Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 52 : Mantan Pacar


__ADS_3

Bulan berjalan menuruni tangga, tadi Alvaro memintanya untuk menemuinya dibawah karena lelaki itu ingin memberinya sesuatu. Bulan dibuat penasaran, dia menatap lekat Alvaro yang telah rapi memakai setelan baju kantornya duduk diatas sofa ruang tamu. Alvaro menoleh ketika mendengar derap langkah kaki seseorang, dia beranjak berdiri melihat Bulan saat ini berada dihadapannya.


“Itu untukmu.” Ujar Alvaro seraya menunjuk sebuah paperbag di atas meja.


Bulan mengernyitkan dahi, tangannya terulur untuk mengambilnya. Dia membuka paperbag itu, matanya berbinar ketika dia mendapatkan ponsel baru dari Alvaro. Kemarin ketika Bulan di mall dia belum sempat membeli ponsel karena tidak ingin kehilangan jejak Bintang dan Daren yang terlihat bersama, Bulan lebih memilih mengikuti mereka daripada mampir ke counter.


“Aku membelikanmu ponsel, tapi ingat Bulan pergunakanlah barang itu sebagaimana semestinya. Aku tidak ingin kamu menyimpan nomer Elfarez didalam kontakmu.” Tegasnya memberitahu.


Kenapa memangnya? Farez adalah temannya Bulan, sudah sewajarnya kalau dia menyimpan nomer temannya sendiri.


Meskipun Alvaro bertindak kejam kepada Bulan dengan membanting ponsel wanita itu, tapi dia telah menggantinya. Didalam paperbag masih terdapat satu barang lagi, Bulan mengeluarkannya. Dia melongo melihat dress putih panjang dengan motif bunga sakura, baju tertutup pilihan dari Alvaro.


“Pakailah dress itu nanti malam, karena aku akan mengajakmu dinner bersama rekan bisnisku.” Ujar Alvaro dengan nada dingin.


Bulan menghela nafas, dia sebenarnya malas ikut acara makan malam apalagi bertemu dengan rekannya Alvaro. Lagipula tumben Alvaro mau mengajaknya, biasanya tidak pernah karena Alvaro selalu membawa Bintang disetiap acara.


“Al aku--.”


“Apakah kamu menolak?” Tanya Alvaro to the point memotong ucapan Bulan, seolah dia tahu isi fikiran Bulan. “Aku tidak memintamu Bulan, tapi aku memerintahmu. Jadi aku tidak mau mendengar penolakan darimu.” Tegas Alvaro mutlak.


Bulan dibuat gelagapan, mau tidak mau dia menurut. “I-iya.” Balas Bulan menunduk pasrah.


Alvaro melihat jam ditangan kirinya, dia sudah telat ke kantor hanya karena menunggu Bulan mandi tadi. “Nanti malam ketika aku pulang bekerja kamu harus sudah siap, mengerti? Aku akan langsung menjemputmu.” Bulan mengangguk patuh mendengar perintah Alvaro.


Alvaro menghela nafas lega. “Baiklah, aku berangkat kekantor.” Tanpa diduga Alvaro mendekat dan mengecup pelan dahi Bulan membuat wanita itu terpaku. Dia menatap nanar punggung suaminya yang berjalan keluar dari pintu rumah. Bulan menyentuh dahinya lalu tangannya memegang dadanya yang berdegup kencang.


Ya tuhan jangan lagi, aku sejauh ini ingin menjaga jarak dari Alvaro agar saat tiba waktunya bercerai aku perlahan bisa menerimanya. Tapi jika sikap Alvaro manis dan lembut seperti ini kepadaku malah akan memupuk perasaan cintaku untuknya. Batin Bulan merasa bimbang.

__ADS_1


...****************...


Siang ini Bulan menyempatkan diri pergi ke apotik membeli vitamin untuk kandungannya karena obat pemberian dokter sudah habis. Tanpa sengaja dia berpapasan dengan Daren disana, pria itu nampak tersenyum melihat kehadiran Bulan. Sedari tadi Daren terus memandanginya lekat, hingga membuat Bulan merasa risih.


“Mbak ini resepnya.” Ujar Bulan menyodorkan kertas resep dari dokter kepada apoteker, petugas wanita itu mengangguk seraya mengambil beberapa macam obat sesuai resep. Bulan melirik kearah Daren yang masih menatapnya tajam, seolah Bulan adalah target bidikannya.


“Ini mbak obatnya.” Petugas wanita itu memberikan obat yang telah dipesan Bulan, dia segera membayarnya lalu membawa kantung plastik itu buru-buru keluar dari apotik. Dia melewati Daren begitu saja enggan menyapanya.


“Kamu buru-buru pulang seperti dikejar setan.” Bulan seketika menghentikan langkah kakinya tatkala Daren menyinggungnya. Pemuda itu berjalan mendekat menatap wajah tegang Bulan, ayolah apakah Daren semenakutkan itu hingga membuat wanita dihadapannya saat ini langsung menciut.


“Seharusnya kamu menyapa mantan pacarmu Bulan, oh apakah aku dulu mempunyai kesan yang buruk saat pacaran denganmu hingga kamu pura-pura tidak mengenalku.” Bulan melotot mendengarnya, iya itu memang benar. Jika mengingat masa lalu bersama dengan Daren membuat Bulan trauma, oleh karena itu sebisa mungkin dia harus menjauhi pria licik ini.


"Bisakah aku mengobrol denganmu?" Tanya Bulan, membuat Daren menyunggingkan senyumnya. Tadi Bulan terlihat takut kepadanya tapi sekarang wanita itu malah mengajaknya mengobrol. Daren tidak habis fikir, ini sangatlah menarik. Lagipula dia masih punya banyak waktu untuk wanita cantik seperti Bulan, tidak boleh disia-siakan.


"Kita ke cafe depan." Balas Daren antusias, pemuda itu menggiring Bulan menuju cafe yang berada disebrang jalan. Mereka akhirnya duduk berdua didalam cafe memesan segelas minuman dingin untuk menghilangkan dahaga di terik matahari siang hari ini.


Bulan menatap plastik berisi obat yang dibawa oleh Daren. "Obat untuk siapa itu?" Tanya Bulan penasaran.


"Oh ini obat untuk kekasihku, dia lagi sakit." Bulan memutar bola matanya malas, dia tahu siapa yang dimaksutkan oleh Daren. Tidak usah menutupinya karena kebusukan Daren dan Bintang sudah tercium oleh Bulan.


"Kenapa kamu bertanya? Apakah kamu masih mengharapkanku untuk kembali kepelukanmu? Mengulang masa-masa indah kita semasa SMA." Bulan begidik ngeri, masa indah yang mana maksut Daren? Selama mereka berdua berpacaran Daren malah selalu menyiksanya secara mental.


Flashback on


Gadis bersurai rambut panjang berlari memasuki toilet wanita, dia sudah kebelet untuk menuntaskan panggilan alam. Beberapa menit kemudian dia keluar dengan perasaan lega sembari menepuk perutnya, dia berhenti di depan cermin untuk melihat penampilannya saat ini. Pantulan dari cermin memperlihatkan bibirnya yang pucat, tangannya terulur merogoh saku rok pendeknya untuk mengeluarkan lipgloss. Dia memoles bibir pucatnya agar terlihat segar kembali. Ini adalah jam pulang sekolah, mungkin hanya dirinya saja yang masih berada di lingkungan sekolah. Karena ketika Bulan pergi menuju toilet, dia berjalan melewati kelas-kelas semuanya sudah sepi.


Ceklek.

__ADS_1


Mendengar pintu toilet dibuka, Bulan langsung menoleh. Tatapan matanya melotot tajam melihat perawakan remaja lelaki yang masih memakai kaos tim basketnya nylonong masuk ke toilet cewek.


"Ngapain kamu kesini?!" Bulan sedikit was-was karena dia tahu jika lelaki ini sungguh berbahaya. "Mata kamu buta hah, kamu nggak lihat kalau disini toilet cewek." Sentaknya lagi dengan memutar bola matanya malas, berani membentak sosok tinggi besar itu.


Lelaki itu diam dengan tatapan tajam menusuk, dia malah menutup pintu toilet dengan keras hingga membuat Bulan berjengkit kaget.


Perasaan Bulan menjadi gusar melihat gerak-gerik mencurigakan pemuda itu. "Minggir Daren, aku mau lewat."


Tidak ingin mengambil resiko, Bulan memilih berjalan menjauh ingin keluar dari toilet. Namun ketika tangannya baru menyentuh gagang pintu dicekal kuat oleh Daren.


"Lepas!" Sentak Bulan, namun tidak digubris oleh Daren. Lelaki itu malah tersenyum melihat pemberontakan gadis didepannya. Daren mendorong Bulan kesisi tembok, kemudian dia menghimpit tubuhnya.


"Aku sudah menurutimu untuk menjadi pacar pura-puramu didepan Alvaro, dan sekarang kamu malah memutuskan hubungan kita begitu saja tanpa memberiku imbalan." Ujar Daren dengan nada halus. Tapi tidak menutupi ekspresi wajahnya yang terlihat jelas dia tengah menahan emosi.


Bulan mendelik. "Imbalan apa maksutmu? Dari awal kita sudah sepakat Daren, kita pacaran hanya untuk membuat panas Alvaro dan Bintang. Jika kamu tidak bisa mendapatkan Bintang maka jangan salahkan aku. Dari awal aku tidak pernah memberimu iming-iming untuk mendapatkan sebuah imbalan." Balas Bulan dengan tegas, dia bahkan menatap lelaki dihadapannya dengan berani.


Daren tersenyum remeh memandang wajah cantik Bulan. "Aku belum rela melepaskanmu Bulan, sebelum aku mendapatkan apa yang aku mau darimu." Bulan meneguk ludahnya susah payah, dengan posisi dikurung seperti ini, ditambah dengan tatapan tajam Daren benar-benar membuat Bulan terintimidasi dan tertekan.


"Kamu mau apasih?" Tanya Bulan heran.


Daren mengela nafas sembari membelai lembut surai rambut Bulan. "Aku mau kamu membayarnya dengan tubuhmu." Ujarnya menyunggingkan senyum mesum meneliti tubuh Bulan yang nampak sexy dimata Daren.


Bulan melongo, lelaki gila ini sebenarnya bicara apa? Bulan begidik ngeri, entah mengapa dia jadi berfikiran buruk saat ini. Apalagi kondisi toilet hanya ada mereka berdua, jika Daren berani berbuat macam-macam kepadanya siapa yang akan menolongnya? Bulan gemetar ketakutan.


Bersambung...


Novel ini memang alurnya lambat, aku ingin cerita ini mengalir seperti arus sungai. Aku tidak ingin terburu-buru untuk sampai ke konflik besar di cerita ini. Semoga kalian nggak bosan baca ceritanya Bulan ya :)

__ADS_1


__ADS_2