Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 95 : Kemarahan Bintang


__ADS_3

Tangan Alvaro terkepal kuat saat dia membaca surat gugatan perceraian dari Bulan. Rupanya perceraian mereka sudah terdaftar di pengadilan agama. Sial! Bulan sudah sejauh ini bertindak. Alvaro yakin pasti Bulan dibantu oleh mamanya. Sekarang wanita tua itu beralih mendukung dan membela putrinya. Ada beberapa poin-poin yang diajukan Bulan mengenai alasan yang menjadi faktor dirinya bercerai, salah satunya karena adanya unsur KDRT. Cih! Alvaro melakukan kekeraan kepada Bulan hanya untuk menghukumnya karena memang perempuan itu berani selingkuh dibelakangnya. Alvaro seketika menggeram marah, dia merobek kertas gugatan dari Bulan untuknya. Sampai kapanpun Alvaro tidak akan menceraikan Bulan, dia tidak akan menandatangani surat ini! Bulan akan tetap menjadi miliknya.


Dikantor dia sudah dipusingkan dengan banyaknya file proposal yang harus dia tangani dan sekarang dia dibuat pening kepalanya dengan surat gugatan yang diajukan Bulan untuknya. Alvaro merogoh saku celananya mengambil benda pipih canggih miliknya. Dia mencari nomer seseorang, setelah menemukannya Alvaro langsung menelfon orang tersebut. "Hallo Rey."


"Iya pak Al, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang pria dari sebrang telefon dengan sopan.


"Bantu aku menangani sidang perceraianku. Istriku mengajukan gugatan perceraian kepadaku, aku tidak ingin berpisah darinya. Setidaknya kami bisa melakukan mediasi terlebih dahulu untuk mendamaikan kedua belah pihak. Aku akan membayar berapapun asalkan kamu bisa membuatku menang di persidangan, aku juga tidak segan menyogok hakim atau siapapun agar perceraianku dengan Bulan dibatalkan." Ujar Alvaro dengan nada menggebu-gebu, saat ini fikirannya Alvaro benar-benar kacau.


Bagaimana dia bisa mempertahankan hubungan pernikahannya dengan Bulan? Alvaro begitu kalut. Bahkan kalau diperlukan Alvaro akan mengancam Bulan. Anak yang berada dalam kandungan Bulan memang belum tentu darah dagingnya namun, dia bisa menjadi alat untuk memuluskan tujuannya. Jika perceraian terjadi, dia harus bisa merebut hak asuh anak Bulan jika bayi itu lahir. Dengan begitu Bulan pasti kelabakan dan akan berfikir dua kali untuk bercerai darinya. Dia tidak mungkin tega membiarkan bayinya berada dalam asuhannya. Alvaro tersenyum sinis, anak haram itu rupanya bermanfaat juga untuknya.


"Pak saya siap untuk membantu anda. Selama ini kasus yang saya tanganani selalu menang dalam persidangan. Saya yakin dengan pendampingan saya, pak Al akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan bapak." Ujar Rey, seorang lawyer profesional yang ditunjuk Al untuk menjadi pengacaranya.


"Baiklah, aku percaya kepadamu Rey." Alvaro mematikan telefonnya, dia mencengkram ponselnya kuat seakan meluapkan emosi.


"Tidak semudah itu kamu bisa lari dariku Bulan." Gumam Alvaro tersenyum sinis seolah dia percaya diri jika usaha Bulan akan sia-sia karena sampai kapanpun wanita itu tidak akan bisa berpisah darinya.


...****************...


Hari ini Bintang berada di mall untuk berbelanja membeli kebutuhan bayi, dia memang sengaja tidak memberitahu Alvaro karena tidak ingin merepotkan suaminya. Mungkin jika dia memberitahu Alvaro, pemuda itu akan langsung mengantarkannya dan menemaninya untuk belanja. Bintang sadar diri karena suaminya pasti sedang sibuk dikantor, hanya karena keinginannya membeli perlengkapan untuk anak mereka Alvaro harus meninggalkan pekerjaannya.


Ayolah Bintang tidak semanja itu kepada suaminya. Akhir-akhir ini dia cukup dibikin stress dengan pemberitaan mengenai dirinya yang dicap telah merusak rumah tangga orang lain. Setidaknya pergi ke mall dia bisa sekalian menenangkan fikiran karena semenjak rumor beredar dia tidak berani keluar rumah takut diamuk masa. Namun hari ini Bintang memberanikan diri keluar rumah, dia berfikir saat ini situasinya sudah mulai membaik.


Bintang berjalan menyusuri toko-toko yang berjejeran di mall, dia menyempatkan diri mampir ke salon kecantikan untuk manicure pedicure. Setelah selesai dari salon, dia membeli beberapa dress untuknya. Meski sekarang dia menjadi ibu rumah tangga, namun Bulan harus tetap menjaga menampilannya apalagi didepan suaminya.


Tangan lentik wanita itu mengusap perut besarnya, sebentar lagi anaknya akan lahir kedunia, sebenarnya ada rasa takut dalam benak Bintang. Siapa ayah dari anaknya? Apakah Alvaro ataukah Daren? Jika ternyata ayah dari anaknya rupanya Daren, tamatlah riwayat Bintang. Wanita itu menggelengkan kepalanya, mengenyahkan semua fikiran buruk dari otaknya. Dia tidak peduli siapa ayah biologis putrinya, namun yang pasti Bintang akan tetap kekeuh mengaku bahwa anak dalam rahimnya adalah darah daging Alvaro. Lagipula Alvaro sangat mencintai dan selalu percaya dengan ucapannya. Seharusnya Bintang tidak perlu khawatir akan hal itu.


Bintang melanjutkan jalannya menuju baby store, dia masuk kedalam toko. Bintang akan membelikan kebutuhan bayinya disini karena menurut orang-orang barang ditoko ini bagus. Mengingat kandungan Bintang kini sudah memasuki trimester akhir jadi butuh persiapan dan perlengkapan untuk bayinya. Tadi Bintang sudah list barang apa saja yang akan dia beli seperti popok, handuk, waslap, gendongan bayi, tas bayi, stroller dan yang paling penting adalah pakaian bayi. Mata Bintang berbinar tatkala dia melihat pakaian bayi yang lucu-lucu digantung berjejer rapi.


"Cantik sekali, pasti putriku akan menggemaskan jika memakai baju ini." Gumam Bintang menatap lekat baju bewarna pink dengan gambar kucing yang terlihat imut dikain bajunya. Bintang begitu excited memilih-milih baju bayi, dia sampai bingung harus membeli yang mana. Bintang rasa dia memang harus memborong semuanya.

__ADS_1


"Kamu Bintang ya?!" Seorang wanita paruh baya menarik bahu Bintang kasar membuatnya mengerutkan dahinya heran. Bintang bungkam menatap lekat ibu itu yang sama sekali tidak dikenalnya.


"Iya benar itu orangnya. " Ujar salah satu temannya terlihat menggeram emosi. Wanita tua itu bahkan membawa kelima temannya ramai-ramai entah apa tujuannya, Bintang tidak tahu.


"Iya Laras lihat nih, potonya." Ibu yang bernama Laras itu melihat tangkapan layar ponsel temannya untuk memastikan. Setelah itu dia menatap tajam kearah Bintang membuatnya mendelik merasa was-was.


"Ada apa ya buk?" Tanya Bintang dengan sopan, menghadapi ibu-ibu yang seumuran dengan mamanya.


"Halah jangan banyak bicara kamu ya!" Sentak ibu itu, Bintang benar-benar bingung. Apa salahnya Bintang bertanya? Orang aneh! Batin Bintang menduga bahwa emak-emak dihadapannya ini adalah orang gila yang nyasar.


"Kamu Bintang Berlian Bramasta, wanita yang telah merebut suami Bulan. Dasar wanita murahan tidak tahu diri kamu!" Tunjuk Laras tepat didepan wajah Bintang. Wanita tua itu bersyukur bertemu dengan Bintang disini, awalnya dia pergi ke baby store karena ingin membelikan baju untuk cucunya yang baru lahir namun dia malah bertemu dengan sosok pelakor Bintang yang akhir-akhir ini beritanya tengah viral di media sosial maupun berita di televisi. Laras sebagai seorang ibu yang dulunya juga pernah dikhianati oleh sang suami karena digoda oleh perempuan lain merasa dirinya berhak membela Bulan yang merupakan seorang model idolanya.


"Mohon maaf bu, saya rasa anda tidak pantas berkata seperti itu kepada saya karena anda tidak mempunyai kapasitas untuk menghakimi saya." Tegas Bulan mulai tersulut emosi, saat ini mereka berada di tempat umum. Bulan sama sekali tidak mengenal ibu ini, berani-beraninya dia tiba-tiba menghinanya dengan mulut lancangnya membuat Bintang merasa malu.


Laras sama sekali tidak menggubris ucapan Bintang, dia sebagai penggemarnya Bulan akan terus membela idolanya itu. "Hei dengarkan semuanya, wanita ini merebut suami kakaknya sampai bunting diluar nikah." Hina Laras sengaja berkoar mengeraskan suaranya agar orang-orang penghuni toko ini mendengar, sekalian kalau bisa semua pengunjung didalam mall tahu siapa Bintang.


"Menjijikkan sekali! Mentang-mentang suami kakaknya kaya raya, dia rela tubuhnya menjadi penghangat ranjang kakak iparnya. Wanita kok nggak ada harga dirinya sama sekali! Kalau kamu kurang belaian lelaki, cari saja gigolo diluaran sana banyak, jangan suami kakakmu sendiri diembat."


Ibu-ibu lainya juga turut menyahutinya, sembari melirik sengit Bintang yang sedari tadi termangu ditempatnya berdiri. "Iya bu benar, mana si Nadia pelakor itu sampai hamil diluar nikah. Makanya dia ngebet minta dikawinim sama Zhafran. Kasihan banget ya ibunya Bulan dikhianati suaminya." Terlinga Bintang terasa panas mendengarnya.


"Pantas saja nurun ke anaknya, mungkin Bintang juga dididik untuk menjadi seorang pelakor sama ibunya. Makanya tega merebut suami kakaknya sendiri. Ibu sama anaknya sama-sama binal kelakuannya!" Balas Laras terus-terusan mencaci maki Bintang didepannya.


Dada Bintang bergemuruh, dia sudah tidak bisa lagi membendung kemerahannya. Hinaan dari orang-orang sungguh menyakiti hati Bintang, dia bukanlah wanita murahan seperti yang diucapkan mereka. "CUKUP!" Bentak Bintang ingin membungkam mulut sadis ibu-ibu itu.


"Kenapa? Kamu marah?!" Tantang Laras seraya berkacak pinggang menantang Bulan.


Bintang mulai menitihkan air matanya. Dia merasa sedih, kecewa dan miris dengan situasinya saat ini. "Saya bisa menuntut ibu atas pencemaran nama baik jika ibu tidak berhenti menghina saya." Ujar Bintang mebela diri, dia benar-benar muak. Semua masyarakat seolah membenci kehadirannya hanya karena rumor sialan yang sama sekali tidak benar.


"Laporkann saja, saya tidak takut! Saya tidak berbohong, kamu memang seorang pelakor murahan yang rela menjajakan tubuhmu untuk pria hidung belang--."

__ADS_1


PLAK


Bintang menampar pipi kanan Laras saking kesalnya membuat ibu itu menggeram marah dengan tidakan Bintang barusan. Laras mengusap pipinya yang terasa nyeri bekas tamparan Bintang. Wanita paruh baya itu merasa jika Bintang tidak sopan kepadanya karena berani menampar orang tua. "Sialan! Berani kamu ya melawan saya." Laras menjambak rambut Bintang dengan keras hingga membuat Bintang meringis sakit karena tindakan anarkis Laras.


"Lepaskan saya buk!" Bentak Bintang, rasanya rambutnya seperti akan lepas dari kepalanya.


"Tidak! Pelakor sepertimu pantas mendapatkan ganjaran." Ibuk itu malah semakin kuat menarik rambut Bintang, tidak peduli bahwa Bintang tengah mengandung sekalipun. Bintang melawan, dia juga menarik rambut ibu itu. Terjadilah adegan jambak-menjambak rambut satu sama lain. Semua orang yang berkerumun melihat mereka, enggan untuk membantu. Mereka semua mendukung ibu Laras, karena orang-orang disini turut respect kepada Bulan. Tidak ada satupun orang yang berniat membela Bintang.


"Iya jambak terus Laras, beri dia hukuman yang setimpal atas perbuatannya. " Celetuk salah satu temannya Laras. Ibu itu semakin semangat menyiksa Bintang bahkan Laras mencakar wajah Bintang hingga mengeluarkan darah. Dia juga beberapa kali menampar pipi wanita itu. Dengan kejam bahkan Laras mendorong tubuh Bintang hingga terjerembab tersungkur ke lantai.


"Ahh, sakit." Rintih Bintang merasakan nyeri hebat pada perutnya. Laras dengan beringas kembali menjambak rambut Bintang hingga beberapa helaian rambutnya rontok.


"Sudah buk sudah." Dua security datang memisahkan perkelahian mereka berdua. Salah satu pria gempal itu menahan tangan Laras agar tidak berbuat anarkis lagi.


"Hiks...hiks pak tolong saya pak." Ujar Bintang menangis tersedu-sedu, dia merasakan perih pada pipinya karena cakaran kuku tajam ibu itu.


"Kenapa dibela pak, sudahlah dia ini wanita pelakor tidak perlu dibela pak. Iyakan ibuk-ibuk?" Kelakar Laras sembari mengedarkan pandangannya untuk meminta pendapat kepada semua orang-orang yang berkerumun menontonnya.


"Iya betul."


"Iya kami setuju." Ujar semua orang serempak membuat kedua security itu geleng-geleng kepala dibuatnya karena mereka main hakim sendiri.


"Cukup buk, demi kenyamanan pengunjung mall ini saya harap kalian bubar! Jika kalian terus saja berdebat disini maka kami tidak akan segan-segan melaporkan kalian ke kantor polisi." Para ibuk-ibuk itu begidik ngeri dengan ancaman security, lantas merekapun bubar termasuk Laras yang segera melarikan diri dari tempat ini.


Security itu berjalan mendekati Bintang, dia membantu wanita hamil itu untuk berdiri. "Hiks...hiks...hiks." Bintang masih saja menangis tergugu. Dia benar-benar syok dengan tindakan brutal ibu-ibu itu yang menyerang dirinya.


"Pak saya mau pulang hiks...hiks, tolong antarkan saya ke parkiran mobil saya ya. Saya takut ibu-ibu itu akan kembali menyerang saya." Cicit Bintang memelas, tubuhnya bahkan saat ini gemetar ketakutan dan merasa trauma.


"Baik bu, saya akan mengantarkan anda." Security itu menggiring Bintang menuju parkiran dimana mobilnya berada. Tidak berselang lama merekapun sampai. Bintang mengucapkan terimakasih karena security itu telah membantunya tanpa menghakiminya.

__ADS_1


Bintang segera masuk kedalam mobil. Dia menangis menumpahkan kekesalannya, harga dirinya telah diinjak-injak. Semua masyarakat membencinya, hingga mereka ingin menghukum atas kesalahannya. Bintang saat ini benar-benar tertekan, dia yakin bahwa kakaknya yang menyeberkan rumor rumah tangganya untuk menarik simpati masyarakat dan berbalik menghujat Bintang dan Alvaro. Semua orang menganggap Bintang jahat karena telah merebut Alvaro dari Bulan, padahal semua itu tidak benar. Kenyataannya Bulanlah duluan yang merenggut Alvaro darinya, kakaknya itu bahkan memaksa Alvaro untuk menikahinya padahal jelas-jelas Alvaro hanya mencintai Bintang seorang.


"Hiks...hiks...hiks. Kenapa jadi begini hiks...hiks." Bintang menyugar rambutnya kebelakang, fikirannya sangat stres. Air matanya menetes mengenai pipinya yang terluka bekas cakaran ibu-ibu tadi menimbulkan rasa sakit dan perih.


__ADS_2