaro? Dengan entengnya dia berbicara seperti itu.


“Kamu sendiri yang bilang anak yang kukandung adalah anak haram, lantas kenapa kamu mengiginkannya hah? Jangan harap aku akan menyerahkan anakku kepadamu, bahkan jika nanti dia lahir sekalipun aku tidak akan rela kamu untuk menyentuhnya.”


“BULAN, CUKUP!” Alvaro membentak wanita dihadapannya, semakin lama Bulan keras kepala dan berani membantahnya. Beberapa hari tinggal dirumah oran tuanya, rupanya Laura telah mengajari Bulan untuk membangkang. Alvaro semakin kuat mencengkram dagu Bulan hingga membuat wanita itu meringis sakit. “Jika kamu masih tetap pada pendirianmu, siap-siap saja kamu akan kehilangan anak kesayanganmu.” Alvaro melepas cengkramannya, dia menatap Bulan yang menunduk sembari meremas dress selututnya.


“Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku Bulan.” Tegas Alvaro lagi, dia tersenyum meremehkan istrinya. Wanita itu hanya punya mamanya yang membekingi Bulan selama ini, kekayaan Laura itu seberapa? Tidak lebih besar dari keluarga Mahendra. Meskipun Laura merupakan anggota keluarga Bramasta namun wanita itu diabaikan oleh Zhafran, bisa dibilang tidak pernah dianggap. Dengan uang dan kekuasaan yang Alvaro miliki dia akan mudah merebut hak asuh anak Bulan. Mertuanya sendiri yaitu Zhafran pasti akan mendukung keputusannya.

__ADS_1


Bulan dengan kesal memukuli dada bidang Alvaro melampiaskan kekesalannya. “Tega kamu Al, ka-kamu hiks…hiks benar-benar jahat.” Pukulan tangan Bulan tidak berpengaruh apapun kepadanya.


“Kamu brengsek Al. Aku tidak akan takut dengan semua ancamanmu? Mamaku akan menyewa pengacara yang hebat untuk membelaku. Sekarang biarkan aku pergi, aku muak melihat wajahmu.” Tegas Bulan memberontak agar terlepas dari rengkuhan Alvaro, namun pemuda itu masih tetap pada posisinya agar wanita itu tidak lepas.


__ADS_2